
Tidak seperti Tia, Reva tinggal di pinggiran kota, di pedesaan.
Rumahnya khas rumah desa di Jawa, luas dan terbuat dari kayu.
Papa Reva memiliki sawah juga toko oleh-oleh khas kota mereka.
Bekerja sama dengan bisnis pariwisata Eyang Bhahu.
Karena nenek Papa Reva adalah kakak sulung dari eyang Bhahu. Eyangnya Tia.
Sandy berkenalan dengan orang tua Reva.
Dengan sedikit canggung, dia memanggil Om pada Papa Reva yang memang tampak seumuran dengan Papinya sendiri.
Reva memprotes.
"Om...kok manggil Om sama Papa.
Harusnya kan Mas." katanya.
Sandy memerah.
Dia menatap Papa Reva meminta bantuan.
Papa Reva tersenyum.
Dia ingat anak muda ini.
Teman dari suami saudara sepupunya, Tia.
Salah satu pemilik dari game company yang terkenal.
"Terserah dek Sandy aja." jawabnya setelah saling berpandangan dengan Mama Reva.
Sandy menatap kedua orang tua Reva lalu memutuskan.
"Va, kamu panggil aku Mas aja.
Supaya aku bisa enak panggil orang tua kamu Om dan Tante." kata Sandy sambil menatap Reva.
Reva menatap kaget.
Sandy kembali menoleh menatap orang tua Reva.
"Mohon maaf Om...tapi Om sama Tante seperti seumuran dengan orang tua saya.
Lagi pula saya dan Reva tidak terlalu jauh beda usianya. Saya baru mau dua puluh enam tahun."
Papa Reva mengangguk.
"Ya..boleh aja."
"Dan saya ini temannya Michael. Bukan saudaranya.
Jadi sah saja kalo Reva panggil saya Mas, bukan Om." sambung Sandy menatap Reva.
"Aduh...aku udah biasa manggil Om.
Susah nih." keluh Reva.
"Salah kamu sendiri Va,
kan kamu yang ngotot manggil om, uncle ke semua orang." balas Sandy.
"Tapi kan dulu itu aku disuruh Mama panggil begitu sama teman-teman Om Michael." bantah Reva.
Sandy memandang Mama Reva, meminta pertolongan.
"Ya..itu kan karena Mama pikir emang sebaiknya kamu manggilnya begitu. Biar sopan Va.
Tapi kalo yang bersangkutan enggak mau, ya gak papa Va.
Lagipula, Mas Sandy bener, Va.
Kamu sama dia gak ada hubungan saudara. Jadi boleh manggil apa aja.
Paling bener ya Mas, eh...atau..
Mas Sandy ini kan sama seperti Mas Michael ya ?"
Sandy tersenyum.
"Panggil Mas aja Tante.
Michael juga di panggil Mas sama Tia.
Sampe sekarang."
"Tapi aku udah biasa panggil Om." gerutu Reva.
"Kamu ini ngeyel ya Va !" kata Sandy.
Papa dan Mama Reva tertawa.
"Maklum Mas, Reva kan anak tunggal.
Saya sama Mamanya mungkin terlalu manjain."
"Ah enggak kok.
Reva mandiri.
__ADS_1
Cuma emang ngeyel." jawab Sandy tertawa.
Reva cemberut.
"Mas Sandy ada rencana jalan-jalan kemana ?" tanya Papa.
"Belum tau Om." jawab Sandy tersenyum.
Papa Reva menatap Sandy, menimbang-nimbang.
"Kalo gitu, besok mau ikut panen padi gak ?
Eh..tapi ya...kotor dan capek Mas." kata Papa Reva sambil tersenyum.
Sandy nampak jelas anak perkotaan.
"Panen padi?
Saya belum pernah tuh Om.
Mau." kata Sandy.
"Bener nih ?
Tapi...nanti tangannya mas Sandy bisa melepuh lho Mas." sela Mama Reva khawatir.
"Ah..biarin aja Ma.
Om Sandy ini bisanya cuma ketak ketuk keyboard doang tiap hari.
Perlu diajarin juga, nasi itu asalnya dari mana." jawab Reva pedas
Sandy menatap Reva.
"Ya dari beras yang dimasak" senyumnya.
"Beras dari mana emangnya kalo bukan dari kami para petani." cibir Reva.
"Reva.." kata Papa menegur.
"Mas Sandy nginap dimana ?" tanya Mama mengalihkan pembicaraan.
"Di rumah Tia, Tante.
Di sana ada server, jadi saya bisa tetap kerja dari sana sambil liburan." jawab Sandy.
"Memang sengaja mau liburan di sini ya ?" tanya Papa.
"Iya Om.
Saya lagi pingin ganti suasana.
Pas kebetulan Reva juga libur jadi saya samperin ke sini.
"Iya Mas.
Di sini kan udah masuk pedesaan, pinggir kota.
Kalo rumah Tia kan di tengah kota."
Papa diam sebentar.
"Besok bawa baju ganti ya Mas.
Panen itu capek dan kotor.
Nanti Mas perlu ganti baju karna pasti keringetan.
Bawa satu stel ya Mas. Celana juga."
"Halah.. paling-paling cuma kuat sejam.
Itu juga udah jerit-jerit." kata Reva meremehkan.
Mempermainkan Sandy.
Bibirnya tersenyum lebar.
Sandy menatapnya.
"Kita liat aja besok Va." tantang Sandy.
Keesokan harinya...
Pagi-pagi Sandy sudah berada di rumah Reva.
Reva menyambutnya di pintu.
Menatap Sandy dari atas ke bawah sambil memicingkan mata.
Dia mengira Sandy akan memakai jeans, tapi ternyata Sandy memakai celana kain, kaus oblong.
"Apa ?" tanya Sandy.
"Aku pikir Om bakal pake baju-baju Om yang mahal-mahal itu." ejek Reva.
Puk.
Kepala Reva di tepuk.
"Mas." kata Sandy sambil masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Reva mengelus kepalanya yang ditepuk Sandy lalu mengikuti Sandy masuk ke dalam.
Di dalam Papa Reva sedang sarapan.
"Ayo Mas Sandy, sarapan dulu."
"Iya Om.." jawab Sandy sambil duduk di hadapan Papa.
"Kenalin..ini keponakan-keponakan saya. Biasanya mereka bantu-bantu kalo sedang panen raya begini." kata Papa menunjuk pada tiga orang anak muda yang juga sudah duduk di ruang tamu.
"Sandy."
"Agus."
"Tito."
"Andi."
"Va, tuangin kopi ke Mas Sandy.
Eh mas Sandy mau teh apa kopi ?" tanya Papa.
"Kopi aja Om." jawab Sandy.
Reva mengambil gelas lalu mengangkat teko berisi kopi hitam panas dan mulai menuang.
"Calon bojo, Va ?" canda Tito.
Brakk..
Teko kopi terlepas dari tangan Reva.
Sebagian isinya yang panas tumpah ke arah Sandy yang berada di hadapannya.
Sandy melompat berdiri, menghindari kopi panas, satu tangannya menahan teko agar tidak terguling.
Satu tangan lagi memegang tangan Reva yang masih memegang kuping teko.
"Hati-hati Va !" katanya.
Reva mendongak menatap Sandy lalu menunduk menatap Papa dan ketiga sepupunya.
Pipinya memerah.
Tangannya masih dipegang oleh Sandy.
"Om..lepasin, Om." pinta Reva.
Sandy melepaskan tangannya.
Agus sudah mengambilkan serbet untuk mengelap tumpahan kopi.
Sandy kembali duduk.
Reva kembali mengambil gelas baru lalu menuang kopinya.
Kali ini memegang erat-erat kuping teko dan alasnya.
Lalu mendorongnya ke hadapan Sandy.
"Makasih Va.." kata Sandy.
"Iya Om.." jawab Reva.
"Mas." kata Sandy membetulkan.
Reva menatap Sandy.
Sandy balas menatap Reva, menjaga air mukanya tetap datar dan matanya tidak menyiratkan apa-apa.
Sadar, dia sedang diperhatikan oleh semua orang.
Reva memalingkan muka lalu pergi ke belakang membawa gelas yang tadi dia tumpahkan isinya.
"Sering ketemu Reva ?" tanya Papa membuka pembicaraan.
"Lumayan, Om.
Saya sama Reva tinggal di kota yang sama.
Kantor kami di sana."
"Oh..beda sama Tia ?"
Sandy mengangguk.
"Tia, Michael dan Robert tinggal di Taipei.
Satu jam dari kota tempat saya tinggal.
Saya terus terang aja ya Om." kata Sandy sambil menoleh pada ketiga sepupu teva yang mendengarkan pembicaraan mereka.
"Tia menitipkan Reva pada saya.
Jadi paling enggak, saya menengok Reva seminggu dua kali.
Belum termasuk kalo ketemu makan siang.
Anak-anak di kantor cukup akrab dengan Reva.
Mereka suka jemput Reva di kampus, lalu ketemu makan siang di luar." terang Sandy.
__ADS_1
Papa mengangguk.