
Wanita cantik itu pergi dari sana dengan menggandeng anaknya. Tampak wajah Sedihnya saat mengusap air mata.
"Ibu, kenapa Kak Citra sangat jahat sama kita? Padahal selama ini kita selalu baik dengannya. Bahkan mendiang ayah juga sangat baik terhadapnya."
Wanita itu teringat bagaimana saat Citra memaksa tinggal dengan keluarganya, padahal kedua orang tua Citra masih ada. Citra memang lebih dekat dengan pamannya karena kedua orang tua Citra selalu saja sibuk dengan pekerjaannya di luar negeri.
Ibu Nadin yang bernama Anna juga sangat sayang pada Citra karena waktu itu dia belum memiliki Nadin. Citra kecil sangat cantik, tapi dia sangat egois. Apa yang dia inginkan harus dia dapatkan seperti saat ini. Dia sangat menginginkan Addrian karena Addrian adalah cinta pertamanya waktu dia duduk di bangku Smp.
"Semua ini kesalahan ibu dan ayah kamu yang sangat memanjakan Kak Citra. Sekarang dia menjadi seperti ini." Sekali lagu wanita itu mengusap air matanya.
Aira sampai di depan rumahnya, dia digendong oleh Addrian dan dibawa masuk ke dalam. Aira tampak tertidur dengan pulas. Addrian berdiri di samping tempat tidur istrinya dan melihat wajah Istrinya yang tengah tertidur nyenyak.
"Berani sekali pria itu ingin melecehkan istriku. Aku ingin sekali menghabisinya." Addrian mengelap wajahnya kasar.
Dia kemudian duduk di sofa panjang tepat di depan ranjang Istrinya. Addrian menghubungi seseorang. "Beri aku informasi tentang pria itu. Urusanku dengannya belum selesai."
Addrian ternyata masih dendam dengan pria yang sudah berani ingin melecehkan istrinya. Dia mencari tau keadaan pria itu.
***
Keesokan harinya Aira yang baru bangun melihat ada sebuah tangan yang sedang melingkar pada perutnya. Aira menoleh dan tepat di depannya ada wajah sang suami yang sedang tidur dan terlihat wajah suaminya seperti bayi kecil. Sangat tampan dan polos.
"Mas, aku mencintai kamu," ucap Aira yang mengecup lembut bibir suaminya.
"Aku juga mencintaimu," balas Addrian.
"Mas, kamu sudah bangun ternyata?"
"Sudah, tapi nanti saja kita bangunnya, kita berpelukan saja seperti ini sampai nanti siang."
"Tidak mau, aku lapar."
"Kamu lapar?" Addrian seketika membuka kedua matanya. Aira mengangguk beberapa kali. "Kamu mau makan apa?"
"Hari ini aku mau memasak tumis pakis dan menggoreng ikan karena kapan hari aku sudah membelinya."
Addrian menggelengkan kepalanya. "Kita makan di luar saja, hari ini aku mau mengajak kamu sarapan nasi bebek di tempat kesukaanmu."
"Serius?"
"Tentu saja, Sayang."
"Mas tidak mau ke kantor?"
__ADS_1
"Tentu saja kita nanti ke kantor, tapi setelah kita makan pagi bersama."
"Mas mau mengajakku ke kantor?"
"Tentu saja, bukannya kamu mau masuk kerja nanti setelah melahirkan. Kita ke sana sebentar karena ada beberapa dokumen yang daddy suruh ambil ke sekretarisnya. Aku tidak sabar menunggu daddyku pulang." Addrian memeluk istrinya erat. Dia juga melihat istrinya dengan lekat.
"Mas, semalam kamu kenapa bisa tau kejadian di kampus Citra?"
"Ada yang memberitahu. Kamu masih memikirkan kejadian itu?"
"Sedikit karena aku baru kali ini mendapat perilaku yang tidak baik seperti itu, apa lagi pria itu dalam keadaan terpengaruh minuman. Aku sangat takut, Mas."
"Kamu jangan memikirkan lagi peristiwa itu. Ingat, jika kamu sedang mengandung dan hal itu tidak baik jika kamu terlalu memikirkannya."
"Iya, Mas. Mulai sekarang aku akan mencoba melupakan hal itu, tapi kamu jangan jauh-jauh dariku, Mas."
"Memangnya aku mau ke mana?" Sekali lagi Addrian mengecup Istrinya.
"Oh ya, kamu belum bercerita tentang siapa yang memberitahu kamu."
"Kemarin saat kejadian ada seorang gadis kecil yang datang padaku dan mengatakan jika kamu membutuhkan bantuan. Dia salah satu keluarga mahasiswi di sana dan dia tau jika kamu datang denganku, jadi pada saat dia berada di kamar mandi dengan ibunya dan melihat kejadian itu dia mencariku."
"Seorang gadis kecil?"
"Aku juga harus berterima kasih dengannya, Mas."
"Semoga kita bisa bertemu lagi dengannya."
Addrian dan Aira sudah bersiap dan akan pergi makan pagi berdua. Mereka menuju warung sederhana yang menjual nasi bebek enak yang sudah menjadi langganan Aira.
"Sudah besar perutnya, Neng?"
"Iya, Bu, dan masih saja tidak bosan dengan nasi bebek buatan ibu." Aira tersenyum.
"Neng bisa saja, terima kasih sudah suka sama nasi bebek buatan ibu. Hari ini ibu berikan porsi besar buat Neng, tapi tenang saja bayarnya tetep porsi biasa."
"Saya juga diberi porsi besar tidak, Bu?" celetuk Addrian.
"Loh, kamu, kan tidak hamil. Kalau hamil nanti ibu berikan porsi besar juga."
"Ahahahah! Bagaimana saya bisa hamil, Bu? Kalau membuat hamil saya jagonya."
"Mas!" Aira sampai malu sendiri mendengar ucapan suaminya.
__ADS_1
Ibu pemilik warung makan itu tertawa dengan senangnya. "Ya sudah, ibu berikan juga porsi besar untuk kamu karena kamu ganteng sekali. Ibu jadi penasaran nanti wajah anak kalian bagaimana ya? Pasti ganteng dan cantik, tapi sayang anak-anakku sudah besar semua."
"Memangnya apa hubungannya dengan anak ibu yang sudah besar semua?" tanya Addrian heran.
"Kalau ibu punya anak bayi atau sedang mengandung, ibu mau jodohkan dengan anak kamu." Ibu pemilik warung makan itu langsung tersenyum. Aira dan Addrian pun ikut tersenyum.
Saat mereka sedang menikmati makan paginya. Addrian melihat sosok yang dia kenali baru masuk ke dalam warung nasi bebek itu.
"Hei! Kamu gadis kecil yang waktu malam itu, kan?"
"Iya, Om yang waktu malam itu di kampus?"
"Nama kamu siapa?"
"Namaku, Nadin. Om siapa?"
"Aku Addrian dan ini istriku namanya Aira."
Aira melihat Nadin. Pun Nadin juga melihat pada Aira. "Kamu yang waktu itu pernah aku tolong, ya?"
"Iya, aku Nadin, Tante Aira."
"Kalian kenal?" tanya Addrian.
"Iya, kita pernah bertemu sebelumnya. Kamu sama siapa ke sini?"
"Sama ibuku, tapi ibu masih di warung sebelah membeli kue."
Tidak lama ibu Nadin masuk ke dalam warung makanan itu. Dia melihat pada Addrian. "Nadin, kamu sudah memesannya? Kenapa malah bicara dengan orang tidak dikenal?" Tangan wanita itu memeluk pundak putri kecilnya.
"Bibi, aku Aira, dan ini suamiku namanya Addrian."
"Oh, Aira, maaf, bibi tidak mengenali kamu."
"Tidak apa- apa, Bi. Bi, aku dan suamiku mau mengucapkan terima kasih karena kata suamiku, Nadin yang waktu itu memberitahunya tentang peristiwa di kampus."
"Iya, Nadin masih mengingat wajah kamu dan kebetulan dia melihatmu dan suamimu di sana."
"Saya benar-benar berterima kasih, Bi."
"Sama-sama, senang bisa menolong istrimu yang juga pernah menolong Nadin." Kedua mata wanita itu melihat pada Aira.
"Oh ya! Bibi ke sana sedang menghadiri wisuda siapa? Anak Bibi?"
__ADS_1