
Tiga minggu sejak pernikahan nya, Elle mengundang semua artis dan karyawan Maxx Entertainment untuk merayakan nya lagi di sebuah kapal pesiar.
Tidak hanya Maxx Entertainment, Elle juga mengundang teman-temannya.
Dan disinilah mereka semua sekarang.
Cindy menatap denah pembagian kamar.
Mencari nama Sandy Gunawan.
Dan Revalina.
Lalu dia tertawa senang.
Dia dan Sandy berada di lantai yang sama.
Sementara Reva satu lantai dibawahnya.
Reva tidur bersama teman-temannya, grup SHE.
Ah..nasib baik sedang ada di pihaknya.
Dia akan merebut Sandy !
Sementara di saat yang sama.
Reva pun sedang menatap denah.
Keningnya berkerut.
Sandy ada di atasnya.
Bersama dengan Michael dan Robert.
Di masing-masing kamar.
Matanya menelusuri blok-blok kamar lain.
Dan amarahnya timbul.
Cindy ada di deretan seberang kamar Sandy.
Memang tidak langsung.
Kamar Cindy berbelok dulu.
Tapi mereka berada di lantai yang sama.
Reva menghembuskan nafas.
Mini menatapnya.
"Kenapa ?" tanyanya.
"Om ku.
Dia satu lantai bersama Cindy."
"Hah?!
Mana ?"
Selina, Jasmine, Esse dan Mini langsung merubungi Reva.
"Ini.
Dan ini kamar Om ku." tunjuk Reva.
"Gilak ...
Deket banget." komentar Selina.
Reva cemberut.
"Kamu pindah gih." kata Esse.
"Hah ?!
Pindah kemana ?
Kamar kita kan udah ditentukan."
"Ya kamu tidur di kamar Sandy !" jawab Mini tak sabar.
"Hah ?!
Kagak perawan lagi aku ntar !" sahut Reva.
"Kan emang kamu mau kawin juga !" bantah Jasmine.
"Iya..
Mau tidur sekarang apa tidur nanti setelah kawin...
Gak ada bedanya, Va !" kata Selina.
"Kamu mau yang mana, Va ?
Sekarang enggak perawan atau...
Tunangan kamu direbut orang ?!"
Reva terdiam.
"Tapi..." katanya tetap tidak rela.
Dia bukannya tidak ingin menyerahkan diri pada Sandy tapi...
Dia ingin menyerahkan diri dalam keadaan sudah terikat resmi.
Dalam naungan pernikahan..
Supaya ikatan suci itu memang betul-betul suci.
"Ya terserah sih..
Tapi..
Hmm..kamu jaga-jaga aja." jawab Jasmine.
"Hmm...
Kita semua bakal ikut bantuin kamu.
Jangan khawatir.
Aku gak suka sama pelakor..!" tegas Mini.
Reva bergegas membereskan barang-barangnya.
Menggantungnya di lemari kecil.
Lalu dia mengambil ponselnya.
'Om lagi dimana ?' ketiknya.
'Dikamar. kenapa ?' Sandy.
'udah selesai beresin barang ?
Mau dibantu in?'
'Kamu sini deh.'
Reva tersenyum menatap ponselnya.
__ADS_1
Selina dan Mini memandang nya.
"Udah sono !
Dari pada senyum-senyum sendiri disini !" kata Jasmine.
"Aku ke tempat Om ku dulu ya.."
Reva lalu langsung pergi keluar kamarnya.
Teman-temannya berdecak.
Sementara itu Reva sudah menekan bel di pintu kamar Sandy.
Sandy membuka pintu.
Melihat ke kiri dan ke kanan, lalu langsung menarik pinggang Reva.
Ditutupnya pintu kamar, dia mencium Reva dengan bernafsu.
Reva sendiri sudah mengalungkan tangannya di leher Sandy.
Dia berjinjit agar Sandy leluasa menciumnya.
Setelah beberapa lama, Sandy melepaskan ciumannya.
"Hmm ...kangen aku.." katanya.
Lalu Reva Teringat alasannya datang ke kamar Sandy.
"Om..." katanya dengan bibir cemberut.
"Hmm..."
Sandy gemas sekali melihat bibir itu..
Disambarnya sebentar.
"Ihh..Om !!"
Reva makin cemberut.
Sandy terkekeh.
"Apa ?" katanya.
Reva tidak menjawab.
Dia mendekati tempat tidur lalu membaringkan dirinya disana.
Sandy mengikutinya.
Berbaring di sebelahnya.
"Om satu lantai sama mantan !" kata Reva dengan nada menuduh.
Sandy tidak menjawab.
Sejujurnya...dia tidak tau dan tidak peduli juga.
Sandy betul-betul sudah move on.
Ngapain mikirin mantan kalau tunangan di sebelahnya jauh lebih cantik dan seksi.
Apalagi sebentar lagi dia bakal belah duren.
Mimikirkan belah duren membuat Sandy tersenyum sendiri.
Reva yang melihatnya tersenyum jadi salah paham.
"Om !!
Jadi Om seneng ya...kamarnya deket sama mantan ?!. Sementara kamarku jauh ?!"
Reva kini malah marah.
"Hah ?!
Reva menatapnya tak percaya.
Matanya menyipit memandang Sandy.
Sandy memandang Reva, menilainya.
"Kamu tidur sini deh..
Jagain tunangan kamu.." kata Sandy akhirnya.
Dia betul-betul malas bertengkar tentang Cindy.
Boro-boro bertengkar, mikirin aja gak pernah !! batinnya.
"Tapi nanti..nanti..."
Reva tidak berani melanjutkan.
"Kenapa ?
Takut kamu gak kuat nahan diri dari aku ?
Emang susah ya.. punya tunangan ganteng..
Bawaannya ***** melulu
Hmm..?" kata Sandy tersenyum jail.
Plak.
Tangan Reva melayang ke perut Sandy.
"Aduh, Va....Bukannya disayang-sayang tunangan nya ?!" kata Sandy.
"Ya..ini lagi disayang..
Tunangan nya suka geer sih." cemberut Reva.
Dia masih tidak terima dengan
senyuman Sandy tadi.
Sandy kembali tertawa.
Hatinya lumayan lega.
Reva yang cemburu artinya Reva punya perhatian padanya.
Sandy memiringkan badannya menghadap Reva.
"Nanti malam tidur sini, ya?" bujuknya.
"Enggak mau..
Om suka *****." jawab Reva.
"Va...kamu kan punya kewajiban ngejagain aku.
Kalo malam-malam ada yang ngetuk, terus langsung masuk..
Njebak aku...gimana ?"
"Ya Om hati-hati dong..
jangan buka pintu sembarangan !" ketus Reva.
"Makanya.. kamu disini dong.."
__ADS_1
"Ehmm..liat entar ya Om..
Aku kan malu sama teman-teman kalo ketauan tidur disini."
"Va.. mereka bakal ngerti kok." kata Sandy lembut.
Reva menatap Sandy penuh keraguan.
Sandy gemas sekali melihatnya.
Dia merangkul kepala Reva lalu menciumnya dengan sayang.
"Emm...
Sebetulnya... sebetulnya mereka juga nyuruh aku kesini Om." kata Reva.
"Nah cocok !" senyum Sandy terlihat lebar.
"Seneng banget sih Om ?!"
"Ya seneng dong..
Bisa sekamar sama tunangan sendiri."
"Kalo..kalo aku tetep tidur sama teman-teman ku, Om bakal selingkuh gak ?" tanya Reva hati-hati.
"Ya ampun Reva !!
Aku ini udah gak punya rasa.
Sama sekali.
Kan udah ada kamu.
Kalo aku masih ragu, aku gak mau nyelipin cincin ke jari kamu !"
Reva tersenyum..Jarinya menelusuri rahang Sandy.
"Aku percaya sama Om..Tapi aku gak percaya sama dia.
Jadi..aku harus gimana ?
Om tau sendiri kan..cewek kalo lagi suka itu sering kalap.
Liat aja waktu tante Tia dulu.
Tu cewek Kalap Om..." kata Reva.
"Ya itu sih emang si Olive udah gila, Va.."
"Iya gila..
Gila karena cinta.
Mantan Om juga.
Gila juga..
Om apain sih ?
Sampe kepelet kayak gitu ?"
"Enggak diapa-apain, Va..
Justru malah aku pake.."
"Om sih...mainnya hebat banget.." cetus Reva cekikikan.
Sandy langsung menindih Reva.
"Darimana kamu bisa ngebedain aku main hebat apa enggak ?
Kamu udah pernah nyobain ?!" ancam Sandy menyipitkan matanya.
"Aduh..duh...
Om..!!
Lepasin Ihh !!" Reva meringis.
"Darimana kamu tau, Va ?!" desak Sandy.
Amarahnya sudah terbit.
Rasa kecewanya sudah mulai muncul.
Akankan dia akan dikhianati lagi ?
"Om kan yang bilang...
Pake dia doang.
Tapi dianya malah makin kesengsem sama Om.
Apalagi kalo bukan karena Om mainnya hebat ?
Bikin perempuan pengalaman kayak dia tergila-gila." jawab Reva.
Sandy mengendur.
Dia lega.
Tapi dia tetap menindih Reva.
Menyukai kelembutan di bawahnya.
Rambut Reva tergerai di atas bantal.
Pipinya memerah.
Bibirnya yang kemerahan sedikit membuka.
Seakan memanggil Sandy untuk menciumnya.
Sandy menunduk.
Menempelkan hidungnya di pipi Reva.
Menghirup.
Bergeser sedikit.
Dia menggigit cuping telinga Reva.
Reva terkikik.
"Om...udah ah..geli !"
"Jadi....tidur sini kan Sayang ?"rayu Sandy.
"Enggak !
Om kan yang bilang mau nikmatin aku dalam pernikahan ?"
Sandy tersadar.
Dia lalu kembali berbaring di samping Reva.
"Kamu disini aja.
Aku males bertengkar.
Padahal akunya gak ngapa-ngapain.
Kita udah mu kawin, Va.
__ADS_1
Aku pingin kita punya ikatan batin yang lebih." katanya.
...🌴🍇🎀☘️...