Kamu Milikku

Kamu Milikku
Saling Memaafkan Dan Menerima


__ADS_3

" Steve...ayo keluar.." ajak Michael.


Steven bergeming.


"Steve, biarkan Reva istirahat. Dia capek. Nanti gak sembuh-sembuh." bujuk Anna.


Sandy berdiri menghadap Steven sambil tersenyum.


"Steve...biar aku yang jaga Reva. Aku suaminya sekarang." katanya sekuat tenaga menjaga suaranya tetap tenang walaupun dalam hati ingin meninju muka Steven.


Dan dia dengan sengaja menekankan kata suami. Supaya Steven paham dan mundur dari niatnya.


Steven menolehkan kepalanya pada Sandy, menatap nya tajam. Lalu mendekat pada Sandy hingga kepala mereka hampir menempel.


"Aku pinjamkan dia sama kamu. Jaga dia, buat dia bahagia. Karena.... kalau dia tidak bahagia, aku akan ambil dia kembali !" desisnya.


Sandy melirik tajam.


"Aku jamin dia bahagia bersama ku, Steve. Dan... aku bukan meminjam. Dia milikku !" balasnya ikut mendesis.


Sandy sebetulnya sudah marah sekali. Tapi dia harus menahan diri.


Mata Steven menyipit. Dia melirik pada Reva.


Reva tidak mau melihat padanya. Dia terus menunduk.


Sebelum Sandy sempat menepis, tangan Steven sudah melayang ke arah kepala Reva. Diusapnya rambut Reva.


Reva tersentak. Dia mendongak menatap Steven.


Steven tersenyum menatap dalam mata bulat indah yang selalu dia sayangi.


"Cepet sembuh." katanya lalu langsung berpaling pergi.


Semua orang menarik nafas lega.


Steven aneh walaupun easy going. Tapi segala hal yang menyangkut Reva mampu memicu emosinya. Teman-temannya tau sekali tentang hal ini.


Dalam hati, mereka sedikit menyesalkan Sandy yang merebut Reva dari Steven.


Tapi ibu Steven lah yang menjadi penghalang hubungan mereka. Walaupun kelihatannya Steven ingin berjuang. Tapi Reva lebih memilih mundur.


Dan Sandy menangkap kesempatan itu.


Lagipula...siapa yang tidak ?


"Reva....Boss... Selamat ya...semoga selalu bahagia.." kata Josh memberi selamat.


Anna, Liu, Andrew dan yang lainnya menyusul memberikan ucapan selamat lalu keluar ruangan.


Mereka tidak mau memadati kamar Reva lebih lama.


Lagipula....ada Steven yang perlu dihibur.


Tia mendekati Reva.


"Selamat ya sayang, Ko Sandy.. Semoga pernikahan kalian bahagia dan ehmmm...cepet dapet momongan kayak gue.." katanya terkekeh.


Sandy tersenyum lebar.


"Cepet dapet momongan ya Ti ? Kayak elu...sebulan nikah langsung jadi..." katanya melirik Reva.


"Mas !!"


Tia terkekeh. Tangannya mengelus perutnya yang membuncit. Anak keduanya.

__ADS_1


"Nah..kalo itu sih... tinggal gimana rayuan maut lu ke Reva. Ya enggak, Va ?" katanya mengedipkan mata.


"Tante !!"


Pipi Reva memerah.


Mereka semua saling tertawa dan mengobrol santai saat para orang tua datang kembali.


Reva mendongak dan tersenyum pada mereka.


Tapi senyum itu membeku sesaat saat melihat pandangan tajam Mami padanya.


Tapi pandangan itu hanya sebentar, Mami lalu memaksakan senyumnya pada menantu barunya.


Reva menunduk. Sejujurnya dia merasa bersalah dengan insiden tadi. Dia merasa bahwa dia sudah mempermalukan Sandy, suaminya.


Lalu kemudian Reva memutuskan.


Reva membuka masker oksigennya.


Sandy yang melihat lalu menegur.


"Va...kenapa di buka maskernya ?" tanyanya lembut.


Reva semakin merasa bersalah pada Sandy. Sandy begitu baik, lembut dan memperlakukan nya dengan sangat baik. Tapi apa balasan dia ?


Mempermalukan Sandy di depan semua orang di hari pernikahan mereka.


Reva lalu mengambil tangan Sandy. Digenggamnya erat lalu menempelkannya pada dahinya turun ke hidung, dihirupnya aroma tangan Sandy. Lalu turun ke mulut. Perlahan dan lama, di tekannya tangan Sandy ke bibirnya.


"Va..." Sandy terpana dengan apa yang dilakukan Reva.


Reva lalu mengangkat wajahnya. Memandang Sandy lalu kemudian Mami dan Papi.


"Mas...Mi, Pi...Reva minta maaf. Reva udah bikin malu Mas Sandy, Mami dan Papi di depan para tamu tadi. Reva terima salah." katanya pelan tapi dengan suara yang jelas.


Sandy menatap Reva terharu. Dia semakin merasa sayang pada gadis ini.


"Va...udah... udah... Mas gak marah kok.." senyum Sandy.


Mami mengerutkan kening tapi tidak ada yang melihat padanya. Semua orang terfokus pada interaksi Sandy dan Reva.


Reva menggeleng. Air mata mengembang matanya. Sandy luluh melihatnya.


"Mas gak marah. Bener !" katanya meyakinkan Reva.


Reva masih diam dan terus menatap Sandy.


"Hey...kalo dipikir-pikir...Mas justru bangga. Kamu dicintai orang seperti Steven dan kamu milih Mas. Mas yang berhasil dapetin kamu. Mas lah yang jadi suami kamu . Jadi jangan mikir macem-macem lagi ya.." senyum Sandy.


Reva terpana, tak percaya dengan apa yang didengarnya.


"Mas..."


"Sekarang kita sudah nikah. Yang lalu biar berlalu. Ada masa depan cerah dan indah di hadapan kita. Kita songsong sama-sama. Terima kasih udah jadi istri Mas ya..." kata Sandy sambil mencium kening Reva.


Reva masih terus menatap Sandy. Digenggamnya tangan Sandy lalu kembali menciumnya dengan takzim.


"Makasih Mas. Reva janji bakal jadi istri yang baik buat Mas. Tolong bimbing Reva." katanya.


Sandy langsung terharu.


Ya ampuuun...dia sama sekali tidak menyangka. Gadis pintar, baik dan cantik ini bersedia menundukkan kepalanya dan berjanji menjadi istri yang berbakti padanya.


Sandy memeluk Reva erat.

__ADS_1


"Aku cinta kamu, Va.." bisiknya pelan di telinga Reva.


Reva langsung merangkulkan kedua lengannya di leher Sandy dan menyusupkan kepala disana.


"Terima kasih Mas.." balasnya.


Lama mereka berpelukan sampai kemudian terdengar suara berdehem.


Keduanya cepat-cepat melepaskan diri.


Semua orang memandang mereka sambil tertawa.


"Ngerti sih... namanya juga pengantin baru...cumaaa..." Robert tidak menyelesaikan kata-katanya. Dia mengedipkan mata.


Reva langsung memerah malu.


"Ah....lu aja yang kagak pengertian, Bet !" sahut Michael pura-pura memarahi Robert.


"Ngerti dong !" sahut Robert lagi.


"Kalo ngerti, mestinya lu cepet-cepet keluar dari sini Bet ! Ganggu aja !" gerutu Sandy.


Semua kembali tertawa.


Papa mendekati Sandy.


"Mas Sandy, terima kasih ya sudah mau menerima dan memahami kondisinya Reva. Kami sekeluarga minta maaf terutama pada keluarga Pak Gunawan. Anak kami sudah membuat acaranya berantakan. Untungnya Mas Sandy bisa mengusahakan pernikahan ini tetap dilaksanakan walaupun dalam kondisi seadanya. Kami sekeluarga mohon maaf sebesar-besarnya." kata Papa panjang lebar.


Papi tersenyum lebar.


"Kami pun mohon maaf juga pada keluarga Pak Widodo. Anak kami, Sandy tetap keukeuh memaksakan supaya tetap bisa menikah dengan Reva padahal Reva nya sedang sakit. Tapi yang penting sekarang keduanya sudah dipersatukan dalam ikatan pernikahan. Buat kita orang tua, hanya bisa mendorong dan mendukung mereka supaya pernikahan ini membawa berkat, berkah dan kebahagiaan buat mereka berdua serta cucu-cucu kita nanti."


"Aamiin..." sahut semua yang hadir.


Lalu Papa Mama Papi Mami mendekati keduanya, memeluk dan mencium mereka. Reva dan Sandy mencium tangan orang tua mereka sambil meminta restu.


Setelah itu Michael, Robert dan keluarga mereka menyalami kedua pengantin baru itu.


Suasana sudah cair.


"Papa sama Mama ..mumpung lagi disini, mendingan jalan-jalan aja. Gak usah khawatir. Biar Reva saya yang temani." kata Sandy.


"Gak papa Mas Sandy ?" tanya Mama yang khawatir merepotkan Sandy.


"Gak papa dong Ma..."


"Beugh....sok mau jagain.. Bilang aja lu pingin beduaan kan ?" sambar Robert.


Semuanya tertawa.


"Nah itu lu tau..Udah sono lu pegi !" balas Sandy.


Semua kembali tertawa.


"Beneran nih Mas Sandy, Mama tinggal gak papa ?" tanya Mama meyakinkan diri.


"Bener Ma...gak papa. Nanti aja kalo udah jam jenguk ke sini lagi. Mama sama Papa jalan-jalan aja. Nikmatin Beijing di musim dingin." senyum Sandy.


"Ya udah..kita tinggal aja. Mereka berdua juga pingin menghabiskan waktu. Kan udah lama juga gak ketemu. Apalagi sekarang sudah halal." kata Papi mengedipkan matanya.


Senyum Sandy melebar. Ah...Papi nih tau banget keinginan anaknya.


Mereka semua lalu beramai-ramai keluar dari kamar Reva.


Ditinggal berdua, Reva dan Sandy saling berpandangan.

__ADS_1


...🌺🌼🌳...


__ADS_2