Kamu Milikku

Kamu Milikku
Pulang


__ADS_3

Mereka semua sepakat untuk ikut ke kota Tempat keluarga Tia dan Reva tinggal.


Setelah dua hari dirawat dan sehari pemulihan di villa, Reva dan rombongan Methrob terbang ke kotanya.


Cindy, tentu saja ikut serta.


Dia berkeras untuk ikut kemanapun Sandy pergi.


Sandy sampai geleng-geleng kepala dibuatnya.


Dan kesal setengah mati.


Di pesawat, Robert sampai harus mengatur sendiri tempat duduk agar Sandy duduk terpisah dari Cindy.


Dengan alasan bahwa Sandy dan dia sedang banyak kerjaan.


Michael sendiri tidak mau meninggalkan Tia.


Tia takut saat take off dan landing pesawat.


Reva duduk di sebelah Biliyan.


Sementara anak-anak duduk di dekat Papi mereka.


Penerbangan yang memerlukan transit sekian jam cukup melelahkan bagi Reva yang baru kecelakaan.


Sesampainya di bandara, mereka disambut oleh bis wisata milik keluarga Tia dan van.


Rombongan terbagi.


Karyawan Methrob dan Cindy, Jenny serta kedua asistennya diantar ke hotel.


Sedangkan Michael, Robert, dan keluarga mereka ikut mengantar Reva pulang ke rumahnya.


Terjadi perdebatan kecil di bandara.


Saat Cindy tau bahwa Sandy ikut dengan rombongan Reva, dia menolak masuk bis.


Dia ingin ikut dengan Sandy.


Menjaga Sandy tetap disisinya.


"Pokoknya aku ikut kamu San !" tegasnya.


"Jangan Cin.


Aku harus nganterin Reva.


Aku udah janji sama Papanya." elak Sandy.


"Ya udah aku ikut !"


"Mobilnya gak cukup Cin.." jawab Sandy menahan sabar.


"Kamu ngapain sih nganterin?" Cindy cemberut.


"Karena aku kenal sama orang tuanya."


Tia menatap dari jauh.


Lalu memutuskan bertindak.


Dia berteriak.


Dengan suaranya yang lima oktaf itu.


"San !!


Ayo !!


Nanti kita kemalaman pulangnya!!."


Sandy dan Cindy menoleh kaget.


Cindy mengkerut.


"Tuh udah dipanggil..


Aku tinggal ya.." kata Sandy tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.


Sandy langsung berlari kecil menuju mobil van.


Mobil langsung berangkat.


Meninggalkan Cindy yang kemudian menghentakkan kakinya.


Jenny menatap asisten Cindy.


Yang sekarang juga menatapnya dengan muka memelas.


Habislah mereka.


Jenny memalingkan muka.


"Ayo..


Kamu mau disini nunggu Sandy ?


Yang lain udah pada masuk.


Inget..kita ini numpang mereka.


Jangan bikin masalah." katanya.


Cindy melotot pada Jenny.


huh !!


Awas kalian kalo aku udah jadi istri Sandy !! batinnya lalu melangkah ke bis.


Di dalam dia disambut dengan tatapan tidak sabar.


Terutama dari Anna.


Cindy balas menatap sinis, lalu duduk.


Sesampai di hotel, mereka turun.


Cindy kali ini mendapat kamarnya sendiri.


Dia mendesah lega.


Lalu kembali berkerut saat mengingat Sandy.


Hatinya gelisah.


Di mobil.


Reva yang memang masih belum pulih benar merebahkan kepalanya.


Dia pusing.


Sandy yang sengaja duduk di sampingnya menoleh.


"Sini, Va..


Nyandar sama aku." katanya menarik kepala Reva ke lengannya.

__ADS_1


Reva tidak menolak.


Dia menyandar dengan nyaman.


Menutup matanya dan mencoba untuk menikmati denyutan menyakitkan di dalam kepalanya.


Dia meringis.


"Kenapa ?" tanya Sandy lembut.


"Pusing Mas...


eh..Om.." katanya lemah.


Sandy tersenyum diam-diam.


Sejak gegar otak, entah kenapa, Reva selalu salah memanggilnya.


Brakk...


Mobil melintasi jalan yang berlubang.


Reva kembali meringis.


"Adduhh.." keluhnya.


Sandy menegur sopir.


"Pelan-pelan Mas..Ada yang baru gegar otak." katanya sambil merangkul Reva.


Sopir memelankan laju kendaraannya.


Tapi Reva semakin pusing.


Kepalanya berdentam.


Tangannya mencengkeram lengan Sandy.


"Sakit banget Va ?"


"Iya." Reva mengangguk.


Hampir satu jam kemudian, mobil masuk ke halaman rumah Reva.


Papa keluar menyambut.


Sandy turun lalu membantu Reva turun.


Reva menunduk mencoba untuk mengurangi rasa sakit di kepalanya.


Semakin lama semakin sakit.


Dia terhuyung dan menabrak Michael di depannya.


"Va !!" Sandy yang berjalan di sampingnya segera menangkap Reva.


"Enggak...


Enggak papa." jawab Reva.


Michael ikut memegangi tangan Reva.


"Ck..!"


Sandy mengangkat Reva.


Menggendongnya.


"Enggak usah Mas..eh Om.." Reva berkata pelan.


Mensyukuri saat matanya terlindungi dari matahari.


Papa yang melihat langsung berbalik.


Masuk ke rumah dan bergegas membukakan pintu kamar Reva.


Dengan langkah lebar, Sandy mengikuti Papa.


"Astaga..Reva !!" kata Mama.


Wajahnya cemas.


Sandy meletakkan Reva dengan hati-hati.


Dia mengganti bantalnya dengan bantal yang lebih tipis sementara satu tangannya menyangga kepala Reva.


Dia lalu meletakkan kepala Reva dengan hati-hati.


Reva tersenyum lemah.


"Makasih Mas...Om.."


Sandy menjawil hidungnya.


"Mas saja..


Kamu jangan ngeyel !" katanya.


"Hemm..


Om." jawab Reva menutup matanya.


"Ck...nakal !!" senyum Sandy.


Papa dan Mama saling berpandangan saat melihat mereka.


Sandy bangkit dari duduknya.


Menatap Papa dan Mama.


"Reva masih harus istirahat.


Dokter bilang sudah gak papa asal dijaga jangan sampai terbentur lagi.


Tapi Reva kayaknya kecapean.


Perjalanan nya kan memang jauh.


Obat gegar otak memang istirahat." katanya.


Sandy lalu berjalan keluar kamar.


Papa mengikuti.


Mama tetap tinggal di kamar.


Di ruang tamu, Tia, Michael, Robert dan Biliyan sudah duduk ditemani oleh Tito dan Agus.


Teh panas sudah dihidangkan.


Sandy lalu duduk


Diikuti oleh Papa.


Michael berdehem.


"Sebelumnya kami mohon maaf sebesar-besarnya sama Mas sekeluarga.

__ADS_1


Tidak menjaga Reva dengan baik.


Datang dengan sehat tapi pulangnya malah sakit." katanya.


"Ya..Mas Michael.


Ndak papa.


Namanya juga kecelakaan.


Pasti enggak ada yang menduga.


Kami juga minta maaf.


Anak kami ternyata merepotkan Mbak Tia dan Mas Michael yang sudah baik mengajak Reva liburan di sana." jawab Papa.


"Sama sekali enggak Mas.


Reva itu anak yang menyenangkan kok.


Kami semua senang ada dia." jawab Robert.


Papa tersenyum.


"Syukurlah.


Saya sebetulnya khawatir..


Takut anak saya merepotkan Mas-mas dan Mbak disana.


Di Taiwan juga." katanya.


"Ah..enggak Mas.


Reva itu...


Kami semua bangga sama dia.


Berprestasi di kampusnya.


Dan jadi contoh juga untuk anak-anak kami nantinya." jawab Biliyan.


Mama duduk di sebelah Papa.


"Mari..mari...dimakan juadahnya."


Mereka semua lalu meminum tehnya.


"Makan malam disini aja ya...


Sudah disiapkan." ajak Mama.


Michael menoleh pada Tia.


Tia mengangguk.


Mama tersenyum senang.


"Mas Sandy...


Nginep sini aja.


Besok gak ada acara ?


Besok Papanya Reva mau ke gudang gabah." kata Mama sambil tersenyum.


Sandy mengangkat kepala.


Dia bertatapan dengan Michael dan Robert.


"Lu nginep sini aja San.


Lagian rumah Tia udah penuh.


Kan besok Mami gue sama Mami Michael mau dateng.." kata Robert.


"Nah..kan...


Udah disini aja.


Rumah kami ada enam kamar, Mas.


Silakan kalo mau dipake buat nginep teman-temannya."


"Kalo lu mau disini, besok gue kirimin mobil biar gampang lu mobilitasnya." kata Michael mendukung.


Sandy memerah.


"Jadi gue diungsiin nih ?" katanya.


"Ya enggak...


Lu juga bisa liatin Reva." jawab Robert tersenyum jail.


"Tenang San...Nanti masalah yang ono, biar gue yang beresin.


Telpon suruh pulang." senyum Tia.


"Astaga..." kata Sandy menggelengkan kepalanya.


"Ya..


Berarti fix ya..


Mas Sandy tinggal disini aja."


"Waah..enak kalo Mas Sandy disini.


Dia pinter mempertahankan harga gabah sama pembeli." sahut Tito.


"Iya.." tambah Agus.


"Mas Sandy emang pinter kalo marketing.


Urusan marketing emang sama dia kalo di kantor kami." senyum Michael.


Sandy melirik Michael saat disebut 'Mas'.


Tia tersenyum lebar.


"Ya udah Mas..


Turunin deh kopernya.


Mana...saya turunin." kata Agus sambil berdiri.


"Aduh..saya jadi enggak enak...Ngerepotin.." kata Sandy menggaruk kepala nya.


"Ah..ngerepotin apanya, Mas.


Saya sama Mamanya Reva malah senang." jawab Papa juga tersenyum lebar.


Sandy lalu berdiri.


Keluar bersama Agus mengambil kopernya.


...⛰️🍎🎋...

__ADS_1


__ADS_2