Kamu Milikku

Kamu Milikku
Wisuda Citra


__ADS_3

"Aku lebih percaya dengan suamiku. Kalau aku terus memikirkan tentang masa lalu suamiku, itu sama saja akan membuat hidupku tidak bahagia dalam berumah tangga, dan yang ada aku bertengkar terus sama suamiku. Paling buruk terjadi perceraian, dan itu pasti yang diinginkan si pengirim paket itu."


"Aku tidak akan membiarkan pernikahan kita hancur, bahkan sampai bercerai. Aku tidak mau anakku memiliki nasib sepertiku yang kedua orang tuanya bercerai."


"Ya sudah, Mas, kita tidak perlu memikirkan hal itu. Sebaiknya kita makan saja. Citra, apa kamu mau ikut makan malam? Eh, tapi aku lupa kalau kamu sudah makan malam dengan temanmu."


"Iya, aku mau pulang saja. Ini ada undangan acara perpisahan di kampusku dan aku ingin agar kalian hadir sebagai keluargaku. Bukannya kalian dulu bilang ingin hadir sebagai keluargaku di acara itu."


Citra memberikan sebuah undangan berwarna hitam dan ada garis merahnya. Aira menerima dan membacanya.


"Apa bibi kamu juga tidak diundang? Bukannya dia baik denganmu?"


Citra agak kaget mendengar ucapan Aira. "Iya, dia memang baik, tapi dia tidak berani membelaku saat pamanku menyiksa aku."


"Kita pasti akan datang. Kamu jangan khawatir."


"Ya sudah, kalau begitu aku permisi pulang dulu. Addrian aku permisi dulu. Oh ya! Semoga suka dengan kuenya."


"Terima kasih, Citra."


Saat Citra sudah keluar dari rumah mereka. Addrian menyusul Aira yang sudah ada di ruang makan. Dia penasaran dengan sikap Aira saat ada Citra.


"Sayang, apa kamu Masalah dengan Citra?" Addrian duduk dan melihat penasaran pada istrinya.


Aira yang sedang mengambilkan makan untuk Addrian hanya menggeleng beberapa kali.


"Jangan bohong? Aku lihat dari sikap dan ucapan kamu sepertinya kamu sedang marah dengan Citra." Addrian menarik tangan Aira perlahan. "Sayang, aku tau siapa kamu. Katakan, ada apa sebenarnya?"


Aira duduk di sebelah suaminya. Dia menatap suaminya dengan datar. "Aku cemburu dengan Citra."


"Apa?" Addrian tiba-tiba mendelik kaget. "Cemburu? Cemburu kenapa? Aku dan Citra tidak ada hubungan apa-apa."


"Jangan sampai, awas saja kalau kamu ada hubungan dengan Citra."


Addrian malah terkekeh. "Lantas cemburu kenapa?"


"Waktu dia masih di rumah, lama kelamaan aku lihat dia perhatian sekali sama kamu, dan dia seolah-olah secara tidak langsung mencari kesalahanku."


"Apa memang seperti itu? Setahu aku dia baik denganku dan kamu."


"Iya, dia baik seperti tadi, dia ke sini memberi kita kue, tapi ada hal yang membuat aku entah merasa dia menyukai kamu." Aira melihat suaminya dengan tatapan lekat.


"Oh ... kalau itu tidak perlu ditanya. Siapa wanita yang tidak suka denganku," ucap Addrian sombong.

__ADS_1


"Aku tidak suka, terpaksa saja suka karena sudah terlanjur hamil anak kamu," celetuk Aira.


"Kok bicaranya seperti itu?"


"Aku bercanda! Kenapa kamu jadi sensitif begini?" Aira mengecup bibir suaminya yang manyun.


"Sejak kamu hamil, aku jadi ikutan sensitif seperti kamu." Tangannya mengusap lembut pipi Aira.


"Bawaan bayi, sayang. Ya sudah, sekarang sebaiknya kita makan dulu. Aku sudah lapar."


Mereka akhirnya makan malam bersama dengan tenang tanpa ada orang ketiga. Biasanya, kan, ada Citra.


***


Pagi ini Aira dan Addrian akan pergi ke acara wisuda Citra dan sekaligus acara perpisahan.


"Kamu sudah tidak marah sama Citra? Kalau masih marah, kenapa mau pergi ke acara kampusnya?"


"Bukannya kita sudah berjanji dan kita harus menepatinya, Mas."


"Kamu jangan cemburu lagi. Kamu bilang kalau kamu percaya padaku. Tidak perlu ada kata cemburu."


"Iya." Aira mengancingkan kemeja putih suaminya.


"Kamu cantik sekali pagi ini."


Pasangan romantis itu menggunakan outfit berwarna serba putih


Aira tampak cantik dengan Dress peplum di bawah lutut dan tepat bagian perutnya ada pita berwarna orange. Perut Aira terlihat lucu.


Sedangkan Addrian menggunakan kemeja dengan tiga kancing di bagian atas dibiarkan terbuka dan celana panjang. Dia dengan bangganya menggandeng Aira berjalan menuju mobil mereka.


Perjalanan ke sana memakan waktu sekitar lima belas menit. Aira dan Addrian turun, kemudian mereka mencari keberadaan Citra.


Dari kejauhan terlihat Citra yang sedang berbicara dengan seorang pria. Addrian dan Aira mendekat, tapi pria itu langsung berjalan pergi.


"Itu kekasih kamu?" tanya Aira.


"Bukan, dia hanya salah satu dari keluarga temanku yang tadi bertanya di mana dia bisa menemui ruang rektor."


"Aku kira dia kekasih kamu. Tampan juga tadi aku melihatnya sekilas," lanjut Addrian.


Citra hanya tersenyum simpul. "Aku berterima kasih kalian sudah menyempatkan waktu datang ke sini."

__ADS_1


"Bukannya kami sudah berjanji. Ini untuk kamu, Citra." Aira memberikan buket bunga dengan hiasan boneka dan coklat di dalamnya.


"Terima kasih, Aira, buket ini cantik sekali seperti kamu juga cantik, walaupun terlihat agak gendut sekarang."


"Memang berat badanku mulai naik, tapi kata Mas Addrian aku lebih seksi." Aira tersenyum pada suaminya.


"Bagaimana dengan keadaan bayimu?"


"Bayiku sehat dan baik."


"Kamu benar, Citra dia memang sangat cantik hari ini."


"Kamu juga tampan dengan kemeja putih itu."


"Terima kasih."


"Suamiku memang tampan dan aku bangga bisa menjadi istrinya." Aira merangkulkan tangannya pada lengan Addrian.


Citra mencoba menahan amarahnya melihat pemandangan yang ada di depannya.


"Kalian berdua duduk sana di sana menunggu aku selesai acara wisuda ini."


"Iya, kita akan menunggu di sana." Addrian menggandeng Aira dan mengajaknya duduk di bangku khusus untuk para anggota keluarga.


"Mas, Citra terlihat cantik ya dengan baju wisuda itu?".


Addrian melirik pada suaminya. "Iya, dia cantik sekali hari ini, tapi lebih cantik istriku yang gendut ini." Adrian mencubit kecil hidung Aira.


Aira memukul lengan suaminya dengan kesal. "Kenapa mengatakan aku gendut."


"Kamu gendut cantikku. Kamu itu kenapa tadi, seolah menunjukan aku ini milik kamu yang tidak bisa Citra ambil? Citra itu tidak menyukaiku. Dia hanya kagum padaku."


Aira tidak menjawab, tapi langsung bersandar pada pundak suaminya melihat acara wisuda Citra.


Sekitar satu jam acara berlangsung. Citra yang sudah selesai menemui Aira dan Addrian. Citra mengajak mereka ke dalam gedung untuk acara perpisahan, di sana mereka juga bisa menikmati jamuan acaranya.


"Sayang, kamu mau makan apa?"


"Aku tidak makan, nanti saja di rumah."


Tidak lama Citra datang menemui Aira dan Addrian. "Ini aku bawakan makanan untuk kamu. Cobalah."


Aira melihat pada piring makanan yang di bawa oleh Citra. Citra berharap Aira makan, makanan yang dibawa olehnya karena makanan itu ada serbuk yang akan membuat perut Aira mengalami kontraksi. Citra benar-benar sudah muak dengan Aira dan Citra sudah menyiapkan hal itu semua.

__ADS_1


"Itu apa?" tanya Aira.


"Ini cuma olahan ikan tuna dan ada rumput lautnya. Kamu jangan khawatir karena aku tidak akan memberikan kamu makanan yang mengandung jamur."


__ADS_2