Kamu Milikku

Kamu Milikku
Mereka Memang Bodoh !


__ADS_3

Sandy diantar ke kamarnya oleh Reva.


"Om..."


Sandy menoleh.


"Mana baju kotornya ?


Biar dicuci.


Jadi besok udah bersih.


Mana tau harus nginep lagi." kata Reva.


"Besok aku pulang selesai panen."


"Sebetulnya yang bandel itu aku apa Om sih ?"


"Mas." kata Sandy tak bosan membetulkan.


"Kamu yang bandel Va, ngaca deh.


Mata kamu tu jail !" kata Sandy menyeret Reva ke depan cermin.


Mereka saling bertatapan di pantulan cermin.


Bibir Reva tersenyum lebar.


"Aku serius Om.


Mana baju kotornya, biar dicuci.


Besok Om bakal say tengkyu sama aku deh.


Gak usah khawatir Om..yang nyuci bukan aku, mesin kok." senyum Reva.


Matanya masih menatap Sandy.


Sandy menatap Reva, lalu menghela nafas panjang.


Dia mengambil plastik berisi bajunya.


Reva mengulurkan tangannya.


Sandy menepis.


"Dimana mesinnya ?" tanya nya.


Reva nyengir.


Dia keluar kamar, diikuti oleh Sandy.


Sampai disana, Sandy lalu memasukkan bajunya ke dalam mesin.


Reva menuangkan detergen lalu menyalakan mesin.


"Besok aja jemurnya Om.


Biarin aja di sini sampai selesai.


Om tidur aja.


Kan capek dari siang kerja terus."


Sandy menatap Reva.


"Kamu ini gak bakal manggil Mas ya"


"Enggak. Belum.


Gak tau deh." jawab Reva sekenanya.


Menghindari menatap Sandy.


Sandy langsung berbalik dan menuju kamarnya.


Dia menutup pintu.


Merebahkan dirinya, Sandy langsung pulas.


Sementara...


Berlawanan dengan kata-kata nya sendiri, Reva menunggui mesin cuci selesai bekerja sebelum akhirnya dia menjemur pakaian Sandy.


Tanpa ragu memasukkan baju dalam Sandy ke hanger dan menggantungnya.


Lalu Reva pergi tidur.


Paginya...


Sandy membuka mata.


Memandang ke sekeliling nya.


Tidak mengenali dimana dia berada.


Langit-langit kayu, lampu gantung model kuno, jendela kayu.


Perlahan kesadarannya meresap.


Dia sedang berada di rumah Reva.


Sandy berjalan menuju jendela lalu membukanya.


Hawa sejuk menyambut.


Matahari belum muncul.


Sandy melirik jam di dinding.


Setengah enam kurang.


Lalu Sandy teringat dengan baju yang semalam dicuci.


Dia bergegas keluar.


Hampir menubruk Mama.


"Eh..Mas Sandy...


Udah bangun ?" sapa Mama.


"Udah Tante.


Eh..saya mau jemur baju saya yang semalam dicuci." kata Sandy menatap ke arah ruang belakang.


"Baju ?


Gak ada baju di mesin cuci.


Tante baru aja nyalain barusan." kata Mama.


Sandy mengerutkan kening lalu berjalan ke belakang.


Dia melongok ke luar.


Baju tergantung di jemuran dalam.

__ADS_1


Termasuk baju dalamnya.


Reva.


Sandy menggelengkan kepalanya.


Keras kepala.


Ngeyel.


Apa yang bisa diharapkan?


Sandy lalu mandi.


Di meja makan dia bertemu Papa, Andi, Tito dan Agus.


Mereka sarapan bersama lalu pergi ke sawah.


Beberapa buruh tani sudah datang.


Tidak sebanyak kemarin.


Papa melepaskan sebagian supaya bisa bekerja di sawah lainnya.


Kerja keras lalu dimulai.


Saat istirahat siang, Reva mengantarkan makanan.


"Om.." sapanya.


Sandy tersenyum tipis.


Dia sedang kepanasan dan kelelahan.


Kulitnya yang putih kemerahan.


Rambutnya kotor dengan jerami.


Reva menuangkan air dingin ke gelas.


"Minum Om..."


"Ehmm..."


Segar rasanya merasakan aliran dingin di tenggorokannya.


Reva memperhatikan.


Pikirannya berkelana ke beberapa bulan lalu saat di melihat Cindy dan Sandy berciuman.


Reva memalingkan wajahnya.


Keningnya berkerut sedikit.


Masih jijik.


Reva sebelumnya tidak pernah memikirkan kehidupan pribadi Sandy.


Itu urusan Sandy.


Tapi...kebaikan Sandy membuat Reva menganggap Sandy sebagai bagian dari keluarga.


Karena itu dia merasa marah.


Marah pada Cindy dan sedih.


Sedih melihat omnya terang-terangan dikhianati.


Dan kesal pada Sandy.


Bahwa pacarnya tidak cukup mencintainya ?


Laki-laki memang bodoh !!


Kasih wajah cantik dan tubuh indah, mereka akan bertekuk lutut selamanya.


Bahh !!


Sama seperti Steven!


Jenny cantik, putih dan seksi.


Yaah..mereka memang sama.


Laki-laki !


Mereka semua takut pada perempuan yang pintar.


Terutama pintar seperti dirinya.


Takut kalah.


Huh !!


Bibir Reva cemberut.


Dia sedikit membanting piring di hadapan Sandy saat membagikan piring dan sendok.


Sandy menatapnya heran.


Reva lalu pergi meninggalkan saung.


Jalannya menghentak-hentak.


Tito ikut memandang.


Dia menyenggol Sandy.


"Apa kalian bertengkar ?" tanya nya.


Sandy menggelengkan kepalanya.


Dia dan Tito menatap punggung Reva yang menjauh.


...⛰️🍎🎋...


Di Taiwan.


Anna sedang menelusuri akomodasi di Lombok.


Michael tidak setuju kalau mereka liburan ke kota Tia.


Bukan apa-apa.


Dia juga butuh liburan. Liburan yang sebenarnya bersama istri dan anaknya.


Ke kota Tia berarti dia harus membagi liburannya dengan kunjungan ke Keluarga.


Akhirnya Michael memutuskan untuk ke Lombok.


Lebih sepi dan lebih privacy untuk Tia yang seorang artis dunia.


Michael membujuk mereka semua dengan iming-iming bahwa di Lombok banyak yang bisa dilakukan.


Surfing dan diving salah satunya.


Sandy bisa dikabari untuk terbang sendiri dari kota Tia.

__ADS_1


Bersama Reva.


Jadi Anna sekarang kebagian tugas menelusuri pantai privat.


Bukan hal yang sulit.


Apalagi mereka akan pergi berombongan.


Mereka menghubungi travel agent yang akan mengurus semua keperluan mereka.


Tapi Anna ingin mencari sendiri tempat mereka akan menginap.


Dia sedang melihat-lihat saat Steven masuk.


Anna mendongak.


"Hai Steve.." sapanya.


"Lagi ngapain ?"


"Liat hotel."


Anna menggeser monitornya agar Steven bisa ikut melihat.


"Ini bagus.


Ini juga bagus.


Ini juga.


Ini juga." tunjuk Anna satu persatu memperlihatkan masing-masing hotel pilihannya.


Steven mengangguk.


"Pantainya ?"


"Semua privat."


"Surfing?"


Anna mengangguk.


Anna lalu menoleh.


"Udah telpon Reva?" tanyanya.


Steven menatap Anna.


"Untuk apa?"


"Kasih tau dia, kita mau liburan disini..


Suruh siap-siap berangkat."


Steven menatap monitor kembali.


"Itu keponakan Tia." jawabnya pendek.


"Pondoknya bagus." katanya menunjuk, mengalihkan pembicaraan.


Anna nyengir.


"Apa ?!" tanya Steven melotot.


"Liburan ini gara-gara Josh yang perhatian sama kamu Steve.


Kita semua tau kamu lagi bad mood."


"Oke.


Terus ?


Kita udah lama gak liburan.


Wajar.


Kalian juga mau libur kan..bukan aku aja." jawab Steven.


Anna menatap Steven, tertawa.


"Telpon dia Steve !"


"Kalian saja yang telpon


Dia lagi libur. Biarkan dia menikmati liburannya sama orang tuanya."


"Bukan kami yang butuh ngedenger suaranya.


Emang kenapa sih?


Cuma telpon aja kok !"


Steven diam.


"Dan kenapa kamu gak ngelurusin dugaan dia yang salah."


"Apa yang salah ?" tanya Steven.


"Dia salah mengira kalo Jenny itu pacar kamu Steve.


Harusnya kamu bilang yang sebenarnya."


"Ngapain ?


Aku gak butuh dia tau yang sebenarnya.


Nanti juga tau sendiri."


"Ck...ck...ck..." Anna berdecak.


Steven mendelik.


"Aku suka yang ini." katanya menunjuk pada salah satu gambar di monitor Anna.


"Steve, kami kaum cewek-cewek bukanlah cenayang.


Yang bisa langsung tau kalo kami ini dicintai.


Kalian para cowok harus ngomong.


Bukan cuma ngasih sinyal doang.


Mana kami tau kalian menyukai kami atau enggak kalo kalian enggak pernah ngasih tau.


Jangan marah kalo setelah itu kami milih orang lain yang ngasih tau kami kalo mereka mencintai kami." kata Anna panjang lebar.


Steven diam.


Dia berdiri.


Menatap Anna sebentar keluar.


Kembali ke ruangan nya.


Dimana keheningan menyambutnya.


...⛰️🍎🎋...

__ADS_1


__ADS_2