Kamu Milikku

Kamu Milikku
Aira Kecewa


__ADS_3

Addrian yang sudah sampai di rumahnya di sambut bahagia oleh Aira. Aira, tampak sangat bahagia melihat suaminya masuk ke dalam rumah, dia langsung memeluk pria yang sangat dia rindukan seminggu ini.


"Aku sangat merindukan kamu, Mas."


"Aku juga sangat merindukan kamu, Aira." Adrrian pun mendekap erat istri yang sangat dia cintai itu. "Sayang, mama mana? Apa mama tidak menunggu aku datang?"


"Kata mama, dia tidak mau mengganggu kita di sini. Jadi, mama setelah mengantar aku pulang, mama langsung izin pergi. Besok saja kita ke mama." Addrian mengangguk. "Aku rindu sekali sama Mas." Aira berjinjit dan mengecup dengan dalam bibir suaminya.


Addrian pun membalas ciuman Aira dengan begitu dalam. "Aku juga sangat merindukan kamu. Sangat," ucap Addrian lirih dan dia teringat kembali dengan kejadian bersama dengan Citra.


Aira yang melihat wajah suaminya tiba-tiba terdiam melamun menjadi heran. "Mas, kamu baik-baik saja?"


"Em! Aku baik-baik saja. Aku hanya lelah." Addrian mencoba tersenyum agar Aira tidak curiga dengan apa yang terjadi antara dirinya dan Citra.


"Kalau begitu kamu duduk dulu dan aku akan menyiapkan minuman spesial buat kamu." Aira yang hendak pergi tangannya ditahan oleh Addrian. "Ada apa, Mas?"


"Sayang, kamu jangan capek-capek. Kamu itu sedang hamil besar."


"Mas jangan khawatir karena kata dokter aku harus banyak berjalan, ini sudah hampir mendekati persalinan."


Aira berjalan dari sana, dan Addrian lagi-lagi diliputi rasa bersalah. Dia tidak bisa menyembunyikan masalah ini dari Aira, dia ingin mengatakan pada Aira dan meminta maaf. Addrian akan menerima apa yang nanti akan Aira lakukan padanya, tapi jika dia mengatakan hari ini, dia takut akan mempengaruhi keadaan Aira yang hamil besar.


"Mas, kamu itu kenapa? Apa ada masalah yang terjadi?"


"Aku tidak kenapa-napa. Oh ya! Ini ada yang ingin aku berikan sama kamu, Sayang. Ini kejutan yang aku ceritakan sama kamu."


Addrian memberikan sebuah kotak yang berisi cincin yang dia beli dari grandma. Addrian pun menceritakan tentang awal pertemuaanya dengan grandma dan cerita tentang cincin yang dia beli ini.

__ADS_1


"Mas, aku mau suatu saat bertemu dengan grandma dan mengatakan langsung kepadanya, jika cincin miliknya ini sangat indah."


"Nanti setelah kamu melahirkan bayi kita dan semoga Grandma selalu sehat sampai kita bisa bertemu dengannya."


Aira memeluk suaminya dan melihat terus ke arah cincin itu. "Cincin ini kata Mas melambangkan kejujuran dan kesetiaan. Semoga kita selalu menjaga dua hal itu ya, Mas," ucap Aira dengan penuh harapan.


Addrian yang mendengar hal itu mengangguk perlahan. Sekali lagi rasa bersalah menghantam tepat di hati Addrian.


***


Keesokan harinya, Aira yang sudah bangun pagi untuk membuat masakan karena hari ini dia ingin pergi ke rumah mamanya bersama Addrian. Aira nantinya juga ingin pergi ke rumah Bunda Itta, jadi, dia membuat masakan agak banyak.


"Mas Addrian hari ini libur bekerja sampai besok. Hm! Enaknya aku dan dia menghabiskan waktu liburan bersama saja di tempat Wisata di dekat-dekat sini saja, pasti mas Addrian mau," Aira berdialog sendiri.


Saat Aira sedang sibuk membuat masakan, pintu rumahnya berbunyi. Dia mematikan kompornya yang memang masakannya sudah matang. Aira berjalan menuju pintu utama.


"Aira!" Gadis itu seketika menangis dan memeluk Aira. Aira semakin bingung, kenapa Citra tiba-tiba menangis?


"Kamu kenapa?" Aira menarik tubuh Citra dan menatapnya heran.


"Aira, aku minta maaf sama kamu. Aku benar-benar merasa bersalah dengan apa yang sudah terjadi denganku dan Addrian." Citra kembali menangis.


"Apa maksudmu? Memangnya apa yang sudah terjadi dengan kamu dan Mas Addrian?" Citra seketika terdiam. "Citra, katakan?" Aira membentak marah.


"Kemarin malam aku dan Addrian tidak sengaja melakukan hal yang tidak sepantasnya terjadi." Citra menangis sembari menutup wajahnya.


Seketika kaki Aira lemas. Dia yang hampir jatuh, tapi tangannya masih bisa berpegangan pada sofa yang ada di sana. "Tidak mungkin, kamu pasti bohong." Seketika air mata Aira menetes.

__ADS_1


"Aku ingin sekali menyembunyikan masalah ini, tapi rasa bersalah itu selalu menghantuiku dan aku merasa sangat bersalah. Aira, kamu jangan menyalahkan Addrian karena hal itu terjadi tidak sengaja. Dia mabuk begitupun denganku."


"Mas Addrian...!" Aira seketika berteriak memanggil suaminya.


Addrian yang sedang memakai bajunya tampak kaget dan segera berlari menuju tempat istrinya. Addrian kaget melihat ada Aira dan Citra yang sedang menangis.


"Sayang, kamu kenapa tadi berteriak?" Addrian mencoba memegang tangan Aira, tapi wanita itu menepisnya.


"Jangan sentuh aku! Mas, katakan apa yang Citra katakan itu tidak benar? Katakan, Mas?" Aira menatap dengan mata marah dan ada butiran air mata yang siap keluar.


"Citra, apa yang sudah kamu lakukan? Aku sudah bilang jika aku akan mencari jalan untuk menyelesaikan masalah ini. Kenapa kamu malah mengatakannya sekarang? Kamu tau Aira sedang hamil dan masalah ini bisa membuat pengaruh buruk untuk kesehatan Aira dan bayiku." Addrian melihat tidak percaya pada Citra.


"Addrian, aku semalaman tidak bisa tidur dan merasa bersalah pada Aira. Aku ingin meminta maaf dan semoga Aira mau memaafkan aku, dan setelah itu aku akan pergi jauh dari kalian. Asal tidak ada hal yang harus aku sembunyikan pada Aira-- orang yang sangat baik selama ini padaku."


"Aku tau perasaan kamu, tapi tidak seperti ini caranya. Aira, tolong dengarkan aku sebentar saja, aku akan menjelaskan semuanya." Addrian sekali lagi ingin menyentuh tangan Aira, tapi Aira pun sekali lagi menangkis tangan Addrian dengan kasar.


"Jadi benar kalian berdua sudah berbuat hal di luar batas di belakangku?"


"Tidak seperti itu, Sayang. Aku sangat mencintai kamu."


"Kalau kamu mencintaiku, kenapa kamu mau minum-minum lagi? Kenapa bermain wanita lagi? Aku begitu bodoh percaya saja sama kamu, Mas!"


"Aku tidak minum, Aira. Aku juga tidak tau kenapa minuman itu bisa membuatku mabuk dan tidak sadar. Aku benar-benar tidak membutuhkan wanita yang lain. Aku hanya membutuhkan kamu dalam hidupku. Aira, aku akan menjelaskan semuanya. Semua ini tidak seperti dengan apa yang ada dipikiran kamu."


"Aira, Addrian benar, kamu tolong dengarkan kita bicara, kamu jangan salah paham dulu. Aku pun mengatakan ini tidak bermaksud merusak rumah tangga kamu."


"Sayang, aku mohon dengarkan penjelasanku."

__ADS_1


Citra yang melihat hal itu sangat bahagia dalam hatinya dan berharap setelah ini Aira akan meminta berpisah dan kalau perlu dia keguguran, atau sekalian mati dengan bayinya agar hanya ada dirinya dan anaknya dengan Addrian yang nanti dia akan lahirkan.


__ADS_2