Kamu Milikku

Kamu Milikku
Tidur


__ADS_3

Ujian semester menjelang.


Reva sibuk sekali.


Selain harus mempersiapkan ujiannya sendiri, dia juga harus membantu Prof Wu mempersiapkan ujian untuk satu mata kuliah di bawah prof Wu.


Salah satu mata kuliah dasar untuk adik kelasnya.


Reva merebahkan dirinya di jok mobil.


Dia ingin tidur sebentar.


Dia baru tidur empat jam...yang menurut dia sangat tidak sehat.


Jadi..dia ingin mencuri waktu tidur di kampus.


Di jok mobilnya.


Dia sudah terlelap sekitar sepuluh menit saat kaca mobilnya diketuk.


Reva menggerakkan kepala tapi tetap menutup matanya.


Kaca kembali diketuk.


Kali ini lebih mendesak.


Reva mengusap muka.


Dia membuka matanya sedikit lalu mengeluh.


Addduhhh...siapa sih yang ganggu ?! keluhnya kesal.


Dia membuka mata lebih lebar.


Sandy menatapnya sambil tersenyum.


Reva menurunkan kaca.


"Om !!


Ganggu tidur aja !" katanya kesal.


"Siapa yang suruh tidur di mobil ?!


Bahaya tau ?!" omel Sandy.


Reva melirik kesal.


"Buka !!" perintah Sandy.


"Oom !!"


"Mas !!"


"Om!!"


Reva membuka pintu mobilnya.


"Ngapain Om ?" tanyanya.


"Kamu geser.


Udah sana cepetan !!"


Reva yang masih mengantuk bergeser sambil menggerutu.


Sandy lalu menyelipkan tubuhnya di balik setir.


"Masih ngantuk ?" tanyanya.


Reva mengangguk.


"Pasti belum makan ?"


Reva kembali mengangguk.


Sandy menggelengkan kepalanya.


Dia, Michael dan Robert dulu termasuk mahasiswa yang aktif karena harus kuliah serta mengurus company mereka.


Tapi sepertinya Reva lebih aktif lagi.


Ini belum ditambah dengan beban dia datang ke Methrob untuk menyiapkan kopi teh dan cemilan tiga kali seminggu.


Reva sudah diingatkan bahwa dia tidak perlu datang.


Tapi Reva berkeras.


Reva menikmati waktunya di Methrob.


Mereka semua menjadi kawan-kawannya.


Kecuali Steven.


Sandy lalu melajukan mobilnya ke arah apartemen Reva.


Reva berjalan tersaruk-saruk menuju unitnya.


Kepalanya di ketuk dari belakang oleh Sandy.


"Ck...ck...ck..." decak Sandy.


Reva cemberut.


Sandy lalu memasukkan password unit Reva dan membuka pintu.


Reva langsung menuju ke tempat tidur dan membanting dirinya di sana.


"Heh..Va...


Masuk jam jam berapa ?" tanya Sandy.


"Satu jam lagi, Om." jawabnya mengantuk.


Lalu kembali tidur.


Sandy membuka kulkas.


Mencari bahan makanan dan mulai memasak.


Dua puluh menit kemudian, bau harum masakan memenuhi apartemen Reva.


Reva membuka mata.


Mengedip-ngedipkan matanya.


Dia menoleh.


Om Sandy sedang mengatur makanan di meja.

__ADS_1


Reva bangkit, berjalan ke kamar mandi lalu mencuci mukanya dan kembali ke meja makan mini di dapur.


Sandy meletakkan piring di hadapannya lalu duduk.


Mereka mulai makan.


"Hmmm..enak Om." kata Reva.


"Ya enak lah..


Gratis...gak usah beli..gak usah capek masak.


Tinggal merem, tau-tau ada." jawab Sandy.


Reva tertawa.


"Ih...Om harus ikhlas.."katanya.


"Lho... ikhlas kok.


Aku kan cuma jawab kamu aja."


"Abis jawabnya begitu." kata Reva memajukan bibirnya.


Sandy meletakkan sendok.


Menatap bibir Reva dengan gemas.


"Makan Om.." tegur Reva sambil menunduk.


"Mas." jawab Sandy.


"Nanti..manggil Mas kalo ada Papi Maminya Om " jawab Reva bandel.


"Ck...ck...ck...." decak Sandy.


Mereka kembali makan.


"Om.."panggil Reva.


Sandy mengangkat matanya.


"Cewek yang dapetin Om itu cewek beruntung.


Ganteng, Kaya, pinter masak." kata Reva.


"Ya pasti.


Buktinya...dia tidur, bangun-bangun udah langsung ada makanan di mejanya." jawab Sandy.


Reva nyengir.


"Om...itu..yang suka nelponin Om...masih ?" tanya Reva mengalihkan pembicaraan.


"Masih.


Yang ngirim pesan juga.


Aku kepikiran mau ganti nomor.


Tapi dia klien.


Terus... kolegaku gimana ?" jawab Sandy dengan sebal.


Reva cekikikan.


"Aku jadi paham yang dirasain sama Michael waktu Tia pindah ke Aussie." kata Sandy.


"Ya...digodain banyak cewek.


Dipikir Michael bisa putus karena hubungan mereka kan LDR. jauh."


"Lho...beda dong..


Om kan emang udah putus." sahut Reva.


"Yang bilang putus itu siapa ?"


"Om...?!


Jadi Om nyambung lagi ?!" jawab Reva kaget.


"sama dia ?!


Sori ya..."


"Terus ?"


"Lho..aku ini kan punya tunangan ...


Anak biomedic.


Belum resmi


Tapi bentar lagi.


Bapaknya udah tau kok."


"Om !!" sentak Reva.


"Mas."


Reva diam.


Dia menunduk, kembali menyuap.


"Tinggal sebulan lagi." kata Sandy santai.


"Om..., Om ini terobsesi untuk menang.


Om ambil aja rumah Om itu.


Kan emang itu rumah Om.


Aku gak pingin kok."


Sandy meletakkan sendoknya lagi.


"Aku gak peduli sama rumah itu.


Aku udah kasih ke kamu.


Aku cuma pingin kamu, Va."


Reva mengangkat matanya, menatap Sandy.


"Om belum nyari.


Om belum menjalin hubungan sama orang lain lagi."

__ADS_1


"Kamu nyuruh aku pacaran sama orang lain karena kamu punya hubungan sama Steven kan ?


Kamu gak mau terikat sama aku karena kamunya yang pingin terikat sama Steven kan ?


Jangan membalik keadaan, Va." jawab Sandy.


Reva memerah.


Semua orang tau, dia dan Steven saling menyukai.


Walaupun dia membantah pacaran dengan Steven.


Tapi Steven mengiyakan kalau ada yang meledek mereka.


"Aku enggak pacaran sama Steven, Om." bantahnya.


"Tapi nonton, makan, belajar bareng." kata Sandy kalem.


"Iya Om.


Kenapa ?


Kami temenan biasa kok.


Om dan Aku tau bahwa aku dan Steven gak punya masa depan.


Sama halnya seperti Om dan aku." jawab Reva.


Sandy menelan rasa kesalnya.


"Kita punya masa depan." jawab Sandy datar.


"Enggak.


Dan Om gak percaya."


"Kalo gitu..kita liat nanti." jawab Sandy.


"Ya..


Beri waktu dan kesempatan buat diri Om sendiri.


Percaya sama aku deh Om.." kata Reva.


"Aku percaya kamu kalo itu seputar, virus, sel, bakteri, biogenesis.


Tapi perasaan ku ?


Aku percaya pada diri ku sendiri." jawab Sandy.


Reva memandang Sandy.


Mengukur kedalaman pernyataannya.


"Masih ada banyak waktu.


Om masih muda.


Kasih kesempatan buat diri Om."


"Kamu juga.


Kasih kesempatan buat diri kamu menerima Aku, Mas masa depanmu." balas Sandy.


"Om kan udah diburu-buru sama Maminya Om biar segera kawin.


Om cari yang sudah ready.


Banyak.


Cantik, terkenal, setia dan bisa langsung dinikahi." kata Reva.


"Tapi gak dicintai." jawab Sandy.


Reva tertawa.


"Makanya.. Jangan tutup hati Om..."


"Lho..aku gak nutup hati kok.


Ini udah dibuka lebar-lebar.


Yang masuk aja yang gak pernah percaya."


"Ihh...


Susah debat sama Om."


"Iya...


Susah debat sama orang yang keras kepala."


"Aku pingin jadi sarjana."


"Lho..aku kan gak ngelarang.


Malah aku dukung kok.


Aku suka cewek cerdas.


Aku suka kamu."


"Hmm....


ehmm...


Suka ya Om..." kata Reva merenung.


"Astaga Reva !!


Jangan dibolak balik pernyataan ku !!" kata Sandy gemas.


"Lho..aku gak bolak balik.


kan Om yang ngomong." bantah Reva.


"Va..gak ada laki-laki yang cuma karena suka terus pingin ngawinin !


Kudu cinta Va !!" kata Sandy masih gemas.


Reva menatap Sandy dalam.


"Pastikan dulu Om." katanya.


Lalu dia berdiri, menumpuk piring-piring kotor dan mengangkatnya ke bak cuci piring.


Reva meraih tasnya.


"Yuk Om..

__ADS_1


Nanti aja nyucinya." ajak Reva.


"Hm..." Sandy tidak menjawab, dia mengikuti langkah Reva dari belakang.


__ADS_2