
"Om !!"
Sandy menoleh.
Reva bersama teman-temannya menghampiri.
Dibelakang mereka menyusul Jim dan Alex.
Reva menarik dua kursi dari Sandy lalu menghempaskan dirinya di sana.
"Kamu kayak kecapean." komentar Sandy.
Sementara Jim dan Alex menarik kursi lainnya.
"Iya..
Jim bener-bener deh !
Kejaaaam !" kata Reva.
Teman-temannya mengangguk-angguk.
Mereka semua masih segan pada Jim.
Tapi Reva yang sudah lebih lama mengenal Jim bersikap cuek.
Jim memukul kepala Reva.
"Dasar bandel !!
Disuruh ngurangin ketukannya."
"Aku udah ngurangin..tapi gak enak.
Terus..ehm...oh..." Reva berhenti berbicara.
Matanya menatap ke arah samping.
Cindy dan dua temannya berjalan menghampiri.
Reva bangun dari duduknya dan pindah ke sebelah Sandy.
"Terus apa ?" tanya Alex.
"Beat nya lebih enak begitu.
Ya kan ?" tanya Reva meminta dukungan dari teman-temannya.
Belum sempat Selina menjawab.
"Halo..lagi pada ngumpul ?" sapa Cindy dan kedua temannya yang datang dari arah belakang Sandy.
"Ah..enggak.
Kebetulan aja." jawab Jim.
"Ayo gabung.." ajak Alex.
Senyum Cindy melebar.
Dia mengambil kursi dari meja lain.
Jim bergeser.
Reva menggeser kursinya memepet kursi Sandy.
Matanya melirik Sandy.
Mereka bertemu pandang.
Sandy sedang menatapnya.
Reva memalingkan mukanya.
Sandy merentangkan satu tangannya.
Jemarinya mendorong pipi Reva.
Memaksanya menatapnya.
Reva terpaksa berpaling menghadap Sandy.
Bibirnya maju setengah senti.
Cemberut.
Sandy terkekeh pelan.
Dia melepaskan jarinya.
Tapi tangannya tetap disandarkan di kursi Reva.
"Lagi ngomongin apa?" tanya Cindy.
"Lagu mereka." jawab Jim.
"Hmm..ya aku dengar.
Kalian berempat ya ?" tunjuk Cindy.
"Berlima." koreksi Alex.
"Sama siapa ?" tanya Cindy mengangkat dagu.
Sengaja mengabaikan Reva.
"Lhoo..ini ?" tunjuk Jim pada Reva.
Reva juga mengangkat dagu.
"Aku cuma sementara aja kok." katanya.
"Ah..enggak.
Kamu bakal terus sama kami, Va." bantah Mini.
"Iya...kita gak mau kehilangan drummer kami yang berharga." kata Jasmine.
Mereka saling berpandangan.
Perlahan pengertian terbentuk di mata mereka.
Yang satu mantan pacar yang nampaknya masih mencintai.
Yang satunya keponakan.
Tapi bukan keponakan betulan.
Keponakan Tia, tepatnya.
Tia, istri dari teman Sandy.
Hanya teman.
Dan dua hari lalu, Sandy menggandeng Reva.
Ada bekas Kissmark di leher Reva.
__ADS_1
Selina berdehem.
"Jim...aku lebih suka beat yang sekarang.
Lagu kamu emang melow..Tapi nadanya enak kako dibikin lebih beat seperti yang Reva bikin.
Aku juga nyanyinya enak."
Alex mengangguk.
"Aku juga lebih suka."
Jim diam.
Tampak berfikir.
"San... kapan rumah kamu jadi ?" tanya Cindy menyela keheningan.
Sandy menoleh pada Cindy.
"Sebentar lagi, Cin."
"Kapan tuh ?" kejar Cindy.
"Sebulan deh."
"Mau langsung ditempatin ?"
"Iya dong.
Ngapain bikin rumah kalo enggak ditempatin ? "
"Kapan kamu mau ngajak tur ke rumah kamu ?"
Sandy tertawa.
"Ah..rumahku biasa aja.
Kenapa harus tur ?"
"Ya kalo gitu kapan kamu ngundang aku ke rumah kamu ?" desak Cindy.
Reva mengangkat mukanya.
Matanya menyipit.
"Nanti setelah...adduh.., Va !!"
Dengan sengaja Reva menyenggol cangkir Sandy yang berisi kopi yang untungnya sudah hangat.
Kopi itu tumpah ke celana selutut Sandy.
"Yaaah...Om...tumpah." kata Reva dengan nada datar.
Dia menyodorkan tissue.
Sandy menatap Reva.
Dia menerima tissue yang disodorkan Reva dan mengelap celana serta lututnya.
Reva menyodorkan lagi beberapa lembar tissue.
Sandy kembali menerimanya.
Matanya menyipit menatap Reva.
Reva membalasnya dengan tatapan tanpa rasa bersalah.
Dia sama sekali tidak ingin meminta maaf.
"Aku pulang dulu.
Basah semua." katanya.
Semua orang memandang celananya.
Noda besar kehitaman bekas tumpahan kopi tampak menyolok.
Reva diam-diam tersenyum kecil.
"Ayo, Va !
Esse..mau ikut ?" tanya Sandy.
Esse yang kaget menoleh pada Selina.
"Gak usah.
Nanti aku yang antar Esse.
Kamu pulang aja..Ganti baju.
Kamu bisa temenin, Va.
Kita kan udah selesai." kata Selina yang sudah mulai memahami situasi.
Sandy mengangguk.
"Ayo, Va !!
Gak enak nih." katanya menarik tangan Reva.
Reva mau tidak mau bangun dari duduknya.
"Aku pulang dulu..Bye semua.." pamitnya.
Sekilas menatap Cindy yang cemberut dan marah menatapnya.
Tadi hampir saja dia bisa membuat Sandy berjanji untuk mengajaknya ke rumah baru Sandy.
Tapi anak kecil celaka itu merusak kesempatannya.
Reva mengikuti Sandy.
Berjalan di belakangnya.. Tangannya masih terkait dengan tangan Sandy.
Sandy tidak mau melepaskan nya.
Reva di pegang erat-erat.
"Ngapain jalan dibelakang ?" tarik Sandy hingga Reva harus menjejeri langkah Sandy.
Mereka sampai di parkiran.
Sandy membuka pintu mobil.
"Masuk, Va !" perintahnya.
Reva menatap sekilas lalu masuk ke mobil.
Dia memasang seatbelt-nya.
Sandy menyusul.
Mobil keluar dari parkiran.
Mereka berdua berdiam diri.
__ADS_1
Sandy mengambil jalan highway keluar kota.
Dia lalu mendial nomor Tia.
Tia mengangkat.
"Halo, Ko.." sapa Tia.
Suaranya terdengar menggema di dalam mobil.
"Ti..ini gue.
Gue gak bisa ke rumah lu."
"Oh.. kenapa ?"
"Keponakan lu.
Dia numpahin kopi ke celana gue.
Gue harus ganti baju ke rumah."
Reva cekikikan lalu menutup mulutnya.
Reva memalingkan mukanya menghadap jendela.
Tapi masih bisa terlihat sudut bibirnya melengkung.
"Astagaa...
kenapa ?" tanya Tia kaget.
"Gak tau."
"Lho...sengaja ?" tanya Tia.
Sandy melirik Reva.
"Mungkin.
yah..gue ngasih tau aja kalo gue gak jadi kesana."
"Sekarang Reva nya mana ?" tanya Tia.
"Ada." jawab Sandy singkat.
"Deket lu, Ko ?"
"Iya."
"Jangan diapa-apain ponakan gue." kata Tia.
"Ponakan lu harus diberi pelajaran."
Sandy melirik.
Reva terlihat menunduk.
"Hah ?!
Lu jangan macem-macem, Ko !" suara Tia mulai panik.
"Udah dulu, Ti
Gue lagi nyetir.
Bye..."
"Ko !
San !!"
Sandy memutuskan hubungan.
Suasana di mobil kembali hening.
Reva terus memalingkan wajahnya ke jendela.
Sepuluh menit.
"Gak pegel lehernya kayak gitu terus ?" tanya Sandy.
Reva memerah.
Dia kembali menatap ke depan.
Tangannya memijat pangkal lehernya yang memang pegal.
Tapi dia tidak tahan melihat Sandy.
Reva melirik noda kopi di celana Sandy.
Dia tidak menyesal menumpahkan kopi.
Dia kesal dengan Sandy.
Kesal juga dengan Cindy.
Seenaknya bikin janji mau ketemu berduaan di rumah baru Sandy.
Di hadapannya !
Dan dia sudah memberi pelajaran pada cowok gak tau diri ini.
Reva kembali melirik.
Kali ini ke wajah Sandy.
Dia baru menyadari bahwa Sandy baru saja potong rambut.
Rambutnya yang biasa bergelombang, kini pendek dan rapi.
Ah..hilang sudah ujung rambut tempat dia memainkan jarinya saat Sandy sedang menciumnya.
"Apa liat-liat? " kata Sandy dengan suara yang masih terdengar kesal.
"Apa, Om ?
Aku enggak liatin Om kok.
Om jangan Ge er !!" bantah Reva.
"Kamu jangan kurang ajar, Va !" kata Sandy.
Reva diam.
"Kamu siap-siap terima hukuman kamu karna numpahin kopi dengan sengaja."
"Om !!"
"Siapkan dirimu, Nak !
Hukuman sedang menanti !!" kata Sandy dengan penuh tekad.
Reva merinding mendengarnya.
...🌴🍓☘️...
__ADS_1