
Reva sudah mengantuk sekali.
Dia bersandar di lengan Sandy.
Matanya tertutup beberapa kali.
Hari sudah pukul satu dini hari.
"Reva udah ngantuk." kata Sandy.
"Ya udah sana, bawa ke kamar.." kata Selina.
"Kalo belajar kuat begadang, tapi ngedugem malah loyo." kata Else.
"Kok kamu tau ?" tanya Daniel.
"Iya..udah beberapa kali kita nginep bareng.
Dan dia entah ada ujian atau harus nyiapin kelas buat junior nya, dia bisa tidur sampe jam tiga.
Bangun jam lima.
Terus lanjut." kata Else.
Daniel menatap Reva yang memejamkan mata.
Dia seperti de javu.
Melihat Tia dulu.
Tia dulu seorang pekerja keras.
Kuliah, membuat tugas, kerja sampingan di kantor kakak kelasnya, menyanyi, rekaman, latihan menari, syuting.
Kesana kemari tanpa henti.
Sandy menangkap mata Daniel.
Dahinya berkerut sedikit.
Dia lalu membelai wajah Reva.
Menyelipkan tangannya di bawah tubuh Reva lalu mengangkat Reva.
"Aku ke kamar dulu." katanya.
Sandy lalu menggendong Reva keluar dari club.
Tanpa menoleh dia melewati meja Cindy.
Cindy mengikutinya dengan pandangan matanya.
Hatinya kembali teriris.
Teringat bagaimana Sandy pun dulu sering menggendongnya ala bridal style saat mereka hendak masuk ke apartemen nya.
Cindy menghela nafas.
Dia sedang merasa sangat Bahagia dengan Sandy saat tiba-tiba saja, Sandy memutuskan hubungan dengannya.
Dia sudah merasa sikap Sandy yang sedikit berbeda waktu mereka liburan di Lombok.
Sandy sangat perhatian pada Reva.
Tapi Cindy tau tanpa sengaja bahwa Reva sedang menjalin hubungan dengan Steven.
Dari obrolan Jenny.
Jadi Cindy merasa cukup aman.
Dia kecolongan.
Entah sejak kapan Sandy tau bahwa dia juga tidur dengan Aaron di belakangnya.
Di kamar...
Sandy merebahkan Reva di kasur.
Lalu dia ke kamar mandi membersihkan diri dan mengganti bajunya.
Saat dia keluar, Reva masih tertidur nyenyak dengan gaunnya.
Sandy mematikan lampu.
Sandy duduk di tepi tempat tidur.
Menatap Reva. Tali gaunnya sudah turun.
Puncak dadanya nyaris tampak.
Sandy membelai wajah Reva.
Dia membungkuk, mencium bibir Reva.
Mengulum bibir atasnya.
Lalu berpindah ke bibir bawah.
Tangannya turun.
Meremas salah satu puncak dada Reva.
Dia ingin sekali mengikat Reva.
Memastikan Reva tidak bisa kemana-mana.
Perlahan dia mengangkat tubuh Reva.
Meloloskan gaun dari tubuhnya.
Reva mengenakan strapless bra.
Bra tanpa tali.
Satu sisi sudah turun karena tangan nakal Sandy.
Reva memakai thong, sejenis baju dalam yang tidak seseksi g string tapi juga tidak setertutup baju dalam biasa.
Sandy menyeringai.
Tangannya menyelip ke belakang tubuh Reva, menjentik lepas strapless bra.
Dilempar nya sembarangan.
Dia lalu Mengatupkan bibirnya di salah satu puncak dada Reva.
Memainkan lidahnya.
Sementara tangannya menurunkan thong yang dipakai Reva.
Sandy mengangkat tubuhnya
Dia menurunkan boxernya.
Kini keduanya sudah polos.
Sandy sudah siap.
Sandy kembali memainkan lidahnya di puncak dada Reva.
Dia menindih Reva, mencoba memasukkan dirinya.
Ah..tertutup rapat dan kesat.
Jadi begini rasanya perawan.
Reva belum bangun.
Sandy berhenti.
Kalau dia memaksa masuk, berarti dia memperkosa Reva.
Dia menyakiti Reva dan bisa membuat
Reva trauma berhubungan intim dengannya.
Sandy menjauhkan diri.
Menarik nafas untuk menenangkan dirinya.
Dia kembali mengenakan boxer.
Tidur telentang, mencoba menurunkan adik kecilnya dengan susah payah.
Sandy kembali menoleh.
Huufftt... Reva masih terbaring polos.
Dia kembali tegang hanya dengan melihat Reva.
Tapi memang sejak masuk ke dalam club, adik kecilnya sudah minta lawan saja.
Semua gara-gara Reva.
Sandy menutupkan selimut ke tubuh Reva hingga leher.
Lalu dia membalikkan badannya.
Tidak mungkin dia tidur menghadap Reva.
Reva yang tanpa sehelai benang pun.
Tapi dia juga tidak bisa memakaikannya piyama atau baju tidur.
__ADS_1
Nanti Reva terbangun.
Jadi biar saja seperti itu.
Setelah menghitung sekian ratus ribu kali saking tidak bisa tidur karena ada seorang gadis tanpa busana di sebelahnya, akhirnya Sandy terlelap juga.
Dalam tidurnya, dia berbalik arah, kembali menghadap Reva.
Paginya....
Reva membuka mata.
Pemandangan pertama yang dilihatnya adalah rambut Sandy yang acak-acakan.
Reva tersenyum.
Dia lalu menunduk.
Wajah Sandy terbenam di pundaknya.
Reva mengamati wajah kekanakan yang nampak semakin kekanakan dalam tidurnya.
Gemas.
Reva menunduk.
Mencium kening Sandy.
Sandy bergerak.
Alisnya sedikit berkerut.
Merasa terganggu dalam tidurnya karena kecupan ringan Reva.
Reva terkekeh.
Dia lalu mengangkat selimut.
Terbelalak.
"Aaaaaaaa....!!!
Ooom...!!
Kamu ngapain semalam ?!!" jeritnya.
Reva meloncat mundur dan langsung terjatuh ke lantai.
Untung saja tempat tidurnya tidak tinggi.
Tapi selimut nya tersingkap.
Dan dia sekilas melihat bahwa dirinya tidak memakai satu helai benangpun.
Reva segera menutup kembali tubuhnya.
Menarik semua selimut.
Menatap nanar pada dada Sandy yang polos.
"Ooomm..!!" jeritnya.
Sandy membuka matanya.
Mengucek-ngucek.
"Apaan sih, Va ?
Pagi-pagi udah bikin ribut ?" keluhnya kembali menutup mata.
"Om..!
Kita ngapain semalam ?!" tuntut Reva.
Sandy membuka mata.
Menatap Reva.
Menatap selimut yang melingkupi tubuh Reva.
Reva terlihat memegang erat selimut nya.
Menatapnya.
Menuntut jawaban.
Ingatan tentang semalam berkelebat kembali.
Bibirnya tersenyum.
Satu ide melintas di benaknya.
"Apanya yang ngapain ?" tanyanya memancing.
"Om..!
Om ngapain aku semalam ?"
Sandy menutup matanya dengan punggung tangannya.
"Menurut kamu ngapain, Va ?" tanyanya.
Reva tidak bisa menjawab.
Dia melonggarkan selimutnya.
Menatap dirinya sendiri.
Sambil tetap mempertahankan posisi selimutnya tetap menutupi tubuh, Reva menggunakan satu tangannya meraba tubuhnya.
Tidak sakit.
Dia lalu mencoba merasakan inti kewanitaannya.
Tidak sakit.
Tidak perih juga.
Bagaimana mungkin ?
Katanya hubungan pertama akan sakit.
Tapi dia tidak merasakan apa-apa.
Reva maju dua langkah.
Sandy mengamatinya.
Reva meraba seprai.
Sisi Tempat dia tidur tidak ada bercak.
"Bangun, Om !" perintahnya.
"Mau ngapain ?" tanya Sandy.
"Pokoknya Om bangun !!" paksanya.
Sandy menyingkir.
Reva kembali memperhatikan seprai.
Tidak ada bercak.
Keringat dingin keluar.
"Om..." katanya pelan.
"Hmm..?"
"Apa..eemm...apa semalam Om ngebersihin badanku ?"
"Hmm..." Sandy tidak menjawab.
"Eee...." Reva ragu-ragu bertanya.
"Apa ?"
"Aku....
Eh..semalam aku gak berdarah ya, Om ?" tanyanya pelan.
"Enggak.
Kamu baik-baik aja tuh." jawab Sandy jujur.
Dia asyik memperhatikan ekspresi Reva.
"A...aku juga enggak ngerasa sakit.
emm...
Apa Om masih percaya sama aku ?"
"Percaya apanya ?"
Sandy masih tetap asik memperhatikan Reva.
"Aku enggak berdarah.
Aku juga enggak ngerasa sakit..
Sejujurnya...
__ADS_1
Aku enggak ngerasa apa-apa.
Tapi...
Sumpah Om...
Aku enggak pernah sama orang lain." kata Reva menunduk.
Sandy memajukan tubuhnya.
Reva mundur selangkah.
Sandy merenggut tangan Reva.
Menariknya duduk.
Reva menjerit kecil.
Dia segera membetulkan selimut yang sedikit tersingkap.
Sandy tertawa.
"Kamu kenapa sih ?
Malu banget.
Semalam aku udah liat semuanya kok."
"Hah ?!"
"Lho...menurut kamu,
Gimana caranya kamu bisa kayak gitu ?" tanya Sandy.
Reva menunduk.
Wajahnya memerah malu.
"Kamu beneran belum pernah sama siapa-siapa ?" tanya Sandy.
Kembali mempermainkan Reva.
Reva mengangkat wajahnya.
Dia menatap Sandy dengan takut.
"Bener, Om.
Sumpah.
Aku bahkan sebelumnya gak pernah ciuman.
Cuma sama Om dan ...eemm....ee.."
"Oke..oke..." Sandy tidak mau mendengar nama Steven.
"Jadi..jadi...gimana, Om ?
Om percaya aku kan ?
Apa...
eh...
Apa perlu aku ke dokter untuk...
Untuk ngebuktiin kalo...kalo cuma Om aja yang pernah....eee..yang pernah...anu.."
Reva tidak berani melanjutkan kata-katanya.
"Kalo cuma aku aja yang pernah nidurin kamu ?" kata Sandy melanjutkan kata-kata Reva.
Reva kembali memerah.
Dia malu sekali.
Sandy gemas sekali melihatnya.
Hasratnya kembali bangkit.
Dia memeluk Reva.
Mengangkat dagunya.
Reva terlihat polos saat memandang matanya.
"Aku percaya kok." kata Sandy pelan.
Dia mencium Reva dengan dalam.
Perlahan, merebahkan Reva kembali di tempat tidur.
Reva yang masih kalut, tanpa sadar melingkari leher Sandy.
Menekan tubuhnya, mencari rasa aman.
Sandy menyingkirkan selimut yang menutupi tubuh Reva.
Dia lalu menindih Reva.
Tangannya kemana-mana.
Reva yang geli terkikik.
"Om..." katanya terengah.
Sandy mengangkat wajahnya.
"Kemarin Mas..
Sekarang Om ?"
Reva tersenyum.
"Kemarin buat ngerayu.
Kalo sekarang..."
"Aku mau denger lagi rayuan kamu.." Sandy kembali meneruskan mencium Reva.
"Hmm...Om..."
"Rayu Aku..." perintah Sandy di bibir Reva.
"Mas..."
"Lagi."
Sandy menggigit leher Reva.
"Mas..."
"Lagi.."
Sandy turun ke bawah.
Menggigit dan menghisap sebagian pangkal dada Reva.
"Em..Maaas ..
au !!" jerit Reva.
"Lagi..!"
Sandy semakin turun ke bawah.
Lidahnya memainkan puncak dada Reva.
Lalu menghisapnya.
"Hhh.....
Ma...Maas..."
Udah..udah..." kata Reva mendorong kepala Sandy menjauh.
"Kenapa udah ?
Kan kamu gak sakit ?
Kita lanjutin yang semalam, Va.."
Sandy mengangkat wajahnya.
"Om...
Jangan.
Nanti aku hamil."
"Yakin kamu belum hamil ?" tantang Sandy.
Reva tertegun.
"Eh..."
Dia tidak bisa menjawab.
Sandy tersenyum dalam hati.
Biar saja Reva berfikir bahwa mereka sudah tidur bersama.
Itu akan mengikatnya.
__ADS_1