
Reva mengetuk pintu ruangan Sandy.
"Masuk !" kata Sandy tanpa menoleh.
Reva masuk menenteng nampan berisi kopi, wedang jahe dan pie susu.
Dia meletakkan mug-mug dan piring kecil di tepi meja kerja Sandy yang besar.
"Nanti ada tamu, Om ?" tanyanya.
Sandy mengangkat wajah.
"Enggak.
Kenapa ?"
"Ehm...enggak apa-apa, Om."
jawab Reva.
Sandy menatap Reva sekali lagi lalu kembali menumpukan perhatiannya pada monitor-monitornya.
Reva berjalan ke pintu.
Lalu berhenti sebentar.
Lalu kembali berjalan.
"Reva !"
Reva berhenti lalu menoleh.
"Ya, Om ?"
Sandy menyandarkan tubuhnya ke kursi.
Tadinya dia sedang duduk tegak.
Dia melipat tangannya.
"Ada apa ?"
Reva tersenyum, lalu menggeleng.
Sandy menatap tajam.
"Ngomong, Va !" katanya tegas.
Reva ragu-ragu sejenak. Lalu nampak memantapkan dirinya.
"Om keganggu gak kalo aku belajar di sini ?"
Sandy menatap Reva lalu matanya menyipit.
Reva menegakkan dirinya.
"Tapi gak papa deh...
Aku belajar di pantry aja."
Reva langsung membalikkan badannya.
"Reva !"
Reva kembali berhenti.
Dia menoleh.
"Disini aja belajarnya." putus Sandy.
Senyum Reva merekah.
Sandy menatapnya.
"Bener gak papa, Om ?" tanyanya.
"Iya..udah sana cepetan."
Reva langsung berbalik.
Dia kembali beberapa saat kemudian membawa tasnya yang nampak penuh dan berat.
Dia berhenti di dekat pintu.
"Dimana, Om ?" tanyanya.
"Terserah.
Bebas." jawab Sandy.
Lalu matanya kembali menatap monitor.
Reva berjalan ke pojok ruangan.
Jauh dari pandangan orang dari luar.
Dia membuka tasnya, memposisikan laptop, mengambil buku lalu duduk bersandar di dinding.
Dia mulai belajar.
Keduanya hening selama satu jam berikutnya.
Hanya suara kelepak kertas buku yang dibalik.
Sandy sesekali menatap gadis yang duduk di pojok ruangan nya.
Duduk di lantai, menjulurkan kakinya.
Rambut panjangnya dijepit ke atas.
Semakin menonjolkan bentuk wajahnya yang oval dengan belahan dagu.
Sesekali alisnya yang melengkung indah berkerut.
Bibirnya komat kamit menghafal.
Satu setengah jam kemudian.
Sudah sepuluh menit Reva menyandarkan kepalanya ke dinding.
Tangannya dilipat didada sementara kakinya terjulur menumpuk satu sama lain.
Matanya terpejam.
Sandy bangkit.
Dengan langkah ringan, dia mendekati Reva.
Lalu berjongkok di dekatnya.
Mengamati wajah cantik yang tertidur di hadapannya.
Sandy terus seperti itu sampai...
Tok...tok...
Sandy menoleh.
"Boss." Steven menyapa.
Dia masuk ke ruangan.
"Tidur ?" tanyanya.
Sandy mengangguk.
Steven ikut berjongkok.
Sandy menjulurkan tangannya untuk menggendong Reva lalu...
__ADS_1
Tangannya ditahan Steven.
Sandy kembali menatap Steven.
Steven menggeleng.
"Biar aja disitu.
Kalo dipindahin, dia bangun.
jadi gak istirahat." kata Steven berbisik.
Sandy menganggukkan kepalanya.
Dia lalu bangkit dan berjalan kembali ke mejanya.
Steven mengikuti.
"Ada apa ?" tanya Sandy.
Mereka berdua lalu berbicara dengan suara rendah.
Sementara Reva masih lelap tertidur.
Setengah jam kemudian.
Reva merentangkan tangannya yang pegal.
Dia menggeliat. Melemaskan otot-otot nya yang kaku.
Lalu mengangkat matanya.
Dua laki-laki yang sedang berdiskusi menatapnya tanpa berkedip.
Bibir Reva mengembang.
"Lho.. Steve...kamu disini ?" sapa Reva.
Steven berdehem sebelum menjawab.
"Tidur jam berapa kamu semalam ?" tanyanya tanpa menjawab pertanyaan Reva.
"Jam dua." jawab Reva sambil berdiri lalu keluar ruangan.
Dia ingin mencuci mukanya.
Steven dan Sandy saling berpandangan.
Lima menit kemudian, Reva kembali masuk setelah sebelumnya mengetuk pintu.
Dia kembali ke pojok dan membereskan barang-barangnya.
"Mau kemana ?" tanya Sandy.
"Ke Pantry, Om.
Aku udah selesai.
Makasih ya Om..." senyum Reva menyandang tasnya.
Sandy tidak menjawab.
"Va..nanti pulang sama aku." kata Steven sambil melirik Sandy.
"Gak usah.
Aku bawa mobil, Steve.
Lagipula..aku ada janji sama Jasmin, Selina."
Reva lalu keluar.
"Siapa Jasmine ?" Tanya Sandy.
"Temannya ngeband.
Reva jadi drummer mereka."
"Jadi artis ?" tanya Sandy mengerutkan keningnya tidak suka.
Steven menatapnya.
"Enggak.
Reva cuma bantuin aja.
Itu grup musik perempuan asuhan Madam.
Mereka gak punya drummer."
Sandy balas menatap.
Lama.
Lalu matanya kembali menatap monitor.
Dia melanjutkan diskusinya.
Menjelang jam tujuh, Reva berpamitan pada semua orang lalu pergi meninggalkan Methrob.
Sandy masuk ke ruangan Michael.
Ada Tia di sana.
"Reva punya girl band ?" tanyanya langsung.
Tia menatap Sandy lalu menoleh pada Michael.
Dan kemudian kembali menatap Sandy.
"Lu belum tau, Ko ?" tanya Tia.
"Reva gak cerita.
Lu juga gak cerita, Ti."
Tia menghadapkan dirinya pada Sandy.
"Kenapa gue wajib cerita sama lu, Ko ?
Reva itu keponakan gue.
Kami bersaudara.
Tenang aja, gue enggak pernah pingin menjerumuskan keponakan sendiri.
Apalagi gue sayang sama dia."
Sandy memerah mendengar ceramah singkat Tia.
"Bukan gitu, Ti.
Tapi..jadi artis ?!" Sandy kembali mengerutkan keningnya.
"Ko..gue juga artis.
Tapi jangan samain semua artis dengan mantan lu.
Gue punya suami.
Gue tidur cuma sama suami gue doang.
Dan gue mencintai suami gue.
Doang.
Cuma dia.
Satu-satunya." tegas Tia menekankan kata satu-satunya.
__ADS_1
Michael tersenyum mendengar kata-kata Tia.
"Gue jadi geer denger nya." katanya.
Tia menoleh kaget.
"Astaga...
Aku lupa kalo kamu disini, Mas." katanya memerah malu.
Michael menjawil pipi Tia dengan gemas.
"Patut di beri apresiasi nih...Udah terang-terangan mengungkap isi hati di depan sahabat gue." tawa Michael.
"Mas !!"
"Mau apa ?
Hmm ?" tanya Michael menatap Tia.
Matanya melembut.
"Bener boleh minta apa aja ?" tanya Tia.
"Hmm..." angguk Michael.
Tangannya memainkan ikal ujung bawah rambut Tia.
"Bener ? " tanya Tia memastikan.
"Iya !"
"Adek buat Jason." kata Tia berbisik.
"Apa ?"
"Adek buat Jason !" kata Tia lebih keras.
Michael tertawa.
"Ntar malem Ti..
Eh...apa besok kita libur aja, Ti.
Ambil waktu buat bikin bayi ?" katanya meraih dagu Tia.
"Astagaaa !!" gerutu Sandy.
"Kalian ini !!
Emang gak cukup waktu di rumah ?!" bentaknya.
Michael menoleh pada Sandy.
"Makanya...cepetan bergerak.
Lu kelamaan sih...
Kan dia udah kalah taruhan.
Kalo itu gue, udah gue samber dari dulu San!"
Tia mengamati Sandy sambil tersenyum lebar.
"Dan kita semua udah berkorban buat lu lho, Ko.
Seminggu enggak sama Mas-Ku..." katanya iseng.
Dia membelai pipi Michael dengan sayang.
"Hm..iya.
Kudu dibayar tuh, Ti.
Kita liburan seminggu deh.
Biarin Sandy yang ngantor sendirian di sini."
"Enak aja...!!
Udah ah...gue pulang !
Puyeng gue liat kalian berdua!" omel Sandy.
Lima menit kemudian Sandy sudah turun dan menyetir mobilnya keluar dari gedung kantor.
Di perempatan, matanya menangkap mobil Reva sedang menunggu lampu merah.
Lampu berubah hijau.
Sandy mengikuti mobil Reva yang menuju apartemennya.
Sementara Reva masuk ke parkiran, Sandy memilih menunggu di mobil dengan mesin hidup.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Lima belas menit.
Dua puluh menit.
Sosok Reva keluar dari gedung.
Berjalan santai menuju parkiran mobilnya.
Dia kelihatannya sudah mandi tukar baju dan hanya menyandang tas kecil.
Bukan tas besar seperti biasa yang dibawanya saat kuliah.
Celana panjangnya sudah berganti dengan rok selutut dipadu dengan blus kuning lembut dnegan renda di leher dan lengan.
Dari jauh, Sandy menikmati penampilan Reva.
Saat Reva mendekati mobilnya, Sandy mengklakson.
Reva melihat berkeliling sebelum mengenali mobil Sandy.
"Om !!" sapanya.
"Va....
Sini aku anterin."
"Gak usah, Om.
Om kan capek."
"Ah..enggak.
Ayo !" jawab Sandy dengan suara yang tidak ingin dibantah.
Reva menghela nafas.
"Jam berapa janjian ?" tanya Sandy setelah melajukan mobilnya.
"Masih setengah jam lagi, Om."
"Hmm....
Om boleh mandi dulu ?" tanya Sandy.
"Di tempat Om ?"
Sandy mengangguk.
"Oke, Om."
Sandy tersenyum lalu mengarahkan mobilnya ke apartemennya.
__ADS_1