Kamu Milikku

Kamu Milikku
Boleh Cemburu Tapi..


__ADS_3

Sementara itu di perpustakaan.


Reva sibuk belajar.


Ujian menjelang.


Minggu depan..


Setelah itu dia harus segera mempersiapkan proposal tugas akhirnya.


Bukan masalah besar.


Pembimbingnya, Prof. Stephen sudah memberi arahan.


Tapi tetap saja itu harus dibuat.


Dan sementara itu, dua bulan lagi, dia akan melepas masa lajangnya.


Menikah.


Hufft.


Reva menghembuskan nafasnya kuat-kuat.


"Kenapa ?


Pusing belajar ?" tanya satu suara di hadapan nya.


Reva mengangkat wajahnya.


Daniel.


Daniel sedang mengamatinya.


Sambil tertawa kecil.


Reva mencibir.


"Daniel..kamu ngetawain aku." protesnya.


"Ah...enggak." elak Daniel.


"Lagi belajar apa ?"


Reva mendorong laptopnya.


"Ini." katanya.


Daniel membaca isi laptop.


"Menarik ya ?"


Reva mengangguk.


Reva lalu mulai menjelaskan.


Satu setengah jam kemudian, Daniel sudah bisa menjadi dokter yang mampu menjelaskan tentang sel kanker pada pasiennya.


Daniel tertawa.


"Aku salah ambil jurusan.


Harusnya aku ambil biomedic dulu." katanya.


Reva tersenyum.


"Belajar ini memang asyik Daniel.


Aku pilih karena aku suka biologi.


Aku suka ngeliatin pergerakan sel dulu."


"Memang menarik banget ya..." jawab Daniel.


Ponsel Reva bergetar.


Reva mengangkat ponselnya.


Menatapnya.


Mendekatkan pada matanya.


Bruk.


Reva melempar Ponselnya begitu saja di meja.


Daniel mengerutkan keningnya.


"Ada apa ?" tanyanya.


Reva tidak menjawab.


Daniel meraih ponsel Reva.


Gambar yang ada di foto membuatnya mengerutkan keningnya lagi.


Sementara Reva mengatur emosinya.


Tangannya terkepal.


Itu adalah foto saat Sandy menggosok punggung Cindy.


Daniel kembali memperhatikan foto itu.


Dia menatap wajah Sandy.


Lalu teringat percakapan semalam dengan Cindy.


"Kamu marah ? tanyanya pada Reva.


"Kamu gak marah kalo pacar kamu kayak gitu ?" balas Reva.


"Kamu boleh percaya, boleh enggak.


Tapi saranku, kamu jangan labrak tunangan kamu.


Jangan."


"Terus ?


Dibiarin aja mereka selingkuh dibelakang ku gitu ?" tanya Reva emosi.


Daniel tertawa.


"Enggak.


Justru yang harus kamu lakukan sekarang adalah menjaga dia.


Jaga dia jangan sampe kontak sama cewek itu.


Jangan sampe ngobrol, apalagi berduaan.


Pokoknya kamu jaga.


Terus..kamu cintai dia.


Tunjukkan kasih sayang kamu ke dia.


percayalah..aku ini kan laki-laki.


Aku gak bakal kemana-mana kalau aku cinta sama cewek itu dan cewek itupun membalasku sama besarnya."


Reva diam mendengarkan Daniel.


"Tunangan kamu itu mencintai kamu.


Sementara mantan nya masih mencintai dia.


Tugas kamu sekarang, menjaga supaya rasa cinta tunangan kamu tetap besar terhadap kamu.


Jadi.. jangan marah-marah.


Justru...cintai dia.


Jaga dia.


Jauhkan dia dari godaan mantannya."


Rasa persaingan Reva timbul mendengar kan Daniel.


Dia sudah mengalahkan Cindy.


Membuat Sandy kembali bangkit.


Dan sekarang orang itu ingin merebut Sandy darinya ?


Tidak akan !!


Reva tersenyum.


"Daniel...


Aku sayang kamu !" katanya.


Daniel tertawa.


Setengah jam kemudian Sandy masuk ke perpustakaan.


Dia melihat Reva sedang duduk berhadapan dengan Daniel.


Sandy mengembangkan senyum di bibirnya.


Daniel menatapnya.


Dengan bibir terkatup dia berbicara pada Reva.


"Nah itu.. tunangan kamu dateng.


Senyum, Va."


Reva menoleh.


Dia lalu mengembangkan senyumnya selebar dan setulus mungkin.


Walaupun dalam hatinya dia masih marah dan cemburu.


"Bagus !

__ADS_1


Harusnya kamu adu akting sama Cindy, Va." kata Daniel lagi.


Reva menoleh.


"Oke Boss...


Aku mau aja..


Bisa jadi aku menyingkirkan aktris kamu itu sebagai pemeran utama." jawabnya.


Daniel tertawa keras.


Sandy menghampiri.


"Ada apa nih ?


Seru banget kayaknya ?"


"Tunangan kamu...


Lucu banget." jawab Daniel.


"Ah..iya...


Emang." jawab Sandy sambil menatap sayang.


Daniel memperhatikan.


Tidak mungkin Sandy yang menawarkan diri mengoles sunscreen pada Cindy.


Pasti Cindy yang meminta.


"Katanya dia mau jadi aktris.


Adu akting." jawab Daniel.


Sandy mengerutkan keningnya.


"Kamu mau jadi aktris, Va ?"


"Hmm...mmmm..." Reva tidak menjawab.


Bibirnya tersenyum.


Tangannya meraih jari Sandy, membelainya.


Sandy menunduk.


Menatap jarinya yang dibelai Reva.


Moodnya langsung membaik.


"Belum selesai belajarnya ?" tanya Sandy.


"Udah kok.


Lagi ngobrol aja sama Daniel."


"Yuk jalan-jalan" ajak Sandy.


Reva tersenyum.


"Daniel..mau ikut ?" ajaknya.


"Ah...aku nanti cuma jadi nyamuk aja."


Sandy tertawa.


"Pacar kamu mana ?" tanyanya.


"Gak tau.


Dari tadi aku disini sama Reva."


Sandy mengerutkan kening.


"Kamu ini..!!"


Daniel tertawa.


"Kamu Harus move on.." kata Sandy.


Daniel menoleh, melirik Reva sebentar.


Reva sedang memperhatikan mereka sambil menopang dagunya.


"Aku tadinya mau move on, tapi gadisnya disamber kamu !"


Sandy tertawa sementara Reva mencibir.


"Kamu jangan percaya Om.


Daniel udah move on. Buktinya dia ganti pacar tiap bulan." jawab Reva.


"Ya itu namanya belum move on.


Masih terpaku sama cinta lama." kata Sandy.


"Jangan khawatirkan aku karna belum move on.


Sandy menarik wajahnya.


Melirik Reva sebentar.


"Kenapa aku harus khawatirkan dia ?" jawab Sandy santai.


Menjaga suaranya tetap netral.


Dia tidak ingin bertengkar dengan Reva.


"Karena dia bisa merusak hubungan yang sekarang kalian jalin." jawab Daniel.


Sandy dan Reva saling berpandangan.


"Selama aku bisa jaga tingkah laku ku, harusnya gak ada masalah." jawab Sandy.


Reva diam.


Mendengarkan.


Hatinya kembali dibakar cemburu mengingat gambar yang dikirimkan Mini padanya.


'Jaga tingkah laku apanya ?' gerutu Reva dalam hati.


Tapi dia tidak berkata apa-apa.


Dia ingat nasihat Daniel tadi.


...🎀...


Sorenya...


Kolam kembali ramai.


Sandy dan teman-temannya kembali duduk di kursi santai setelah bermain air di kolam.


Reva sendiri sedang mempersiapkan penampilan nya bersama grupnya.


Penyanyi-penyanyi Maxx silih berganti menghibur mereka.


Termasuk Tia dan Jim.


Sorakan kecil terdengar saat Cindy datang ke kolam.


Bikini yang dipakainya sangat mengundang mata untuk menatapnya.


Berpadu indah dengan tubuhnya yang elok.


Aaron termasuk yang bersuit keras.


Cindy mengulum senyum saat melewatinya.


Dia dengan sengaja memilih kursi malas di hadapan Sandy.


Reva disenggol oleh Selina.


Selina menganggukan kepalanya ke arah Cindy.


Bibir Reva langsung cemberut.


Terlihat sekali usaha Cindy untuk menggoda Sandy.


Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa sekarang.


Mereka akan tampil sebentar lagi.


Reva membanting dirinya di kursi dihadapan set drum nya.


Bibirnya masih cemberut.


Hatinya kesal.


Dia lalu memulai ketukan.


Dan kemudian tenggelam dalam lagu yang mereka mainkan.


Sesekali matanya melirik Sandy.


Sandy menatapnya dari balik kacamata hitam nya.


Menatapnya dengan intens.


Senyumnya tersungging di bibirnya.


Kepalanya mengangguk-angguk mengikuti irama yang dimainkan Reva dan teman-temannya.


Mood Reva membaik.


Reva berada atas panggung kecil.


Jadi pandangan nya bisa menyapu seluruh area kolam.


Reva tau, Cindy membolak balikkan tubuhnya di hadapan Sandy.


Tapi selama Reva bermain, Sandy terus menelengkan kepalanya ke arah Reva.


Hanya sesekali dia menoleh ke arah lain, menanggapi ucapan beberapa temannya.

__ADS_1


Reva tersenyum kecil.


Baiklah...


Tunangannya akan tau seperti apa gadis yang dipilihnya.


Reva masih memainkan beberapa lagu lagi, mengiringi tidak hanya kelompoknya tetapi beberapa penyanyi solo yang memintanya untuk mengiringi lagu mereka sebelum menyerahkan tempatnya pada Alex.


Sandy kembali menyandarkan dirinya ke kursi santai.


Reva menghilang.


Cindy masih berusaha melakukan kontak mata dengan Sandy.


Menggerakkan tubuh moleknya di hadapan Sandy.


Mengusap pahanya.


Lalu tangannya menelusuri dadanya yang penuh.


Sengaja membawa botol sunscreen nya dan minyak.


Agar tubuhnya tampak berkilau.


Sesekali menatap Sandy dengan genit.


Sandy bekas pacar Cindy.


Dan beberapa bulan sebelum Sandy mengambil keputusan untuk putus, mereka sering tidur bersama karena keinginan Sandy untuk membalas dendam.


Jadi Sandy sudah hafal dengan gaya dan kelakuan Cindy.


Cindy terang-terangan menggodanya.


Sandy sudah khawatir dengan reaksi Reva.


Tapi dia tidak ingin pindah tempat.


Tempat yang dipilihnya sangat pas untuk menonton Reva.


Jadi dia tetap di tempatnya


Reva berjalan kembali ke area kolam dengan senyum kecil di bibirnya.


Dia membawa sesuatu di tangan nya.


Perlahan Reva mendekati kursi Sandy.


Sandy menyunggingkan senyum kecil padanya.


Hatinya lega saat Reva datang menghampirinya dengan senyum kecil di bibirnya.


Sandy pun tersenyum.


Ah..bibir Reva, sungguh mengundang untuk dicium.


" Om..." sapa Reva.


"Va.."


Sandy bangkit.


Bergeser sedikit untuk memberikan Reva tempat di kursi santainya.


Tapi Reva menggeleng.


Sandy menaikkan alisnya di balik kaca mata hitamnya.


Kaki Reva naik melangkahi Sandy dan kursi santainya.


"Eh..Va !!" tegur Sandy.


Reva lalu duduk di paha Sandy.


Kulitnya bertemu kulit Sandy.


Reva memakai rok mini.


Sedangkan Sandy memakai celana renang.


"Va..." senyum Sandy mengembang.


Dia tidak menyangka Reva akan mengambil tindakan seberani ini.


Duduk di pahanya.


Hasratnya bangkit.


"Ehmm.." Reva tidak menjawab.


Dia mencondongkan tubuhnya ke depan.


Tangannya terulur.


Reva melepas kaca mata hitam Sandy.


Mencium bibir Sandy sejenak.


"Uhmm...hhh.." desah Reva


.


Sandy tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.


Ditahan leher Reva sejenak.


Menuntaskan hasratnya pada bibir Reva yang mengundang.


Reva lalu menarik kepalanya.


Menatap Sandy.


Lalu dia menunduk.


Tangannya bergerak menempelkan lakban ke kaca mata Sandy.


"Reva !!" kata Sandy kaget saat dengan paksa, Reva memasangkan kembali kacamata itu ke matanya.


Tangan Sandy bergerak hendak melepaskan kacamata.


"Jadi Om suka ya pemandangan di depan ?" sindir Reva.


"Va..." Tangan Sandy berhenti.


"Pake kacamata kudanya dan aku kasih Om hadiah."


Tangan Sandy turun.


Dia memegang rok mini Reva.


"Apa hadiahnya ?" tanya Sandy.


"Ini."


Reva kembali menunduk.


Mencium bibir Sandy dengan lembut.


Perlahan, menggigitnya sedikit.


Sandy membalas.


Tangan Reva membelai leher Sandy.


Satu tangannya membelai dada Sandy yang kokoh.


Tangan Sandy pun sekarang naik ke panggul Reva.


Membelainya.


Menarik Reva mendekat.


Sekarang Reva berada tepat di atas pusat diri Sandy.


Dengan kacamata terpasang, Sandy tidak melihat apa-apa.


Tapi inderanya bahkan menjadi lebih tajam pada sentuhan Reva dan bentuk tubuh Reva di tangannya.


Dia memperdalam ciumannya.


Reva menjauh kepalanya sambil terengah-engah.


Dia tidak menyangka permainan kecilnya akan membangkitkan hasratnya sendiri.


Sambil tetap menempelkan dahinya di dahi Sandy, Reva menoleh ke belakang.


Pandangan nya bertemu dengan pandangan Cindy yang menatapnya marah.


Reva tersenyum manis.


Lidahnya bergerak.


Dengan sengaja menjilat bibir Sandy.


Cindy menatapnya melotot.


Marah dan sakit hati.


...🌴🍇🍓☘️...


Halo Pembaca Tersayang.


Ide bab ini berdasar pengalaman author sendiri.🙈


Dulu pernah cemburu sama pasangan.😀


Dan setelah marah-marah sendiri, saya akhirnya memutuskan untuk menggoda pasangan.


Kasih pelayanan ekstra plus.. plus...plus.


Hasilnya...?


Yah..tau sendiri lah..


Apa yang kalian lakukan saat cemburu pada pasangan ?


😘😘

__ADS_1


__ADS_2