
"Kadang suatu keadaan bisa membuat orang berubah, Aira, dan aku berubah seperti ini karena kamu."
"Mas Dewa, aku sudah mengatakan jika ini semua sudah takdir yang harus kita jalani. Mas Dewa pun harus bisa menerimanya."
Aira tidak tahu, di tempat Addrian, suaminya itu sedang gelisah menunggu telepon darinya.
"Kenapa Aira lama sekali tidak menghubungiku? Apa dia sudah bicara dengan Dewa? Atau panggilannya tidak dijawab? Apa malah Dewa mengajaknya bicara hal-hal yang lain, seperti dia menyatakan cinta lagi pada istriku? Awas saja kalau Dewa sampai mengatakan hal itu, aku buat dia koma sekali lagi." Addrian tampak marah.
Addrian pun menghubungi Aira dari tadi, tapi oleh Aira tidak dijawab karena sepertinya Aira masih berbicara dengan Dewa.
Setelah beberapa saat, dokter datang untuk menemui Addrian, dia memperbolehkan Addrian bertemu dengan Shelomitha karena dokter baru saja melakukan kuret pada Shelomitha.
Addrian menggendong Langit dan membawanya masuk ke dalam ruangan di mana Shelomitha akan menjalani pemulihan.
Shelomitha melihat Addrian masuk dengan membawa putranya, dia pun menangis. Langit dengan cepat duduk di atas ranjang ibunya dan memeluk ibunya dengan erat.
"Addrian mana Mas Dewa?" tanya Shelomitha.
"Aira sedang menghubungi suamimu karena dari tadi aku hubungi tidak bisa," terang Addrian.
"Aku kehilangan anakku Addrian, aku kehilangan bayiku." Shelomita kembali menangis dengan sesenggukan.
Addrian memegang tangan wanita yang menjadi sahabat baiknya dulu. "She jangan menangis, kamu harus kuat, suatu saat nanti kamu akan bisa memiliki anak lagi, kamu harus tetap kuat untuk Langit."
"Mami, adik langit kenapa? Apa dia sakit? Kenapa Mami tadi memegang perut Mami?"
"Adik Langit sudah bersama Tuhan di atas sana, Nak."
"Kenapa adik harus bersama Tuhan? Memangnya adik tidak mau bertemu dengan Langit, ya?"
"Adik ingin sekali bertemu dengan Langit, tapi adik tidak bisa." Shelomitha kembali memeluk anaknya.
"Dengar Langit, lain kali Langit pasti akan bisa memiliki adik lagi, tapi Langit harus selalu menjaga mami. Okay!"
"Iya, Om, aku tidak pernah nakal, tapi papi yang selalu nakal membuat mami menangis," terang Langit polos.
__ADS_1
Shelomitha menghapus air matanya. Dia mengalihkan wajahnya dari Addrian.
"She, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kamu sampai bisa keguguran? Tadi Langit bilang ada papinya di rumah, tapi kenapa sewaktu kamu kesakitan dia tidak ada?"
"Aku sudah putuskan akan meninggalkan Dewa. Benar apa kata kamu, cinta ini akan perlahan membunuhku, seperti dia membunuh bayiku." Shelomitha menangis tanpa melihat ke arah Addrian.
Addrian agak terkejut mendengar apa yang She katakan.
"She, apa yang terjadi denganmu hari ini karena Dewa? Keterlaluan sekali dia." Tangan Addrian mengepal erat menahan amarahnya.
"Aku akan membawa Langit kembali ke London dan tinggal di sana. Aku akan bisa hidup tanpa Dewa. Addrian aku minta maaf sama kamu dan Aira, mungkin ini adalah hukuman yang harus aku terima karena waktu itu aku ingin beberapa kali melenyapkan Aira yang sedang mengandung dan sekarang aku harus kehilangan bayiku." She kembali menangis lagi.
Addrian mengusap pundak Shelomitha perlahan. "Sudahlah, aku sama sekali tidak pernah terbesit hal seperti itu."
Tidak lama kedua orang tua Dewa datang ke sana. Mereka ternyata mengetahui keadaan Mitha dari Aira. Aira menghubungi mereka agar ke rumah sakit karena Aira tau Mitha di sini tidak ada keluarga dekat
"Mitha, apa yang terjadi sampai kau bisa keguguran?"
"Mama." Mitha menangis sambil memeluk mamanya Dewa.
"Mitha, Langit mana?" tanya mamanya. "Bukannya dia hari ini pulang ke rumah, kan?"
"Aku tidak tau, Ma, tadi dia pergi lagi dari rumah."
"Malam-malam seperti ini? Dan dia tega meniggalkan anak dan istrinya." Raut wajah wanita yang telah melahirkan Dewa itu seketika marah.
"Aku sudah menghubungi Dewa, tapi tidak diangkat, Ma. Ke mana anak itu? Padahal dia baru saja pulang dari luar kota, tapi kenapa dia malah pergi lagi?"
Tidak lama Dewa datang ke ruangan Shelomitha di rawat. Addrian dapat mencium bau minuman pada tubuh Dewa.
"Kamu baru datang? Dan kamu bau minuman. Dasar pria sakit jiwa!"
Bruk
Tiba-tiba Addrian yang dari tadi marah dengan Dewa seketika memukul Dewa sampai pria itu tersungkur ke tanah. Kedua orang tua Dewa tampak terkejut.
__ADS_1
"Addrian, sudah! Kamu jangan bertengkar dengan Dewa!" seru Mitha.
"Kamu tau? Istri kamu sedang mengandung dan apa yang sudah kamu lakukan? Kamu sudah membunuh bayi dalam kandungannya."
"Apa?" Mama Dewa tampak marah. "Mitha, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Addrian berkata seperti itu?"
"Tidak ada apa-apa, Ma."
"Mitha! Katakan semuanya pada mama? Mama dan ayah Dewa ingin tau."
"Tante tanya sendiri pada putra Tante ini apa yang sudah dia lakukan apa istrinya dan anak dalam kandungannya."
Wanita cantik itu berjalan menuju Dewa yang sudah bangun dengan perlahan melihat pada Addrian.
"Dewa, apa yang terjadi sampai Mitha keguguran? Jawab mama, Dewa?"
"Aku tidak melakukan apa-apa, Ma. Aku hanya marah karena Mitha pernah berusaha melukai Aira, padahal Aira sedang hamil."
"Apa?"
"Aku juga tidak yakin jika anak yang dikandung Mitha adalah anakku karena aku sendiri jarang pulang."
"Dasar, pria pengecut!" Addrian sekali lagi dengan cepat menonjok wajah Dewa sampai Dewa terdorong ke belakang.
"Kamu jangan ikut campur urusanku, Brengsek! Kamu kenapa juga berada di sini?" Dewa gantian menonjok wajah Addrian.
Addrian yang tidak terima mau membalas dan akhirnya mereka terlibat saling mencengkeram baju masing-masing.
"Cukup! Hentikan kalian berdua!" teriak Mamanya Dewa.
"Aku tau kalau kamu ke sini karena anak yang dikandung Mitha adalah anakmu, kan? Bukannya kamu suka sekali bercinta dengan banyak gadis. Kamu suka merusak mereka, bahkan Aira orang yang akan menjadi istriku sudah menjadi korban kamu juga! Aku sampai kapanpun akan membenci kamu, Addrian!" Dewa berteriak marah tepat di depan wajah Addrian.
"Kamu benar-benar sakit jiwa. Aku dan Shelomitha tidak ada hubungan apa-apa. Dia hanya mencintaimu, tapi dia salah besar sudah mencintai pria berhati iblis seperti kamu. Kamu, tau? Aira sangat bahagia tidak jadi menikah dengan kamu. Dia mencintaiku," Addrian menekankan kata-katanya.
"Dia tidak pernah mencintaimu, dia hanya terpaksa karena dia sudah mengandung anakmu akibat perbuatan buruk kamu padanya."
__ADS_1
Addrian malah tersenyum miring seolah menghina Dewa. "Cih! Aku kasihan denganmu, Dewa. Kamu masih belum bisa menerima semuanya. Aira hanya milikku dan aku tidak akan membiarkan kamu mendekatinya lagi. Dia tidak pernah memikirkan kamu lagi karena hati dan pikirannya hanya untukku. Camkan itu!"