Kamu Milikku

Kamu Milikku
PESAN MISTERIUS


__ADS_3

'Kamu harus datang ke Beijing kalo kamu masih ingin mempertahankan hubungan dengan Reva.'


Untuk kesekian kalinya, Sandy menatap ponselnya.


Dahinya berkerut.


Wajahnya yang tampan nampak serius.


Dia bukan tidak percaya pada pesan kaleng seperti ini.


Dia yakin bahwa ini benar.


Reva dan Steven sama-sama sedang berada di Beijing.


Tapi Sandy penasaran dengan pengirimnya.


Siapa ?


Dilihat dari cara penulisannya, Sandy yakin ini perempuan.


Sandy tersenyum kecil.


Jadi...Steven punya pengagum.


Bagus !


Biarkan pengagum itu mengganggu Steven supaya Steven tidak punya waktu untuk Reva.


Sandy lalu membalas pesan itu.


...🌺...


Di seberang lautan.


Fen tersenyum senang.


Sandy tidak mengecewakannya.


Nampaknya Reva memang memiliki tunangan yang mencintainya.


Fen sedikit berkerut saat memikirkan hal itu.


Reva tampaknya punya banyak penggemar.


Memangnya... seistimewa itukah dia ?


Bibir Fen maju setengah senti. Cemberut.


Mereka semua sedang makan malam.


"Tiga hari lagi kita pulang.


Gimana kalo besok kita main ski ?" tanya aalah satu tim dari Taiwan.


Fen tidak tau siapa namanya.


"Emang kamu bisa ?"


"Enggak.


Makanya aku pingin main."


"Cuaca lagi buruk."


Fen meraih ponsel.


"Besok katanya cerah.


Gak jauh kok tempatnya." kata Fen sambil menatap ponselnya


"Ehm... kami bisa kok antar kalian kesana." kata Shú Làn.


"Oh ya ?


Wah..asiik.


Makin rame makin seru."


"Ya udah..kalo gitu besok fix ya.


Kita jemput kalian."


"Oh...


gak papa nih ?"


"Gak papa..


Kita kan tuan rumah."


"Apa kalian mau nginap ?"


"Oh..


Gak usah.."


"Kalo mau nginap, keluargaku punya vila disana.


Aku bisa minjemin.


Jadi kita bisa puas


Besok dan lusa." kata Hong Tao.


"Serius ?


Gak ngerepotin nih ?" tanya Jerry.


"Enggak kok.


Malah bagus.


Udah lama kami gak kesana.


Jadi...


sekalian kalian bantuin aku beres-beres ya.." tawa Hong Tao.


Semua tertawa.


"Tenang aja...


Kita bantuin beres-beres." tawa teman-teman lainnya.


Fen mundur lalu mengetik.


'Besok kami akan main ski.. Sekitar satu jam dari Beijing. Nginap.


Nanti aku kasih tau kalo S ikut."


...🌳🌺...


Sandy menatap ponselnya.


Jadi mereka mau menginap.


Sandy menatap kalender di mejanya.


Tiga hari lagi mereka akan pulang.


Dua hari kemudian, dia dan Reva akan kembali ke Indonesia.


Sandy sendiri sudah mulai mengalihkan pekerjaan nya pada Josh.

__ADS_1


Dia akan cuti sebulan penuh.


Reva pun demikian.


Meskipun mereka berdua punya perjanjian untuk tidak melakukan hubungan sebelum Reva lulus enam bulan lagi, tapi Sandy sudah memesan tempat untuk berbulan madu.


Dia ingin mengajak Reva keliling Indonesia.


Traveling dalam negeri sendiri.


Dari satu tempat ke tempat, pulau ke pulau, hotel ke hotel.


Gunung, bukit, lembah, laut, pantai, desa dan kota.


Dia ingin menjelajah.


Dan dia ingin menjelajah bersama istri tercinta.


Hanya mereka berdua, menikmati setiap momen.


Dan terutama, perjalanan ini bertujuan untuk membuat Reva mencintai dirinya.


'Aku perlu kerja keras.' pikirnya.


Sandy menghela nafas.


"Kenapa Boss ?"


Sandy mengangkat kepalanya.


Josh menatapnya sambil tersenyum.


Dan bukan cuma Josh.


Michael, Robert, Anna dan yang lainnya yang sedang mengikuti rapat menatap dirinya.


Robert bahkan tertawa lebar.


Sandy mengusap wajahnya.


"Ciee...yang bentar lagi mau kawin..." ledek Robert.


"Lu bisa konsen bentar gak ?" tanya Michael pura-pura galak.


"Kenapa ?


kepikiran malam pertama ?" ledek Robert lagi.


"Jangan dipikirin !


Malam pertama lu masih lama.


Tujuh bulan lagi !" ledek Michael.


Sandy melempar tissue ke Michael.


"Sialan lu!" rutuknya.


Sementara Josh tersenyum kecil.


Dia menahan diri.


Steven teman dekatnya.


Dan dia tau apa yang dilakukan Steven saat ini.


Yang satu teman dekat.


Yang satu lagi Bos tapi sangat baik.


Dia juga tau perjuangan Sandy.


"Good luck Boss !" katanya tanpa sadar.


Sandy menatapnya.


Sekilas mata Sandy berkilat.


Dia tau maksud Josh.


"Thanks.


Doain kami biar lancar ya.." jawabnya memberi petunjuk bahwa dia mengerti maksud perkataan Josh.


Dan berharap agar pesannya disampaikan pada Steven.


Please jangan tikung tunangan ku, katanya dalam hati.


"Reva belum balik ?" tanya Michael.


Sandy menggeleng.


"Tiga hari lagi.


Abis itu langsung ke Indo sama aku." jawab Sandy.


"Mepet banget San.." komentar Michael.


Sandy tidak menjawab.


"Jangan-jangan..." goda Robert.


"Hush !!" sentak Andrew.


Josh berdehem.


Mereka semua menatap Josh


Josh balas memandang mereka.


"Apa ?


Tenggorokan ku gatal." katanya.


Michael lalu berdehem.


"Oke..


Kita lanjutin rapatnya ya..." katanya.


Usaha yang bagus untuk mengalihkan percakapan karena mereka semua melihat wajah Sandy yang berubah.


Sandy berusaha untuk berkonsentrasi.


Malamnya.


"Om...eh..Mas..." sapa Reva dengan manis saat mengangkat video call daru Sandy.


Sandy tersenyum.


"Lagi ngapain ?"


"Siap-siap mau bobo Mas."


"Udah mandi ?"


"Udah, udah makan juga


Mas udah di rumah ?"


"Iya.


Niy lagi di kamar kita

__ADS_1


Ngeliatin fotonya kamu.." jawab Sandy dengan manis.


Reva memerah.


Sandy memperhatikan perubahan wajahnya dengan rasa tertarik.


Reva ...


Dia merona saat Sandy mengucap kan kata rayuan.


Berarti.... Reva memiliki rasa padanya.


Bagus !


Berarti selama ini usahanya sudah membuahkan hasil.


"Mas bohong." celetuk Reva membuyarkan lamunan Sandy


"Ih....gak percaya !


Nih.."


Ponsel Sandy bergerak sedikit lalu layar menunjukkan foto mereka berdua yang dipegang oleh tangan kiri Sandy.


"Astaga..


Beneran ?!"


Reva nyaris tak percaya kalau saja tidak melihat langsung di layar ponselnya.


"Ya beneran dong, Sayang !" kata Sandy.


Reva tersenyum lebar, merasakan hatinya melambung.


Masih memasang senyumnya, Sandy pura-pura bertanya.


"Besok seminar apa ?" katanya menguji.


"Ehmm ..


Mas..." kata Reva agak ragu.


"Apa ?"


"Besok aku sama teman-teman mau main ski.


Dekat kok Mas..


Cuma sejam dari sini


Boleh ya Mas ?" kata Reva dengan wajah meminta.


Sandy sedikit kaget.


Reva meminta ijinnya untuk pergi ski ?


Padahal Reva bisa saja tidak mengatakan apa-apa.


"Hmm...


Kalo aku bilang gak boleh..kamu bakal tetep pergi ?" tanya Sandy menguji.


"Gak boleh Mas ?" tanya Reva sedikit tidak percaya.


Sandy jarang melarangnya.


"Kan aku bilang...


Kalo aku bilang gak boleh, kamu bakal tetep pergi ato enggak ?" ulang Sandy.


Reva diam sejenak.


"Mas...


Kalo Mas bilang gak boleh...


Ya aku ikut kata Mas." katanya sambil menunduk.


Sandy memperhatikan ekspresi Reva.


"Bener kamu gak ikut kalo aku bilang gak boleh ?"


"Iya Mas..."


Sandy tertawa.


"Ih...Mas !


Kok ketawa sih !


Aku pingin ikut karna rame sama teman-teman ku.


Tapi kalo Mas bilang gak boleh ya aku juga paham.


Kita sebentar lagi mau nikah.


Sebaiknya emang calon pengantin jangan keluyuran kemana-mana." kata Reva.


Sandy mengangguk.


"Ya udah...boleh deh..


Anggap aja ini bachelor party kamu, Va." senyum Sandy.


"Beneran Mas ?"


"Iya.


Tapi jaga diri dan hati-hati ya.."


"Iya Mas...


Ada teman dari sini juga kok.


Teman baru.


Dia punya vila disana.


Jadi kita semua diundang nginep disana." cerita Reva.


"Oya ?


Lho..jadi kamu pulang kapan ?"


Sandy sengaja mengernyit kan alisnya.


"Ya pulang sesuai jadwal Mas.


cuma nginap semalam aja.


Besoknya pulang.


Kan udah booking pesawat."


"Oo...iya udah.


Kamu hati-hati ya.


Main ski perlu belajar dulu."


"Tenang aja Mas.


Aku bakal hati-hati dan jaga diri.." janji Reva.

__ADS_1


Dan jaga hati kamu juga, Va....batin Sandy saat video call nya berakhir.


...🌳🌺🌻...


__ADS_2