
Sandy mengajak Papi ke rumah Reva di hari keberangkatan Cindy.
Papi yang diajak Mami untuk mengantarkan Cindy, menolak.
Memberi alasan bahwa dia diajak oleh Bapak-bapak yang lain untuk melihat persawahan.
Mami langsung cemberut.
"Pih !!
Kan liat sawah bisa kapan aja.
Ini kan nganterin calon mantu kita pulang." protesnya.
"Ah...enggak..
Kamu aja.
Aku mau ngumpul sama yang lain.
Males dengerin obrolan cewek-cewek.
Gak ngerti !" elak Papi.
Mami memalingkan mukanya.
Sebal.
Papi tidak peduli.
Dia malas melihat Cindy.
Secantik apapun dia.
Papi malah bersemangat ingin melihat gadis satunya.
Yang sekarang sedang dikejar anaknya.
Seperti apa dia ?
Gadis yang bahkan bisa menarik perhatian seorang konglomerat papan atas Taiwan sehingga ditarik ke dalam tim penelitian yang dibiayai nya.
Setelah Mami berangkat, Papi dijemput oleh Sandy dan Michael.
Papi Michael dan Papi Robert yang sedang bersantai akhirnya ikut bersama.
Termasuk Robert dan akhirnya seluruh keluarga mereka.
Kecuali para Mami.
Karena setelah mengantarkan Cindy mereka janjian mau belanja kerajinan tangan.
Mobil memasuki pekarangan.
Papa sedang minum kopi bersama beberapa tetangganya.
Dia berdiri.
Saat dilihatnya Papi Michael keluar, Papa langsung menjenguk ke dalam rumah.
"Maaaa...ada tamuuu...." katanya dengan suara keras.
Mama menjulurkan kepalanya dari belakang.
"Siapa ?"
"Bapaknya Mas Michael sama...gak tau..banyak !"
"Hah?!"
Mama tergopoh-gopoh keluar.
Dia berdiri menyambut.
"Astaga.....
Mimpi apa saya semalam sampe didatengin rombongan besannya Papanya Tia ?" katanya sambil menyalami Papi Michael, Papi Sandy, Papi Robert, Biliyan, Michael, Robert dan Sandy.
"Mimpi kejatuhan duren Mbak..." jawab Michael sambil tersenyum.
"Ya ampun Mas...
Kok gak ngomong-ngomong kalo mau dateng ?
Lha ini mas Sandy juga...
Gak ngasih tau..." kata Mama menepuk tangan Sandy.
Para tamu Papa semua berdiri.
Bersalaman sekaligus mohon pamit.
"Lho..kok pulang Pak?" kata Papi Michael tersenyum.
"Ah..iya Pak.
Sudah dari tadi." senyum salah satu tetangga Papa.
"Mari Mas Sandy...
duluan ya..." pamit beberapa orang pada Sandy.
"Oh iya...Pak..
Aduhh...kenapa jadi pada buru-buru ini ?" jawab Sandy tersenyum.
"Iya Mas..udah siang.
Ini tadi cuma ngobrol-ngobrol aja.." jawab seorang lainnya.
Papa lalu mempersilakan para tamunya duduk.
"Itu pada kenal sama kamu San ?" tanya Papi.
"Ooh..iya..kan suka dateng ke sini Pi.
Papanya Reva kan ketua kelompok tani di sini." jawab Sandy.
"Lho kamu ngapain disini ?" tanya Papi Robert.
Sandy memerah.
Papa menatapnya.
"Saya dulu yang minta Pak.
Waktu itu Mas Sandy lagi main ke rumah.
Kami kekurangan orang waktu panen raya... jadi saya ajak sekalian.
Malah jadi akrab sama orang-orang disini Pak.." senyum Papa.
Sandy tersenyum.
"Ini pada rame-rame ngunjungin desa terpencil, ada apa ?"
"Ah ..enggak Pak.
Katanya Sandy beli rumah sama sawah di sini.
Jadi saya pingin liat juga.
__ADS_1
Oh..iya...kenalin....saya Papinya Sandy." senyum Papi.
"Saya Papanya Reva dan ini Mama nya." kata Papa mengenalkan.
"Duh..maafkan Pak..rumahnya cuma rumah kampung." kata Mama tersipu.
"Ah..malah enak Bu..
Adem yaa..
Ini..anak saya malah jadi beli rumah disini.
Jatuh cinta dia..." senyum Papi.
Sandy menatap Papi.
Mama tertawa.
"Katanya sih emang gitu..
Kalo udah minum air di sini..jadi kepincut.." katanya.
Sandy menatap Mama.
Mama tersenyum.
"Saya buatkan minum dulu ..." katanya sambil berbalik ke dalam rumah.
"Ini mau liat rumahnya Mas Sandy ya? " tanya Papa.
"Iya Pak." senyum Papi.
"Ya.. rumahnya persis kayak gini.
Kamarnya juga enam.
Rumah di kampung rata-rata kayak gini Pak.
Tapi belum pindah ya Mas ?
Emang kapan janjian mau pindah ?" tanya Papa.
"Oh... seminggu lagi.
Tapi saya bilang sih gak usah buru-buru.
Sayanya juga kan mau balik lagi ke Taiwan."
Mama dan Reva keluar membawa
teko dan cangkir-cangkir.
Disusul oleh kedua asisten Mama yang membawakan juadah.
"Sini..duduk sini aja, Va..." kata Papa
Reva dan Mama lalu duduk.
Papa membelai kepala Reva.
"Ini anak saya, Reva.
Kuliah di Taiwan jurusan biomedical engineering ya Va ?" kata Papa.
Reva mengangguk.
Papa lalu menatap Papi Sandy.
"Saya juga mau berterima kasih Pak.
Kemarin waktu anak saya hampir tenggelam, Mas Sandy yang nyelamatin anak saya."
Reva menarik nafas kaget.
"Om yang nyelamatin ?" tanyanya.
Sandy hanya tersenyum.
"Kamu gak cerita San.." kata Papi menepuk lengan Sandy.
"Ah bukan apa-apa kok Pi.
Semua orang juga pasti begitu.
Pas kebetulan saya yang dekat posisinya dengan Reva." katanya tenang.
Reva masih menatap Sandy.
Sandy balas menatap.
Reva lalu menundukkan kepalanya.
Pipinya memerah.
"Kamu gak tau tho nduk ?
Mama kirain kamu tau." kata Mama mengerutkan keningnya.
"Enggak Ma." jawab Reva pelan.
"Om Sandy yang bawa kamu ke pinggir, Va.
Om Sandy juga yang CPR ke kamu.
Dibantu sama Liu.
Terus gendong kamu ke rumah sakit." kata Michael langsung.
"CPR ?" tanya Reva mengangkat matanya menatap Michael.
"Iya..
Terlambat sedikit, kamu udah lewat, Va.." sambung Robert.
"Ya ampuun, Vaaa..!" kata Mama gemas.
Papi Sandy memperhatikan Reva.
Reva mengangkat matanya.
menatap Sandy lurus-lurus.
"Makasih ya Om.
Saya...ehm...saya hutang nyawa sama Om." katanya lalu kembali menunduk.
Sandy mengerutkan keningnya.
"Jangan dianggap seperti itu, Va.
Kamu hidup dan sehat aja udah hadiah dari Tuhan buat kita semua." kata Sandy.
"Reva ini anak kami satu-satunya Pak.
Jadi..kalo ada yang bisa kami bantu untuk Mas Sandy dan keluarganya, ngomong aja." kata Papa menatap Papi.
Papi mengangguk.
"Ah...gak usah sungkan Pak.
Kita semua pasti akan melakukan hal yang sama kok." senyum Papi.
__ADS_1
"Ya...kita semua ini kan sudah jadi keluarga ya Pak.." senyum Papi Robert.
"Betul Pak.." kata Papa mengangguk-angguk.
"Mari..mari...silakan diminum tehnya..
Kopi juga.
Va...kamu gak buatin Mas Sandy kopi ?" tegur Papa.
"Udah Pa...
Ini Om..."
Reva membungkuk untuk menggeser cangkir kopi ke hadapan Sandy.
Sandy ikut meraih cangkir kopinya.
Tangan mereka bertemu di tatakan cangkir.
Reva cepat-cepat menarik tangannya.
"Wah San...
Papa nya Reva sampe hafal kesukaan kamu.." sindir Papi.
Dia sejak tadi menatap Reva.
Dilihat langsung, Reva lebih cantik.
Dan matanya terlihat cerdas.
Papi menyukai alisnya yang melengkung indah.
Mirip Papanya.
Papi tersenyum dalam hati.
Tidak salah Michael dan Robert menyodorkan gadis ini pada anaknya.
Dia sendiri dengan senang hati akan menyodorkan gadis ini pada Sandy seandainya mengenal nya lebih dulu.
Papa tertawa.
"Soalnya mas Sandy sama yang lainnya kan suka nginep disini Pak.
Selama liburan ini.
Jadi tau kesukaan masing-masing." senyum Papa.
"Aduh Mas..
Saya minta maaf.
Anak-anak Methrob jadi ngerepotin Mas sama Mbak." kata Michael.
"Ah gak papa Mas Michael.
Saya sama Mamanya Reva malah senang
Kami jadi kenalan sama teman-teman nya Reva."
Mama tertawa.
"Itu...si Josh...
ternyata suka banget sama krecek.
Terus..mbak Anna...seneng banget sama wedang jahe.
Mas Andrew suka nyemilin kelapa parut kukus.
Astagaa...
Mas Steven..sukanya sama kayak Mas Sandy.
Singkong rebus pake parutan kelapa.
Kalo tunangannya mbak Anna...kopi joss.
Sering keluar malam ke warung sini...nyari kopi joss.
Kalo Mas Liu suka cenil."
Mama mengurai satu persatu anak buah Michael.
Mereka meneruskan mengobrol.
Sementara di bandara...
Cindy memeluk Mami dengan erat.
Matanya berurai air mata.
Dia tidak akting.
Dia betul-betul sedih. Dan terpukul.
Karena ternyata Sandy tidak ikut mengantarkan nya.
Perasaannya sudah mengatakan sesuatu yang buruk terjadi.
Mami pun balas memeluknya.
Menenangkannya.
"Sandy masih ada urusan yang perlu diselesaikan.
Udah gak usah nangis.
Kan nantinya buat Cindy juga." hibur Mami.
Sementara dari jauh Mami Michael memperhatikan.
Dia sudah mendengar cerita itu dari Michael dan Tia.
Mami Michael menggelengkan kepalanya.
Mantunya juga artis.
Tapi sepertinya kelakuan mantunya tidak seperti ini.
Mami Michael juga tau obsesi Mami Sandy.
Dulu Mami membantu Michael bukan karena Tia artis.
Tapi karena Mami tau kalau Tia bisa membuat Michael bahagia.
Mami ingin Michael bahagia.
Dan cuma itu yang penting buat Mami.
Jadi Mami tidak mengerti dengan Mami Sandy.
Sudah jelas-jelas ada petunjuk di depan mata bahwa Sandy tidak tampak bahagia saat Cindy hadir di dekatnya.
Semua orang bisa melihat.
Semua.
Kecuali Mami Sandy.
__ADS_1
...🌄🍇🎋...