Kamu Milikku

Kamu Milikku
Terjebak


__ADS_3

Esoknya cuaca kembali cerah.


Setelah sarapan, mereka kembali main ski.


Mumpung sedang disini dan cuaca mendukung.


Menjelang siang, Cherryl melihat ramalan cuaca.


"Kita harus cepet-cepet pulang nih.


Mau badai katanya."


"Hah ?!


Waah.... ayo.


kalo sampe ketahan bisa-bisa gak bisa pulang kita besok." jawab Jerry.


"Ya udah...ayo deh..kita beres-beres sekarang."


Mereka semua kembali ke villa Hong Tao dan mulai membereskan barang-barang.


Rencana sebelumnya, mereka akan pulang sekitar jam empat sore.


Tapi perkiraan cuaca mengubah rencana mereka.


Selesai membereskan barang-barang, salju telah lama turun.


Di luar nampak agak gelap.


"Eh..gimana nih ?" tanya Cherryl.


"Lanjut pulang dong.


Kalian kan harus ngejar pesawat besok pagi." kata Shú Làn.


Reva menengah menatap langit.


Tiba-tiba dia merasa sentakan hawa dingin di punggungnya.


Reva bergidik.


"Kenapa ?" tanya Fen yang sedang berdiri di sebelahnya.


"Eh..enggak.


Hawanya dingin banget." jawab Reva.


Mereka berdua diam.


"Kamu mau nikah ya ?" tanya Fen perlahan.


Reva menoleh, mengira -ngira tujuan pertanyaan Fen.


"Iya."


"Kapan ?"


"Dua minggu lagi." jawab Reva setengah tersenyum.


"Kok kamu tau ?" tanya Reva.


"Mereka ngobrol tentang kamu." angguk Fen pada teman-teman Reva.


"Oh...."


"Kamu....


Calon suami kamu miliuner ya ?"


"Hah ?!


Enggak...biasa aja kok.." Reva merendah.


"Biasa apanya.


Aku tau kok.


Salah satu yang punya Methrob kan ?"


Reva menunduk, dia tidak menjawab.


"Kamu beruntung..." kata Fen tanpa memandang Reva.


"Apaan sih ?" Reva tidak ingin mendengar.


"Kamu beruntung ada seorang pria yang begitu mencintai kamu sampe dia mati-matian pingin menikahi kamu."


Reva berkerut.


"Kok kamu tau ?"


Fen tertawa.


"Aku suka baca-baca gosip."


"Astaga..."


Reva menepuk dahinya.


Fen melirik Reva.


Lega karena Reva tidak bertanya lebih lanjut.


Yang sebenarnya adalah, dia dan Sandy bertukar cerita.


"Ayo !"


Mereka semua masuk ke dua mobil.


Salju turun di sepanjang jalan.


Mereka menyetir dengan hati-hati.


Lima belas menit perjalanan, salju turun makin deras.


Langit mulai gelap.


Hong Tao menghentikan mobil.


Dia menatap keluar, menengadah.

__ADS_1


"Teman-teman...


sepertinya kita gak bisa ngelanjutin perjalanan.


Kalo kita lanjut, kita bakal kejebak.


Aku rasa...kita harus kembali.


Sebelum salju makin lebat dan kita kejebak di jalan."


Teman-teman nya mengangguk.


"Lha.. terus kita gimana ?" tanya Jerry.


"Kalian telpon sekarang ke maskapainya.


reschedule buat lusa." Shú Làn menjawab.


"Aduuh...


Kita bakal kena marah profesor Stephen nih " kata Cherryl.


"Enggak..


Nanti aku telpon sepupuku yang kerja di airline. Kalian tenang aja." kata Dangxi.


"Jadi kita balik ya.." kata Hong Tao.


"Iya..cepetan !


Nanti bisa mati kedinginan di sini." Shú Làn menggesa Hong Tao.


Lalu menelpon Xia Fei di mobil belakang.


"Kita balik ke vila Hong Tao.


Gak bisa ngelanjutin perjalanan."


"Oke.


Aku juga khawatir liat cuaca.


Aku pikir kalian mau nekad.." jawab Xia Fei.


Mereka semua memutar mobil.


Perjalanan kembali lebih lama dibandingkan sebelumnya karena salju yang semakin deras.


Setengah jam kemudian mereka akhirnya sampai dengan selamat di vila Hong Tao.


Barang-barang dikeluarkan kembali karena ramalan cuaca mengatakan bahwa salju akan turun terus hingga esok.


Reva memandang salju dengan hati galau.


Dahinya mengernyit.


Dia menimang-nimang ponselnya.


Akhirnya memutuskan untuk menelpon.


"Halo, Sayang.." jawab Sandy.


Reva terhenti sejenak.


"Kenapa Va ?"


Sandy di ujung line sudah was-was karena menangkap nada bicara Reva yang berbeda dari biasanya.


"Maaf Mas..


Aku gak bisa ngejar flight besok.


Cuacanya gak memungkinkan.


Salju turun deras waktu kami dalam perjalanan.


Jadi tadi balik lagi."


Sandy terdiam.


Salju ?


Cuaca buruk ?


Dia membuka ramalan cuaca.


Benar.


Sedang turun salju saat ini di area Reva berada.


"Mas ?"


Sandy masih diam.


Dia sedang memperhatikan layar yang menunjukkan ramalan cuaca seminggu kedepan.


Salju dan salju.


Aliran dingin mengalir di tulang belakangnya.


Ada apa ini ?


Firasat kah ?


Alisnya berkerut.


"Mas !" suara Reva yang meninggi menyentak lamunannya.


"Hmmm....


Cuaca buruk terus ya Va.."


Gantian alis Reva yang mengernyit.


"Masa ?"


"Iya..sampai tiga hari ke depan.


Salju terus." jawab Sandy dengan suara tenang.


"Gimana ini Mas ?" tanya Reva cemas.

__ADS_1


Sandy berfikir sejenak.


"Tenang Va...


Kamu tunggu aja sampai aman, baru kembali ke Beijing.


Abis itu langsung ambil pesawat ke rumah Papa ya."


"Langsung pulang Mas ?" tanya Reva sangsi.


"Iya.


Langsung.


Kita ketemu di sana aja."


"Terus... barang-barang ku gimana?"


"Kamu kasih tau aja mau bawa apa.


Nanti aku bawain pas pulang.


Pokoknya ....yang penting kamu nyampe dengan selamat, Va."


"Iya Mas.."


Sandy menghembuskan nafas.


Reva tidak enak hati melihatnya.


"Mas..


Aku minta maaf.


Mau nikah malah kelayapan.


Jadinya malah begini."


Sandy mengamati Reva.


Mencari ketulusan dalam ucapan penyesalan nya.


"Yah..kita kan gak bisa memperkirakan sesuatu bakal terjadi, Va.


Serahkan pada Tuhan, tetap berserah kepada Nya.


Mohon diberikan jalan yang terbaik." jawabnya bijak.


"Iya sih Mas.


Cuma..kalo kemarin itu aku gak ikut main ski kan sekarang bisa tenang di Beijing nunggu pesawat pulang."


"Gak usah disesali, Va.


Ini mungkin jalannya.


Dan nantinya bisa jadi bahan cerita pada anak cucu kita.."


Reva tersenyum.


"Makasih Mas...


Aku pikir tadinya Mas bakal marah."


"Marah ?"


Sandy terkekeh.


Lalu melanjutkan kata-katanya dengan sinar mata nakal.


"Kamu tunggu aja pembalasanku karna udah bikin aku deg-degan, Va..


Dan pembalasan ku gak seenteng yang kamu bayangkan !" senyumnya penuh arti.


"Mas !!


Aku udah tau deh kemana arahnya !" kata Reva dengan bibir ditekuk.


Sandy tertawa melihatnya.


Tapi tawa Sandy tidak bertahan terlalu lama.


Hari-hari selanjutnya ternyata cuaca makin memburuk.


Bukan saja di tempat Reva tapi juga di Beijing.


Semua penerbangan ditunda.


Jalur darat tertutup.


Semua orang terkunci dalam rumah masing-masing karena badai salju hebat yang melanda wilayah itu.


Tidak ada yang bisa mereka lakukan kecuali duduk-duduk di dalam rumah dan menghangatkan diri.


Beberapa kali jalur komunikasi pun terputus.


Tidak ada sinyal.


Reva tidak bisa menghubungi Sandy maupun orang tuanya.


Dan dia hanya bisa pasrah.


Sementara di rumah orang tuanya, Mama dengan cemas terus berusaha menelpon Reva.


Dia khawatir.


Apalagi pernikahan akan dilaksanakan.


Semua persiapan sudah dilakukan.


Dan harusnya persiapan untuk mempersiapkan pengantin wanita sudah dilakukan.


Tapi Reva belum pulang juga.


Di pihak lain, Sandy pun berusaha menenangkan orang tuanya dan orang tua Reva.


Berusaha meyakinkan mereka bahwa Reva baik-baik saja dan akan segera pulang saat kondisi cuaca sudah memungkinkan.


Tapi Sandy sendiri pun khawatir.


Dan semakin hari rasa khawatir itu semakin menebal.

__ADS_1


__ADS_2