Kamu Milikku

Kamu Milikku
Aira Diculik Part 2


__ADS_3

Addrian mengatakan jika dia tidak mungkin menghubungi mama mertuanya dan mengatakan Aira di culik karena dia tidak mau mama mertuanya akan kaget. Sekitar hampir satu jam bunda Itta datang bersama dengan Kenzo. Kenzo yang sudah diberitahu oleh bundanya tampak ikut marah dengan Dewa.


"Kak, aku akan ikut denganmu mencari si brengsek itu. Sudah lama juga aku tidak menghajar seseorang."


"Kenzo! Jangan bicara seperti itu."


"Dia sudah keterlaluan, Bunda, dia sudah berani menculik kakak iparku dan lihat dia sudah melukai anak sekecil Nadin. Dia itu sakit jiwa."


"Biar aku yang akan memberinya pelajaran, akan aku buat dia koma sekali lagi agar dia tidak bisa lagi mengganggu kehidupanku."


"Sayang, jangan melakukan hal yang bisa membuat kamu mendapat masalah nantinya. Ingat, jika kamu sekarang menjadi seorang ayah, apa kamu mau sampai di penjara dan membuat anak Istrimu tidak terurus olehmu?"


"Tapi aku benar-benar tidak terima apa yang dia lakukan, bunda."


"Bunda tau, tapi jangan melakukan hal yang fatal akibatnya nantinya. Serahkan saja kepada pihak yang berwajib untuk mengurusnya."


Addrian menghubungi seseorang dan menyuruh orang itu untuk mencari di mana keberadaan Istrinya. Addrian ditemani Rico pergi ke rumah kedua orang tua Dewa untuk mencari Dewa sekaligus memberitahu kedua orang tua Dewa tentang apa yang sudah anak mereka perbuat.


Kenzo juga tidak tinggal diam, dia meminta bantuan teman-teman sesama anak motornya untuk membantu mencari tau di mana Aira. Mungkin ada yang pernah melihat Dewa dan Aira di suatu tempat.


"Addrian, ada apa kamu ke sini?"


"Aku minta maaf sebelumnya jika kedatanganku akan membuat Tante terkejut, tapi aku mau mencari di mana Dewa karena dia sudah berani datang ke rumahku dan menculik istriku."


"Apa? Dewa menculik istri kamu? Tapi hal itu tidak mungkin Dewa lakukan, Addrian."


"Putriku yang mengatakannya, ada pria datang ke rumah dan sempat berbicara lama dengan Aira. Putriku mendengar Aira memanggilnya Dewa. Putramu sakit jiwa. Aira sudah berusaha mengusirnya, tapi dia tidak mau pergi malah membawa Aira dengan paksa. Tidak hanya itu, dia juga sampai menendang putriku yang masih kecil sehingga ada memar di punggungnya."


"Oh Tuhan! Dewa tega sekali melakukan hal itu." Wanita itu tampak terkejut mendengar apa yang Addrian katakan padanya."

__ADS_1


"Addrian, aku sebagai.ayahnya Dewa benar-benar minta maaf dengan kelakuan putraku, tapi kami sungguh tidak mengetahui di mana keberadaan Dewa. Katakan saja apa yang bisa aku bantu?"


"Coba Om menghubungi saja Dewa, siapa tau akan dijawab oleh Dewa," ucap Rico.


Ayah Dewa mencoba menghubungi Dewa, tapi panggilannya malah dimatikan oleh Dewa. Addrian sangat geram pada kelakuan Dewa. Dia sekarang akan pergi ke rumah di mana Dewa tinggal dengan Shelomitha, padahal mamanya Dewa mengatakan jika Dewa tidak mungkin ke sana karena kunci rumahnya ada padanya. Dewa sudah tidak mau tinggal di sana, tapi Addrian tetap ke sana untuk mencari di mana Dewa.


Addrian pergi ke sana dan benar jika rumah itu terlihat sepi, bahkan tidak ada mobil Dewa di sana. Addrian akhirnya memutuskan pergi dari sana.


Aira sedang terbaring menutup kedua matanya, efek obat bius itu belum hilang. Dewa yang ada di sana memandangi wajah Aira yang sangat dia cintai. Dewa berbaring di samping Aira dan tangannya mengusap perlahan wajah wanita itu.


"Kamu masih sangat cantik walaupun sudah memiliki seorang anak. Aku sangat mencintaimu sampai kapan pun." Dewa mengusap perlahan bibir Aira dan dia mengecupnya.


Aira terbangun dan kaget melihat wajah Dewa tepat di atasnya. Aira mendorong dengan kasar tubuh Dewa. Aira benar-benar marah dengan kelakuan Dewa.


"Mas Dewa jangan kurang ajar! Aku ini istri mas Addrian, kenapa Mas Dewa malah berani menciumku?" Aira menghapus bekas ciuman Dewa pada bibirnya.


"Mas, cerita kita sudah berakhir, dan apa yang terjadi padaku dengan mas Addrian itu memang sudah takdirnya. Mas Dewa harus menerima semuanya!"


Dewa kembali naik ke atas ranjang dan mendekat pada Aira. Aira seketik takut dengan Dewa yang wajahnya berubah terlihat menyeramkan.


"Aku akan menjauhkan kamu dari Addrian karena kamu hanya akan menjadi milikku."


"Apa maksud kamu, Mas?" Kedua mata Aira mendelik.


"Aku sudah mengurus kepergian kita ke luar negeri. Temanku meminjamkan pesawat pribadinya yang akan membawa kamu dan aku pergi ke tempat di mana tidak akan ada yang memisahkan kita."


Aira tidak percaya jika pria yang ada dihadapannya ini pernah dulu sangat dia cintai. "Mas Dewa, aku mohon lepaskan aku, biarlah aku kembali kepada keluargaku dan bayiku masih sangat membutuhkanku."


"Itu anak Addrian, dan kamu tidak mengharapkan anak itu dari dulu."

__ADS_1


"Kamu salah! Aku sangat menginginkan dan mencintai anakku dengan mas Addrian. Mas Dewa benar-benar sudah sakit jiwa." Aira beranjak turun dari tempat tidurnya, tapi Dewa mencoba menghalanginya. Akhirnya mereka terlibat saling dorong mendorong dan Dewa berhasil membuat Aira terikat tangan dan kakinya.


Dewa juga menutup mulut Aira dengan menggunakan kain agar tidak berteriak. Aira menangis dengan mulut tertutup kain. Dewa yang melihatnya sama sekali tidak ada rasa kasihan, dia malah mengusap perlahan pipi Aira bahkan mengecupnya dengan lembut.


Dulu mungkin Aira merasa senang jika Dewa melakukan hal itu saat Dewa masih menjadi tunangannya, tapi sekarang dia sangat jijik saat Dewa menyentuhnya seperti itu.


Dalam hatinya Aira memanggil nama suaminya. Dewa ini sebenarnya membawa Aira ke rumahnya yang dia tempati dengan Shelomitha, tapi Dewa pandai membuat seolah-olah dia tidak ada di sana dengan menaruh mobilnya di tempat lain dan dia membuat kunci cadangan.


Di rumah bunda Itta, Addrian terlihat frustasi memikirkan di mana Dewa membawa Aira. Dia benar-benar bingung mencari di mana Aira.


Si kecil Andrei dan Nadin pun menangis menanyakan di mana mamanya. Andrei pun sepertinya merasa jika mamanya sedang dalam masalah.


"Bunda, aku harus mencarinya ke mana lagi?"


"Teman-temannku juga belum memberiku kabar. Apa orang suruhan kamu juga belum memberi kabar, Kak?"


Addrian menggeleng pelan. Dia kemudian teringat akan Shelomitha. Addrian menghubungi ponsel Shelomitha.


"Ada apa, Addrian?"


"She, Aira diculik oleh Dewa."


"Apa? Bagaimana bisa?"


Addrian menceritakan bagaimana Dewa ke rumahnya dan membawa Aira pergi dari sana. Shelomitha yang sudah berada di London tampak terkejut mendengar hal itu.


"Apa kamu sudah mencari di rumahku dan Dewa dulu?"


"Sudah, tapi rumah kalian kosong, bahkan mobil Dewa tidak berada di sana karena kata putriku Dewa membawa Aira dengan menggunakan mobil."

__ADS_1


__ADS_2