
Reva melirik gelas Steven.
Sudah habis.
Dia kembali berdiri.
"Aku mau balik hotel." katanya.
Steven mengangguk.
"Yuk.."
Lalu dia menoleh pada Fen.
"Aku pergi dulu."
Fen menatapnya.
"Kapan mau ke rumah aunty?" katanya.
"Nanti." jawab Steven.
Dia melirik Reva.
Reva tidak melihat mereka.
Dia menatap keluar.
Tapi diam-diam telinganya mendengarkan percakapan mereka.
"Kalo gitu nanti aku ke rumah aunty.
Tunggu aku di sana ya.." kata Fen dengan manja.
Reva melirik Fen.
Hatinya kesal melihat tingkah Fen tapi disaat bersamaan Reva juga merasa tidak lagi berhak untuk marah.
Steven bukan lagi miliknya.
Reva menarik nafas panjang lalu melangkah keluar.
Pinggangnya di kaut.
"Sebentar..aku belum bayar." kata Steven.
"Aku tunggu di luar." jawab Reva.
"Sama aku." kata Steven pendek.
"Steve..."
Jemari Reva berusaha membuka pelukan Steven.
Tapi Steven malah mengaitkan jarinya ke jemari Reva. Lalu menguncinya.
Reva tidak bisa bergerak.
Steven tersenyum lebar.
Fen dan teman-temannya menyaksikan semua ini.
Mulut Fen cemberut.
'Apa sih yang dilihat Steven dari gadis asing ini ?
Jelas-jelas dia tidak menyukai pendekatan Steven !' batin Fen.
Setelah membayar tagihan termasuk tagihan Fen dan teman-temannya, masih dengan Reva dalam pelukannya, Steven membawa Reva keluar.
"Lepasin Steve !"
Reva menggeliat.
Steven melepaskan pelukannya, tapi tangan nya tetap menjalin jemari Reva.
"Mau kemana kita?"
Reva akhirnya menyerah.
Dia membiarkan Steven menggandengnya.
"Liat Tembok China.
Kamu belum pernah kan ?"
Reva menggeleng.
Steven tersenyum kecil.
Mereka berdua menghampiri mobil yang diparkir tak jauh dari restoran tadi.
"Jalan pak !"
Reva menarik nafas panjang.
Mereka berdua duduk berdampingan.
Tangan Steven masih tetap mengait jemari Reva.
"Steve...
Steve...lepasin."
Steven pura-pura tidak mendengar.
Dia menutup mata.
Reva menarik tangannya.
Tapi cengkeraman Steven begitu kuat.
"Steve !!"
Steven masih tetap menutup matanya.
"Steven Chou !!"
"Apa Revalina ?" jawab Steven kalem dalam bahasa Indonesia.
"Lepasin !!" bentak Reva sambil terus menarik tangannya.
Steven membuka matanya.
Karena tarikan keras tangan Reva, tapak tangannya tergesek mata cincin tunangan Reva.
Steven mengernyit.
Dia melepaskan jari Reva dan cepat menjepit pergelangan tangannya.
Tangan kanannya kemudian dengan cepat meloloskan cincin pertunangan Reva.
Reva terkejut
"Steve !
Balikin !"
Steven tersenyum tipis.
Tapi Reva menatapnya dengan takut.
Hawa dingin menjalari tulang belakang nya.
Cincin pertunangannya.
Mau apa Steven dengan cincin itu ?
Sandy akan marah bila tau kalau cincin nya dilepas.
"Steve...
Balikin cincinku."
Steven kembali menutup mata.
__ADS_1
Cincin yang ada di tangannya dimasukkan ke dalam saku celananya.
"Ambil sendiri." katanya santai.
Reva memukul bahu Steven.
"Steve...tolong balikin cincinku."
"Kamu mau kasih aku apa ?"
"Maksud kamu ?"
Steven terkekeh.
"Kalo aku balikin, kamu bakal kasih aku apa?"
"Ya gak kasih apa-apa !
Kamu yang ambil cincinku kok !" ketus Reva.
"Ya ..makanya...
Kalo kamu mau, ambil lagi aja." jawab Steven dengan suara malas.
"Kamu simpan di saku kamu, Steve !
Gimana aku bisa ambil ?!"
Bibir Reva maju satu senti.
Steven membuka matanya sedikit, melirik Reva.
Sudut bibirnya tertarik ke atas saat melihat Reva yang sedang cemberut.
Menggemaskan !
Steven memajukan sedikit duduknya.
Membuat saku celananya mudah dijangkau oleh tangan Reva.
"Nih...
Silakan ambil." katanya
Reva merona.
Dia tau maksud nakal Steven.
"Gak mau !"
"Ya sudah." balas Steven.
Reva menarik nafas panjang, menenangkan dirinya.
"Steve...itu cincin pertunangan ku.
Kamu balikin dong.
Nanti Om Sandy marah sama aku.
Kamu jangan macam-macam ah.." bujuknya mengubah taktik.
"Kan kamu yang dimarahin.
Bukan aku." balas Steven.
Reva menggertakkan giginya.
Ingin rasanya memukul mulut Steven.
"Ya udah...
kamu maunya gimana supaya cincinku dikembaliin ?" bujuknya lagi.
"Nanti." jawab Steven pendek.
Reva melotot.
Mereka berdua lalu saling berdiam diri.
Bukan cincin Reva, tapi cincinnya sendiri.
Dia punya rencana.
...π»πΊπ³...
Mereka tiba di Tembok China.
Steven kembali menggandeng Reva.
Tidak dihiraukannya tatapan tidak senang dari Reva.
Ini waktu dimana Reva menjadi miliknya.
Sebelum...
Ehmm... sebelum...
Steven tidak mau memikirkannya.
Masih bergandengan, Steven menarik Reva ke berbagai tempat di sana.
Mengangkat dirinya sendiri sebagai tour guide, Steven lancar memberikan berbagai penjelasan tentang Tembok China.
Menjelaskan tentang meriam yang ditanam di didinding tembok.
Menjabarkan sejarah dibangunnya Tembok China.
Saat Reva sudah terlihat lelah,
Steven membawa Reva ke tower.
Sepi saat musim dingin seperti ini.
Memang itu yang di cari oleh Steven.
Sepi.
Mereka duduk di dalam menara, terlindungi dari salju tipis yang sedang turun.
Steven membuka ranselnya dan mengeluarkan termos berisi susu panas.
"Minum dulu." katanya sambil menyodorkan susu pada Reva.
Reva menerimanya dengan terkejut.
"Kapan kamu nyiapin ini ?" tanya Reva.
Steven memandang nya sekilas sebelum kembali sibuk merogoh ranselnya.
"Kapan sih aku gak pernah nyiapin segalanya buat kamu ?" jawabnya sarkas.
Reva tidak menjawab.
Dia memanyunkan bibirnya.
Kapan Steven tidak pernah menyiapkan segala sesuatu untuknya ?
Tentu saja saat ibunya datang dan menyuruhnya menjauhi Steven.
Steven sama sekali tidak menyiapkan dirinya menghadapi hal itu.
Dia bahkan mungkin tidak pernah menyangka ibunya akan menghalanginya berhubungan dengan gadis yang dicintainya.
Reva tersenyum miris.
"Kenapa senyum-senyum sendiri ?"
Reva tersentak.
Steven sedang menatapnya curiga.
"Ah enggak...
aku...ehmm...aku lagi mikirin sesuatu."
__ADS_1
Reva tidak berani mengatakan terus terang.
Buat apa mengungkit luka lama.
Toh sebentar lagi dia akan menikah dengan orang lain.
Dan ... kalau pun tidak, hubungan mereka juga tidak akan pernah punya masa depan.
Sudah tidak ada harapan untuk mereka berdua.
Jadi biarkan masing-masing menyembuhkan lukanya sendiri.
Steven mengerutkan keningnya sedikit.
Dia merasa cemburu.
Reva pasti sedang memikirkan Sandy ! pikirnya marah.
Steven tidak tau bahwa Reva sedang memikirkan dirinya.
"Ini..." kata Steven menyodorkan pau.
"Isi apa ?"
"Ayam.
Yang kamu suka." jawab Steven menatap Reva dengan intens.
Reva merona.
Dia lalu mengulurkan tangannya hendak mengambil pau dari Steven.
Steven mengelak.
Reva memandang kesal pada Steven.
"Kamu mau kasih apa enggak ?!" katanya ketus.
"Mau dong.
Aku suapin ya." jawab Steven tetap mengulurkan tangannya.
"Ihh ..enggak mau !"
"Aku suapin." bujuk Steven.
"Steve !
Aku bikan anak kecil !"
Steven tersenyum.
"Siapa yang bilang kamu anak kecil ?"
"Aku makan sendiri !"
"Ayolah, Va.
Sekarang ini aja.
Bantu aku bikin kenangan indah tentang kita." bujuk Steven lagi.
"Kenangan indah apanya !!
Enggak ada kenangan indah tentang kamu !" jawab Reva kesal.
Wajah Steven berubah sedikit.
Tapi lalu cepat senyuman kembali ditampilkannya.
"Va...
Kamu sebentar lagi kawin sama orang lain.
Please." bujuk Steven.
Reva melunak.
Hatinya seperti ditusuk jarum mendengar permohonan Steven.
Reva menyadari bahwa dia memang masih belum bisa melupakan segalanya.
Karena itu dia berusaha menjauhi Steven.
Tapi...
Steven seperti nya membuat keadaan makin sulit untuk mereka berdua.
Reva memajukan wajahnya.
Menggigit pau di tangan Steven.
Steven tersenyum senang.
"Nah..gitu dong !" katanya dalam logat Indonesia.
Reva mendelik.
Tapi bibirnya tersenyum.
Sebentar kemudian, ditelan nya pau di dalam mulutnya.
"Ini.."
Steven kembali menyodorkan pau ke mulutnya.
Reva kembali mengigit.
Isi pau yang melimpah tertinggal di sudut bibirnya.
Steven tersenyum.
Ibu jarinya mengusap sudut bibir Reva.
"Makannya berantakan." kata Steven.
Dia lalu menjilat ibu jarinya yang tadi mengusap sudut bibir Reva.
Reva kembali merona.
Apa-apaan sih Steve !
"Steve !!" tegur Reva yang mejadi malu.
Steven tidak menjawab.
Dia hanya tersenyum dan kembali menyodorkan pau.
"Kamu makan juga gih !" kata Reva.
"Hm..entar.
Kamu abisin dulu " jawab Steven.
"Biar aku makan sendiri, kamu makan yang punya kamu." kata Reva sambil mengulurkan tangannya hendak mengambil sisa pau di tangan Steven.
Steven menggeleng, tangannya kembali terulur ke mulut Reva.
"Aaa..." katanya.
Mendelik, Reva tetap membuka mulutnya.
Saat suapan terakhir, kembali sudut bibir Reva berlumuran isi pau.
Steven mengulurkan tangannya, tapi Reva menangkap nya dengan cepat.
"Biar aku sendiri yang bersihin." kata Reva.
Senyum tipis terukir di bibir Steven.
Dia mengunci tangan Reva di dinding lalu menunduk dan menyambar bibir Reva dengan penuh hasrat.
"Steve !!
Hmmpphh..."
__ADS_1
...π³πΊπ»...