
Tia menarik Reva keluar.
Tidak ada gunanya pergi ke toilet.
Malah akan membuat mereka muntah beneran.
Mereka bergegas menerobos keramaian lalu membuka pintu dan keluar.
Udara segar menjernihkan kepala mereka.
Mereka menarik nafas dalam-dalam.
"Huekkk...."
Reva masih merasakan mual.
Dia membungkukkan badannya.
Satu tangan menepuk-nepuk pelan punggungnya lalu menggosok ringan.
Reva menenangkan diri.
Kepalanya masih terisi dengan bayangan bibir Sandy yang berpagutan dengan bibir Cindy.
Bibir yang menampung cairan....ugghh...
Walaupun Reva perawan, tapi dia belajar anatomi dan fisiologi manusia dalam kuliahnya.
Dia tau fungsi bagian tubuh yang itu untuk apa saja.
"eeugh...hoekk.."
Reva mulai membayangkan lebih jauh. Bayangan bagian tubuh itu untuk membuang urine dan tidak dicuci.
Dan ... mulut Sandy harus bertemu dengan mulut yang mengulum bekas urine laki-laki lain.
Reva masih membungkuk saat tissu disodorkan melewati geraian rambutnya yang jatuh.
Dia mengambilnya.
"Makasih Tan.."keluhnya.
Tidak terdengar jawaban.
Reva mengangkat matanya.
Tia sedang berdiri sedikit lebih jauh darinya.
Bukan Tante Tia.
Reva menegakkan tubuhnya.
Steven masih membelai punggungnya sambil memegang tempat tissue.
Tadi Steven melihat kedua gadis ini bergegas menerobos kerumunan orang.
Dia bangkit dan mengikuti mereka.
Ternyata mereka keluar.
Steven ikut keluar.
Di luar dia melihat Tia dan Reva mual-mual.
Steven kembali ke dalam, menyambar tempat tissue lalu kembali keluar.
Dia menemukan Tia sudah berdiri tegak sementara Reva masih membungkuk di atas semak-semak.
Steven menghampiri Reva dan mulai menggosok ringan punggungnya.
"Steve..ngapain kamu disini ?" keluh Reva pelan.
Dia menarik nafas, memejamkan matanya.
"Udah...gak usah ngomong dulu." kata Steven.
Michael menghampiri.
"Kalian ini kenapa?
Salah makan apa tadi ?"
Tia memandang Michael.
"lho Mas...ngapain nyusul ke sini ?"
"Ya aku pingin tau kalian kenapa.
Lagian...
Mereka yang ada di dalam nuduh aku ngapa-ngapain Reva."
"Hah ?!
Reva baik-baik aja kok.
cuman mual." bantah Tia.
"Lha iya.
Dia mual, kamu mual.
aku dituduh ngehamilin kalian berdua." jawab Michael dengan muka merah karena marah.
"Hah?!"
3 orang berseru.
Michael memandang Steven.
Tau kalau Steven paham bahasa Indonesia.
"Apa ?!
Aku gak ngapa-ngapain Reva !" katanya marah.
Steven mengerut.
"Aku gak nuduh apa-apa Boss."
"Dan aku masih virgin ya..
Ting ting..." kata Reva mendelik pada Steven.
"Hhmmph.....hmmmpp..."
Tia cekikikan.
"Kamu ngapain ketawa ?!
Kamu tau gak didalam si Sandy udah mau nonjok aku !!" kata Michael yang tersinggung.
Giliran Reva yang cekikikan.
"Aduh Om...
kasian amat si Om..".katanya di sela cekikikan nya.
Akhirnya Tia dan Reva cekikikan berdua.
Michael dan Steven saling berpandangan.
Michael melipat tangannya.
Menunggu penjelasan.
__ADS_1
Tia akhirnya mereda.
"Yuk ..aku ceritain." katanya membalikkan tubuh Michael ke arah taman.
"Va...aku tinggal ya.
kamu gak papa kan sama Steven ?"
"Iya Tan..!"
Michael digandeng Tia menjauh.
Steven menatap Reva.
"Hmm...aku...
Aku kayaknya harus masuk lagi."
kata Reva.
Steven mengangguk.
Dia mengikuti Reva dari belakang.
Di meja, Reva disambut tatapan menyelidiki.
Reva meraih botolnya lalu minum.
Steven tetap berada di sampingnya.
"Kamu gak papa Va ?" tanya Biliyan.
"Enggak Tan...cuman mual aja barusan." jawab Reva sambil melirik Sandy.
"Dan eh...
saya enggak kenapa-napa kok.
eemm..enggak hamil.
Saya masih perawan ting ting, Tan.
Dijamin." sambungnya dalam bahasa Indonesia agar Cindy tidak memahami.
Menatap Sandy, Robert dan Biliyan bolak balik.
Sandy menatap Reva tajam.
Mencari tanda-tanda kebohongan.
Dan..kalau Reva ternyata hamil karena ulah sahabatnya, dia akan...
Ah...dia akan..
Mungkin dia harus berkorban menikahi Reva demi menjaga nama baik keduanya.
Eh..tapi kenapa jadi dia yang harus berkorban ?
Karena...
Karena...
Karena lu tergoda untuk memiliki Reva.
Jawab hati kecilnya.
Tak lama Michael dan Tia kembali.
Wajah Michael berubah.
Menatap Sandy dengan prihatin tanpa terlalu jelas terlihat.
Sandy menatap Tia dan Michael.
Mencari tanda-tanda pertengkaran.
Lagu berubah menjadi slow.
"Mas, aku mau ngajak Ko Sandy dansa ya ?"
Tia meminta ijin.
Michael mengangguk.
"Ko, dansa sama aku ya.." ajak Tia.
Sandy menaikkan alisnya.
Tidak pernah Tia meminta berdansa dengannya.
Dia menatap Michael.
"Sana lu !
Jarang-jarang bini gue ngajak orang lain dansa." dorong Michael.
"Cin..aku gak boleh nolak perempuan yang ngajak kan ?" kata Sandy pada Cindy.
Cindy mengangguk.
Dia tidak masalah bila Sandy ingin berdansa dengan Tia.
Tia, bagaimanapun punya power di Maxx Entertainment tempat Cindy bernaung.
Sandy lalu meminta tangan Tia.
Mereka melantai.
"Kenapa tiba-tiba pingin dansa sama gue Ti ?"
Tia menatap Sandy sambil tersenyum lebar.
"Emang gak boleh dansa sama ipar?
Kalian ini kan udah kayak anak kembar tiga."
"Hm...
setelah tiga tahun perkawinan kalian ?
Dan enam tahun perjuangan ngedapetin lu Ti ?
Something fishy nih!" jawab Sandy.
Tia tertawa.
Matanya menangkap Steven dengan Reva melantai di sudut lain.
Tia memutar tubuhnya membawa Sandy menghadap arah Reva.
"Gue kan sayang elu Ko." kata Tia.
Sandy menunduk.
Menatap Tia.
"Kalian mau gue putus." jawabnya pendek.
"Putus ?"
Tia mengerutkan keningnya.
"Ko, gue bukan orang tua lu.
Lu bebas milih siapa aja buat pendamping hidup lu." sambung Tia.
__ADS_1
"Tapi kalian gak suka sama cewek gue."
"Ko, gue cuman pingin liat lu bahagia.
Kalo lu bahagia, gue sama Michael, Robert, juga ikut bahagia.
Sama seperti saat lu liat kami bahagia.
Udah itu aja." jawab Tia sambil tersenyum.
Sandy menegang.
"Kenapa?" tanya Tia.
"Itu...Reva.
Sama Steven."
Sandy menunduk.
"Lu ngerestuin mereka, Ti ?"
"Hah ?
Mana ?" tanya Tia berpura-pura mencari.
"Di belakang lu."
Tia memutar kepalanya.
Diam-diam tersenyum sendiri.
Sandy cemburu.
"Gue gak bisa maksa orang, Ko.
Reva boleh memilih siapa yang dia inginkan." jawab Tia berdiplomasi. Memancing rasa posesif dalam diri Sandy.
"Ti... dia beda sama kita.
Lagipula... Reva baru tingkat 1."
Tia menengadah menatap Sandy.
Mukanya berubah serius.
"Ko...aku minta tolong..
Tolong jaga Reva di sana.
Gue jauh.
Dia sendiri.
Lu udah kayak saudara kandung gue sendiri.
Koreksi.
Lu sodara kandung gue, Ko.
Lu kan tau gue ini anak tunggal."
Sandy berhenti.
Tia pun berhenti.
Keduanya saling memandang.
Bahu Sandy ditabrak.
Sandy membimbing Tia ke pinggir.
"Lu gak tau apa yang lu minta.
Gue ini...
Gue..." Sandy terhenti.
"Apa?
Lu udah punya Cindy ?
Terus ?
Nanti gue yang bilang sama dia kalo gue minta lu jagain Reva."
Sandy memalingkan mukanya.
"Ti..gue udah nidurin dia."
Tia diam.
Memandang Sandy.
Mencari tanda-tanda mencintai.
Ada. Banyak.
Tia merasa sakit di dalam hatinya.
Rasanya seperti dia sendiri yang dikhianati.
"Tapi...maaf Ko.
Gak kayak gue sama Michael kan?" tebak Tia.
"Maksud lu ?"
"Gue menyerahkan diri gue sepenuhnya pada Michael.
Hidup gue, cinta gue.
Tubuh gue dan hati gue.
Cuma sama dia, Ko."
"Michael beruntung."
"Kenapa lu gak boleh menjadi salah satu pria yang beruntung ?" tanya Tia.
"Karena...gue harus bertanggung jawab, Ti..!"
"Bullshit !!"
"Ti !!"
Tia memandang Sandy.
"Gue cuma minta tolong lu bantuin jagain Reva.
Liatin dia."
Sandy menggeleng.
"Apa ?"
"Gue menyukai dia.
Gue suka sama keponakan lu.
Padahal harusnya enggak !
Gue ini udah punya pacar.
Gue enggak bisa dipercaya !!
__ADS_1
Gue aja gak bisa percaya sama diri gue sendiri.
Harusnya lu juga !!" tandas Sandy.