Kamu Milikku

Kamu Milikku
Beraninya Kamu !


__ADS_3

Sore hari, Reva bersama Tia, Jason, Biliyan dan Billy mendorong pintu kantor Michael.


Suara ribut Jason dan Billy membuat semua orang menoleh.


Jason dan Billy cukup sering datang ke kantor.


Di ruangan-ruangan ayah mereka tersedia area untuk mereka bermain.


Michael dan Robert tipe ayah yang dekat dengan anak, sehingga tidak merasa terganggu dengan kehadiran mereka.


Di ruangan Sandy pun tersedia juga mainan anak laki-laki.


Sandy menyukai mereka berdua sehingga membeli beberapa mainan.


Steven termasuk yang menyediakan mainan untuk Jason dan Billy.


Dia suka menatap mata Jason yang bulat.


Sementara celotehan Billy membuat Steven tertawa.


Tapi mereka semua sedang berada di ruang rapat.


Jadi Reva, Tia dan Biliyan mengobrol di ruangan Michael.


Tia, meskipun namanya tercantum sebagai salah seorang pemilik Methrob tapi dia tidak memiliki ruangan sendiri.


Michael tidak mengijinkan.


Dia ingin Tia berada di dekatnya.


Tidur aja sekamar kok, masa ruang kerja harus dipisah, begitu kata Michael.


Tia mendelik tapi hatinya membuncah bahagia.


Pintu ruang rapat terbuka.


Jason dan Billy segera menghambur keluar mencari ayah mereka.


"Papii....." jerit mereka berdua.


Michael dan Robert segera menyambut anak-anak mereka.


Menggendongnya sambil tertawa.


Setelah puas mencium Michael, Jason menggeliat turun menghampiri Tia.


"Halo Sayang.." sapa Michael dan Robert pada istri istri mereka.


Staf dan tamu peserta rapat tertawa menyaksikan tingkah kedua anak itu.


Sandy ikut senyum-senyum.


Steven keluar paling akhir.


Wajahnya kusut. Bibirnya cemberut.


Dia sedang bad mood.


Seperti biasa, ini klien yang paling tidak disukainya tapi tadi dia terjebak untuk ikut dalam rapat.


Anak Gadis pemilik company itu yang mengejar-ngejar dia, ikut dalam rapat itu.


Dan dia harus menjawab sopan pada setiap pertanyaan dan bantahan.


Reva berdiri di dekat Biliyan dan Robert.


"Akeell.." sapa Jason berlari menghampiri Steven.


Steven tersenyum.


"Jason !!


Sama siapa ?" sambil mengangkat Jason.


"Mommy cama Billy." jawab Jason cadel memeluk leher Steven.


Gadis itu, Lily, menatap Steven dan Jason.


Matanya melembut melihat interaksi Steven dengan Jason.


Tak salah dia menjatuhkan pilihan.


Steven nampaknya akan menjadi ayah yang penyayang.


Steven mengerutkan kening saat melihat tatapan Lily.


Dia lalu mencari-cari.


Ah..itu dia !


Dengan langkah lebar, sambil menggendong Jason, Steven menghampiri Reva.


"Halo Sayang..." sapanya menunduk lalu mengecup pelipis Reva.


Dia sudah sering melihat Michael dan Robert melakukannya.


Reva terperangah. Mulutnya terbuka.


Steven mengedipkan matanya.


"Udah lama ?


Ayo..ke ruanganku." katanya menggandeng Reva melewati orang-orang yang berdiri di koridor kubik kantor.


Reva dengan patuh mengikuti Steven.


Tangan Steven berpindah dari menggandeng Reva, sekarang merangkul pinggang.


Dalam kesunyian, mereka berdua masuk ke ruangan Steven.


Steven lalu menutup pintu di belakangnya.


Tidak ada satupun yang bersuara.


Semua menatap saat Steven merangkul Reva menuju ruangannya.


Bibir Lily terbuka.


Matanya menyiratkan kekecewaan.


Sandy yang sejak tadi menatap mereka menangkap pandangan kecewa itu.


Michael juga.

__ADS_1


Michael tau bahwa Lily mengejar Steven dari interogasinya pada Steven sehari setelah Reva keceplosan.


Sandy kembali menatap pintu yang tertutup.


Mukanya berubah merah karena marah.


Beraninya Steven melakukan itu di depan klien mereka !!


Di dalam ruangan, Steven tersenyum sendiri.


Dia berbalik menatap Reva.


Bibirnya tersenyum lebar.


Sementara Reva melipat tangannya sambil menggelengkan kepala.


"Beraninya kamu nyium aku di depan semua orang !" bisiknya.


"Akeell.." Jason turun.


Berjalan mengambil mobil mainan dari rak Steven.


"Sst..ada Jason." tunjuk Steven pada Jason.


Itu hanya alasan supaya Reva tidak mengomelinya.


Matanya menatap rambut Reva.


Reva harum.


Kelihatannya rambutnya baru dikeramas.


Steven ingin menghirup aromanya lagi.


Jason lalu menuju ke pintu, Steven membukakan pintu bagi Jason.


Jason melangkah keluar.


Steven kembali menutup pintu.


Dia melihat Lily masih di koridor.


Steven memberi isyarat agar Reva berdiri sejajar dengannya.


Telunjuknya diletakkan di mulut.


Reva mengangkat alis.


Reva lalu berdiri sejajar dengan Steven.


Mata Steven bersinar, dia mengangkat tangannya hendak meraih pinggang Reva.


Reva berkelit mundur.


Steven tersenyum jail.


Dia lalu mundur membentur pintu.


Reva membelalak.


Dia paham maksud tindakan Steven.


Suara pintu yang terbentur membuat semua orang menengok.


Punggung Steven nampak samar-samar menempel pada pintu.


Berarti..


Benturan di pintu menandakan Steven dan Reva sedang...berciuman ?


Reva pasti sedang mendorong tubuh Steven ke pintu.


Sandy bangkit kemarahannya.


Kurang ajar Steven !!


Dia berani bermesraan di kantor !


Sandy menunggu hingga kliennya keluar lalu dengan langkah lebar membuka pintu ruangan Steven dengan kuat.


Suara benturan kembali terdengar.


Kini punggung Steven betul-betul sakit akibat dorongan kuat dari Sandy.


Sandy lalu masuk.


Mengira akan menemukan Reva dalam pelukan Steven.


Dia terkejut saat melihat Reva berdiri tenang menyandar bufet sejajar dengan Steven.


"Om !!"


Reva segera menempelkan telunjuknya ke bibir.


Sandy menggeleng.


"Udah pulang."


Dia lalu menoleh menatap Steven.


"Kamu pikir kamu ngapain ?!" katanya dengan nada tinggi.


"Om.."


Reva mengusap lengan Sandy, menenangkan.


Sandy menoleh, menatap lengannya yang diusap Reva.


Emosinya langsung turun.


"Aku hanya bantu Steven." kata Reva dengan suara menenangkan.


"ck..ck..ck..." Sandy berdecak.


Mendelik menatap Steven.


Reva lalu mendorong Sandy keluar dari ruangan Steven.


"Steve..kamu utang sama aku !" katanya.


Senyum Steven makin lebar.


"Kamu bilang aja mau dimana.

__ADS_1


Nanti malam ya ?" senyum Steven.


"Enggak." tolak Reva.


"Ya udah aku bawain pizza malam ini."


"Enak aja !


Kamu pikir semurah itu ?


First choice besok !" tandas Reva.


"Oke.


3 hari berturut turut." tawa Steven.


"Reva.." panggil Sandy.


"Iya Om." kata Reva tidak menjawab ajakan Steven.


Reva lalu mengikuti Sandy.


Steven mengikuti mereka dengan matanya.


Pintunya tetap terbuka.


Senyum tetap tersungging di bibirnya saat Reva kembali menengok ke belakang dan mereka saling bertatapan.


Bibirnya berhenti tersenyum saat Reva dibimbing masuk ke ruangan Michael.


Dia memperhatikan Sandy.


"Reva !!" sapa Michael.


"Iya Om..."


"Baik-baik aja kamu ?" selidik Michael.


"Iya Om.


Saya...saya cuma bantu Steven aja kok.


Cuma..dia gak bilang-bilang kalo mau bikin drama." senyum Reva.


"Apa-apaan dia itu ?" sengit Sandy.


"Dia dikejar-kejar sama Lily.


Makanya gak pernah mau ikut rapat.


Ndilalah..tadi ya ikut rapat.


Ndilalah juga.. Reva datang ke sini.


Va..suruh dia traktir kamu di resto mahal.


enak banget tadi dia nyium kamu depan orang banyak !!" sahut Michael.


"Malah kesenangan dia.


Bisa kencan sama kamu Va.." sahut Robert sambil melirik sejenak pada Sandy.


Reva memerah.


"Idih Om..


Enggak kencan kok.


Makan doang Om.


Antar teman." jawab Reva.


"Bener teman Va ?" kata Tia sambil tersenyum.


"Bener Tan.


Saya gak pacaran kok.


ehmm..


Saya tau diri Tan.


Saya orang asing di sini.


Beda." jawab Reva.


"Hmm...


kadang budaya, ras, adat, negara bisa kok dikompromikan.


Liat aja tante sama om kamu." jawab Robert.


Reva memerah.


"Ah...


Saya belum tentu ketemu sama orang yang mencintai saya seperti om Michael sama tante Tia.


Mau berkorban seperti itu.


Saya cari aman aja Om." senyum Reva.


"Maksudnya mau nyari orang Indo aja Va ?" kejar Biliyan.


"Yaah...pokoknya kalo dia mau, dia yang ngejar saya, Tan.


Keluarga kami kan ribet, Tan.


Dan jangan-jangan malah saya udah dijodohin sama orang lain tanpa setau saya kayak Tante." jawab Reva.


"Udah dijodohin ?" tanya Sandy.


"Enggak tau Om.


Tapi kejadian kayak Tante, bisa aja terjadi sama saya." jawab Reva.


"Jadi saya cari aman aja.


Sekolah yang bener disini, lulus, kerja." sambungnya.


Mereka semua saling berpandangan.


Sandy tersenyum kecil.

__ADS_1


Senyumnya tidak lepas dari pandangan teman-temannya.


...⛰️🍎🎋...


__ADS_2