Kamu Milikku

Kamu Milikku
Sidang Skripsi part 1


__ADS_3

Aira dan Addrian serta Kenzo membantu Citra pindah rumah. Di sana ternyata Citra akan tinggal satu atap dengan Tante Tania. Tante Tania sangat senang memilik teman sekarang.


"Kamu cantik sekali, Citra."


"Terima kasih, Tante."


"Aira, kalau ada Citra di sini, Tante jadi merasa memiliki seorang anak. Kamu jangan khawatir jika tinggal di sini. Paman kamu bahkan tidak akan bisa menyakiti kamu."


"Aku percaya jika Tante Tania bisa menjaga Citra. Nanti aku dan Mas Addrian akan berkunjung di sini."


"Iya, kamu mainlah ke sini. Tante juga senang kamu dan suamimu bisa berkunjung di sini. Apa lagi nanti sewaktu anak kamu sudah lahir, ajak dia ke sini biar Tante serasa memiliki sebuah keluarga."


"Memangnya Tante tidak memiliki anak?" tanya Kenzo.


Wanita cantik itu menggeleng. "Tante berpisah dengan suami karena Tante belum bisa memberi dia keturunan."


"Kenapa Tante tidak menikah lagi?"


"Tante masih trauma dengan pernikahan. Lebih baik sekarang dan seterusnya Tante memikirkan untuk menata hidup Tante sendiri saja dulu. Melakukan apa yang ingin Tante lakukan karena pada saat Tante memiliki suami, aku tidak bisa melakukanya, suamiku terlalu pengekang."


"Oh aku kira Tante memiliki seorang putri. Siapa tau bisa aku lamar dan ajak menikah."


"Kamu itu. Kenapa dari tadi mencari seseorang untuk dinikahi?"


"Siapa tau jodohku dari orang terdekat kamu, Aira. Apa lagi Tantemu cantik sekali, pasti kalau memiliki anak juga cantik."


"Kalau anaknya cowok bagaimana?" celetuk Addrian.


"Buat kamu saja kalau kamu mau," jawab Kenzo seenaknya.


"Enak saja. Aku ini pria normal, buktinya aku bisa membuat Aira hamil." Addrian memeluk istrinya dari belakang dengan mesra."


"Hm! Selalu membuat jiwa jomloku merontah. Tante, apa tidak ada kamar kosan kosong? Ini untuk pasangan yang selalu membuat orang iri saja." Kenzo melirik ke arah Aira dan Addrian yang masih berpelukan.


Tante cantik itu malah tersenyum kecil. "Memang pasangan suami istri itu harus selalu romantis walaupun pernikahan mereka sudah lama, supaya rumah tangga mereka tetap kokoh."


"Tante, aku mau ke kamarku dulu untuk merapikan semua barangku." Citra malas harus melihat Aira yang merasa dicintai oleh Addrian.


"Mau aku bantu?"


"Iya, tidak apa-apa."


Citra dan Aira masuk ke dalam kamar dan Citra wajahnya tampak biasa melihat kamar yang sebenarnya besar dan nyaman untuk ditempati.


"Kamar kamu bagus sekali."


"Iya, bagus," jawabnya santai.


"Apa kamu tidak menyukai berada di sini?" Aira melihat wajah Citra yang seolah tidak suka berada di rumah tantenya.

__ADS_1


"Suka, hanya saja keadaan aku agak tidak enak."


"Kamu sakit?" Aira mencoba menempelkan telapak tangannya pada dahi Citra. "Kamu tidak demam."


Bukan dahinya Citra yang panas, tapi hatinya yang sakit."


"Aku tidak demam, hanya tidak enak badan saja. Aira, aku nanti saja merapikan bajuku karena aku mau istirahat dulu saja di sini."


"Kalau begitu aku dan Mas Addrian mau izin pulang dulu. Kamu beristirahatlah, dan semoga cepat pulih ya, Citra." Aira berjalan keluar dari kamar Citra.


Di luar, Tante dan suami Aira serta Kenzo tampak dengan duduk bersama sambil menikmati teh hangat yang dibuatkan oleh Tante Tania.


Aira memberitahu jika Citra sedang tidak enak badan dan Citra sedang beristirahat.


"Dia memang tadi mengeluh sakit. Sebaiknya biarkan saja dia untuk dapat tidur."


"Kalian jangan khawatir jika Citra di sini karena nanti Tante yang akan menjaganya seperti anak Tante sendiri."


"Aira, percaya sama Tante." Aira memeluk hangat tantenya.


***


Hari-hari dilalui Aira dengan bahagia. Citra pun sekarang lebih memikirkan untuk segera menyelesaikan skripsinya agar dia bisa lulus dan bekerja di perusahaan Addrian.


"Mas, aku takut sekali."


"Tidak perlu takut, aku yakin kalau kamu pasti bisa melalui sidang hari ini." Addrian memeluk istrinya.


Addrian menunduk dan mengecup lembut perut Aira yang membuncit. "Sayang, kamu bantu mama kamu supaya bisa menghadapi sidang skripsinya hari ini."


Aira mencoba menarik napas dalam-dalam dan mengembuskanya perlahan.


"Enak sekali yang ditemani oleh sang suami."


"Tidak boleh iri. Memangnya Mas Arlan tidak menemani kamu?"


"Dia sedang ada di luar negeri karena temannya yang pernah aku ceritakan sama kamu sedang kritis." Niana tampak bersedih.


"Kamu jangan marah sama kakakku. Dia bukan berarti mementingkan sahabatnya daripada kamu."


"Aku tidak marah, hanya agak kecewa, padahal aku hari ini sangat membutuhkan dukungannya."


"Aku yang akan mendukung kamu."


Cup


"Semoga sukses."


"Kenzo!" Niana terkejut karena Kenzo tiba-tiba memeluknya dan mencium pipinya. "Jangan berbuat sesuka hati kamu." Niana kesal mengejar Kenzo yang malah berlari karena tau Niana pasti marah.

__ADS_1


"Adikku memalukan sekali."


"Sama seperti kakaknya." Aira melirik pada suaminya.


"Aku tidak begitu. Para wanita itu yang malah menciumku, bukan aku," ucapnya sombong."


"Lalu, siapa yang waktu itu menciumku duluan? Pencuri Ciuman," gerutu Aira.


"Semua wanita yang mengejarku duluan, kecuali kamu." Addrian mendekatkan wajahnya pada wajah Aira.


"Mas, jangan begini." Aira mendorong pelan suaminya agar menjauh.


"Aku senang bisa menjadi orang pertama yang mengecup bibir kamu." Tangannya masih memegang tangan Aira.


"Tapi waktu itu aku malah sangat membenci kamu karena sudah berani menciumku, tapi aku juga senang menjadi wanita pertama yang kamu kejar." Aira terkekeh.


"Ehem! Dilarang bermesraan di area kampus," suara seseorang tiba-tiba terdengar di sana.


"Bunda? Bunda kenapa ada di sini?"


"Tentu saja bunda ada di sini. Bunda, kan, mengajar di sini."


"Iya aku tau, tapi bukannya hari ini tidak ada jadwal ke sini?"


"Bunda ada jadwal untuk ikut menjadi dosen yang menguji skripsi hari ini dan bunda yang akan menguji Aira."


"Bunda serius?" Aira tampak senang. Dia kemudian memeluk hangat wanita paruh baya itu.


"Iya, jadi kamu jangan terlalu tegang. Nanti kasihan sama bayi di dalam perutmu."


"Terima kasih, Bunda." Addrian pun mendaratkan kecupannya pada pipi wanita yang sudah dia anggap seperti ibunya sendiri.


"Aku lebih tenang sekarang."


"Kamu pasti bisa, Sayang." Addrian ganti memeluk istrinya dengan erat.


"Hei ... sudah di bilang jangan bermesraan di kampus."


"Bunda, Aira ini, kan, istriku. Apa tidak boleh memberi dukungan pada istriku?"


"Boleh, tapi jangan bermesraan seperti itu. Nanti saja selesai ujian dan saat di rumah."


"Iya, tapi aku mau sedikit saja mencium istriku agar dia lebih semangat."


"Tidak boleh!" Tangan wanita paruh baya itu menarik baju Addrian yang ingin mendekatkan wajahnya pada Aira.


"Mas, jangan membuat aku dalam masalah. Nanti kalau Bunda memberiku nilai jelek bagaimana?"


"Bunda tidak akan tega."

__ADS_1


"Mau mencobanya?" tanya wanita itu sambil bersedekap.


"Jangan Bunda, nanti istriku malah makin lama aku ajak pergi bulan madunya."


__ADS_2