Kamu Milikku

Kamu Milikku
Kabur


__ADS_3

Jam satu pagi.


Sandy masih terbangun. Duduk termenung memandang lautan dari balkon.


Terdengar pintunya diketuk perlahan.


Sandy menegakkan tubuhnya.


Dia menajamkan pendengarannya.


Kembali pintunya diketuk.


"Saan.." pelan terdengar panggilan.


lalu ketukan pelan kembali terdengar.


Sandy menunduk lalu terkekeh pelan.


Dulu dia yang mengejar-ngejar Cindy.


Sekarang nampaknya Cindy yang mengejar-ngejar dia.


Tadi dia lupa mengunci pintu.


Sandy mengambil sendal, menutup pintu balkon perlahan.


Lalu melompat melewati pagar.


Mendarat di pasir.


Dia laki-laki biasa.


Kalau dia tetap disana, tak kan lama sebelum dia meniduri Cindy.


Dan kemudian siklus kembali berputar ke awal lagi.


Padahal dia sudah dibutuhkan di kantor.


Dia tidak bisa terus-terusan tinggal di sini.


Ada perusahaan yang harus dijalankan.


Dan dia pemiliknya.


Sandy berjalan memutar.


Tak tentu arah.


Yang penting menjauhi kamarnya dan kamar Cindy.


Sandy menatap satu balkon.


Seseorang sedang duduk di kursi santai balkon.


Sandy mendekat.


Reva.


"Reva !" panggil Sandy pelan.


Reva menoleh kaget.


"Om !!" desisnya.


Sandy melompat.


Naik ke balkon kamar Reva.


"Ya ampuun..Om..!!


Ngapain malam-malam gini kelayapan ?"


"Kabur, Va !" jawab Sandy sambil merebahkan dirinya di kursi santai di sebelah Reva.


"Hah?!


Kabur dari siapa ?"


"Cindy.


Cindy ngetuk kamarku."


Reva tertawa.


"Hebat Om-ku ini.


Cewek secantik itu... ngejar-ngejar sampe kesini."


Sandy mendengus.


"Hebat apanya !"


"Ya hebatlah Om.


Siapa di Taiwan yang enggak kenal Cindy Tan ?


Dan dia kepelet berat sama Om !" kata Reva pelan.


"Ssst..." Sandy mendesis.


"Nanti aku ketauan kabur." katanya.


"Masuk aja yuk Om.


Daripada ketauan." ajak Reva.


Reva lalu bangkit dan masuk ke kamar.


Sandy ragu-ragu sejenak sebelum mengikuti Reva.


Reva lalu menemaramkan lampu di kamar.


Pintu balkon ditutup.


"Om aman di sini " katanya.


Sandy merebahkan dirinya di kasur.


"Capek Va." keluhnya.


"Padahal tadi aku udah mau tidur."


Sandy menguap.


Baru terasa lelahnya.


Seharian dia tidak istirahat.


Ditambah stres dengan kedatangan Cindy.


Reva tidak menjawab.

__ADS_1


Dia hanya tersenyum.


Reva kembali menatap ponselnya.


Ada bahan yang harus dia baca menyangkut penelitian Stephen.


Setengah jam kemudian, Reva pun mengantuk.


Sandy sudah nyenyak tertidur.


Reva menimbang-nimbang.


Akhirnya dia meletakkan guling di tengah-tengah kasur, lalu merebahkan dirinya.


Tak lama dia pun tertidur.


Tiga jam kemudian, Sandy terbangun.


Dia membuka matanya.


Menatap guling di sampingnya.


Perlahan dia mengangkat guling itu menyingkirkannya ke samping.


Tampak wajah Reva yang sedang pulas di sampingnya.


Nampak tenang dan muda.


Setengah jam yang Sandy lakukan hanya berbaring miring dan menatap wajah Reva.


Saat kantuk kembali datang, Sandy menyelipkan tangannya di belakang leher Reva.


Menariknya mendekat.


Membuat Reva sekarang berbantalkan tangannya.


Sandy tersenyum puas lalu kembali tidur.


Pagi menjelang saat Reva membuka matanya.


Dia terkesiap melihat Sandy tidur di sebelahnya.


Lalu teringat bahwa semalam, Sandy kabur dari kamarnya.


Reva menarik bibirnya. Tersenyum.


Ada-ada aja tingkah orang pacaran.


Reva menggerakkan kepalanya sebelum menyadari bahwa kepalanya ada di lengan Sandy.


Dia lalu diam.


Menatap Sandy.


Menatap ketenangan dalam tidurnya.


Reva menyandarkan pipinya di lengan Sandy.


Benaknya berputar.


Merasa kasihan pada laki-laki yang sedang tidur di sampingnya.


Tapi Sandy masih muda.


Wajar bila dia melakukan kesalahan.


Yang penting, sekarang dia sudah menyadarinya dan sedang memperbaiki kesalahannya.


Laki-laki cenderung melakukannya, cibir Reva.


Sandy bergerak.


Dia membuka mata.


Menemukan mata Reva yang bulat sedang menatapnya. Dengan bibir tersenyum.


"Udah bangun Om ?" sapanya.


Sandy mengusap matanya.


"Bangun tidur ngeliat bidadari lagi ngeliatin gue.


Gue pikir gue udah mati." katanya bergumam.


Reva tertawa.


"Nyaris mati Om.


Kemarin... kalo Om salah loncat balkon." katanya.


"Dan gue bakal mati kalo ketauan tidur di tempat tidur perawan." balas Sandy.


"Mati sih enggak Om.


Suruh ngawinin, iya." tawa Reva.


"Kalo itu sih..dengan senang hati, Va." kata Sandy.


"Om becanda lagi."


"Apa yang becanda ?


Barusan ?


Itu serius, Va." kata Sandy sambil memiringkan tubuhnya.


Menatap Reva lurus-lurus.


Reva memerah.


"Om harus cepet keluar sebelum orang nyangka Om udah merawanin anak gadis orang." senyum Reva.


"Merawaninnya nanti, Va.


Kawin dulu.


Yang penting diiket dulu jadi bini.


Abis itu bebas deh mau diapain aja."


"Ya udah Om..


Sana gih cari bini." jawab Reva sambil bangun dari lengan Sandy.


Dia lalu mengikat rambutnya.


Sandy terus mengamatinya.


"Udah nemu."


"Belum."

__ADS_1


"Udah.


Kamunya aja gak percaya."


"Ya enggaklah.


Bukan selera Om.


Percayalah Om." jawab Reva sambil membuka pintu balkon.


Angin sejuk menghambur.


Pintu diketuk.


Reva terkejut.


Dia buru-buru menarik Sandy dari tempat tidurnya lalu menyeretnya ke balkon.


"Aduh Va...


Kalo ketahuan kan gak papa.


Tinggal aku kawinin aja kok." keluh Sandy yang tersandung selimut.


"Iihh..Om...!!


Aku yang belum mau kawin." gemas Reva.


Dia menaikkan selimut yang jatuh ke atas tempat tidur.


Setelah memastikan posisi Sandy tidak mencurigakan


Reva lalu menunggu pintu diketuk lagi.


Lalu membuka pintu.


Tampak Michael di depan pintu dengan Jason.


Michael tersenyum.


"Jason mau main sama kamu, Va." katanya.


Reva membuka pintu lebar-lebar.


"Kebetulan Om.


Tuh Om Sandy juga lagi jalan-jalan." katanya dengan nada biasa.


"Sandy ?"


Michael lalu masuk.


Dia melirik tempat tidur yang berantakan.


Dahi nya berkerut sedikit sebelum menangkap sosok Sandy yang sedang santai bersandar di pagar balkon.


Dia melangkah ke luar balkon.


"Tumben pagi-pagi udah nyantol disini." kata Michael.


"Dia kabur Om.." kata Reva cekikikan.


Sandy melotot.


Michael berdecak.


"Yuk jalan-jalan.." ajaknya.


"Lewat sini aja." kata Sandy sambil melompat.


"Dia sering lompat ke balkon kamu, Va?" tanya Michael.


"Enggak Om.


Pagi ini aja nih.


Kan Om tau kenapa..." jawab Reva nyengir.


"Sialan lu Kel !


Ayo Jason, sini Om gendong !" kata Sandy dari balik pagar.


Jason lalu digendong.


"Terbaaaang...!!" seru Sandy sambil mengangkat Jason ke atas dan memutar-mutar nya.


Jason menjerit kesenangan.


"Udah cocok tuh Om.


Jadi bapaknya orang." cetus Reva ikut melompat.


"Yang bakal jadi ibunya belum mau." kata Sandy.


"Makanya usaha San..usaha...!!" senyum Michael.


"Ya ini lagi usaha.." kata Sandy.


Reva diam. Tidak menanggapi.


Dia malu pada Michael.


Kalau tidak ada Michael, dia pasti akan membalas.


Berempat mereka berjalan bersama menuju pantai.


Menyusuri pantai.


Reva berlari kecil bersama Jason.


Sesekali mereka menentang ombak.


Celana piyama Reva sudah basah hingga lutut.


Jason pun sama.


Michael menelpon Tia dan Robert.


Mengajak mereka untuk bermain bersama.


Mereka bertemu dengan Anna dan Alan.


"Ayo kita latihan jiu-jitsu disini." kata Andrew sambil mendekat.


"Ada matras ?" tanya Sandy.


"Ada.


Nanti aku minta."


Andrew lalu kembali masuk ke villa.

__ADS_1


...⛰️🍎🎋...


__ADS_2