
Andreas mengatakan jika dia tidak berdaya. Andreas tau jika Citra akan berbuat nekad kalau keinginannya itu tidak terwujud.
"Mas Andreas, apa yang dilakukan Citra itu sungguh buruk. Kasihan istri dari Addrian yang sedang hamil."
"Papa juga sudah mengetahui semua, Bi. Bibi jangan khawatir, Aira nantinya akan bahagia dengan pria lain dan Addrian akan bahagia denganku karena aku akan segera hamil anaknya."
Tangan Andreas menarik tangan Citra. "Apa maksud kamu, Citra? Bukannya kamu bilang tidak melakukan apa-apa di dalam kamar itu, bagaimana kamu bisa hamil?"
"Aku memang tidak melakukan apa-apa. Aku juga mau minta tolong Papa lagi untuk mencarikan dokter yang mau membantu rencanaku dengan menyatakan aku hamil. Kenalan dokter Papa juga banyak."
"Oh Tuhan, Citra! Aira itu sedang hamil, dan jangan membuat dia semakin menderita. Kamu benar-benar keterlaluan."
"Bibi tidak perlu ikut campur, bibi diam saja."
"Andreas, tolong hentikan perbuatan anak kamu ini. Apa yang dia lakukan benar-benar sangat buruk. Dia bahkan membawa mendiang suamiku dalam rencananya ini. Dia tega mengatakan jika pamannya masih hidup dan sering menyiksanya, sehingga Addrian dan Aira mau menampungnya di rumah mereka."
"Citra, apa itu benar?"
"Sudahlah, Pa! Aku hanya ingin rencanaku berhasil, dan kalian cukup mengikuti perintahku."
"Berarti benar apa yang dikatakan oleh bibi kamu jika kamu sering menyiksanya?"
Citra terdiam. Papa Citra tidak tau jika bibi Anna dan Nadin selama ini hidup tersiksa dengan Citra. Dia hanya tau putrinya menyukai Addrian dan dia ingin mendapatkan Addrian. Itu saja.
"Itu benar, Tuan Andreas. Putri Tuan Andreas ini adalah seorang iblis yang kejam, bahkan dengan anak sekecil Nadin saja dia tega."
"Aira?" Kedua orang yang tak lain adalah ayah dan anak itu sama-sama terkejut.
"Kenapa? Kamu terkejut aku berada di sini? Kamu bisa merencanakan hal yang buruk untuk keluargaku, tentu saja aku juga bisa merencanakan hal yang buruk untuk kamu."
Citra melihat ke arah Bi Anna. "Apa semua ini perbuatan Bi Anna?"
"Iya, Bibi sudah tidak bisa membiarkan perbuatan kamu terlalu jauh. Aira gadis yang baik, bahkan dia mau mengorbankan dirinya untuk menolong Nadin. Kamu tidak sepantasnya menyakiti dia seperti saat ini."
"Aku tau sejak kamu masih tinggal di rumahku waktu itu. Waktu aku masuk ke dalam kamar kamu, aku melihat kamu menyimpan banyak sekali foto suamiku."
__ADS_1
"Kamu mengetahui dari awal?"
"Aku mulai curiga dengan sikap kamu dan masakan aku yang tiba-tiba berubah rasanya, padahal aku jelas sekali merasakannya."
"Aira mencari bibi ke alamat ini dan saat itu Aira juga menolong Nadin. Coba saja jika waktu itu Aira tidak menolong Nadin, mungkin Nadin tidak akan selamat."
Aira berkenalan dengan Bibi Anna dan bertanya soal Citra yang apa benar kerap di siksa oleh pamannya, tapi Nadin kecil malah bilang jika ayahnya sudah meninggal dan Citralah yang sering berbuat buruk pada mereka berdua.
Bibi Anna sebenarnya tidak mau bercerita karena takut, tapi karena Aira memohon agar bibi Anna mau bicara karena Citra sepertinya punya niat buruk pada keluarganya, bibi Anna akhirnya menceritakan segalanya. Aira juga berjanji tidak akan langsung menegur Citra karena untuk melindungi bibi Anna dan Nadin.
"Aku mulai waspada terhadap kamu, dan aku tau kalau kamu yang menaruh bubuk gatal pada bajuku serta kembali ingin membuat masakan aku tidak enak. Citra, aku masih baik tidak mengatakan semua pada Mas Addrian. Waktu kamu pindah dari rumahku, aku berharap kamu bisa melupakan suamiku, tapi kamu malah semakin menjadi. Kali ini aku tidak bisa diam."
"Citra, Bibi sangat menyayangi kamu. Lupakan Addrian dan kamu pasti akan menemukan pria yang pantas untukmu."
"Bibi diam saja! Aku tidak butuh nasehat Bibi."
"Om Andreas, aku tau sebenarnya Anda papa yang baik, hanya saja Anda takut akan kehilangan Citra karena ancamannya itu."
"Aira, aku--."
"Kamu jangan banyak bicara, Aira. Addrian itu milikku, dan kamu hanya pengganggu. Kamu sudah menjebaknya sampai akhirnya dia harus bertanggung jawab denganmu karena kamu hamil. Siapa tau itu juga bukan bayi Addrian."
Plak
"Jangan mencoba menjelekkan aku, Citra. Mas Addrian sangat mencintaiku, bahkan dia juga bilang, jika pun kamu hamil, dia tidak akan akan pernah menikahimu. Aku kasihan sekali sama kamu."
"Citra, hentikan perbuatan kamu ini," bentak papanya.
"Papa kalau tidak mau membelaku, lebih baik, Papa Diam! Nanti, kalau aku bisa mendapatkan Addrian, jangan harap aku mau mengakui Papa."
"Kamu jangan bermimpi bisa mendapatkan suamiku karena aku akan mengatakan semua ini padanya dan Mas Addrian akan lebih percaya padaku."
"Aku tidak akan membiarkan kamu merusak rencanaku." Citra tiba-tiba mendorong Aira dan Aira hampir saja jatuh jika Bibi Anna tidak memegangi tubuh Aira.
"Aira, kamu tidak apa-apa? Citra! Keterlaluan kamu!" seru Bibi Anna marah.
__ADS_1
"Aku juga membenci Bibi, Bibi yang katanya menyayangiku, tapi nyatanya malah membela Aira. Kalau aku tidak bisa mendapatkan Addrian, maka kamu juga tidak akan aku biarkan hidup bahagia dengannya."
Citra ternyata mengambil pisau buah yang ada di atas meja makan dan berjalan menuju Aira.
"Citra, apa yang akan kamu lakukan?"
Andreas mencoba menghentikan Citra, tapi Citra sudah lebih dulu pada Aira.
Pisau yang mau ditusukkan pada Aira, dia pegang oleh Bibi Anna dan tentu saja melukai tangan wanita itu.
"Kalau Bibi berani menghalangiku, aku juga tidak segan menghabisi kamu!" Citra tampak seperti kesetanan.
"Bibi Awas!"
"Citra, hentikan, Nak!" Tiba-tiba Tuan Andrean merasakan sakit pada jantungnya, dia memegang dadanya dan akhirnya jatuh tersungkur di lantai.
"Om Andreas!"
"Mas, Andreas ...!"
"Ini semua karena kamu wanita brengsek!"
Citra yang masih mau menusuk Aira, di tarik tangannya oleh Bibi dan terjadi perebutan pisau itu hingga akhirnya ...
Bruk
Tubuh Citra jatuh ke lantai dan terlihat darah segar keluar dari perut Citra.
"Citra ...!" teriak bibi Anna histeris.
Bibi Anna duduk bersimpuh di samping tubuh Citra yang sudah tidak berdaya. Kedua mata Citra menutup rapat.
Kaki Aira seketika lemas, dia berpegangan pada meja kayu besar yang ada di belakangnya.
Saat di rumah tadi, Aira dihubungi oleh Bibi Anna dan mengatakan Citra dan papanya akan datang ke rumah.
__ADS_1