
Citra mengatakan jika dia terserah dengan bosnya. Kalau Addrian ikut dia juga akan ikut ke sana.
"Kalau acaranya tidak sampai larut malam, aku akan datang."
"Tentu saja acaranya tidak akan sampai larut malam. Di sana kita akan bersenang-senang sejenak sebelum besok kita kembali ke negara kita masing-masing." Andreas dan Citra saling melihat.
Addrian masuk ke dalam kamarnya dan berganti baju santai. Dia ingin berbaring sebentar.
Tidak lama ada telepon dari Citra. Addrian tampak heran. Kenapa ini Citra menghubunginya? Dahal tadi mereka baru saja bertemu?
"Halo, Addrian."
"Iya Citra, ada apa?"
"Addrian, apa nanti kamu mau memakai kemeja pemberianku di acara ulang tahun itu?"
"Memangnya harus disuruh memakai kemeja hitam?"
"Tidak, hanya saja aku ingin apa yang aku berikan diterima baik, hanya itu saja."
"Ya sudah nanti aku akan menggunakannya sebagai bentuk terima kasihku."
"Terima kasih, Pak Addrian."
Malam di mana acara itu di laksanakan, tampak Addrian berdiri dengan gagahnya di sana dengan menggunakan kemeja pemberian Citra. Citra tampak sangat bahagia melihat Addrian mau memakai baju pemberiannya.
"Nak, apa kamu serius mau terus menjalankan rencana kita ini?"
"Tentu saja, Pa. Langkah kita sedikit lagi untuk aku mendapatkan seorang Addrian, dan Papa nanti pasti akan sangat bangga karena bisa memiliki menantu seorang pengusaha seperti Addrian." Citra tersenyum manis pada papanya.
Acara berlangsung dengan meriah. Mereka semua berkumpul di suatu meja dan saling berbicara.
"Tuan Addrian, ini cobalah sedikit minuman di sini yang sangat enak."
"Maaf, tapi saya sejak menikah sudah tidak mau minum lagi."
"Ayolah! Hanya sedikit, dan hal itu akan membuat kamu mabuk, Tuan Addrian. Minuman ini sangat terkenal rasanya di sini," paksa seorang pria gendut di sana.
__ADS_1
"Maaf, tapi aku tidak bisa meminumnya karena aku sudah berjanji pada istriku."
"Kamu takut sekali dengan istrimu, di sini dia tidak akan tau dan aku tidak akan menceritakannya. Ahahahah!" Pria itu malah menertawakan Addrian."
Citra tiba-tiba mengambil minuman itu, dan dia dengan cepat menegaknya sampai habis.
"Aku yang akan mewakili Pak Addrian menghabiskannya. Jadi, Tuan jangan menyuruh Pak Addrian untuk meminumnya lagi."
Addrian agak kaget dengan sikap Citra. "Citra, apa yang kamu lakukan? Kalau kamu tidak pernah minum, jangan sekali-kali meminum minuman seperti itu."
"Tidak apa-apa, Pak, hanya satu gelas kecil dan tidak akan membuat saya mabuk." Citra tersenyum manis pada Addrian.
"Tuan Addrian, kamu kalah berani dengan sekretaris kamu. Dia itu juga sekretaris yang setia mau mewakili atasannya untuk menghormati rekan bisnisnya.
"Ada cara lain yang bisa dilakukan untuk menghormati orang lain, tidak perlu melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hati."
"Saya juga salut dengan kesetiaan Anda terhadap istri Tuan Addrian. Citra kamu minum ini saja supaya tidak terlalu mabuk."
"Iya, terima kasih."
Mereka semua bersulang dan tjdak lama Citra berkata ingin ke belakang karena sedikit pusing. Addrian yang khawatir jika pengaruh minuman itu bekerja walaupun Citra hanya minum sedikit. Dia mengantar Citra ke belakang.
Citra yang masuk Ke dalam kamar mandi terdengar muntah-muntah. Lalu, tidak lama Citra keluar dan mengatakan jika keadaanya sudah lebih baik.
Mereka berdua kembali ke ruang acara. Di sana, Tuan gendut itu mengajak menghabiskan satu gelas minuman yang tersisa di gelas mereka untuk mengakhiri acara pesta ulang tahunnya dan Addrian pun menghabiskan orange jusnya yang tinggal sedikit.
"Terima kasih kalian sudah mau datang ke sini. Saya senang sekali ulang tahun kali ini bisa merayakan dengan orang-orang hebat seperti kalian."
Acara berakhir dan Addrian izin kembali ke kamar hotel bersama Citra.
"Pak, kenapa kepalaku masih pusing ya?" Citra mengeluh pada Addrian di dalam mobil.
"Kamu nanti segera istirahat saja di kamar."
"Wajah kamu kenapa banyak sekali, Addrian." Citra tiba-tiba bicara melantur.
"Pengaruh minuman itu sepertinya masih ada." Addrian pun sebenarnya mulai merasakan sakit di kepalanya. Semakin lama semakin berat. "Kepalaku juga sakit. Apa tadi dia mencampur minumanku?" Addrian juga merasakan pusing.
__ADS_1
Tuan Andreas yang satu mobil dengan mereka malah tertawa lucu. "Kalian pasti terkena pengaruh minuman yang enak itu." Tuan Andreas langsung bersendawa. Dia juga sepertinya mabuk.
Mereka bertiga di antar supir hotel dan saat sampai di hotelnya. Mereka naik satu lift dan berpisah karena lantai mereka berbeda.
"Pak Anda baik-baik saja? Aku akan mengantar ke kamar Pak Addrian." Citra malah tertawa seperti tidak sadar. "Wajah Pak Addrian lucu sekali," ucapnya.
"Aku pusing."
Mereka akhirnya tiba di depan kamar Addrian. Addrian yang masih bisa mengambil id cardnya langsung membuka pintu dengan tangan merangkul pundak Citra. Dia kemudian masuk ke dalam kamar dan ditemani oleh Citra.
Tubuh Addrian terbaring di atas tempat tidur dengan lemas. "Terima kasih, Citra," ucapnya terbata. Lalu, sudah tidak terdengar suara Addrian lagi. Dia sudah benar-benar pingsan.
Citra berdiri melihat tubuh Addrian yang sudah tidak berdaya di atas tempat tidur.
Terlukis sebuah senyum indah dari bibir Citra dan dia berjalan menutup pintu kamar Addrian.
Citra mulai mencoba mengacak acak kamar seolah-olah telah terjadi pergulatan hebat antara dirinya dan Addrian, bahkan dirinya juga menyobek sendiri bajunya sedikit seolah terjadi pemaksaan pada dirinya oleh Addrian.
"Malam ini adalah malam yang akan membuat kamu dan aku bisa bersatu, Addrian. Aku akan membuat kamu harus meninggalkan Aira." Citra tersenyum miring.
"Gadis manja dan sok itu akan menangis saat dia tau suami tercintanya malah bercinta dengan wanita lain yang adalah sekretarisnya sendiri."
Citra mulai naik di atas ranjang dan mengusap kemeja yang melekat pada tubuh Addrian.
"Kamu pas sekali memakai baju pemberianku. kamu terlihat sangat tampan, Mas. Sebentar lagi aku akan dapat memanggil kamu dengan sebutan Mas Addrian. Sebutan yang ingin sekali aku ucapkan dengan bibirku."
Citra perlahan melepaskan kancing kemeja Addrian satu persatu. Citra mulai menelusuri dada bidang milik suami Aira itu.
Setelah bagian atas terlepas, dia mulai menuju bagian bawah Addrian. Citra melepas semua pakaian Addrian dan kemudian dia mulai melepaskan bajunya sendiri.
Citra membuat seolah-olah Addrian dan dia sudah tidur bersama. Dia membuat Addrian memeluknya dari belakang di dalam satu selimut.
"Malam ini aku akan tidur nyenyak. Selamat malam Mas Addrian." Citra memejamkan kedua matanya.
Pagi itu, Addrian terbangun karena mendengar suara bunyi ponsel miliknya yang ada tepat di atas laci samping tempat tidurnya.
"Siapa yang menghubungi pagi-pagi sekali," ucapnya sambil memilin kepalanya. Dia belum sadar jika di sampingnya ada seorang wanita yang tidur dengannya.
__ADS_1