
Sandy masuk ke Pandora.
Toko perhiasan terkenal.
Dia sudah beberapa kali ke sini.
Membelikan Mami perhiasan.
Pernah juga membelikan Cindy kalung berlian.
Dan gelang.
Dan anting.
Sandy menggelengkan kepalanya.
Bodohnya dia dulu.
Menebar hadiah pada orang yang dibelakangnya tidur dengan orang lain.
Kali ini dia tidak ingin membeli yang lain.
Dia hanya mencari satu barang saja.
Cincin.
Untuk mengikat.
Sekarang dan selamanya.
"Selamat datang Mr. Gunawan.." sapa staf Pandora.
"Saya mau cari cincin."
"Cincin untuk siapa ?"
"Saya mau melamar." kata Sandy.
Staf Pandora lalu mengajak Sandy ke tempat koleksi cincin.
Ada banyak model.
Staf lalu mengeluarkan tiga kotak yang berisi berbagai macam cincin.
"Maaf..boleh saya tanya tentang pasangan anda?
Supaya saya bisa membantu memilihkan."
"Hmm..."
Sandy menerangkan tentang Reva.
Setengah jam kemudian, satu kotak diserahkan pada Sandy.
Sandy menenteng tas beludru kecil saat sedang melihat-lihat perhiasan lain.
"Sandy !"
Sandy menoleh.
"Daniel !
Mau beli juga ?" sapa Sandy.
"Iya.
Buat Elle." jawab Daniel.
Sandy tersenyum.
"Kakak yang baik." katanya.
"Iya dong.
Dan sebenarnya... walaupun aku yang mendorong dia menikah, tapi... rasanya seperti kehilangan sebelah nyawa." jawab Daniel.
"Dia juga merasakan yang sama.
Kalian kan kompak.
Liat aja waktu kalian kerjasama mau misahin Tia." kata Sandy tersenyum.
Daniel tertawa.
"Dan sekarang dia mau menikah."
Matanya lalu melirik tas beludru yang dibawa Sandy.
"Untuk siapa ?"
"Calon."
"Cindy ?" tanya Daniel berkerut.
Karena setaunya, Sandy dan Cindy sudah berpisah.
"Bukan." senyum Sandy.
"Hmm...
Makanya kamu bikin rumah ya ?"
Sandy tersenyum.
"Bukan.
Aku pingin settle down aja."
"Sudah waktunya." angguk Daniel.
"Kamu juga sudah waktunya." kata Sandy.
Daniel tertawa.
"Enak jadi bujangan."
Sandy menangkap rasa pahit disana.
Daniel belum bisa move on.
"Sudah selesai milih ?" tanya Sandy.
"Udah.
Ayo... ke kantor.
Ngopi."
"Oke.
Aku nungguin Reva latihan."
"Reva ?
Keponakan Tia ?"
Sandy mengangguk.
Mata Daniel lalu turun ke tas biru.
Lalu pengertian melintasi matanya.
"Kamu udah move on." katanya.
"Siapa yang enggak ?" balas Sandy.
Daniel mengangguk.
Dia juga akan meninggalkan pacar yang selingkuh.
Elle yang bercerita padanya.
"Aku masih perlu Reva." kata Daniel.
Sandy tersenyum.
"Silakan."
"Kamu Enggak akan menghalangi karir pasangan kan ?"
"Untuk apa ?
Aku memang nyari perempuan pintar kok.
Pintar dan setia.
__ADS_1
Supaya aku bisa yakin, itu betul-betul anakku." kata Sandy.
Daniel tertawa.
"Aku setuju.
Jangan sampai anak orang lain yang menjadi ahli waris perusahaan yang sudah capek kita bangun." katanya.
Sandy ikut tertawa.
Mereka berjalan keluar.
"Kita ketemu di ruangan ku." kata Daniel sebelum mereka berpisah menuju mobil masing-masing.
...🎀...
Reva tidak berani muncul di Methrob sebelum Kissmark di lehernya menghilang.
Dan sebenarnya dia juga sekarang hampir tidak punya waktu.
Jadi saat dia akhirnya datang, dia disambut meriah.
"Revaaa...
Akhirnya kamu datang juga..!!" kata Andrew.
Reva memerah.
"Maaf ya...
Aku sibuk banget.
Sebentar lagi grup nya mau launching.
Terus...akunya juga ...aduuh...
Pokoknya penuh deh."
"Bentar lagi kita bakal minta tanda tangan Reva nih." kata Anna.
"Ihh..tanda tangan apa ?
Aku cuma bantuin doang kok." balas Reva.
"Aku seneng punya temen artis." kata Liu.
"Lho...temen kamu kan banyak yang artis ?" kata Reva heran.
"Tapi yang bisa dikerjain cuma kamu, Va !" kata Liu
"Sialan !" gerutu Reva dengan senyum.
Josh masuk.
"Aissh... akhirnya nongol juga ni bocah.
Pacar cemberut terus tuh." kata Josh.
Mendengar kata pacar, jantung Reva seperti akan melorot.
Dia menarik nafas dalam.
Dia belum bilang pada Steven.
Statusnya yang sekarang.
Mau tidak mau dia harus menghadapi Steven.
"Aku bikinin dulu kopinya." katanya.
"Gak usah."
Reva mengangkat wajahnya.
Steven masuk ke Pantry.
"Steve.." sapanya.
Steven tersenyum.
"Kamu mau apa, Steve ?"
Reva menyibukkan dirinya mengambil piring dan mug-mug lalu mulai menuang teko besar tempat dia membuat kopi.
"Ada yang mau yang lain ?
"Kopi." jawab Steven.
Dia tetap berdiri.
Tangannya terlipat.
Matanya mengawasi Reva.
Jenny bercerita padanya.
Reva selalu diantar Sandy.
Ada gosip bahwa Reva merebut Sandy dari tangan Cindy.
Teman-temannya saling berpandangan.
Satu persatu kemudian permisi, meninggalkan Pantry.
"Kalian mau kemana ?" tanya Reva.
"Ada kerjaan, Va." jawab Liu.
"Aku juga." kata Josh.
Ponsel Anna bergetar.
Dia melirik.
Nama Andrew muncul di layar ponselnya.
"Oh.. aku harus jawab telpon dulu." kata Anna.
Matanya melirik Steven.
Anna lalu meninggalkan pantry.
Pantry sepi.
Hanya mereka berdua.
Reva mendorong piring berisi pie dan cheese cake ke arah Steven.
"Ini." katanya.
Steven diam.
Reva lalu menyodorkan kopi yang sudah diberi sedikit gula.
Sesuai yang biasa di buatkan untuk Steven.
"Kita belum putus , Va !" Steven memulai.
"Aku gak pernah bilang iya, Steve."
"Tapi kamu enggak pernah bilang enggak."
"Apa aku pernah punya kesempatan bilang enggak ?"
"Jangan berkelit , Va"
"Aku gak berkelit..
Kamu dan aku...
kita cuma..teman."
"Teman ?"
Teman apa yang mau dipeluk, dicium di bibir ?
Hm..?
Teman apa, Va ?"
Reva memerah.
Tapi dia memaksa diri untuk menjawab.
"Teman dekat."
__ADS_1
"Kamu tau Va,
Apa sebutan lain dari suami istri ?
Teman sehidup semati.
Teman juga.
Pacar...juga teman.
Teman istimewa."
Steven mendekat kan wajahnya pada Reva.
Reva berdebar.
"Kita teman, Steve.
Apapun yang ada di antara kita...
Kita cuma bisa jadi teman."
"Itu kan asumsi kamu !"
"Itu kenyataan, Steve.
Dan sebetulnya kamu tau itu."
"kenyataan kalo sekarang kamu berpaling."
"Aku enggak berpaling.
Cerita kita emang gak pernah ada.
Aku orang yang realistis, Steve.
Kita gak punya masa depan."
"Jadi ... kalo sama Sandy, kamu punya masa depan ?"
"Sama dia juga enggak.
Aku cuma..
Aku cuma nolong dia melewati masa sulit nya."
"Aku gak liat kamu cuma nolong doang.
Kamu punya hubungan sama dia."
Reva menarik nafas.
Dia menatap Steven dalam-dalam.
"Steve...
Kamu pinter.
Enggak...kamu jenius.
Kamu tau banget kalo kita gak punya masa depan.
Dua Bulan lalu..."
Reva menarik nafas.
Menguatkan dirinya.
"Dua Bulan lalu...aku ketemu ibumu.
Ibumu jelas bilang sama aku.
Aku bukan calon istri yang dia harapkan.
Aku berbeda.
Kita berbeda.
Dan kamu tau.
Tapi..kamu cuma...
Kamu cuma mau menghindari kenyataan ini sekarang..
Pada saatnya nanti...kamu...aku...
kita berdua harus menghadapi kenyataan ini.
Aku cuma mundur lebih cepat dari yang kamu harapkan."
Steven terpana.
Reva meletakkan mugnya di meja.
"Aku...
aku keluar dulu." katanya.
Lalu bergegas melewati Steven.
Keluar dari pantry, berbelok dan menemukan Sandy berdiri bersedekap di sana.
"Om..." katanya lirih.
Matanya berkaca-kaca.
Sandy merentangkan kedua tangannya.
Reva masuk ke dalam pelukannya.
Steven menyusul.
Menemukan Reva sedang berjalan masuk dalam pelukan Sandy.
Dia berhenti.
Menatap Sandy.
Sandy balas menatapnya.
Sandy lalu menunduk.
"Yuk ke ruanganku." katanya pelan.
Terlihat kepala Reva mengangguk.
...🌴🎀☘️...
Halo Pembaca Tersayang....
Semoga semuanya sehat dan bahagia selalu yaa..
Bagaimana cover novelnya yang baru ?
Suka ?
Enggak suka ?
Biasa aja?
Bikin tambah mood baca novelnya?
Seperti halnya novel MCKK, pihak noveltoon yang memilih, membuat dan mengganti covernya.
Kali ini, saya enggak hilang mood seperti waktu MCKK.
Dulu Saya sempet hilang mood waktu MCKK karena cover novelnya berbeda jauh dengan yang saya gambarkan di novel.
Untuk novel Kamu Milikku, tokoh laki-laki nya persis seperti yang saya bayangkan.
Saya mem-visualkan Bright Vachirawit.
Hanya penggambaran Reva, menurut saya terlalu soft.
Padahal Reva tipe cewek pemberani dan pintar.
Tidak segan-segan untuk membantah.
Itu saja komen saya tentang cover baru.
Tetap jaga protokol kesehatan.
Salam sehat semua..😘
Oiya...saya nulis bab ini sambil mendengarkan Fiersa Besari - Waktu Yang Salah.
__ADS_1
Pas banget.
Bikin melow.