Kamu Milikku

Kamu Milikku
Mana Obatnya ?


__ADS_3

Mami menatap Steven.


'Oo..jadi ini yang ingin merebut calon anakku !' pikirnya geram.


Mami melirik Reva. Dahinya langsung berkerut melihat Reva yang terkejut dan terpana menatap Steven.


Mami kembali menatap Steven.


Steven dan Reva saling menatap.


Rasa tidak suka langsung menghinggapi hatinya.


"Apa sih yang dilihat Sandy ? Sampe harus berebut perempuan sama anak buahnya sendiri !"


Mami lalu mengamati Sandy.


Sandy terlihat bahagia sesaat tadi selesai akad nikah. Tapi kini wajahnya bercampur emosi.


Mami lalu mengamati Reva.


Apa Reva akan mengkhianati Sandy ? Hhh..awas aja kalo sampe dia berani !


Mami mengerucutkan bibirnya.


Lain Mami lain Mama.


Mama juga memperhatikan keributan di luar dan akhirnya saat anaknya saling bertatapan dengan Steven.


Steven ?


Mama menatap laki-laki tinggi, berkulit putih bermata sipit dengan rambut yang berantakan. Wajahnya penuh emosi. Menatap ke arah Reva dan Sandy dengan penuh marah tapi juga sedih dan kecewa.


Mama jatuh kasihan melihatnya.


Kapan mereka berhubungan ?


Kenapa Mama tidak tau ?


Mama cuma tau bahwa Sandy sudah lama ingin memperistri Reva bahkan membelikan rumah sebelum Reva mau menerima Sandy.


Selama tinggal di rumah, Mama sudah tau bahwa Sandy memiliki perasaan lain pada Reva. Terlihat jelas dari perilakunya dan perlakuan nya pada Reva.


Tapi Mama juga tau bahwa anaknya yang satu itu ndablek. Sering tidak tau dan tidak mau tau tentang perasaan orang lain. Ada banyak yang naksir Reva dulu di sekolah.


Tapi tidak seperti gadis-gadis lain yang heboh dengan cowok-cowok yang mengejar mereka, Reva bersikap cuek dengan mereka. Pernah juga melihat Reva menolak dengan terang-terangan.


Sama halnya dengan Sandy. Mama Tau bahwa Reva menolak Sandy.


Jadi...ini alasan dulu Reva menolak Sandy?


Karena Steven ?


Mama mengingat-ingat sikap dan perilaku Steven selama menginap di rumahnya.


Steven sopan tapi....


Mama menggelengkan kepalanya. Kembali menatap Steven.


Masa sih Reva suka sama tipe cowok seperti ini ? Berbeda sekali dengan cowok kebanyakan di lingkungan mereka.


Yang jelas... wajahnya berbeda. Yang ini oriental sekali.


Sementara itu...


Reva tersadar saat mendengar Sandy berdehem. Tangannya masih memegang tangan Sandy. Ditariknya tangan Sandy.


Sandy menunduk saat merasakan tarikan tangan Reva. Menyembunyikan perasaannya, dia menyunggingkan senyum pada Reva.


"Mas .." panggil Reva lalu dia terbatuk-batuk.

__ADS_1


Reva langsung melepaskan tangan Sandy. Dia menutup mulutnya dengan tangan.


Sandy segera mengambil tissue di meja lalu menyodorkan pada Reva. Tapi Reva tidak sempat mengambil. Dia sibuk batuk-batuk.


Sandy lalu mengelus pelan punggung Reva sambil menyodorkan air.


Steven maju dan langsung dihalangi oleh Michael.


Wajahnya kembali marah.


"Apa ? " tantangnya.


Tinjunya mulai terangkat.


"Steve.." kata Michael memperingatkan.


Steven menoleh ke arah Reva.


"Dia batuk. Aku mau ambil obat buat dia." katanya sengit.


Sandy mengangkat kepala.


"Mana obatnya ?" tanya Sandy.


Steven tidak menjawab. Dia berjalan mendekat ke arah tempat tidur.


Sandy berdiri menghalangi.


"Mana obatnya, Steve ?!" tanyanya tegas.


Steven hanya memandang Sandy tajam lalu mendorongnya ke pinggir. Tangannya meraih laci meja lalu dikeluarkan satu kaplet obat. Steven merobek bungkusnya lalu membungkuk diatas Reva yang masih batuk-batuk.


"Makan obatnya Va.." katanya.


Reva mengangkat tangannya, mengibas, mengusir Steven.


"Reva ! Makan obatnya !" kata Steven dengan suara tegas dalam bahasa Indonesia.


Steven tersenyum diam-diam.


Dia meletakkan obat di tangan Reva. Sengaja menyentuh nya.


Seperti tersengat listrik, Reva bergegas menarik tangannya. Dimasukkannya obat batuk ke dalam mulutnya.


Merasakan rasa hangat dari obat batuknya, Reva memejamkan mata. Dia lalu bersandar pada bantalnya.


Batuknya berkurang.


"Udah enak, Va ?" terdengar suara Sandy.


Reva mengangguk. Belum mampu membuka mulutnya. Dia mengatur nafas. Masker oksigen diselipkan kembali ke hidungnya.


Reva membuka mata. Sandy yang memasang masker oksigennya. Bibirnya tersenyum menenangkan. Reva mengangguk. Lalu menggeleng.


"Apa ?" tanya Sandy.


Reva menggeleng. Tangan memberi isyarat bahwa dia sedang tidak bisa berbicara.


Sementara Steven berdiri tegak di samping tempat tidur Reva. Dia tidak ingin beranjak.


Mama diam-diam menghampiri Steven dari belakang dan berdiri di sampingnya. Tangannya lalu mencolek lengan Steven.


Steven menoleh, bersiap melawan siapapun yang ingin menjauhkan nya dari Reva.


Tapi kemudian dia melihat bahwa Mama Reva yang mencoleknya.


Steven mengubah ekspresinya.


"Obatnya yang mana saja Mas Steven ?" tanya Mama.

__ADS_1


"Oh....yang dilaci hanya obat batuk aja..ehm...Ma. Kalo obat lain, diatur sama suster. Karena beda-beda waktu minumnya." terang Steven.


Dengan sengaja juga, dia menyebut Mama Reva dengan sebutan Mama.


Sandy yang mendengar langsung meliriknya. Tapi tetap menjaga wajahnya tetap datar.


Urusan bagaimana nanti Reva akan memperlakukan Steven setelah sekarang sah menjadi istrinya, itu adalah urusan belakangan. Sandy memastikan bahwa Reva nantinya akan memperlakukan Steven hanya sebagai teman. Kalau perlu, dia akan memastikan Reva untuk menjauhi Steven.


Terdengar suara berdehem.


"Baik Bapak dan Ibu...Mas Sandy dan mbak Reva...karena urusannya sudah selesai, kami mau pamit dulu."


Sandy dan Reva mendongak.


Papa dan Papi mengangguk dan tersenyum. Keduanya berbasa-basi pada para tamu dan penghulu dari kedutaan dan notaris. Mama dan Mami juga ikut mengantar para tamu.


Sandy beranjak hendak ikut mengantar tapi beberapa tamu menggeleng dan mengibaskan tangan mereka. Meyakinkan Sandy untuk tidak ikut mengantar mereka.


Beberapa tamu melirik Steven. Ini alasan utama mereka tidak ingin diantar oleh Sandy.


Khawatir pengantin perempuan nanti dibawa lari sama bocah oriental ini.


Yang berani sekali merusak acara pernikahan orang lain.


Untung pernikahan nya berjalan lancar. Sebelum pemuda tidak tau diri ini datang.


Steven bukan tidak menyadari pandangan bermusuhan yang dilontarkan para tamu. Tapi dia tidak peduli. Dia tetap berdiri di tempatnya. Disamping tempat tidur Reva.


Josh, Liu, Anna dan yang lainnya saling berpandangan lalu saling menyikut. Siapa yang berani menghadapi Steven saat ini ?


Josh mendapat pelototan dari Anna. Dia menghela nafas.


Josh lalu mendekati Steven.


"Steve...ayo duduk di luar.." ajaknya.


Steven tidak menoleh. Dia masih memandang Reva. Sementara yang dipandang berusaha keras untuk tidak balas memandang.


"Steve !" ajak Josh lebih keras.


Steven memandangnya dingin.


Josh meremang bulu kuduknya.


...🌳🌼🌺...


Halo Pembaca Tercinta..


Entah mengapa, Author tiba-tiba jadi punya ide cerita untuk novel baru.


Baru nulis dua bab.


Dan....


Emmm.... Author kasih ancang-ancang dulu ya..biar pada siap batin.


Bab pertamanya vulgar ..πŸ™ˆ


18 tahun keatas deh 😁


Jadi malu Author, ketauan isi otaknya πŸ™ˆπŸ™ˆ


Doain aja biar novel KAMU MILIKKU dan


novel SELINGKUHKU SELINGKUHMU


bisa jalan bareng dan Author nya punya ide yang mengalir lancar selancar arus sungai yang deras mengalir.


Terima kasih dan selamat membaca 😘😘

__ADS_1


Jangan lupa untuk tetap SEHAT, CANTIQ dan GANTENG...


__ADS_2