
Lima hari kemudian setelah pulang dari kapal pesiar.
Reva mengantarkan Cheryl ke fakultas Mike.
Dia merasa tenang.
Hari ini setaunya tidak ada jadwal mengajar Steven.
Reva menunggu di mobil.
Tidak mau ikut masuk ke fakultas Mike.
Di sana banyak yang mengenalnya.
Sebagai pacar Steven.
Dan sekarang, banyak media yang sudah memberitakan pertunangannya dengan Sandy.
Alumni fakultas yang sama.
Alumni yang terkenal.
Reva menutup matanya.
Dia ingin istirahat sebentar.
Reva menurunkan sandaran kursinya dan mulai tertidur.
Tok...tok...
Tok...tok..tok..
Reva perlahan membuka matanya.
Melirik arloji.
Baru lima menit.
Katanya Cheryl lima belas menit.
Reva mengangkat matanya.
Bertemu pandang dengan mata Steven.
Reva mengulurkan tangannya membuka pintu mobil.
"Kamu ngapain tidur di sini ?!" sapa Steven mengomel.
Dia masuk ke dalam mobil.
Reva tersenyum.
Dia tidak menjawab malah kembali memejamkan matanya.
Hening.
Lalu....
Cup.
Reva merasakan bibirnya dicium.
Dia membuka mata dengan cepat.
Steven sedang membungkuk di hadapannya.
Wajahnya berada di depan wajah Reva.
Reva terbelalak.
Tangannya segera mendorong dada Steven.
Steven bertahan.
"Aku kangen." bisiknya.
"Steve !!"
"Aku kangen sama bibir ini.." kata Steven.
Reva menutup mulutnya dengan tangan.
Steven terkekeh.
"Steve...
Aku udah tunangan.
Kamu jangan sembarangan cium-cium." desis Reva
"Tunangan ?"
"Steve !!"
"Selama kamu belum kawin, aku masih punya kesempatan."
"Steve..please..
Kita gak punya hubungan apa-apa.
Lagipula ..
Tunanganku itu sekantor sama kamu !!" kata Reva dengan gemas.
"Kamu pacar ku, Va."
"Udah enggak."
"Siapa bilang.
Aku gak ngerasa kita putus kok."
"Steve...
Aku mau kawin dua bulan lagi !"
"Belum.."
"Dan kalo kamu lupa.
ibu kamu gak setuju sama hubungan kita."
"Itu kan kata kamu."
"Itu kata ibumu padaku, Steve !" kata Reva dengan gemas.
"Gak usah bawa-bawa ibuku, Va."
"Apanya yang gak usah ?" Reva mendelik.
"Siapa pun pilihan ku...itu hak ku, Va."
"Kamu itu bandel ya...
Siapapun pilihanmu harus ada restu ibumu."
"Oya ?
ini hidupku, Va.
Bukan hidup ibuku.
Aku yang kawin.
Bukan dia."
"Terserah.
Yang jelas itu bukan aku." tutup Reva.
Dia kembali duduk bersandar dan memejamkan matanya.
"Va..."
"Please..
Jangan jadikan aku seperti Cindy.
Aku bukan Cindy." kata Reva masih menutup matanya.
Dia mengantuk.
"Tapi kamu Cindy buatku, Va.
Kamu !
Kamu pergi sama laki-laki lain."
__ADS_1
"Steve !!"
Reva membuka matanya.
Mendelik pada Steven.
"Sayangnya buat aku..
Enggak ada seorang Reva yang bisa membasuh luka hatiku."
"Aku enggak selingkuh ya, Steve.
Kita memang gak ada ikatan apa-apa.
Aku tau diri, Steve !
Aku ini orang asing.
Siapa aku yang berani menaruh harapan pada seorang jenius terkenal dan kaya raya seperti kamu ?
Hmm ?!" balas Reva lelah.
"Kita jelas-jelas punya ikatan , Va.
Semua orang tau itu.
Sandy pun tau !!" keras Steven.
"Jadi maksud kamu, aku yang salah ?
Gitu ?
Aku yang ninggalin kamu.
Aku yang pergi sama laki-laki lain.
Aku yang enggak setia ?" Reva membalas lebih keras.
Steven diam.
Tidak berani menjawab.
Karena pada kenyataan nya, Reva mundur karena ibunya yang meminta.
"Udah makan ?"
Reva menggeleng.
"Yuk makan...aku juga lapar." ajak Steven.
Reva menggeleng.
"Aku nungguin Cheryl."
Steven memandangnya sebentar lalu mendial nomor Mike pacar Cheryl.
"Mike ...
Abis ini kamu antar pacar kamu ke Oyster vermicelli yang depan kampus.
Aku tungguin disitu sama Reva." katanya lalu menutup telpon.
Reva kembali mendelik.
"Kamu itu Steve !!
Aku gak mau keliatan orang kalo aku jalan sama kamu..
Nanti Sandy mikir yang macem-macem.
"Baguslah !"
"Steve !!
"Bagus dia mikir macem-macem.
Biar kalian selesai.
Biar kamu bisa balik sama aku." kata Steven santai.
Reva mencengkeram setirnya.
Dia gemas sekali.
Steven menoleh padanya.
"Ayo jalan..
Apalagi yang ditunggu ?"
"Steve..."
Steven tertawa.
"Kita cuma makan, Va.
Bukan tidur bareng." katanya.
"Ya..tapi...
Tapi..."
"Nanti aku yang ngomong sama Sandy.
Kalo ketemu kamu dan kita makan.
Sama Cheryl dan Mike."
Reva membentur-benturkan dahinya ke setang setir.
"Upss..
Aku nyuruh kamu nyetir..
Bukan bikin kepala kamu benjol."
Tangan Steven menahan dahi Reva.
Reva menyerah.
Dia menghidupkan mesin mobilnya.
...🎀...
Dua hari kemudian.
Reva sendirian di bangku taman kampus.
Memangku laptopnya.
Dia sedang mempersiapkan ujian untuk kelas yang diasuhnya.
Profesor nya memberinya tugas itu.
Reva membuat soal lalu dikirim pada profesornya untuk di periksa sebelum diberikan sebagai ujian pada mahasiswa nya.
Badannya dipeluk dari belakang dan....
Cup.
Pipinya dicium.
Reva yang sedang memangku laptop terkejut.
Dia ingin membalikkan dirinya tapi laptop menghalangi gerakannya.
"Steeve !!" jeritnya pelan.
Steven terkekeh.
"Jangan kayak gitu !" kata Reva dengan marah.
"Lagi ngapain ?" tanya Steven menghempaskan tubuhnya di samping Reva.
Reva melirik.
"Bikin soal.." katanya pendek.
"Hmm..." Steven memperhatikan soal yang dibuat Reva.
"Udah makan ?" tanyanya.
"Belum.
Kamu ?"
"Belum.
__ADS_1
Nungguin kamu."
"Gak usah nungguin aku.
Kan kamu punya banyak teman buat diajak makan siang." omel Reva.
"Aku maunya makan sama kamu.
Kalo kamu gak makan , aku juga enggak."
"Steve !!"
"Kalo aku sakit ya kamu yang tanggung jawab."
Reva mencibir.
"Pokoknya aku gak mau disalahin !"
"Ya kamu yang salah bikin aku gak makan.!"
Reva menghembuskan nafasnya dengan kasar.
Mencoba bersabar.
"Jadi... sekarang mau makan ?"
"Sama kamu."
"Kalo aku enggak mau ?"
"Ya udah.."
"Kamu enggak makan ?"
Steven tidak menjawab.
Wajahnya merajuk.
Astaga....
Reva menutup laptopnya.
"Ayo makan.." ajak Reva.
...🎀...
Hari Jumat.
Reva seperti biasa membuatkan kopi. , wedang dan sekoteng instan.
Dia lalu membuka laptopnya di pantry sambil meminum wedang.
Ponselnya bergetar.
Steven.
'Minta kopi, Va'
Reva lalu membuatkan kopi dan menaruh dua potong brownies di piring kecil, kemudian mengantarkan ke ruangan Steven.
Tok....tok...
Reva masuk.
"Ini kopinya Steve." katanya meletakkan cangkir kopi dan brownies.
Steven mengerutkan keningnya.
"Hhuuh...."
Reva menatap tajam.
"Ada apa?
Kamu Kenapa Steve ?" katanya khawatir.
"Ehmm....
perutku..." rintih Steven.
"Hah ?!
Kenapa ?"
"Aku minta jahe, Va.." kata Steven memegang perut nya.
"Kenapa perut kamu ?
Ayo ke klinik..!" kata Reva dengan cemas.
Steven menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Aku mau susu jahe aja." katanya.
"Betul ?" tanya Reva tidak yakin.
"Iya."
Reva segera keluar.
Steven merubah air mukanya.
Dia tersenyum kecil.
Tak lama Reva datang membawa mug berisi susu jahe.
Saat mendengar langkah kaki Reva, Steven meletakkan kepalanya di tangan.
"Steve..." sapa Reva lembut.
"Hmm..."
"Ini susu jahenya.
diminum pelan-pelan." kata rrva menyodorkan mugnya.
Steven meraih mug lalu meminum susunya sedikit.
"Hmmm...." katanya.
"Steve..."
Reva mendekati Steven.
Menempelkan punggung tangannya di kening Steven.
Steven cepat-cepat memegang tangan Reva.
"Hmm..tangan kamu sejuk." katanya.
Reva menarik tangannya.
Tapi Steven menahan.
"Steve..." kata Reva lembut.
"Kamu disini dulu.
Aku sakit." keluh Steven.
"Kalo sakit, minum obat Steve..
Ayo..aku antar ke klinik." kata Reva.
Steven menggeleng.
"Gak usah.
Temenin aja aku disini.
Nanti kalo aku ada apa-apa, kamu bisa bawa aku ke klinik." tolak Steven.
"Ya ampun Steve !!
Disini banyak orang yang mau nganterin kamu ke klinik." gemas Reva tapi tidak berani marah.
Steven kelihatan sedang kesakitan.
"Hmmm..."
Steven tidak menjawab.
Dia menyembunyikan senyumnya.
Sore hingga malam, Reva akhirnya menemani Steven di ruangannya.
Dia baru keluar ruangan Steven saat Sandy datang dari meeting di luar dan menjemputnya pulang.
__ADS_1
...🎀...