Kamu Milikku

Kamu Milikku
Balas Dendam Part 2


__ADS_3

Addrian yang sangat emosi mendengar ternyata ada orang yang dengan sengaja ingin mencelakai istrinya tampak mencekik pria itu dengan kuat.


Wajah pria yang sedang dicekik oleh Addrian tampak memerah.


"Oh Tuhan! Addrian, lepaskan pria ini! Kalau kamu mencekiknya sampai mati, nanti kita tidak bisa bertanya siapa yang sudah menyuruhnya mencelakai Aira." Tangan Rico mencoba melepaskan tangan Addrian dari leher pria itu.


"Brengsek! Kenapa ada yang ingin mencelakai istriku? Memangnya apa salah istriku?"


Tangan Addrian akhirnya terlepas dan pria itu terbatuk-batuk sambil memegangi lehernya.


"Wanita itu dendam dengan istrimu karena sudah merebut orang yang dia cintai," terang pria itu dengan suara terbata.


"Apa? Dia dendam pada Aira karena sudah merebut orang yang dia cintai?" Addrian tampak terkejut.


"Iya, tapi aku tidak tau wanita itu siapa?"


"Apa maksud kamu dengan tidak tau?" Addrian kembali menarik kra baju pria itu.


"Aku benaran tidak tau. Dia menghubungiku dan meminta nomor rekening. Setelah mentransfer sejumlah uang, dia mengatakan apa yang harus aku lakukan."


"Mana nomornya?"


"Dia setiap menghubungiku selalu berganti nomor dan sepertinya dia wanita yang pintar karena pernah aku telepon, tapi malah orang lain yang menjawab."


"Maksud kamu?" tanya Rico Heran.

__ADS_1


"Dia sepertinya selalu meminjam ponsel orang lain di jalan untuk menghubungiku."


"Apa?"


"Kalau seperti itu, berarti dia sudah merencanakan dari jauh hari, Addrian. Wanita ini sangat berbahaya."


"Siapa dia?" Addrian tampak berpikir.


"Apa salah satu kekasihmu dulu yang tidak menerima kamu menikah dengan Aira?"


"Siapa? Setahuku mereka semua tidak akan sampai berani berbuat nekad."


"Buktinya Noura kemarin bagaimana?"


"Lantas, siapa lagi yang mencintaimu sampai berani berbuat hal buruk seperti ini? Noura tidak mungkin karena dia sudah diamankan."


"Kamu jangan bohong padaku. Apa benar kamu tidak tau siapa dia?"


"Aku benar tidak tau siapa dia. Kita hanya berbicara lewat sambungan telepon tiga kali kalau tidak salah."


"Kalau begitu coba kamu hubungi lagi. Apa hari ini dia menghubungi kamu?"


"Kemarin malam dia menghubungiku sekitar jam tujuh malam, setelah itu ponselnya tidak aktif."


"Sini, ponselmu!" Addrian mengambil paksa ponsel milik pria itu.

__ADS_1


"Mana nomornya yang menghubungi kamu? Dan ada apa dia menghubungimu? Apa dia mau membuat rencana lagi untuk mencelakai istriku?"


"Dia memberiku sejumlah uang aku segera pergi dari negara ini."


"Apa?" Addrian dan Rico kaget berjamaah.


"Sepertinya dia wanita kaya raya, Bro. Buktinya dia bisa membiayai pria ini pergi dari negara ini."


Addrian tampak berpikir sebentar. Dia juga ingat akan kejadian beberapa bulan yang lalu. Saat Aira beberapa kali hampir celana dan itu sepertinya juga disengaja oleh seseorang.


Addrian menceritakan semuanya pada Rico tentang dirinya sudah mengetahui sejak lama ada yang ingin melukai Aira, tapi kelamaan hal itu seolah sudah menguap.


"Aku sempat menjaga Aira diam-diam, tapi sepertinya orang itu tidak mengejar lagi. Aku tidak tau jika dia akan berbuat hal buruk lagi."


"Aku benar-benar tidak dapat mempercayainya."


"Ric, ini tidak bisa dibiarkan."


"Tentu saja. Kamu harus menjaga Aira dengan baik, dan mulai sekarang kita akan mencari tau siapa wanita itu."


Addrian mencoba menghubungi nomor yang kemarin malam menghubungi pria yang disuruh melecehkan Aira.


Ternyata yang mengangkat seorang pria dan dia bilang jika dia belum menikah atau memiliki kekasih.


Addrian bertanya sekitar jam tujuh malam kemarin malam, pria itu berada di mana?

__ADS_1


__ADS_2