Kamu Milikku

Kamu Milikku
Selendang Menjadi Saksi


__ADS_3

Selendang menaungi kepala Sandy dan Reva.


Helai kain menghalangi pandangan mereka, seakan mengungkung mereka dari dunia luar.


Keduanya sama-sama menoleh. Keduanya saling menatap.


Hanya ada mereka berdua dalam naungan selendang itu.


Bibir Reva bergerak.


"Mas..." katanya tanpa suara.


Sandy tidak menjawab, hanya menatap dalam. Tapi Reva tidak memerlukan kata. Pandangan mata Sandy sudah cukup untuknya. Sandy menjanjikan ketentraman, kenyamanan dan kebahagiaan seumur hidupnya.


Mata Reva melembut dan senyum Sandy menyambut nya.


Waktu seakan berhenti.


Hanya ada mereka berdua.


Hanya berdua.


Saat keduanya bertatapan, mereka menjadi pusat perhatian semua orang yang berada di kamar.


Klik....Klik...


Cekrek...cekrek..


Kamera mengabadikan momen itu yang nantinya menjadi kenangan keduanya bertahun-tahun kemudian.


"Baik..kita mulai. Pak Widodo silakan dijabat tangannya ananda Sandy." kata penghulu.


Sandy segera mengulurkan tangannya lebih dulu dan langsung menjabat erat telapak tangan calon mertuanya.


Senyum Papa melebar. Nampaknya calon menantunya ini tidak sabar untuk segera meminang anaknya.


Papa membaca doa dalam hati, memohon kebahagiaan untuk anak-anaknya.


Reva dan Sandy.


Semoga mereka dapat mengarungi kehidupan rumah tangga ini dengan bahagia dan diberi keturunan yang dapat membanggakan dan menyejukkan hati keduanya.


Begitu doa Papa dalam hati. Doa yang sama yang juga dipanjatkan oleh Mama, Papi dan Mami dalam hati.


"Ananda Sandy Gunawan...apa ananda sudah siap ?" tanya penghulu.


"Siap Pak." jawab Sandy tegas.


"Baik. Pak Widodo...apakah sudah siap ?" tanya pak penghulu menatap Papa.


"Sudah Pak."


"Baik. Mari kita mulai. Silakan Pak Wid.."


Papa berdehem, tangannya sedikit bergetar.


Sandy mengangkat kepalanya menatap Papa lalu mengeratkan jabatan tangannya. Mencoba tanpa kentara untuk memberikan dorongan dan keyakinan pada Papa.


Papa kembali berdehem. Telapak tangannya dieratkan pada telapak tangan Sandy.


"Ananda Sandy Gunawan, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri kandung saya, Revalina Anindya Djoyodiningrat dengan mas kawin....ee...ee...."


Papa berhenti, menatap tidak percaya pada kertas dihadapannya.


Dia lalu mengangkat matanya.


Tatapan langsung jatuh pada Sandy yang juga sedang menatapnya.


Mata Papa bertanya-tanya. Sandy yang memahami langsung mengangguk tegas.


"Iya Pa. Persis seperti itu." katanya.


'Ya ampun.... kenapa lagi ?!' batinnya gemas. Gemas karena proses yang kembali tertunda.


Matanya melirik arloji.


Di saat yang sama, ponsel Michael bergetar. Michael mengangkatnya lalu mengerutkan kening. Michael lalu menggeser kursinya berniat untuk pergi keluar.


Bunyi kursi Michael yang digeser membuyarkan suasana hening. Semua menoleh padanya.


"Maaf..maaf.." kata Michael tersipu karena sudah mengganggu acara.


Matanya bersirobok dengan mata Sandy.


Michael mengangguk sambil mengangkat tangannya. Memberi isyarat pada Sandy untuk tidak khawatir.


Sandy mengangguk. Lalu melirik Reva.


Reva sendiri sedang menatap Papanya.


Sandy menghembuskan nafas lega.


Michael segera keluar.


Pak penghulu berdehem.


"Pak Wid...bisa kita ulang dari awal ?" tanyanya.


Papa mengangguk. Matanya menunduk menatap kembali kertas dihadapannya.


Sandy kembali mengeratkan jabatannya.


Papa mengangkat mata, menatap Sandy.


Sandy mengangguk menegaskan.


Papa kembali berdehem, mengumpulkan kepercayaan dirinya.


Lalu...

__ADS_1


"Ananda Sandy Gunawan, saya nikahkan dan saya kawinkan ananda dengan putri kandung saya, Revalina Anindya Djoyodiningrat dengan mas kawin kepemilikan methrob, satu rumah di taiwan dan satu rumah di Indonesia, dibayar tunai."


Terdengar tarikan nafas kaget.


Tapi Papa tidak mendengar, dia menggerakkan tangannya memberi isyarat pada Sandy.


Sandy langsung menjawab.


"Saya terima nikah dan kawinnya Revalina Anindya Djoyodiningrat dengan mas kawin tersebut, tunai !" jawabnya tegas dalam satu tarikan nafas.


Papa dan Sandy saling bertatapan. Lalu senyum Papa merekah.


"Bagaimana para saksi ?" tanya penghulu menoleh pada Papi dan para saksi.


"Sah !"


"Sah !"


"Sah !"


Sandy menghembuskan nafas lega. Bibirnya tersenyum lebar. Beban yang selama ini menindihnya terangkat sudah.


Semua yang hadir pun tersenyum. Lega karena prosesi nikah sudah selesai.


Mama mengangkat tangannya mengucapkan doa dan puji syukur.


Penghulu kemudian memimpin doa-doa.


Setelah itu penghulu menyodorkan buku nikah yang sudah dibuka pada bagian taklik nikah pada Sandy.


"Ananda Sandy, silakan dibaca taklik nikahnya." katanya.


Sandy menerima buku nikah itu. Melirik sebentar pada Reva yang juga sedang meliriknya. Mata keduanya bertemu.


Bibir Sandy langsung tersenyum.


'Istriku...'batinnya.


Lalu Sandy menunduk dan mulai membaca.


"Saya, Sandy Gunawan berjanji sepenuh hati akan mempergauli istri saya, Revalina Anindya Djoyodiningrat dengan baik."


Penghulu dan Papa mengangguk.


"Ananda Sandy...silakan dipakaikan cincin kawin nya pada ananda Reva." senyum penghulu.


Sandy menoleh pada Robert yang duduk dibelakangnya.


Robert sudah siap.


Dia menyodorkan kotak yang sudah dibuka pada Sandy.


Disana tersemat dua buah cincin platinum bermata berlian yang rata dengan alur cincinnya. Sehingga bisa awet dipakai berpuluh tahun.


Sandy sendiri yang mendesain modelnya.


Sandy lalu mengambil kotak itu lalu mengeluarkan satu cincin yang lebih kecil.


Sandy lalu memiringkan cincin itu, menunjukkan sisi dalam.


"Ada namaku di sini. Kamu harus pakai terus, Va. Supaya orang tau kalo kamu sekarang sah milikku. Istriku." ucap Sandy sambil meraih jemari Reva.


Reva mengangguk sambil tersenyum malu.


Lalu tertegun.


Cincin !


Dia lupa masih memakai cincin dari Steven.


Sandy menunduk, berniat untuk memasang cincin kawinnya.


Jarinya berhenti saat matanya menangkap jari manis tangan kanan Reva yang sudah memakai cincin.


Cincin bermata merah.


Sandy melirik tangan kiri Reva.


Kosong.


Tidak ada cincin pertunangannya terselip di jari Reva.


Sandy mengerutkan keningnya tapi kemudian cepat-cepat menyembunyikan perasaannya yang campur aduk.


Tanpa ragu, dia meloloskan cincin bermata merah itu lalu mengantonginya.


Sandy lalu menyelipkan cincin kawinnya ke jari manis Reva. Menatapnya sejenak.


Dia lalu mengeratkan pegangan pada jari Reva.


Suara penghulu menghentikan pikirannya yang berkecamuk.


"Ananda Reva, silakan memakaikan cincin pada suaminya.."


Reva mendongak.


Sandy menyodorkan kotak yang berisi cincin kawinnya.


Reva lalu mengambilnya, meraih jari Sandy dan kemudian memakaikannya pada jari manis Sandy.


Reva kembali mendongak, menatap Sandy. Bibirnya tersenyum. Senyum tulus dan penuh penerimaan.


Sandy tertegun sejenak. Apapun yang sedang dipikirkannya saat itu langsung buyar.


Senyum Reva meyakinkannya.


Sambil mencium kening Reva, Sandy berbisik.


"Jangan pernah memakai cincin dari laki-laki lain !" katanya pelan tapi tegas.

__ADS_1


Reva mendongak, kaget dengan kata-kata Sandy. Bibirnya terkuak.


Sandy menurunkan wajahnya sedikit lalu mencium bibir Reva sekilas.


"Udah gak sabar ya Mas ?" canda penghulu.


Semua lalu tertawa.


"Bukan gak sabar lagi Pak !" canda Tito.


Reva mendelik, menatap Tito dengan penuh ancaman.


"Ya gak papa. Kan sekarang sudah sah suami istri. Justru kemesraan apapun malah akan membawa keduanya ke surga. Tuhan menyayangi suami istri yang saling mencintai." sahut seseorang yang lain.


"Naah..kan Va...dengerin.." senyum Sandy mengusap kepala Reva penuh sayang.


Reva tersenyum simpul.


Dia menangkap tangan Sandy lalu menciumnya dengan penuh takzim.


Sandy kembali tertegun. Tidak menyangka dengan sikap Reva yang penuh ketaatan.


"Va..." bisiknya.


"Mas..." senyum Reva.


'Ini rasanya nikmat menjadi suami' batinnya.


Senyum Sandy merekah lebar.


Dia lalu menoleh keluar ke arah keributan teredam yang sejak tadi terdengar.


...β„οΈπŸŒΌ...


Sementara di luar kamar.


Steven berlari ke dalam rumah sakit.


Instingnya tidak salah. Dia menemukan orang berkerumun di depan kamar Reva yang VIP.


Steven mendesak maju. Matanya tertuju pada pintu kamar Reva yang terbuka. Dia melihat Sandy yang sedang duduk berhadapan dengan Papa Reva dan saling berjabat tangan.


Wajah Steven memucat. Steven mendorong orang-orang di sekelilingnya. Lalu tiba-tiba dia berhadapan dengan Michael. Bahunya ditahan.


"Boss !!" bentaknya.


Michael menggelengkan kepala.


Steven mendorong maju tapi Michael bertahan.


"Ikhlaskan Steve." kata Michael pelan.


Steven menggeleng.


"Steve !" Josh, Andrew, Liu ikut menahan badannya.


Steven naik darah. Dia menghentakkan tubuhnya pada semua orang yang menahannya. Memakai semua kekuatan dirinya.


Michael, Josh dan yang lainnya mati-matian bertahan.


Steven sedang gelap mata.


"....Anindya Djoyodiningrat dengan mas kawin tersebut, tunai !" terdengar suara Sandy menyelusup ke telinga Steven.


Steven tertegun.


"Sah....sah...sah...." terdengar lagi suara para saksi.


Steven melemas.


Lepas sudah gadis yang dicintainya. Steven menutup mata, tangannya mengepal.


Saat membuka matanya, dia melihat pemandangan yang mengiris hatinya. Sandy sedang mencium bibir Reva.


Steven menoleh. Michael sedang menatapnya dengan tatapan menenangkan.


Suara tawa terdengar.


Steven menoleh kembali menatap ke dalam.


Dia melihat Reva mencium tangan Sandy dengan takzim. Tanda kepatuhan seorang istri pada suaminya.


Suaminya....


Kata itu kembali menusuk batin Steven.


Lalu keduanya menoleh. Menatap Steven.


Bibir Reva terbuka. Desah kaget lolos dari mulutnya.


Matanya yang bulat indah memandang terpana.


Lurus pada Steven.


Steven pun memandang pada Reva.


Keduanya tak mampu mengalihkan pandangan.


Sandy berdehem.


Reva tersadar. Dia mendongak, menangkap pandangan Sandy padanya.


Pipinya memerah. Malu tertangkap basah.


Matanya menatap sekelilingnya.


Semua sedang menatap Steven dan dirinya.


Ya Tuhan.... batinnya.

__ADS_1


...🌳🌼🌺...


__ADS_2