
Aira mengerucutkan bibirnya gara-gara ucapan Addrian barusan. "Kamu hanya menebar cinta atau juga menebar benih kamu?"
"Benihku hanya ada pada kamu, Sayang." Ini pembicaraan suami istri yang agak absurd ya.
"Awas saja kalau menebar ke lainnya." Aira berjalan pergi dari sana.
"Kalau ada ke lainnya, pasti dia sudah mencariku."
Kenzo berjalan mendekati Niana yang berdiri membelakanginya dan tampak sedang menunggu seseorang.
"Na," panggil Kenzo lirih.
Niana menoleh dan melihat ada Kenzo di hadapannya.
"Ken, aku sudah tidak mau membahas masalah itu lagi. Aku tidak mau membahasnya." Niana kembali membelakangi Kenzo.
"Na, aku mau minta maaf sama kamu tentang kejadian waktu itu. Aku benar-benar tidak menyangka jika hal itu akan terjadi."
Niana sampai memejamkan kedua matanya menahan sesuatu pada hatinya.
"Sudah aku bilang jika aku tidak mau membahasnya lagi."
"Na." Tangan Kenzo memutar tubuh Niana hingga gadis itu melihat ke arah Kenzo.
"Ada apa?"
"Aku mau kita tidak seperti ini. Kita ini sahabat baik dan aku benar-benar ingin menyelesaikan masalah ini sama kamu."
"Apa maumu sekarang?"
"Aku mau meminta maaf sama kamu dan jangan kamu coba menghindar dariku."
"Baiklah, aku akan memaafkan kamu, tapi mungkin kita nanti tidak akan pernah ada seperti dulu. Ken, sebenarnya apa maksud kamu sampai kamu menciumku seperti itu? Jangan bilang kalau kamu menyukaiku karena itu tidak mungkin."
__ADS_1
"Apa salah jika aku mencintai kamu?"
"Salah, Ken. Aku sudah memiliki kekasih dan aku sangat mencintainya, dan lagi kita ini sahabat baik dan aku sangat mencintai Mas Arlan."
"Aku tidak tau apa perasaan yang aku rasakan sama kamu, tapi aku nyaman saat kamu berada didekatku, dan aku bahagia jika melihat kamu bahagia. Mungkin aku memang mencintai kamu, Na."
Niana menatap Kenzo dengan datar. "Kita sahabat dan selamanya akan tetap menjadi sahabat."
"Aku tau, itu karena kamu mencintai Arlan."
Tidak lama pria yang ditunggu dan dibicarakan oleh mereka berdua datang dengan mobil hitamnya tepat di belakang taman, kampus Aira.
Niana melihat ke arah kekasihnya itu. "Mas Arlan." Lambaian tangan Arlan disambut manis dengan lambaiannya tangan Niana.
"Niana, apa kamu bahagia berpacaran dengan Arlan?" tanya Kenzo.
"Aku bahagia. Sangat bahagia Kenzo. Kenzo, aku mau menemui kekasihku dulu."
Niana berjalan pergi dari sana meninggalkan Kenzo dengan hati pedih pastinya saat melihat gadis yang sebenarnya dia taksir, malah pergi menemui pria yang sangat dia cintai.
"Na, aku minta maaf baru bisa datang sekarang. Kamu tau sendiri apa yang membuat aku baru bisa datang."
"Iya, Mas, aku tidak apa-apa, dan terima kasih buket bunga ini sangat bagus."
Arlan seketika memeluk Niana dengan hangat. Niana yang sebenarnya ingin menangis, dia tahan sekuat tenaga.
Niana pasti suatu hari akan merindukan hangatnya pelukan pria yang dia cintai.
"Mas, kita ke tempat mama kamu dan lainnya."
"Iya, tapi simpan saja buket bunga itu daripada nanti akan menimbulkan masalah."
"Ibuku sudah tau tentang hubungan kita, Mas."
__ADS_1
"Lalu, apa kata ibu kamu?"
"Jangan terlalu berharap dengan cinta pria dari kelas atas karena jika kamu disakiti, maka akan sangat sakit, dan seolah harga diri kamu di jatuhkan."
"Aku tidak bermaksud menyakiti kamu, Na."
"Aku tau, Mas Arlan. Ibuku memang sering bilang kalau mencari pasangan yang sepadan denganku dari semua segi. Ibuku trauma akan hubungan beda kasta, Mas."
"Aku tau kekhawatiran ibu kamu. Ya sudah, kalau begitu kita pergi saja dari sini dan menemui keluarga kita."
Niana membawa buket bunganya dan menaruhnya di ruangan yang aman.
Arlan dan Niana tidak bersama pergi ke meja keluarga karena mereka berdua tidak mau malah menunjukkan hubungan mereka walaupun kedua orang tua mereka sudah tau.
Meja keluarga Aira berada di dua meja tamu dari tempat keluarga Niana berada.
"Malam semua," sapa Arlan.
"Sayang, kamu akhirnya datang juga. Bagaimana dengan pekerjaan kamu di sana?"
"Semua baik, Ma, dan Minggu depan aku harus ke sana lagi untuk mengecek pekerjaan mereka."
"Arlan, kamu tidak lupa dengan acara pertemua yang mama sudah bilang sama kamu, kan?"
Arlan mengangguk perlahan. "Aku masih ingat dan mama jangan khawatir."
"Bagus kalau begitu."
"Ma, aku mau menyapa keluarga Niana sebentar di sana."
"Iya, kamu boleh ke sana."
Arlan berjalan menuju meja di mana ada orang tua Niana di sana.
__ADS_1
Kedua orang tua Niana tampak ramah menyambut Arlan yang berada di sana. Niana yang melihat sekali lagi ingin menangis.