
Addrian menghubungi tuan Andreas untuk mengatakan jika dia menerima undangan makan malamnya. Tuan Andreas sangat senang mendengar hal itu.
Addrian kemudian melanjutkan pekerjaannya. Sampai tiba jam makan siang. Addrian mengambil bekal dari istrinya dan dia menikmatinya sendirian di ruangannya.
Tak lama terdengar suara pintu ruangannya di ketuk oleh seseorang. Addrian menyuruh orang itu masuk.
"Citra, ada apa?"
"Maaf, Pak Addrian, kalau aku mengganggu makan siangmu, tapi ada hal yang harus aku beritahu sama kamu."
"Ada apa? Kenapa terdengar serius?"
"Lihat ini, Pak." Citra menunjukkan sebuah video di mana Citra berada dalam gendongan Addrian saat di tempat parkir.
"Kenapa sampai bisa ada video seperti ini? Siapa yang merekamnya?"
"Aku tidak tau, kalau aku tau pasti sudah aku beri pelajaran dia. Pak, karena masalah ini, tadi banyak para karyawan saling berbisik membicarakan tentang kita berdua. Parahnya mereka malah mencap aku sebagai pelakor." Citra menunjukkan wajahnya yang seolah terpukul dengan cap pelakor yang di sematkan padanya.
"Citra, kamu tidak perlu bersedih. Aku akan membersihkan nama kamu dari gosip murahan ini. Mereka mungkin salah paham karena tidak tau kejadian sebenarnya."
"Aku sampai malu, dan tidak berani makan di kantin. Makan di ruanganku pun aku seolah ada yang mengawasi dengan ucapan yang tidak sepantasnya aku terima."
"Huft! Nanti akan aku luruskan masalah ini, dan untuk hari ini kamu boleh makan di ruanganku saja. Aku akan membuka pintunya agar tidak ada salah paham lagi."
"Terima kasih, Addrian. Maksud aku Pak Addrian."
Citra berjalan keluar dari ruangan Addrian dengan senyum menyungging.
Dia mengambil makanannya dan membawanya masuk ke ruangan Addrian.
Beberapa karyawan yang ada di mejanya melihat hal itu dan mereka merasa Citra yang sengaja mencari perhatian pada atasan mereka yang mereka ketahui sudah memiliki istri.
"Kamu makanlah dulu, aku masih ada urusan lainnya." Addrian duduk di mejanya dan menghubungi seseorang.
Citra pura-pura tidak mendengar dengan siapa Addrian berbicara. Addrian sepertinya bicara dengan kepala bagian untuk membantu mengumpulkan para karyawan karena ada hal penting yang akan dia sampaikan. Addrian ingin masalah segera selesai.
'Tidak semudah itu membungkam mulut banyak orang, Sayang. Walaupun kamu sudah mengklarifikasinya, tapi mereka tetap akan bergosip karena bukti lebih kuat daripada ucapan, dan aku akan membuat dugaan mereka semakin kuat nantinya. Kamu tunggu saja, Aira. Aku akan membuatmu menderita.'
__ADS_1
Setelah selesai bicara dengan orang itu. Addrian kembali ke meja di mana dia belum menyelesaikan makannya.
"Kenapa makannya sedikit?"
"Aku tidak berselera makan, Pak. Masalah ini benar-benar membuat aku shock. Cap sebagai pelakor sangat menyakitkan. Pak, apa Aira tau kejadian yang terjadi dengan kita kemarin?"
"Tentu saja dia tau, aku sudah menceritakan semua padanya."
"Apa dia marah?"
"Aira tidak marah karena aku sudah menjelaskannya tanpa ada yang aku sembunyikan."
"Syukurlah kalau begitu. Aira tidak akan salah paham denganku."
"Iya, sekarang hanya perlu menjelaskan kepada orang kantor akan hal ini."
Setelah selesai makan siang. Addrian yang berada di ruangannya sedang menghubungi Aira terkait masalah yang sedang terjadi di kantornya.
"Lalu, bagaimana, Mas?"
"Aku sebenarnya tidak terlalu peduli mereka bicara apa, yang terpenting hubungan kita tidak ada masalah dan kamu juga sudah tau apa yang sebenarnya terjadi, tapi Citra yang tampak shock karena mendapat cap pelakor oleh orang-orang di sini."
"Sayang, dia tidak ada maksud apa-apa denganku. Dia juga tau kalau aku suamimu dan dia tidak mungkin berbuat buruk terhadap pernikahan kita."
"Ya sudah, kalau begitu kamu selesaikan saja hari ini dan semoga berita itu segera berakhir."
"Ya sudah kalau begitu aku mau ke ruangan rapat dulu karena semua pasti sudah menungguku di sana."
"Iya, Mas."
Addrian mengakhiri panggilannya dan dia menuju ruang rapat di mana para karyawan dan stafnya menunggunya memberi penjelasan tentang video siapa yang entah merekam dan mengedarkannya.
Pria tampan dan gagah itu berdiri dihadapan para karyawannya. Wajahnya tampak tenang dan tidak ada rasa takut sama sekali.
"Saya di sini mengumpulkan kalian karena ada hal yang ingin saya luruskan mengenai video yang baru beredar tadi pagi. Video yang menyangkut saya dan Citra itu sebenarnya tidak seperti apa yang kalian pikirkan. Kejadian yang sebenarnya adalah aku menolong Citra yang sedang sakit pada perutnya dan dia sampai tidak bisa berdiri."
"Iya, itu benar." Citra menceritakan kejadian sebenarnya. Dia juga mengatakan kenal baik dengan keluarga Addrian dan istrinya.
__ADS_1
"Jadi, saya minta tolong pada kalian semua agar tidak menyebarkan berita yang tidak benar apa lagi sampai mencap Citra sebagai seorang pelakor karena hal itu tidak benar. Istriku juga sudah tau tentang hal ini semua."
"Saya dan Pak Addrian tidak memiliki hubungan apa-apa. Jangan seolah membuat saya duri di dalam pernikahan Pak Addrian karena hal itu tidak mungkin. Saya sangat berterima kasih pada keluarga Pak Addrian." Citra menggunakan air matanya untuk mendapat simpati Addrian.
"Citra, kamu tenang saja karena masalah ini sudah berakhir." Tangan Addrian menepuk pundak Citra.
"Saya sangat berharap seperti itu. Kasihan Aira kalau sampai memikirkan masalah ini."
"Kalian semua, saya harap untuk benar-benar menghilangkan pikiran buruk antara diriku dan Citra. Untuk perhatiannya saya ucapkan terima kasih. Silakan kembali bekerja."
Semua akhirnya merasa apa yang terjadi hanya salah paham dan mereka percaya jika memang CEOnya yang baru ini orang yang baik seperti ayahnya dulu.
Di ruang rapat yang sekarang sepi dan hanya ada Addrian dan Citra. Gadis itu tampak mengusap air matanya.
"Kamu tidak perlu sedih lagi karena semua sudah berakhir. Kalau begitu aku kembali dulu ke ruanganku."
"Pak Addrian, aku sekali lagi sudah membuatmu dan Aira dalam kesusahan."
Addrian tersenyum. "Tidak perlu dipikirkan, makannya cepat cari pasangan hidup yang bisa selalu menjaga dan menemani kamu."
Addrian berjalan pergi dari sana. Citra seketika menunjukkan wajahnya seperti seorang devil.
"Kekasih? Aku akan mendapatkan kekasihku di waktu aku masih sekolah dulu, yaitu kamu pangeran tampanku." Citra berjalan pergi dari sana.
Di dalam ruangannya. Addrian mendapatkan panggilan dari seseorang yang adalah orang suruhannya.
"Ada apa?"
"Pak, saya mau memberi informasi mengenai pria yang Anda inginkan."
"Apa dia sudah pulang dari rumah sakit?"
"Sudah beberapa hari dia berada di rumahnya dan keadaannya sudah sangat baik."
"Kalau begitu lakukan apa yang harus kamu lakukan dan beritahu padaku di mana alamatnya nanti."
"Tentu saja, Pak. Saya akan segera mengabari Anda."
__ADS_1
"Aku menunggunya." Addrian menutup panggilannya.