
Sandy masuk ke gedung parkir dan memarkir mobilnya.
"Lho..Om...
Ikut masuk ?" tanya Reva.
"Iya.
Aku ada janji sama Tia."
"Oo..." Reva mengikuti langkah Sandy.
Sandy menoleh.
"Kamu ngapain sih di belakang ?
Sini !!"
Sandy merangkul pundak Reva.
"Om !!" tepis Reva.
"Kenapa ?" tanya Sandy tersinggung.
"Om...disini ada mantan Om.
Aku gak mau disebut perebut pacarnya dia."
Sandy melepas rangkulannya.
"Padahal aku gak peduli." gumamnya cukup keras hingga terdengar oleh Reva.
Mereka naik lift.
"Esse..aku mau menyapa tanteku dulu.
Kamu duluan aja."
"Oke." jawab Esse.
Berdua Sandy, Reva mengetuk pintu ruangan Tia.
"Halo Tante..." sapanya mencium pipi Tia.
"Ti..."sapa Sandy.
"Ayo duduk..duduk...
Lin..tolong ambilin minum." kata Tia.
"Aku gak usah Tante.
aku mau langsung latihan
Ini cuma Nyapa Tante aja." senyum Reva pada Lin.
Reva langsung meninggalkan ruangan Tia dan menuju studio.
Tia dan Sandy saling berpandangan.
Perlahan bibir Tia mengembangkan senyum.
"Apa ?" kata Sandy sebal.
"Belum ya Ko ?" kata Tia.
"Ponakan lu ngeyel banget sih !
Sama kayak Tantenya !"
Tia terkekeh.
"Lu sabar, Ko.
Dia menyukai orang lain.
Susah lhoo mengalihkan hati ke orang lain.
Kecuali elu kayaknya.." kata Tia.
"Maksud lu apa Ti ?!" sambar Sandy marah.
Dia sudah badmood sejak Reva menolak rangkulannya.
"Gue gak bilang lu gak setia.
Kasus lu beda.
Lu kan dikhianati.
Jadi ya..wajar kalo lu cepet pindah ke lain hati." jawab Tia menenangkan.
Sandy mereda.
Dia mengambil nafas dalam.
Tia mengamati nya sejenak.
"Gue udah bikin design kolamnya, Ko.
Dan...ehmm...gue puas banget sama hasilnya.
Rumah lu...jadi masterpiece gue.
Gue minta ijin buat dimasukin ke majalah design ya Ko?
Nanti lu ada interview sebagai pemilik.
Mau ya ?
Lu kan udah biasa diinterview."
"Interview ?
Kapan ?"
"Nanti...
kalo semua udah siap.
Sekitar tiga minggu lagi, Ko
Enggak lama lagi kok."
"Oke."
Tia membuka file design rumah dan hasil pembangunan yang sudah mencapai delapan puluh persen di laptopnya lalu menyambungkan ke proyektor.
Dia menggelapkan ruangan.
Lalu memulai menayangkan slide demi slide sambil memberikan keterangan pada setiap slidenya.
Sandy beberapa kali menyela untuk bertanya dan memasukkan keinginannya dalam design yang dibuat oleh Tia.
"Bagus Ti." pujinya setelah selesai.
__ADS_1
"Bener, Ko ?"
"Bener !"
"Aduh.. gue geer nih.
Beneran.
Gue tau lu bukan orang yang gampang suka sama sesuatu.
Lu juga pemilih.
Jadi... gue butuh banyak waktu buat mikirin yang cocok sama lu."
"Gue suka kok."
"Tapi..ini bukan karena gue bini temen lu kan ?"
"Ah..enggak
Gue suka sama design lu.
Gue Jatuh cinta sama rumah lu yang di sana.
Gue pingin seperti itu di sini.
Ya... disesuaikan dengan kondisi di sini.
Dan lu bisa menyajikannya dengan bagus.
Sesuai yang gue pingin."
Pintu diketuk.
Daniel, Elle dan tujuh orang lain masuk ke ruangan Tia.
"Oh..Halo San...
Tumben ke sini ?" sapa Elle.
Sandy tersenyum.
"Gue ada janji sama Tia." jawabnya.
Daniel menatap dinding yang masih menyajikan gambar rumah.
"Ini design kamu, Tia ?" tanyanya.
"Iya.
Sandy bikin rumah." Jawab Tia.
"Cantik lho..
Mungkin karena arsitek nya cewek, jadi rumah kamu manis ya, San." kata Elle.
"Ya.. ini kan rumah yang bakal aku tempati kalo aku punya istri nanti.
Kalo terlalu maskulin, nanti dirubah lagi sama dia." senyum Sandy.
"Ini rumah kamu, San ?" tanya satu suara.
Sandy menoleh.
Matanya bertemu dengan mata Cindy yang menatapnya.
"Iya." jawabnya.
"Cantik." kata Cindy pelan.
"Emang kamu mau kawin, San ?
Nyusul aku ya ?" ledek Elle.
"Iya dong.
Masa bujangan terus." kata Sandy.
"Ya udah Ti..
Kalian mau rapat ya ?" kata Sandy berdiri.
Tia menutup file nya.
Dia mengantar Sandy ke pintu lift.
"Langsung pulang, Ko ?"
"Enggak.
Gue mau nungguin Reva.
Malam Minggu.
Gue mau ajakin kencan." tawa Sandy.
"Lu ajak ke rumah gue dulu.
Biar dia ganti baju .Ntar gue suruh orang nyiapin bajunya." bisik Tia.
"Mau lu apain tu anak ?"
"Pokoknya bikin dia cantik deh." senyum Tia.
"Enggak di bikin juga udah cantik."
"Tambah cantik."
"Iya deh.
Gue sih seneng aja.
Apalagi kalo dinikmatin sendiri." kekeh Sandy.
"Ya udah cepetan.
Kayak gue..diseret sama temen lu.
Kalo inget...aduuh...
Ampun deh tu orang !!"
"Tapi lu bahagia kan, Ti.." kata Sandy.
Tia tersenyum lebar.
"Banget.
Gue berharap lu juga." katanya.
Matanya melembut menatap Sandy.
Sandy menatap Tia.
"Tengkyu, Ti.
__ADS_1
Gue mungkin kejeblos kalo gak ada kalian semua."
"Itu gunanya sodara, Ko."
"Belum jadi sodara, Ti." senyum Sandy.
"Udah.
Lu kan kembarannya laki gue."
Sandy tersenyum, dia mengacak-acak rambut Tia.
"Gue sayang elu." katanya.
"Bagus !
Karna gue pun sayang elu,Ko.
Mau kemana sekarang ?"
"Potong rambut.
Rambut gue udah panjang" kata Sandy.
"Oke."
Sandy melangkah masuk lift.
Tia berbalik dan menemukan Cindy berdiri tak jauh darinya.
"Cin.. ngapain ?" senyumnya.
Cindy menggeleng.
"Ayo..kita udah mau mulai rapatnya." ajak Tia.
Cindy menjejeri langkah Tia.
Ragu-ragu sejenak.
"Sandy mau kawin ?" tanyanya pelan.
Tia menoleh.
"Enggak.
Belum.
Kenapa ?"
Cindy menggeleng.
Tia berhenti lalu menatap Cindy.
Mata Cindy menceritakan semuanya.
Perasaan terluka dan patah hati.
"Aku masih mencintai dia." bisik Cindy.
Tia menghembuskan nafasnya.
"Aku gak tau Cin.
Itu urusan kalian berdua.
Tapi..kalian sudah putus.
Dan kelihatannya..dia sudah move on dari kamu."
"Move on ke siapa?
Keponakan kamu ?" kata Cindy.
Tia berhenti.
"Aku gak mau ikut campur urusan pribadi orang lain. Termasuk Sandy."
Cindy menyadari kesalahan ucapannya.
"Aku kehilangan Sandy karena keponakanmu, Tia."
"Oya ?
Kalau Sandy dan kamu betul-betul saling cinta, kalian gak akan berpisah.
Bertepuk bukan sebelah tangan aja, Cin."
"Tadinya kami saling cinta."
"Tadinya dia yang sangat mencintai kamu." kata Tia membetulkan.
"Ya..
Dan tiba-tiba dia berubah sejak keponakan mu datang."
"Dan sebelum keponakan ku datang, apa kamu membalas cinta Sandy ?" tanya Tia dengan nada datar.
Cindy memerah.
Mereka sampai di ruangan Tia.
Tia menghadap Cindy.
"Kaca yang sudah pecah, sulit untuk disatukan.
Bisa.
Tapi membuat bayangan yang dihasilkan juga tidak sempurna.
Aku mestinya marah sama kamu, Cin.
Marah karena kamu tega sekali mengkhianati Sandy.
Saudaraku.
Aku tau bagaimana sakitnya dia bangkit dari pengkhianatan kamu.
Aku dan suamiku dan kami semua mendampingi dia saat dia berada di titik paling bawah hidupnya.
Dan semua disebabkan kamu mengkhianati dia.
Tidur sama orang lain bukan hal yang bisa diterima laki-laki manapun, Cin.
Kamu coba tanya Aaron dan Jim.
Apalagi saat dia menjaga supaya cinta kalian tetap suci hingga saatnya mengikat janji.
Jadi...
Jangan salahkan orang lain.
Kamu yang menyebabkan Sandy pergi."
Tia lalu melangkah meninggalkan Cindy.
__ADS_1
...☘️🍓🌴...