
Sandy berjalan cepat menuju mobilnya.
Dengan emosi dia membanting pintu.
Duduk di mobil, dia memukul stang stir dengan keras.
Dia marah sekali.
Sampai kapan Cindy akan terus menempel padanya ?!
Mengganggu hidupnya ?!
Dia kesal, marah dan menyesal.
Menyesal karena telah membuat Cindy jatuh cinta padanya.
Dan itu gara-gara dia ingin balas dendam.
Cewek yang aneh !!
Sandy memutuskan untuk pulang ke rumah.
Rumahnya sendiri.
Perjalanan satu jam lebih mampu menenangkan pikirannya.
Tapi tidak mampu meredakan rasa cemasnya.
Sudah tiga hari Reva tidak menghubunginya dan tidak bisa dihubungi.
Sandy sampai di rumah.
Dia membuka pintu dengan remote lalu menyetir mobilnya masuk.
Tidak ada mobil Reva.
Sandy merasa kecewa.
Dia menghembuskan nafas untuk mengusir rasa gundah dalam hatinya.
Sandy turun.
Dia masuk ke rumah.
Berjalan langsung ke dapur untuk mengambil air minum.
Lalu berhenti.
Reva sedang duduk di meja makan.
Sendirian.
Sambil membaca bukunya.
"Reva..." panggilnya dengan suara tercekat.
Reva menoleh.
"Om..!" katanya dengan terkejut melihat wajah Sandy.
Reva bangkit dari duduknya dan bergegas menghampiri.
Sandy lupa segalanya.
Setengah berlari dia juga menghampiri Reva lalu memeluknya erat-erat.
Mereka nyaris bertabrakan.
"Va...kamu kemana aja.." katanya sambil tertawa.
Reva tidak menjawab.
Dia mendorong dada Sandy.
Menjauhkan diri sedikit.
"Om...
Ini kenapa ?
Om berantem ?
Sama siapa ?" katanya meraba wajah Sandy yang masih bengkak.
Sandy tidak menjawab.
Dia hanya kembali menarik tubuh Reva ke dalam pelukannya.
"Om..." Reva menggeliat berusaha melepaskan diri.
"Gak penting, Va.
Yang penting kamu ada di sini sekarang." katanya sambil meresapi kehangatan tubuh Reva yang berada dalam pelukannya.
Semua kegelisahan, kegundahan dan rasa khawatirnya lenyap seketika.
"Kenapa gak jawab telepon ?
Aku khawatir tau.." kata Sandy diatas kepala Reva, dia mengecup puncak kepalanya.
"Ponselku ketinggalan di laci , Om.
terus..aku harus nginap di Taipei." jawab Reva.
"Iya gak papa.
Yang penting kamu disini sekarang."
Sandy tetap memeluk Reva.
Enggan melepaskannya.
Mereka tetap berpelukan selama beberapa saat.
"Udah makan, Om ?
Yuk makan siang bareng." ajak Reva mendorong Sandy sedikit.
"Hmm.." angguk Sandy.
Dia meraih dagu Reva, menunduk dan mulai mencium Reva dengan rakus.
Saat mereka berdua kehabisan nafas, Sandy menegakkan kepalanya.
"Manis seperti biasanya.
Aku suka sama rasa bibir kamu, Va.." senyum Sandy.
Reva memerah.
"Sebentar aku ganti baju dulu." kata Sandy sambil membalikkan badannya.
Tiga langkah suara Reva menghentikannya.
"Om tadi ketemu Cindy ?"
Sandy berhenti.
Perlahan dia berbalik.
"Iya.
Kamu tau dari mana ?" Sandy menatap Reva khawatir.
Reva tertawa miris.
"Di baju Om ada bekas lipstick."
Wajah Sandy berubah marah.
"Sialan perempuan itu !!" bentaknya marah.
"Mbok...!
Mbook..!
MBOOK !!"
Si Mbok datang tergopoh-gopoh.
Matanya terbelalak.
Sandy sedang melepaskan kemejanya.
Tidak sabar, dia langsung merobeknya hinga kancing-kancingnya beterbangan kemana-mana.
Lalu membantingnya ke lantai.
Dia juga melepaskan kaus dalamnya.
"Buang Mbok !
Bakar !
Aku gak mau liat baju itu lagi !" katanya marah.
Si Mbok yang tercengang hanya bisa bengong menatap baju di lantai.
"Mbok !!" bentak Sandy.
Si Mbok terlonjak.
"I..i..iya Pak...
Saya ambil.."
Si Mbok buru-buru memungut baju-baju Sandy.
"Ini benar-benar mau di buang Pak ?" tanyanya lagi.
"Bakar !
Abis itu buang." perintah Sandy dengan suara keras.
Matanya menatap Reva.
Tangan Reva menutup mulutnya.
Dia tidak menyangka.
Sandy bisa begitu marah sampai seperti itu.
Sandy jarang marah.
Dia hanya marah saat Reva membuatnya cemburu.
Kemarahan Sandy barusan membuatnya kehilangan kata-kata.
__ADS_1
Sandy maju mendekati Reva.
Reva langsung mundur.
"Va.." kata Sandy lembut.
Reva hanya menatap Sandy.
Sandy menatapnya putus asa.
"Aku tadi kerja di kantor Charles.
Aku gak tau kalo Charles ngundang mereka.
Mereka masuk ke kantor.
Aku langsung pergi.
Tapi Cindy nahan aku.
Peluk aku dari belakang.
Gak mau lepasin.
Jadi...ya... jadi aku berusaha untuk lepasin tangan dia.
Dia nangis-nangis.
Tapi aku tetep lepasin tangan dia.
Begitu lepas, aku langsung pergi.
Bener Va.
Aku gak bohong."
Reva menatap mata Sandy.
Mata Sandy walaupun bengkak nampak cerah, tanpa ada setitik pun tanda menutupi apapun.
Reva mau tidak mau percaya padanya.
"Om tau kalo Charles ngundang ?"
"Gak tau , Va !
Kalo tau aku gak akan datang."
Sandy maju.
Reva menahan dirinya untuk tidak mundur.
Tangan Sandy memegang pundaknya.
"Va.. percayalah.
Kalo aku tau Charles bakal ngajak mereka ke kantornya, aku gak akan datang
Aku gak mau membahayakan pernikahan kita."
"Terus yang foto-foto itu ?"
Sandy membuang nafasnya putus asa.
Dia mengambil ponselnya dari saku celana.
"Aku posting tentang kita.
Aku mention tentang pernikahan kita.
Ke semua orang.
Ke semua medsos yang aku punya.
Kamu gak liat, Va ?"
Sandy membuka ponselnya dan menunjukkan pada Reva.
Reva menatap ponsel Sandy.
Dia memang belum melihat ponselnya sendiri.
Mata Reva kembali melayang ke wajah Sandy.
"Va..aku posting tentang kita untuk mengcounter foto-foto dari Cindy dan teman-temannya.
Please, Va....
Kamu harus percaya aku.
Kita mau kawin kan ?
Kita harus saling percaya.
Aku gak pernah punya niatan menyakiti kamu.
Gimana bisa ?
Aku cinta kamu, Va..." suara Sandy rendah membujuk.
Reva memalingkan muka.
"Om pake baju dulu gih."
"Oke.
Kamu tunggu di sini.
Reva diam saja.
Keningnya berkerut.
Dia masih tidak suka dengan kenyataan yang ada walaupun penjelasan Sandy cukup masuk akal.
Dia tidak suka Cindy selalu berada di dekat-dekat Sandy.
Dan keadaan ini akan terus berlanjut sampai mereka menikah nanti.
Mungkin bahkan sampai mereka punya anak nanti.
Terus berlanjut sampai Cindy mendapatkan cintanya yang lain.
Atau...
Mendapatkan kembali cinta nya pada Sandy.
Reva bergidik.
Dan bagaimana dia harus bersikap ?
Mengajak Sandy menjauh, tinggal di tempat lain yang tak terjangkau oleh Cindy ?
Tidak mungkin !
Sandy punya bisnis disini.
Diapun sama.
Dan mereka punya lingkup pergaulan yang sama.
Reva kembali duduk.
Di menangkup wajahnya dengan kedua belah tangannya yang bertopang siku.
Dia tidak tau harus bagaimana.
Perlahan air matanya menetes.
Reva mengusapnya.
Semakin mendekati hari pernikahan, dia semakin ragu.
Dia semakin merasa tidak bahagia.
Padahal semua orang semakin bahagia saat hari pernikahan semakin dekat.
Dua lengan kekar menyusup memeluk pinggangnya dari belakang.
Wangi sabun merasuk dalam hidungnya.
Sandy baru selesai mandi.
Reva merasakan bibir Sandy di lehernya.
"Kenapa ?" tanya Sandy lembut di telinganya.
Reva menggeleng.
Tangannya kembali mengusap pipinya.
Sandy mengerutkan keningnya.
"Va...kamu nangis ?"
Reva memaksakan senyum.
"Va...Jangan nangis, Sayang.
Aku gak ada apa-apa sama dia.
Gak pernah lagi.
Udah lama, Va.
Dari sejak aku tau kalau dia selingkuh.
Dari sebelum aku pulang ke Indonesia.
Aku udah gak punya rasa sama dia."
Reva memaksakan mengangguk.
Tangannya kembali mengusap matanya.
Sandy memutar tubuh Reva menghadapnya.
"Kalau kamu mau tau, Va...
Aku udah menyukai kamu dari sejak kita latihan jiu-jitsu pertama kali.
Dan sejak itu aku baru sadar kalo aku ternyata gak sedalam itu sama Cindy.
Tapi sejak itu juga, aku gak bisa berpaling dari kamu.
Lama-lama perasaan aku makin dalam dalam kamu.
Makanya aku nyusul ke kota kamu.
__ADS_1
Tinggal di tempat Tia.
Bukan gak sengaja aku ke rumah kamu waktu itu.
Aku sengaja."
Reva terkejut dengan pengakuan Sandy.
Dia menengadah menatap Sandy.
Sandy tersenyum.
"Aku ngejar kamu, Va."
"Om jangan ngarang."
Sandy tertawa.
"Di rumah Mami, aku juga bisa kerja, Va.
Kenapa harus susah-susah ke tempat Tia ?"
Reva termangu.
Benar juga.
"Kalo kamu ingat juga..
Setelah kita pulang dari Lombok, aku langsung beli rumah atas nama kita.
Menurut kamu kenapa, Va ?
Karena aku pingin kita bersatu, Va.
Aku udah bilang kan...kamu yang pilih tempat tidur nya.
Karena itu akan jadi tempat tidur kita.
Kamunya gak percaya sih.."
Reva memerah.
"Aku udah mencintai kamu sejak lama,Va.
Lama bahkan sebelum kamu pacaran sama Steven.
Sakit, Va.
Liat kamu sama Steven."
Mendengar Sandy menyebut nama Steven, tubuh Reva menegang.
Sandy merasakan perubahan itu.
Wajahnya mengernyit kecewa.
"Jadi..kamu sekarang percaya kan sama aku, Va ?
Jangan liat yang ada di luar, Va.
Coba liat juga ke dalam.
Apa yang udah aku perbuat.
Dari dulu aku enggak ragu menjadikan kamu sebagai calon istriku.
Sekarang kita mau menikah.
Aku bahagia, Va.
Aku juga pingin kamu bahagia.
Karena itu tujuanku menikahi kamu, Va.
Supaya kamu bahagia."
Sandy menunduk.
Menangkup dagu Reva lalu mencium bibirnya.
Awalnya hanya sebagai ciuman penegasan perasaan sayang lalu berubah menjadi keinginan memiliki.
"Buka Va.." bisik Sandy.
Reva membuka bibirnya.
Sandy memasukkan lidahnya.
Tangannya naik ke atas.
Membelai leher Reva.
"Hhh..."
Reva tidak bisa menahan keluarnya suara dari mulutnya.
Sandy tersenyum lebar sambil mengangkat wajahnya.
"Aku cinta kamu, Va..." katanya pelan di telinga Reva.
Reva memeluk leher Sandy.
Berjinjit lalu mencium pipi Sandy yang menghitam.
Sandy mengernyit.
"Sakit ya Om ?"
"Hmm..."
"Kenapa sih ?"
"Ah..biasa laki-laki.."
"Gara-gara Cindy ?"
Sandy tertawa.
"Ih...ngapain gara-gara dia ?!
Gara-gara kamu !
Aku gak jaga kamu dengan semestinya.
Jadi aku pantas dapat ini."
Reva mundur.
Dahinya berkerut.
"Jadi...
Ini dipukul om Michael ?"
"Hmm..."
"Ya ampun...
Sini aku obatin..!"
Reva kembali berjinjit.
Meletakkan bibirnya di sudut mulut Sandy dan menjilat.
Rasa hangat lidah Reva membangkitkan hasrat Sandy.
"Va.." panggilnya pelan.
"Hmm..?"
"Ayo ke kamar."
Reva menjauhkan dirinya.
"Aku lupa..
Om ini pejantan yang udah lama gak punya penyaluran." katanya melepaskan tangannya dari merangkul leher Sandy.
"Bentar lagi punya."
Reva menggeleng.
"Ingat term kita, Om..."
Sandy langsung mengerang.
"Hapus, Va....
Hapus...!
Kamu gak kasian sama aku ?
Aku udah nunggu kamu sekian tahun lho.."
"Lagian Om gak mau nunggu aku lulus dulu."
"Ah enggak.
Sekarang aja.
Biar resmi.
Aku udah bosan jadi bujangan.
Lagipula... keburu kamu disambar orang.
Aku gak mau ambil resiko !"
Reva tertawa.
Hatinya sudah lega.
Matanya menatap Sandy dengan rasa sayang.
Betul bahwa dia belum mencintai Sandy seperti Steven.
Tapi cinta dari Sandy dan rasa sayangnya pada Sandy sudah cukup untuknya.
Cukup untuk meyakinkannya membangun rumah tangga bersama Sandy.
...🎀🍇🍒...
Halo Pembaca Tersayang...
Karena hari ini hari ulang tahun Saya,
maka saya melebihkan jumlah kata khusus dalam bab ini.
__ADS_1
Semoga memberi kepuasan dalam membaca....
Salam sehat dan bahagia selalu 😘😘