Kamu Milikku

Kamu Milikku
Dia Tidak Bahagia Bersamamu


__ADS_3

Di suatu tempat.


Reva kembali mengemudi.


Dia mencari jalan-jalan tepi pantai.


Rasanya menyegarkan sekali jalan-jalan sendirian sambil mendengarkan debur ombak.


Ketika hari sudah sore, dia berhenti di sebuah hotel kecil yang bersih.


Sekarang bukan waktu libur.


Hotel ini sepi.


Reva menurunkan kopernya.


Hanya ada dua tamu yang menginap.


Yang satu lagi dua orang wanita yang juga sedang berlibur.


Setelah meletakkan barang-barang nya di kamar, Reva berjalan kaki di tepi pantai.


Menikmati suara ombak.


Merasakan pasir yang surut di telapak kakinya saat ombak turun ke laut.


Bermain-main dengan pasir.


Mengejar ombak dan kemudian berlari menghindarinya.


Rasanya seperti kembali menjadi anak kecil.


Perlahan...Reva mulai melupakan kejadian kemarin.


Di ruangan Sandy.


Sandy menatap Steven.


Rasa kasihan terbit.


Mungkin dia dulu seperti ini.


Mereka berdua... sama-sama terpukul.


Terpukul oleh keadaan.


"Duduk Steve."


Steven mengangguk.


Dia duduk di hadapan Sandy.


"Boss tau dimana Reva kan ?" tembaknya langsung.


Sandy menatapnya.


"Ya dan enggak." jawab Sandy


"Yang mana yang benar ?" desak Steven.


"Kenapa kamu mau tau ?" Sandy tidak menjawab pertanyaan Steven.


"Aku mau bicara sama dia."


Sandy mengamati Steven.


Dia tidak menjawab.


"Boss !!" desak Steven.


Sandy menghela nafas.


"Steve...kasih dia waktu."


Rahang Steven mengencang.


"Dia butuh waktu.


Kamu juga merasakan, ya kan ?"


Sandy mendesak Steven untuk memahami.


Steven menelan ludah.


"Berapa lama dia menahan diri ?


Coba kamu bayangkan seperti apa rasanya jadi dia waktu ibu kamu menemui dia ?


Seperti apa yang dia rasakan sejak ibu kamu menemui dia ?


Berada di dekat kamu.


Tapi tau kalau kamu itu terlarang buat dia ?"


Steven terhenyak.


Dia tidak pernah memikirkan sejauh itu.


Dia terlarang untuk Reva ?


Astaga.


Steven menarik rambutnya.


Dia mengusap matanya.


Rasanya ingin menangis.


kesal.


Kehilangan.


Dia tau..


Dia kehilangan Reva sekarang.


"Kasih tau dimana dia sekarang !" katanya.


"Mau ngapain ?


Dia malah bakal pergi semakin jauh.


Dan aku gak mau hal itu terjadi." kata Sandy tenang.


"Aku juga ingin mendatangi dia" lanjut Sandy.


Steven menatap Sandy tajam.


"Kamu tau ?


Aku mencintai dia.


Dia gadis yang sangat pantas untuk dicintai." kata Sandy meneruskan kata-katanya.


Steven menunggu.


"Sejak semalam aku ingin menyusul dia.


Tapi..aku ingin memberi dia ruang.


Memberi dia waktu untuk berfikir.


Menjernihkan kepalanya.


Dia sedang sakit, Steve.


Dia butuh menyembuhkan dirinya."


"Dan aku penyebabnya."


Sandy mengangguk.


"Beri dia waktu.

__ADS_1


Kamu juga..


Kamu ketemu dia pun sekarang percuma.


Dia gak akan mau.


Kamu paksa, dia akan lari.


Kamu beresin dulu masalah kamu.


Sama Ibumu."


Steven meletakkan kepalanya ditangan.


Merenung beberapa saat.


"Aku pergi dulu Boss." katanya sambil bangkit.


Sandy menatap kepergian Steven.


Dia lalu melirik ponselnya.


Mobil Reva kembali bergerak.


Menjauh dari kota mereka.


Steven kembali ke ruangannya.


Dia duduk.


Mengatur pikirannya.


Saat ini rasanya kacau sekali.


Josh masuk.


"Aku setuju dengan Boss.


Kasih dia waktu.


Dia pantas mendapatkan waktu setelah apa yang ibu kamu lakukan.


Dan yang kamu lakukan."


Steven mengangkat kepalanya.


Bertanya tanpa kata.


"Ibumu melarang dia.


Tapi kamu selalu pingin didekat dia.


Kamu melakukan semua yang ibumu larang untuk dia.


Kamu.


Bayangin gimana perasaan dia, Steve !"


"Kamu gak bikin perasaan ku tambah baik, Josh." kata Steven mengusap mukanya.


"Kamu pantas mendapatkan nya.


Kalian berdua membuat Reva menderita." ketus Josh.


"Aku menyayangi dia Josh !"


"Aku tau.


Terus ?


Itu toh gak membuat ibumu berhenti untuk mengatakan pada dia bahwa kamu bukan untuk dia." jawab Josh.


Steven tertunduk.


"Kalo aku tau akan begini, aku gak akan bantu kamu ngedapetin dia, Steve !" omel Josh.


Steven mengangkat kepalanya.


"Josh !"


"Waktunya kamu memikirkan untuk ngelepasin dia, Steve."


"Josh !!"


Steven menggebrak meja.


"Dia gak akan bahagia sama kamu, Steve.


Ibumu gak akan ngebiarin dia bahagia bersama kamu."


Steven meremas rambutnya.


"Ya Tuhan..


Aku gak tau.


Aku gak tau !"


"Kamu ancurin aja meja.


Kamu lepasin deh emosi kamu.


Tapi itu gak ngerubah keadaan." kata Josh lagi.


"Keluar Josh !" kata Steven.


Josh berdiri.


"Ingat kata-kata ku Steve.


Dia gak akan bahagia sama kamu." katanya sambil berlalu.


Tangan Steven mengepal.


Satu-satunya gadis yang pernah dia cintai dan dia gagal membuat gadis itu bahagia.


Kemarahannya muncul kembali.


Dia harus pulang.


...🎀...


Steven menunggu di mobil.


Memperhatikan Jerry.


Hari sudah malam.


Perlahan dia turun mendekati Jerry dari belakang.


"Va, aku minta tolong kamu submit dokumen yang udah aku kirim tadi ya.


Cek dulu."


Jerry diam. Mendengarkan.


Lalu tertawa.


Steven mengerutkan keningnya.


'Va' ?


"Iya..


Kamu hati-hati disana.


Masih punya uang ?


Mau aku kirimin ?"


Uang ?


Kirim ?

__ADS_1


Steven mendekat diam-diam.


"Besok aja, Va.


Malam ini kamu tidur nyenyak deh.


Patah hati obatnya tidur, Va !" kata Jerry sambil tertawa.


Patah hati ?


Oke ... fix ini Reva.


Steven merebut ponsel Jerry dari belakang.


"Hei !!" teriak Jerry.


"Reva !.Ini aku, Steven.!


Kamu dimana ?"


Di seberang line, Reva terhenyak mendengar suara Steven.


"Aku baik-baik aja, Steve.


Udah dulu ya..."


Reva memutuskan sambungan.


"Reva !


Reva !


Va !!" teriak Steven pada ponsel yang sudah mati.


Dia menjauhkan ponsel itu dari telinga lalu menatap layar mencari nomor yang tertera.


Ponselnya direbut.


Jerry menatapnya tajam.


"Aku tau kamu dosen.


Tapi bukan berarti kamu seenaknya bisa ngerebut ponselnya orang lain."


"Dia pacarku !"


"Udah bukan."


"Kamu jangan kurang ajar, Jer !!" kata Steven mengancam.


"Kamu yang kurang ajar.


Kalian udah putus.


Dia sendiri yang bilang !"


"Belum."


"Terserah." jawab Jerry membalikkan badannya.


Bahunya dipegang dan dibalikkan dengan kasar.


"Kasih tau nomornya !!"


"Enggak !"


"Aku bilang, kasih tau !!" bentak Steven.


"Kamu mau rebut ?


Coba aja !!" kata Jerry mengambil kuda-kuda.


Steven menghela nafas.


Dia harus meminta baik-baik.


"Jer... please..


Tolong kasih tau nomornya.


Aku perlu bicara dengan dia."


"Dia gak mau bicara sama kamu."


"Itu asumsi kamu."


"Dia yang bilang.


Kamu pikir, kenapa ponselnya bisa sama aku ?" jawab Jerry.


Dia lalu meninggalkan Steven.


Steven menutup matanya.


...🎀...


Tiga hari kemudian.


Sandy mengamati titik kecil di ponselnya.


Titik itu sudah mengarah kembali ke kota mereka.


Reva sudah memutuskan untuk mengambil jalan pulang.


Melalui jalur yang berbeda.


Sekarang dia melewati kota-kota kecil.


Tapi tetap butuh waktu sehari penuh menyetir untuk sampai kembali.


Dan Reva tidak mungkin melakukan itu.


Dia pasti berhenti di suatu tempat.


Sudah waktunya menjemput gadis itu.


Sandy berjalan ke ruangan Michael.


"Gue mau nyusul Reva."


"Mau sama gue ?"


Sandy menggelengkan kepalanya.


"Gue sama supir aja.


Biar nanti dia yang bawa mobil gue pulang."


"Kapan ?"


"Nanti."


Michael mengangguk.


"Bawa dia pulang.


Tia udah khawatir."


"Tia gak perlu khawatir.


Reva gadis yang selalu pake akal sehat."


"Akal sehat sama hati kadang beda hasil, San"


"Ada gue."


Michael mengangguk.


"Lu ambil waktu sebanyak yang lu anggap perlu.


Obati dia."


Sandy menganggukkan kepalanya lalu keluar dari ruangan Michael.

__ADS_1


...🌴🎀☘️...


__ADS_2