Kamu Milikku

Kamu Milikku
Kebahagiaan Untuk Aira part 2


__ADS_3

Dokter mengatakan jika Tuan Andreas tidak dapat diselamatkan, dan Citra masih dalam kondisi kritis.


Aira turut bersedih akan kepergian ayahnya Citra, padahal pria itu sebenarnya ayah yang baik, hanya saja dia salah dalam mendidik putrinya.


Addrian sudah menghubungi keluarga Citra di luar negeri, mereka akan segera datang untuk mengurus semuanya.


Addrian kemudian pergi ke kantor polisi untuk mengetahui perkembangan tentang kasus penusukan Citra.


"Aira, seperti aku harus merepotkan kamu dan Addrian."


"Maksud, Bibi?"


"Aku akan menjalani hukuman karena sudah menusuk Citra. Aku mau menitipkan Nadin pada kalian karena aku tidak mau menitipkan Nadin pada keluarga Citra yang tidak ada menyukaiku dan Nadin dari awal aku menikah dengan mendiang ayah Nadin. Mas Andreas saja yang sangat baik dan pengertian pada keluargaku dulu, dan sekarang dia sudah tidak ada."Bu


"Jangan bicara seperti itu, Bi. Bibi melakukan hal itu karena Bibi melindungiku dari Citra yang ingin membunuhku."


"Bibi tau, Aira, tapi tetap saja ada hukuman bagi orang seperti Bibi."


Aira melihat ke arah Addrian dan Addrian berjanji akan mencarikan pengacara terbaik yang akan membela bibi Anna.


Beberapa hari bibi Anna di sel tahanan sementara sambil menunggu kasus diselidiki semuanya, Nadin putri wanita berparas lembut itu tinggal di rumah Aira dan Addrian. Gadis itu terlihat senang walaupun dia selalu menanyakan kabar ibunya. Nadin sudah dijelaskan kenapa ibunya tidak bisa menemaninya untuk beberapa hari.


Hari persidangan dimulai. Aira dan Addrian serta keluarga mereka juga datang ke persidangan.


Persidangan berjalan lumayan memakan waktu, dan akhirnya mereka mendapat keputusan jika Bi Anna divonis penjara selama tiga tahun karena apa yang sudah dia lakukan.


Hal itu tentu saja tidak membuat Addrian tidak tinggal diam, dia mencoba meminta banding karena apa yang Bi Anna lakukan adalah upaya untuk melindungi Aira dari apa yang akan dilakukan oleh Citra.


Namun, hukuman itu sudah jauh lebih ringan dari tuntutan jaksa. Keluarga Citra yang memang tidak suka dengan Bi Anna mencoba membuat wanita cantik itu dihukum seberatnya karena mereka menyalahkan semua yang terjadi karena wanita itu hadir dalam keluarga besar Citra.


"Ibu, aku tidak mau berpisah dari Ibu," suara Nadin kecil yang terdengar sedih, dan dia sedang memeluk ibunya.


"Nadin, kita tidak lama akan bertemu lagi, dan Nadin ingat selalu pesan ibu."


"Iya, Nadin ingat. Nadin harus bersikap baik dengan Tante Aira dan paman Addrian, dan tidak boleh merepotkan mereka sampai ibu nanti pulang menjemput Nadin."

__ADS_1


"Anak pintar." Wanita itu memeluk kembali putrinya. Tampak Air matanya yang tidak dapat dia bendung. Bibi Anna memeluk tubuh kecil putrinya itu dengan sangat erat seolah dia tidak mau melepaskan apapun alasannya, tapi dia tidak bisa melakukannya karena bibi Anna harus segera ikut pihak berwajib menjalankan hukumannya.


Nadin tinggal bersama Aira dan Addrian. Hal ini pun disetujui oleh kedua keluarga mereka.


Nadin pun tampak sayang pada Aira karena dia merasakan jika apa yang Aira selama ini berikan sangat tulus.


"Tante, kapan bayi Tante Aira akan lahir? Aku tidak sabar ingin mengajaknya bermain bersama denganku."


"Tante juga sedang menunggu kelahirannya. Tante dan Om Addrian ingin sekali segera menggendongnya, dan kamu juga nanti boleh mengajaknya bercerita tentang buku yang Nadin tiap hari dibacakan oleh ibunya.


"Iya, nanti aku akan ceritakan semua cerita yang bagus-bagus, supaya adik bayi senang."


Aira mengusap kepala Nadin. Di sana Nadin sudah seperti anak Aira dan Addrian sendiri. Mereka memenuhi semua kebutuhan Nadin.


***


Pagi itu Aira yang sudah bangun melihat suaminya masih lelap tertidur. Dia sebenarnya ingin membangunkan Addrian untuk dia ajak jalan pagi ke taman dekat rumah, tapi saat melihat wajah lelah suaminya, Aira tidak tega.


"Tante Aira sudah bangun?"


"Iya, Tante, walaupun hari ini aku libur sekolah, tapi aku tidak mau bermalas-malasan. Aku mau melihat film kartun kesukaanku."


"Oh begitu. Kalau Tante mau pergi jalan-jalan pagi ke taman. Apa Nadin mau ikut Tante saja?"


Nadin seketika mengangguk dengan semangat. "Kalau begitu aku ikut Tante Aira, ya?"


Aira dan Nadin saling bergandengan tangan menuju taman. Di taman banyak sekali orang yang juga sedang menikmati liburan.


"Nadin, kita mengitari lapangan ini saja karena Tante mendekati hari kelahiran, jadi, tante harus banyak berjalan."


"Kita jalan berdua saja, Tante."


Aira berjalan perlahan-lahan mengitari lapangan dengan wajah yang senang. Nadin pun tampak bahagia menggandeng tangan Aira. Mereka berdua terlihat seperti ibu dan anak perempuannya.


"Tante, Nadin mau minum."

__ADS_1


"Kamu haus, ya? Tante juga haus. Kalau begitu kamu tunggu di sini biar Tante Aira berikan minuman."


Aira berjalan perlahan menuju penjual minuman. Saat berjalan dia malah ditabrak dengan sengaja oleh seseorang. Orang itu menggunakan topi hitam dan memakai masker.


Aira yang seolah ditabrak, tapi sebenarnya tangan orang itu mendorong Aira agar jatuh, membuat Aira berteriak dan mencoba berpegang pada sesuatu.


"Awas, Mba!" Ada seorang yang dengan cepat memegangi tubuh Aira hingga Aira tidak sampai terjatuh.


Orang yang menabrak Aira itu seketika berlari dari sana. Nadin yang melihat hal itu langsung berlari menuju Aira.


"Tante Aira tidak apa-apa?"


"Tante tidak apa-apa, tapi perut Tante kenapa sakit begini?"


Aira tiba-tiba merasakan perutnya yang sakit. Dia berteriak kesakitan.


Orang-orang yang ada di sana mencoba menolong Aira. Nadin meminta tolong agar membawa Aira ke rumah sakit.


Beberapa dari mereka ada yang mengenal Aira. "Kamu yang rumahnya hanya berjarak satu blok dari sini, kan?"


"Iya, Tante. Tante, Nadin minta tolong Tanteku di bawa ke dokter. Nadin akan berlari pulang memanggil Om Addrian."


"Ada rumah sakit dekat sini. Kita akan membawanya ke sana."


Nadin segera berlari menuju rumah Addrian. Padahal ada yang tau rumah Addrian dan berlari mengikuti Nadin. Di tengah jalan karena terburu-buru, dia sampai jatuh dan dahinya terbentur sesuatu hingga berdarah.


"Aduh sakit!" erangnya. "Aku harus segera ke rumah dan memberitahu Om Addrian.


"Kamu tidak apa-apa, kan?" Pria yang mengikuti Nadin menolong Nadin.


Sesampai di rumah. Nadin melihat ada Addrian yang sedang berdiri di dekat lemari es membaca note yang ditinggalkan oleh Aira. Aira menulis di sana jika dia dan Nadin pergi ke taman dan menunggu Addrian di sana.


"Om Addrian," panggil Nadin.


"Nadin? Kamu sudah pulang? Mana Tante Aira?"

__ADS_1


"Tante Aira perutnya sakit dan tadi hampir jatuh."


__ADS_2