
Wanita yang bernama Anna itu mengatakan dia menghadiri wisuda anaknya. "Aku dan istriku menghadiri wisuda teman kami, namanya Citra.q
"Kak Citra," celetuk Nadin.
"Nadin!" Anna berseru menekankan lirih pada putrinya.
"Kalian kenal dengan Citra?" tanya Addrian.
"Nadin pernah berkenalan dengan Citra karena rumah Citra dekat dengan rumah kami. Aira, Addrian. Bibi dan Nadin permisi dulu." Wanita itu mengajak anaknya pergi menuju si penjual nasi bebek lalu pergi dari warung itu.
"Sayang kenapa aku merasa jika ibunya Nadin tampak menghindar dari kita. Memangnya wajahku seram ya? Kenapa aku melihat dia takut denganku?"
"Wajah kamu tidak seram, sayang. Bahkan kamu sangat tampan."
"Dari dulu, Sayang, tapi kenapa aku lihat ibunya Nadin seperti takut begitu? Apa lagi saat aku bertanya soal Citra.
"Aku melihat malah biasa saja, siapa tau itu perasaan kamu saja, Mas. Mas, kita makan lagi saja kemudian kita kekantor, aku Sudah tidak sabar melihat berapa besarnya Perusahaan Daddy kamu."
"Iya." Mereka menghabiskan sarapannya, kemudian mereka pergi ke kantor Addrian.
Sesampai di sana, Addrian langsung menuju lantai atas di mana dia sudah pernah ke ruangan kerja daddynya.
"Pak Addrian, selamat pagi," sapa sekretaris cantik yang ada di sana.
"Pagi. Mba Mona, mana dokumen yang akan aku bawa? Kata daddyku aku bisa mengambilnya di Mba Mona?"
"Ada di dalam ruangan, Pak Addrian."
"Panggil saja Pak Uno, biar tidak terlalu panjang."
"Iya, Pak Uno." Wanita yang usianya lebih pantas menjadi kakaknya Addrian ini tampak tersenyum manis.
"Oh, ya, Mba, ini kenalkan istriku, namanya Aira."
"Saya Aira, Mba." Aira mengulurkan tangannya mengajak berjabat tangan. Wanita cantik dengan rambut cepaknya itu menyambut jabatan tangan Aira dengan senang.
"Saya Mona. Pak Addrian istrinya cantik sekali. Oh maaf! Maksud saya Pak Uno."
"Terima kasih, Mba. Mba juga sangat cantik."
"Mba Mona memang cantik, dia bahkan menjadi idola di perusahaan ini."
"Pak Uno jangan mengada-ngada." Wajah wanita itu seketika malu.
"Itu kenyataan, Mba Mona."
"Pasti ini semua Daddy Pak Uno yang mengatakannya."
__ADS_1
"Daddyku sangat percaya dengan kepandaian Mba Mona, makannya aku disuruh banyak belajar dan bertanya sama Mba. Mohon dibantu ya, Mba, kalau aku nanti sudah mulai memimpin perusahaan ini."
"Siap Pak Uno. Pak Uno tenang saja."
Mereka kemudian masuk ke dalam ruangan kerja Uno dan Aira tampak takjub melihat ke dalam ruangan itu.
"Wah! Indah sekali tatanan ruangan ini." Aira mengedarkan pandangannya melihat isi ruangan itu.
"Daddyku memang suka sekali ruangan kerja yang didesain dengan sederhana."
"Tapi cukup nyaman, Mas."
"Dan nanti di sebelah sana akan aku suruh orang menyiapkan ruang kerja yang nyaman juga untuk sekretaris pribadiku." Addrian melirik pada Aira.
"Hah? Kita satu ruangan? Mas, aku tidak perlu menjadi sekretaris pribadi kamu. Aku cukup bekerja menjadi karyawan biasa saja di sini, atau di bagian HRD."
"Tidak mau, tidak perlu bekerja di sini."
"Selalu saja memaksa." Aira mengerucutkan bibirnya.
"Kamu memang harus dipaksa, Sayang."
"Ya sudah, aku menjadi sekretaris pribadi kamu, tapi tidak perlu satu ruangan sama kamu."
"Kenapa kalau satu ruangan?"
"Ternyata menikah menyenangkan, ya?"
"Mba Mona belum menikah?" Wanita itu menggeleng pelan. "Maaf, aku kira sudah menikah. Pasti banyak yang suka orang secantik dan sepandai Mba Mona."
"Tapi aku belum dapat jodoh, Ibu Aira."
"Jangan panggil, Bu. Panggil Aira saja biar lebih akrab."
"Aira, apa ada saudara kamu yang bisa dikenalkan padaku? Siapa tau jodoh."
"Em ... sayangnya kakak laki-lakiku sudah memiliki pilihan, Mba."
"Mba Mona sama Pak Radit saja kepala Divisi di sini," celetuk Addrian sambil melirik pada Mona.
"Pak Uno!" serunya sambil mendelik pada Uno. Uno malah tertawa ssnang.
Mereka bertiga seketika cepat sekali akrab. Beberapa jam Addrian dan Aira di sana. Addrian juga banyak diberitahu oleh Mba Mona tentang peraturan dan semua yang berhubungan dengan perusahaan, dan karena hari ini para karyawan masuk setengah hari. Addrian dan Aira menawarkan untuk mengantar Mba Mona pulang ke rumahnya.
***
Hari kelulusan Aira tiba. Semua keluarga Aira dan Addrian menghadiri acara wisuda Aira.
__ADS_1
Tampak wajah lega dan bahagia sang ibu hamil di tengah acara wisudanya. Aira pun tampil cantik dengan baju kebaya putih dan jas almamaternya.
"Ini untuk kamu, Sayang. Selamat atas hari kelulusanmu." Addrian memberikan buket bunga yang sangat cantik dengan bunga mawar putih kesukaan Aira. Dia juga tidak lupa mengecup kening istrinya.
"Terima kasih, Mas.Terima kasih, Ayah."
"Aku lupa mengucapkan selamat juga pada bayi kecilku. Dia selama ini sangat pandai tidak membuat mama sudah selama menjalani ujian kelulusan." Addrian menunduk dan mengecup perut buncit Aira.
"Aira, mama senang kamu sudah lulus. Apa lagi nilai kamu juga sangat baik." Mama mertua Aira memeluk erat menantu satu-satunya itu.
"Terima kasih, Ma. Aira juga sangat berterima kasih Mama Amanda bisa datang ke sini."
"Aira, selamat ya!" seru Niana baru saja merayakan dengan keluarganya.
"Kamu juga selamat, Na." Dua sahabat itu saling berpelukan dengan erat. Keluarga Addrian juga mengucapkan selamat pada Niana.
"Selamat ya, Niana, kamu akhirnya lulus juga."
"Terima kasih, Tante." Niana tampak agak canggung menjabat tangan mamanya Aira.
Semua keluarga saling berkumpul di sana. Citra yang di undang Aira datang ternyata tidak bisa datang dengan alasan dia tidak enak badan. Padahal sebenarnya Citra tidak mau melihat kebahagiaan Aira.
Besoknya adalah malam pesta kelulusan kampus Aira. Acara berlangsung sangat meriah.
"Gaun yang mama kirimkan untuk kamu sangat pas dan cocok kamu pakai, Sayang."
"Iya, Mama tau sekali apa yang Aira sukai."
"Tentu saja, kamu itu menantu pilihan mama dan jelas saja mama tau seluk beluk tentang kamu."
"Apa nanti kalau aku punya istri, Mama Manda akan seperti itu juga pada istriku?" celetuk Kenzo.
"Tentu saja mama akan memperlakukan istri kamu sama seperti Aira. Eh, tapi kenapa kamu bertanya seperti itu? Apa kamu sudah punya calon istri, Nak?"
"Belum, Ma. Cuma seumpama."
"Mama kaget kalau kamu sudah mau menikah. Soalnya, kamu pipis saja belum benar, masak mau menikah?"
"Mama! Aku sudah bisa pipis dengan benar!" Kenzo tampak mendelik mendengar ucapan bar-bar mamanya.
"Benar kamu bisa pipi dengan baik? Sini aku lihat." Addrian seketika mencari celana adiknya.
"Addrian! Jangan!" Kenzo menahan tangan Addrian. "Aku bongkar rahasia kamu, ya?"
"Rahasia apa? Aku sudah tidak punya rahasia yang aku sembunyikan dari Aira." Addrian malah masih usil dengan adiknya.
Semua orang di sana malah tertawa melihat tingkah adik kakak yang padahal beda ibu itu.
__ADS_1