
Jam menunjukkan pukul sembilan malam saat Sandy memarkir mobilnya di depan rumah Reva.
Teras nampak sepi.
Sandy turun, mengunci pintu lalu berjalan ke arah teras.
Pintu terbuka saat Sandy mengangkat tangannya untuk mengetuk.
Reva menjenguk keluar.
"Mas !!
eh.. Om !!
Lho..katanya mau nginep di tempat tante ?" sapa Reva sambil membuka pintu lebih lebar.
"Kok sepi Va ?" tanya Sandy sambil masuk ke rumah.
"Kan ada acara di kelurahan.
Mas Agus sama Mas Andi lagi main keluar.
Aku sendirian."
"Wah asik dong Va..
Kita bisa pacaran.." senyum Sandy.
Moodnya kembali membaik.
Ahh..untung saja tadi dia mengambil keputusan untuk kembali ke rumah Reva.
"Om !!
Becanda kok gak selesai-selesai." kata Reva cemberut.
Sandy tertawa lepas.
Selalu menyenangkan bersama Reva.
Dia tidak merasakan gairah seperti yang dirasakannya dulu saat bersama Cindy.
Tapi hatinya terasa nyaman hanya dengan merasakan gadis ini dekat dengannya.
Semua emosinya turun.
Seperti sekarang ini.
Dan menggoda gadis ini sungguh menghibur hatinya.
Ponselnya bergetar.
Michael
"Kel.." sapanya.
"Wooii..dimana lu ?!" suara Michael menyentak telinganya.
Sandy terkekeh.
"Di rumah Reva." jawabnya pendek sambil memandang Reva.
"Eedaann !!" maki Michael.
"Gue udah gak tahan di sana." kata Sandy tetap memandang Reva yang juga memandangnya.
Mengikuti percakapan mereka.
"Nyokap lu nanyain nih.
Bokap lu juga." kata Michael memelankan suaranya.
"Bilang aja, gue lagi punya bisnis baru.
Mendadak harus ketemu orang." jawab Sandy mengedipkan matanya pada Reva.
Bibir Reva terkuak.
Sangat mengundang di mata Sandy.
"Buseeet....
jadi gue suruh cover lu nih ?
Gak gratis yaa.." kata Michael.
Sandy kembali tertawa lepas.
Reva memperhatikan.
Sandy terlihat bahagia.
Reva pasti tersedak kalau saja dia tau bahwa yang membuat Sandy bahagia adalah dia.
"Lu minta apa sih?
Gue beneran ada bisnis.
Gue kan mau beli rumah disini.
Sekalian sama sawahnya.
Lu kalo gak percaya, lu bisa tanya Reva." jawab Sandy.
"Ah..lu..." kata Michael tidak percaya.
"Kok gak percaya.
Tanya gih sama Papanya Reva.
Tadi siang kan gue udah liat rumahnya." kata Sandy santai.
Matanya masih menatap Reva.
Tidak mampu mengalihkan pandangannya.
Di bibirnya terukir senyum.
Reva mengerjap.
Om Sandy....
"Pokoknya gue di sini.
Besok juga gue gak ikut.
Lu kan liat tadi Mami gue gimana?
Obsesinya terlalu kuat pingin punya menantu artis kayak Mami lu.
Gue mendingan nyingkir deh.
Biar gak kejebak disuruh tunangan atau apa kek !
Pokoknya gue gak mau deket-deket mereka dulu.
__ADS_1
Lu kasih alesan deh." kata Sandy.
Sandy diam mendengarkan Michael mengomel.
"Lu juga jangan bilang kalo gue di tempat Reva.
Lu bilang gue dimana kek.
Pokoknya ini tempat gue ngungsi.
Kalo sampe didatengin, gue bakal kabur lagi.
Atau...
Hmmm....
mumpung ada Mami Papi, gue lamar aja ponakan lu Sekarang." kata Sandy iseng.
Matanya tetap memandang Reva.
Mata Reva membulat.
Tangannya melempar bantal kursi pada Sandy.
Sandy segera menangkis sambil terkekeh.
"Lu sama Reva ya ?" tanya Michael curiga.
"Iya..
Bedua aja nih di rumah.
Asik kan ?
Jadi menurut lu gimana ?
Langsung aja gue lamar ya..
Biar gak digerebek hansip." tawa Sandy.
"Serius..? Mana...?
Gue mau bicara sama Reva !" kata Michael.
Sandy menyerahkan ponselnya pada Reva.
Reva menerima sambil matanya tetap menatap Sandy.
"Om...ini Reva." kata Reva.
"Beneran kamu cuma bedua aja Va ?"
"Iya Om..
Papa Mama lagi ada acara di kelurahan." jawab Reva polos.
Ponsel Sandy dalam kondisi speaker dihidupkan.
"Ck...ck...
Kamu hati-hati sama Om Sandy Va..
Dia lagi cari mangsa..
Maklum..lagi patah hati." kata Michael.
Reva tertawa
"Iya Om..
Bawaannya halu melulu." kata Reva meledek Sandy.
"Nah..itu kamu tau, Va..
Pokoknya hati-hati sama dia.
Salah-salah kamu ntar digerebek suruh kawin sama dia."
"Ah..enggak Om..Tenang aja..
Lagian..saya juga gak mau kok.
Kan saya bukan tipenya om Sandy.
Nanti juga dia nyadar Om.." jawab Reva santai.
"Itu kan asumsi kamu aja, Va " celetuk Sandy.
"Bukan asumsi, Om.
Tapi hasil pengamatan." kata Reva.
"Ya udah..kalian Jangan berantem.
Energinya disimpen buat nanti debat sama nyokap lu San.
Kalo Reva, energi nya disimpen biar cepet sembuh." kata Michael tertawa.
"Makanya lu udahan nelponnya.
Gue mau lanjutin pacaran lagi nih." kata Sandy menaikkan alisnya dengan kocak pada Reva.
"Ihh...enggak yaa.
Aku gak pacaran sama om Sandy lho Om.." kata Reva pada Michael.
Sandy tertawa lebar.
"Kel...
Lu tau kan..
Biasanya yang disangkal itu yang sebenernya terjadi." celetuk Sandy.
"Om mau taruhan ?" tantang Reva.
"Apa taruhannya ?"
"Om taruhan..
Dalam tiga bulan setelah Om resmi putus, Om bakal ngegandeng cewek baru yang sama cantiknya kayak Cindy."
"Ah..gak mau..
Om pasti kalah !" tolak Sandy.
"Tu..kan..." kata Reva penuh kemenangan.
"Iya..
Om pasti kalah..
Soalnya dalam tiga bulan, kamu udah Om gandeng Va !" balas Sandy tidak mau kalah.
"Om !
__ADS_1
Taruhannya...yang Om gandeng itu bukan aku !"
"Oo...Oke.
Kalo kamu kalah..
Kamu jadi milik Om.
Penuh.
Seutuhnya." balas Sandy.
"San !!
Lu jangan macam-macam." ancam Michael.
"Lho..gue gak macem-macem kok.
Reva yang ngajak taruhan." elak Sandy.
"Jadi milik seutuhnya tuh maksudnya apa ?!" ancam Michael dengan nada tinggi.
"Jadi bini gue lah.
Sah." jawab Sandy menatap Reva.
"Om..Ihh.."
"Gak bisa Va..
Kamu yang ngajak tadi.
Udah deal.
Tiga bulan, Om gak gandeng siapa-siapa kamu jadi istri Om.
Kalo Om kalah..silakan kamu minta apa aja."
"Beneran nih apa aja ?" tantang Reva tertarik.
"Apa aja.
Minta rumah yang mau Om beli itu juga boleh.
Om kasih. Sama sawahnya sekalian." tantang Sandy.
"Hah ?!" Reva dan Michael terkejut.
"Lu beneran ya beli rumah ?" tanya Michael.
"Iya dong.
Sama sawah.
Gue jatuh cinta sama pertanian gara-gara calon mertua.
Sama anak pak taninya juga.." kata Sandy melirik Reva.
"Om !!"
Reva kembali melempar bantal kursi.
"Oke Kel..
Lu saksinya ya...
Gue taruhan sama Reva.
Gue kalah..dia bisa ambil rumah sama sawah yang baru gue beli.
Dia kalah...dia jadi bini gue."
"Eh..Om...
Koreksi dong..
Tiga bulan mah terlalu pendek.
Enam bulan dong." tawar Reva.
"Tiga bulan.
Dari awal kan kamu yang ngomong,
Tiga bulan." tegas Sandy tidak mau ditawar.
Reva langsung pucat.
"Om Michael !!
Masa cuma tiga bulan ?!
Pasti kalah dong..." kata Reva minta bantuan.
"San...
Lu ngalah dikit dong..." kata Michael.
Diam-diam tertawa dalam hati melihat Reva bakal terjebak.
"Empat." kata Sandy bermurah hati.
"Om...enam dong...
Gak adil dong buat aku.
Om cuma butuh empat bulan untuk menang.
Tapi kalo aku kalah...
Aku....
Eh.... taruhannya seumur hidup aku Om !!" rengek Reva.
Sandy menatapnya tajam.
"Va...
Kamu bakal bahagia kalo jadi istriku.
Aku jamin.
Aku yang memastikan sendiri kalo kamu bakal bahagia seumur hidup kamu." katanya.
Reva yang juga menatapnya memerah.
Suasana hening sesaat.
Jauh diseberang, Michael tersenyum kecil.
"Oke Deal.
Aku saksinya." katanya.
...⛰️🍎🎋...
__ADS_1