
Saat duduk di meja sarapan keesokan harinya, Sandy disambut dengan hidangan sarapan besar-besaran.
Di meja sudah duduk Papa, Tito, Andi dan Agus.
Mama dan dua orang asistennya hilir mudik meletakkan hidangan di meja.
Sandy melongok.
"Wah..Om...
Pesta nih ?" tanya nya.
Papa tersenyum lebar.
Semalam, selepas makan malam, Robert bercerita bahwa yang menyelamatkan Reva adalah Sandy.
Dari mulai mengangkat Reva dari posisi tenggelam, mendorong papan selancar ke tepi pantai, hingga memberikan CPR.
Dan menggendongnya ke rumah sakit.
Papa dan Mama saling berpandangan.
Mama langsung merangkul Sandy sambil menangis.
Saat Sandy dengan tidak enak mencoba melepaskan rangkulan Mama, Mama malah langsung berlutut di depannya.
Sandy yang duduk dihadapan Mama jadi lebih tidak enak.
"Duh Tante...
Jangan begini.
Siapapun yang ada di dekat Reva saat itu pasti akan melakukan hal yang sama." katanya sambil memandang Papa.
Tia pun berusaha membuat Mama Reva berdiri.
"Iya Mbak...
Jangan gini.
Mas Sandy jadi gak enak."
Mama pun berdiri.
"Mas Sandy,
Reva itu anak saya satu-satunya.
Kami dulu susah punya anak.
Sekarang Mas, nyelamatin hidupnya.
Kami hutang nyawa sama Mas." katanya tersedu-sedu.
Papa memegang bahu Mama.
"Iya Mas.
Kita sudah jadi keluarga sekarang.
Saya anggap Mas Sandy keluarga kandung saya.
Mas bisa minta apa aja sama saya." katanya.
"Om..
Saya nolong Reva gak kepikir mau minta apa-apa.
Reva selamat aja, saya udah bersyukur banget.
Saya juga gak mau kehilangan Reva." kata Sandy.
Lalu terdiam sejenak.
"Sama seperti semua orang di ruangan ini." sambungnya dengan muka merah.
Robert menatapnya.
"Iya Mas...
Kita semua ini kan keluarga.
Jadi memang seperti ini.
Kita bersatu saling membantu dan menopang.
Karena kita satu keluarga." kata Robert membantu.
"Saya lega.
Reva disana enggak sendiri.
Tadinya saya was-was juga.
Melepas anak perempuan semata wayang sekolah di luar negeri sendiri." kata Papa.
Dan sekarang...
Papa dan Mama menjamu Sandy besar-besaran.
Tanda syukur kepada orang yang menyelamatkan anak mereka.
"Ah..enggak Mas Sandy.
Kita kan perlu makan banyak biar nanti ada tenaga buat negosiasi harga..." senyum Papa.
Sandy tersenyum.
"Dan kita mau minta mas Sandy buat ikutan nego.." kata Tito.
"Oh..itu sih tenang aja Mas...
Saya seneng ke gudang gabah.
Baunya harum." kata Sandy.
"Wah..baru tau kalo ada anak muda, punya company besar tapi masih suka bau kampung." kata Tito.
"Ah..enggak juga Mas.
Disini emang hawanya menyegarkan."
"Beli rumah disini aja Mas.
Kayak mbak Tia." cetus Agus.
Sandy mengangkat matanya.
"Ada ?" tanyanya tertarik.
Papa, Tito dan Agus saling berpandangan.
"Ada sih ada Mas.
Tapi emang..Mas Sandy mau ?" tanya Papa.
"Mau kalo ada.
Sekalian kalo ada sawahnya." jawab Sandy.
__ADS_1
"Lho...di sini ?
Di desa?" kejar Tito.
Sandy mengangguk.
"Iya.
Disini.
Kalo di kota...
Gak ada perubahan suasana dong." katanya.
Papa kembali berpandangan.
"Ada Mas.
Sekalian lahannya.
Besar.
Rumahnya seperti ini.
Rumah kampung."
"Kita bisa liat kalo Mas Sandy mau." sambar Andi yang sejak tadi diam.
"Tapi...
Mas Sandy beneran ?" tegas Papa.
"Iya Om." jawab Sandy.
Benaknya sudah berkelana tentang pengembangan bibit unggul dan cara pengolahan sawah dengan tehnik modern.
"Sawah nya sudah siap tanam juga." kata Andi.
"Kamu kenal Mas ?" tanya Sandy.
"Ya kenal.
Lha wong adiknya ibu saya sendiri kok."
Sandy tertawa.
"Ooo.. pantes...
Kenapa di jual?" tanyanya.
"Udah gak ada yang nerusin Mas.
Anak-anaknya semua merantau ke kota.
Gak ada yang mau jadi petani.
Pak lek saya mau beli rumah di kota juga.
Biar deket sama anaknya."
Terdengar suara mobil di depan.
Semua menengok.
"Itu mungkin mobil yang dikirim Michael." kata Sandy.
Tito bangkit lalu berjalan ke teras.
Sandy mengikuti dari belakang.
Senyumnya memudar saat menyadari isi dari mobil tersebut.
Steven turun.
Sandy tetap diam.
Dia menunggu.
Tapi ternyata tidak ada lagi yang keluar dari mobil.
Sandy menghembuskan nafas lega.
Senyumnya kembali terkembang.
"Lho..Boss..
Pagi bener udah disini." sapa Andrew.
Sandy tersenyum.
"Wah..kebetulan banget pada kesini.
Ayo ikut jalan-jalan ke gudang gabah.
Kalian belum pernah jalan ke pedesaan Indonesia kan ? " jawabnya mengelakkan pertanyaan Andrew.
Sandy berbalik menghadap Tito.
"Mas Tito, ini anak-anak dari Methrob.
Mereka kayaknya mau jenguk Reva.
Pake bahasa Inggris aja.
Mereka bisa kok." katanya.
Mereka lalu saling berkenalan.
"Ayo masuk..
Kebetulan kita lagi sarapan." ajak Tito.
Mereka lalu berbondong-bondong masuk ke rumah.
Papa dan Mama menyambut.
"Ooh..ini teman-temannya Reva ya ?" tanyanya sambil tersenyum.
Reva yang tadinya sudah duduk di meja sarapan juga menyambut.
"Ayo...ayo...
Kita lagi sarapan.
Sekalian aja." kata Mama ramah.
Mama memperhatikan semua yang datang.
Dia menggelengkan kepalanya.
Rupanya Reva mendapatkan cukup banyak teman di sana.
Syukurlah.
Mereka semua duduk di meja makan.
Andi dan Agus mengambilkan kursi tambahan.
Sementara Tito dan Sandy membantu membawakan minuman dari dapur.
__ADS_1
Andrew yang memperhatikan nyeletuk.
"Boss....udah kayak di rumah sendiri nih !" katanya sambil tersenyum dan menatap Sandy.
Lalu Reva.
"Apa katanya, Va ?" tanya Papa.
"Anu...Om Sandy...
Udah kayak di rumah sendiri." jawab Reva.
Papa mengangguk sambil menatap Andrew.
"Ya..Kami kan keluarga.
Tolong diterjemahkan Va.."
Reva lalu menerjemahkan dalam bahasa Mandarin.
"Apa ?" tanya Sandy sambil meletakkan nampan berisi gelas dan teko teh panas.
"Om...
Om kan saudaraku." kata Reva dalam bahasa Mandarin.
"Oo..." kata Sandy.
Dia lalu duduk.
"Gimana kamu Va ?" tanya Anna.
"Udah enakan...
semalam tidur nyenyak.
Mungkin karena di kamar sendiri." jawab Reva.
"Kamu istirahat aja dulu.
Liburnya masih dua minggu lagi kan ?" kata Steven.
Reva mengangguk.
"Boss...
Gak bisa kerja dari sini aja ?
Kayak Boss ?" cetus Josh iseng.
Sandy melotot.
"Enak aja.
Ntar juga aku balik Taiwan."
"Kan di rumah Madam ada server Boss." kejar Josh.
Sandy menghela nafas.
Ini yang dia tidak inginkan dari libur panjang yang terpaksa diambilnya.
Protes halus dari anak buahnya.
Josh wakilnya.
"Kamu tanya Michael deh.
Masalah internal kan dia yang pegang.
Aku kan eksternal." elaknya.
Josh tersenyum lebar.
"Berarti ada kemungkinan bisa diperpanjang disini dong.
Pulangnya bareng Reva." kedip Josh.
Reva menatap Sandy.
Lalu membantu.
"Ya beda dong.
Aku jangan dibawa-bawa jadi alesan.
Kan kalo aku emang libur kuliah.
Kalo kalian kan..liburan.." senyumnya.
"Ini semua tinggal ditempat Eyang Bhahu?" Tanya Papa.
"Iya Om." jawab Sandy.
"Kalo mau tukar suasana, disini kan ada 4 kamar.
Yang satu kamar udah dipake Mas Sandy.
masih ada sisa 3 kamar." kata Papa.
Steven menoleh tajam pada Sandy.
Apa ?! Sandy tinggal disini ?!
"Boleh tinggal di sini Om ?" sambarnya tidak mau kehilangan kesempatan.
Papa menoleh kaget.
Tidak menyangka bahwa salah seorang anak buah Sandy dengan wajah sangat asing, kulit putih, mata sipit, dan rambut kaku bertanya dalam bahasa Indonesia.
"Oh..bisa bahasa Indonesia ya ?" senyumnya.
"Boleh dong.
Saya malah senang.
Rumah jadi ramai." kata Papa.
Sandy menoleh pada Steven.
Menatapnya tajam.
Steven balas menatap Sandy dengan wajah datar.
"Kalo memang boleh, nanti malam saya pindah kesini deh." kata Steven langsung memutuskan.
"Kalian mau ikut gak ?" tanya nya pada yang lain dalam bahasa Mandarin.
"Ngapain?" tanya Josh.
Steven lalu menjelaskan penawaran Papa.
Andrew, Liu dan Josh langsung menerima tawaran itu.
Mereka senang bisa berkumpul bersama.
"Oke..berarti deal ya.
Kita semua tinggal di sini." kata Steven memutuskan dengan nada senang.
__ADS_1
Sandy menghela nafas.
...⛰️🍎🎋...