
Sandy duduk menyandar di tempat tidur di samping Reva. Mata dan tangan nya sibuk di ponselnya.
Reva menjulurkan kepalanya.
"Sibuk amat sih Mas ?" tanyanya.
"Hmmm.."
Sandy tidak menjawab.
Reva bergeser mendekat. Tangan Sandy berhenti sejenak. Menyadari tubuh Reva yang bergeser mendekat tapi tidak menempel ke tubuhnya.
Sandy mengangkat tubuhnya dan bergeser hingga tubuh mereka merapat.
"Mas ?!"
"Hmm..."
Reva lalu mencoba menggeser tubuhnya menjauhi Sandy. Tapi tangan Sandy melayang menahan nya.
"Mas...kan sempit.." protes Reva.
Sandy mengangkat wajahnya. Telunjuknya menunjuk ke jendela.
"Tuh..di luar turun salju. Dingin...Mending nempel gini, Va...anget." katanya.
Bibirnya Reva maju setengah senti.
"Dingin apanya ?! Ini kan di dalam ruangan, Mas. Ada pemanas. Apalagi ini rumah sakit."
Sandy nyengir.
"Emang Mas aja yang pingin nempel-nempel !" kata Reva cemberut.
Sandy terkekeh.
Reva menoleh, menikmati wajah Sandy yang sedang tertawa.
Cup.
Satu ciuman mendarat di pipinya.
"Ihh..Mas ! Kan kata suster Dianxi gak boleh cium-cium ?!" katanya.
"Ah..yang gak boleh kan mulut ke mulut. kalo cuma pipi mah..boleh dong. Ehmm...kalo dagu ke bawah...boleh juga kan Va ?" Cengir Sandy.
"Ya ampun....aku lupa kalo Mas ini pejantan yang udah lama gak dapet jatah !" Kata Reva ketus.
Kemudian dia diam, merasa salah bicara.
Dan benar saja...
"Sayaang...." Sandy menempel ketat.
"Mas !"
Reva mencoba menjauh. Dia pasti malu kalau nanti mendadak ada orang yang masuk kamar.
Sandy terkekeh. Dengan gemas dia menoel hidung Reva.
"Ini nih...aku lagi update status. 'Just married'" katanya sambil menunjukkan ponselnya.
Reva kembali menjulurkan kepalanya. Sandy menempelkan badannya lagi pada Reva. Kali ini Reva tidak menjauh. Dia sedang menatap ponsel Sandy. Disana terlihat foto dua tangan kanan yang jari manisnya dilingkari cincin kawin. Tangan mereka berdua. Namanya juga dimention disana.
Reva mengangkat kepalanya, kembali menatap Sandy. Mengamati Sandy.
Lalu Matanya kembali menunduk. Jarinya mengusap layar ponsel Sandy. Kembali pada menu utama lalu mengusap media sosial Sandy lainnya. Membuka fiturnya. Semua media sosial Sandy berisi pemberitahuan tentang pernikahan mereka. Beberapa juga menampilkan foto mereka. Foto saat mereka bertatapan di dalam naungan selendang.
Jarinya mengusap media sosial resmi Methrob. Disana terdapat pemberitahuan dan ucapan selamat pada mereka.
Bibir Reva menyunggingkan senyuman.
Kepalanya menoleh. Sandy sedang menatapnya.
"Mas..."
"Sayang..." Mata Sandy menatap dengan rasa cinta. Cinta yang dirasakan oleh Reva.
Reva mengaitkan kedua tangannya ke leher Sandy lalu menghirup pipinya. Kemudian menyurukkan kepalanya di leher Sandy.
Sandy langsung meremang. Gairah nya bangkit.
"Va..."
__ADS_1
"Ya ?"
"Kalo ini bukan rumah sakit, udah aku makan kamu." katanya gemas.
Reva tertawa. Tawa keluar bersama dengan tiupan nafasnya. Menghembus leher Sandy. Sandy kembali meremang.
Dia lalu melepaskan ponselnya dan membalas memeluk pinggang Reva. Mendekap nya erat.
Tidak ingin melepaskan.
...πΊπ³πΌ...
Satu Minggu kemudian, Reva sudah boleh meninggalkan rumah sakit.
Keluarga mereka berunding, hendak kemana pengantin baru ini akan bertolak.
Ke Taiwan, rumah mereka atau ke Indonesia.
Ada dua pilihan kalau mereka ke Indonesia. Rumah Papi Mami atau rumah Sandy sendiri yang letaknya dekat dengan rumah Papa.
Memandang kondisi Reva, Sandy akhirnya memutuskan untuk ke rumah mereka di Indonesia. Reva butuh istirahat. Dan akan lebih nyaman baginya bila tinggal di dekat orang tuanya.
Mami ingin protes tapi akhirnya memutuskan untuk diam saat Papi meliriknya. Memberi peringatan lewat matanya.
Ini urusan Sandy. Mereka harus memberi kesempatan pada Sandy untuk menjadi seorang kepala keluarga yang tidak diatur oleh orang tuanya. Memberi muka pada Sandy dihadapan mertua barunya.
Dalam hatinya, Mami masih merasa tidak puas pada menantunya yang baru. Dia merasa suatu hari nanti Sandy akan ditikung oleh Reva. Tapi Mami menyimpan keraguan itu dalam hati. Khawatir Papi akan marah padanya.
Dua keluarga itu akhirnya pulang. Kembali ke tanah air.
...π³πΌ...
Reva mendongakkan kepalanya. Menghirup dalam-dalam udara pedesaan di rumahnya.
Dadanya tidak lagi sakit. Batuk tidak ada lagi walaupun obatnya tetap harus diminum.
Rasanya segar sekali.
Matahari baru muncul. Hawanya masih sejuk. Tapi tidak sedingin hawa Beijing yang dingin membeku.
Reva bersyukur bisa pulang ke rumah. Dia kembali menghirup dalam-dalam.
Dua tangan kekar memeluknya dari belakang. Mendekap, menempelkan punggung Reva di dadanya.
Reva mengangkat bahunya. Geli. Bulu kuduknya meremang. Nafas Sandy menggelitik lehernya.
Reva lalu menolehkan kepalanya dan ingin menjauh.
Tapi dia salah. Wajahnya yang menoleh justru langsung menghadap wajah Sandy.
Sandy menyambar bibirnya.
"Mmpph...Ma...Mmmpphh..."
Reva berusaha meronta. Tapi punggungnya menghadap ke depan, dan Sandy mengeratkan pelukannya.
Beberapa saat kemudian....
Sandy yang puas lalu melepaskan Reva.
"Mas !!" protes Reva.
Sandy nyengir.
Pagi-pagi sudah dapat sarapan enak.
Semalam Reva tidur pulas. Dia baru sembuh dan perlu memulihkan dirinya.
Sandy yang berada disampingnya, menatap istrinya dengan perasaan campur aduk.
Senang, bahagia, lega tapi juga gemas dan penuh nafsu.
Matanya menelusuri wajah Reva. Dia ingin menciumnya tapi takut membangunkan Reva. Sandy ingin Reva istirahat yang cukup.
Jadi semalam, Sandy sudah merasa cukup puas dengan tidur miring. Tangannya memeluk perut Reva.
Saat Reva bangun tadi pagi, tangan itu sudah pindah ke atas.
Reva langsung memerah.
Dan sekarang....
"Mikirin apa ?" tanya Sandy.
__ADS_1
Reva menggeleng.
"Enggak Mas...aku cuma menikmati udara pagi."
Sandy memutar badan Reva.
"Sayang....Kita jalan-jalan yuk .."
"Hmm ? Kemana ?"
"Raja Ampat. Aku udah pesen tempatnya."
"Berdua ?"
"Iya dong ! Namanya kan bulan madu." senyum Sandy.
Reva diam.
"Kenapa ?" tanya Sandy mengelus rambut Reva.
Reva menggeleng.
"Kamu takut aku ngelanggar perjanjian ?" senyum Sandy.
Reva menatap Sandy ragu.
"Aku udah janji kan..aku gak akan bikin kamu hamil sebelum lulus."
Reva mengangguk.
"Makasih Mas... Mas udah mau ngertiin aku."
Sandy tersenyum.
"Ya ngerti dong. Aku juga pingin kamu lulus cemerlang. Aku suami kamu, Va. Aku pasti dukung kamu."
Senyum Reva terkembang, tangannya naik merangkul leher Sandy. Bibirnya menyentuh pipi Sandy lembut.
Kembali Sandy meremang.
...πΊπΌπ³...
Sekian ribu kilometer....
Cindy menatap ponselnya. Tatapannya tertuju pada stargram Sandy.
Bibirnya mengerut.
Dihadapannya, Aaron dan Helen mengamati.
"Cin..udah dua tahun lebih sejak kamu putus sama Sandy. Masih belum move on juga ?" sindir Aaron.
Cindy tidak menjawab. Matanya masih menatap ponselnya. Jarinya mengulas satu demi satu update dan berita tentang pernikahan Sandy dan Reva. Kadang jarinya mengusap wajah Sandy yang terpampang di layar.
Helen mencolek Aaron.
"Susah...dia cinta mati tuh." canda Helen.
Aaron mengerutkan keningnya.
"Gak ada yang namanya cinta mati. Yang ada adalah ketidakmauan untuk move on. Ada banyak ikan di laut. Kenapa harus terpaku pada satu ikan ?" tanyanya.
Helen berdecak.
"Itu kan kata kamu yang playboy. Tapi orang lain gak kayak kamu. Ganti cewek kayak ganti baju."
"Nah..itu...kenapa aku bisa, Cindy gak bisa ?!" tanya Aaron retoris.
"Cin...aku tau kamu dikejar-kejar sama pengusaha China itu. Siapa namanya ? Zhang Wei ? Aku juga tau kamu pernah tidur sama dia. Kenapa gak sama dia ? Dia naksir kamu banget !" kata Aaron.
"Keluarga besarnya gak bakal setuju !" bantah Helen.
"Lho...dia kan cuma anak kedua ?! Dia bisa cari cewek mana aja yang dia mau. Dan dia mau kamu !" jawab Aaron berkeras.
"Dia kurang ganteng dibanding Sandy !" kata Helen sambil nyengir.
"Aahh !!" Aaron memukul meja dengan keras. Meluapkan kekesalannya pada ada kebodohan Cindy. Juga kekeraskepalaannya.
Mata Cindy akhirnya terangkat menatap mereka.
"Aku masih cinta dia...gimana dong ?" katanya memelas.
...π³πΌπΊ...
__ADS_1