
Sandy memenuhi janjinya menunggu hingga Reva sembuh sebelum berangkat kembali ke Taiwan.
Mereka akhirnya berangkat bersama-sama.
Sandy memutuskan untuk tidak memasang peralatan kerja di rumahnya.
Setelah rumahnya rapi dan sesuai dengan yang diinginkannya, dia tinggal di rumah Tia di kota.
Dia harus tetap bekerja.
Di rumah Tia, Michael sudah memasang segala yang diperlukan untuk tetap dapat bekerja dari sana.
Mereka dijemput Robert di bandara.
"San..lu nginep di tempat gue dulu ya..
Besok aja baru ke rumah lu.
Kita bersihin bareng-bareng." kata Robert.
"ah..paling gak kotor- kotor banget Bet.
Biarin Gue sendiri."
"Jangan.
Besok kan Minggu.
Sekalian nganter Reva.
Lu bedua istirahat dulu di rumah gue sama Michael.
Kan capek."
"Iya Om...
Besok dibantuin deh..
Eh....
aku sendiri juga perlu bersihin rumah." kata Reva
"Ah...
kamu sih ada Steven." jawab Robert.
"Hah ?!. Steven masuk ke rumahku Om ?"
"Iyalah..
Emang kenapa?" tanya Robert.
"Eh..anu...
Aduuh..." Reva menepuk dahinya.
Baju dalamnya banyak tergantung di jemuran.
Belum lagi yang berantakan di kasur.
Saat dia dengan terburu-buru ingin cepat berkemas dan pulang.
Robert terkekeh.
"Steven udah minta ijin sama Tia."
"Oh..tapi..
aduuuh..." Reva memerah.
Sandy diam.
Wajahnya datar walaupun dalam hatinya dia kesal.
Steven.. lagi-lagi masuk ke dalam kehidupan pribadi Reva.
Tapi sementara ini dia tidak bisa protes.
Dia pun belum menyelesaikan urusannya dengan Cindy.
Mengingat Cindy, hatinya bertambah kesal.
Cindy seperti duri dalam daging dalam hidupnya sekarang.
Dia ingin secepatnya menyelesaikan masalah ini.
Kapan ?
Dia juga harus segera merapikan masalah-masalah di kantor yang dia tinggalkan saat harus berlibur ke Indonesia.
Sandy menghembuskan nafasnya.
"Kenapa lu ?" tanya Robert pelan.
"Gak papa.
Cuma...lagi ngebayangin meja gue kayak apa di kantor." katanya.
Robert tertawa.
"Kenapa?
Pingin liburan lagi ?"
"Lu pingin gue liburan lagi ?" tanya Sandy.
"Gue kangen sama lu.
Michael juga.
Makanya kita malam ini ngumpul."
"Kita betiga ini udah kelamaan barengan.
Kalo gak ada satu orang..rasanya gimanaaa gitu." cengir Robert.
Reva dari belakang mendengarkan.
"Om bertiga ini emang lengket kayak perangko ya.." cetusnya.
"Bukan lengket lagi,Va..
Urusan percintaan aja diatur juga sama kita bertiga." sahut Robert iseng.
"Astaga...
Jadi....Tante Tia sama Tante Bili harus melalui persetujuan bertiga, gitu ?" tanya Reva.
"Iya dong..
Jangan sampe gara-gara bini, kita bertiga malah berantem." sahut Robert lagi dengan senyum jail.
"Ya ampuun..."
Reva menepuk dahinya.
Dia diam.
Lalu satu pikiran terlintas.
__ADS_1
"Om...
Maksudnya..aku...disetujui sama om Michael sama om Robert ?"
Sandy diam tidak menjawab.
Robert pun diam.
"Om..." katanya mencolek lengan Sandy.
"Om jangan terpaksa gitu dong Om.
Banyak lho Om, perempuan lain yang qualified dan bakal disetujuin sama om Robert dan Om Michael.
Om Jangan terpaku dulu sama siapapun yang udah dipilih mereka berdua..." Kata Reva bersemangat.
Sandy mendelik.
"Aduuh, Va. !!" kata Sandy gemas.
"Kamu ini gak percaya banget sih kalo aku tuh milih kamu bukan karena mereka ?!" katanya lelah.
Sandy menyandarkan kepalanya ke sandaran kepala.
Dia menutup matanya dengan tangan sambil memijit keningnya.
Reva terdiam.
"Hayo lhoo, Va..
Kamu bikin om Sandy patah hati tuh.." ledek Robert.
Sandy tersenyum kecil.
"Ihh..Om..
Om Sandy nggak bakal patah hati sama aku.
Sama cewek lain ..iya.."
"Pokoknya aku udah stempel kamu, Va.
Milikku.
Jangan ganggu !" senyum Sandy.
"Om...!!. Emang aku barang !!" cemberut Reva.
"Ya...pokoknya..
Gak boleh sama cowok lain !" kata Sandy kalem.
Tapi nadanya memperingatkan.
Reva jadi merinding.
"Aku kok jadi merinding." katanya mengusap-usap lengannya.
"Lu jangan ngomong doang kalo udah stempel,
Bukti riilnya mana ?
tanggung jawabnya dong, San.
Lu kudu nanggung nafkah anak orang.
Main stempel aja..
kalo kagak ada riil nya mah percuma !" kata Robert memanas-manasi.
"Enak aja..
Lagian...
Om masih punya pacar.
Aku bukan pelakor yaaa.."
"Besok gue putusin, Va.
Tenang aja."
"ah enggak.
Siapa yang tau kalo Om gak bakal kegoda lagi.
Apalagi...
eh...
ehm
apalagi..Om udah ngerasain..ehm..." Reva tidak berani meneruskan.
"Makanya...kawin aja sekarang yuk, Va."
"Enak aja !
Aku belum lulus."
"Va.. emang kenapa kalo kawin tapi belum lulus. Banyak kok yang ngelakuin."
"Ah..gak mau !
Repot nanti kalo ada anak."
"Ya kan bisa ditunda, Va."
"Enggak.
Ih...Om..ngotot banget sih..
Aku justru ngasih Om kesempatan buat nyari cewek lain.
Yang cantik dan sama seksinya kayak Cindy tapi dengan kelakuan plus.
Jangan tutup hatimu, Om sayaaang..." canda Reva.
"Ya udah..
Kalo gitu kita balik lagi ke taruhan kita, Va." Sandy masih menutup matanya.
"Soal nafkah...
Mulai sekarang kamu makan sama aku, Va.
Pagi aku anterin ke kampus.
Tiap siang nanti aku jemput.
Kecuali kalo aku gak bisa." sambungnya.
Reva mengeluh sambil menyandarkan tubuhnya ke sandaran.
"Aku kok ngerasa dijebak ya ?" gumamnya keras.
"Iya Kan Om ?
Aku kayak dijebak sama Om Sandy ?" tanya Reva pada Robert.
__ADS_1
Robert terkekeh.
Dia tidak menjawab.
Sementara Sandy tersenyum kecil.
Mereka sampai di kompleks apartemen Robert dan Michael.
"Mbak Eva..." sapa Jason dan Billy.
Keduanya memeluk Reva dengan erat.
"Ya ampuun...
Kalian berdua ini...
Udah tambah besar..
Tambah ganteng.
Padahal baru tiga minggu Mbak Reva gak liat kalian." kata Reva sambil balas memeluk mereka.
Jason dan Billy terkekeh.
"Oh iya..
Mbak Reva punya oleh-oleh buat Jason sama Billy.
Ada tuh di koper."
"Horee..." teriak kedua anak itu.
"Makasih Mbak Eva...muaach." kata Jason sambil mencium pipi Reva.
"Maacih Bak Lepa..muaach." Billy ikut mencium pipi Reva dengan mulutnya yang basah.
Reva terkikik.
"Ya ampun Billy !
Itu mbak Reva jadi celemongan mukanya, gara-gara kamu cium !" kata Biliyan dengan gemas.
Billy tersenyum lebar.
Reva gemas sekali melihatnya.
Dia balik mencium pipi Billy dengan bernafsu.
"Muah..muah..muah..muaah..." katanya.
Billy terkikik geli.
"Mana....
Om juga mau dong dicium juga." kata Sandy sambil berjongkok.
Kedua anak itu langsung menyerbu Sandy sambil tertawa-tawa.
Sandy memeluk keduanya sekaligus lalu berdiri .
Mereka langsung menjerit-jerit kesenangan.
Michael keluar dari kamar sambil menutup kuping.
"Astaga !!
Ti !!
Anak lu ya...
Jeritannya !" katanya.
Tia melotot.
"Anak lu juga !"
"Yang punya suara lima oktaf bukan aku, Ti !" bantah Michael.
"Mereka berdua itu ada gennya kamu Mas !
Kalo aku cuma Jason doang !" bantah Tia dengan gemas.
Suara jeritan kembali terdengar saat Sandy kembali memutar Jason dan Billy.
"Ck .ck..ck...
Udah pantes jadi bapak dua anak." kata Robert sambil menggelengkan kepalanya.
"Mungkin sekali-kali kita tinggal aja mereka sama lu San.
Lu tolong asuhin deh.
Kayaknya pada nurut sama lu." kata Michael.
"Boleh.
Asal ada yang bantuin bikin makanan." jawab Sandy.
"ya udah..kamu deh, Va." kata Robert.
Reva tersenyum.
"Bayarannya mahal Om...
Wani piro ?" katanya.
"Tiga hari makan siang." kata Michael.
Reva mencibir.
"seminggu." katanya.
"Deal !" kata Robert.
"San !
Lu dapet asisten." kata Robert.
Sandy menggendong kedua dan berjalan mendekat.
"Assisten buat apa?" tanyanya.
"Buat ngasuh Jason sama Billy sehari.
Gua sama Michael mau bulan madu dulu sehari."
Biliyan dan Tia tersenyum mendengar celoteh Robert.
"Oke.
Kasih tau aja kapan." kata Sandy.
"Jason... Billy..
Mau kan main sama Om seharian ?" tanya Sandy pada kedua bocah di tangannya.
"Mauuuu..." jawab mereka serempak.
...🌄🍇🎋...
__ADS_1