
Aira masih menunggu penjelasan suaminya.
"Sayang, apa di depan itu hadiah dari Daddy?"
"Mas, aku masih menunggu penjelasan dari kamu." Kedua mata Aira sekarang melihat pada rantang makanan di atas meja. "Itu juga tempat makan milik siapa?" Sekarang kedua alis Aira mengkerut.
"Sayang, aku nanti akan jelaskan tentang kejadian hari ini, tapi biarkan aku mandi dan berganti baju dulu. Bau parfum ini juga aku tidak menyukainya, dan apa kamu sudah makan? Kalau belum kita makan ini saja." Addrian menunjukkan rantang yang menjadi pertanyaan Aira.
"Ya sudah! Mas Mandi saja dulu, dan aku akan menyiapkan baju ganti untuk Mas."
Addrian menggandeng tangan istrinya, tapi Aira malah melepaskan gandengan tangan suaminya.
"Sayang, jangan marah dulu. Aku nanti pasti menjelaskan."
"Nanti saja bergandengan tangan kalau Mas sudah menjelaskan."
Aira berjalan lebih dulu masuk ke dalam kamarnya. Addrian berdiri di tempatnya dan mengusap kasar wajahnya.
Di dalam kamar mereka berdua tampak saling diam. Addrian yang ingin membuka mulutnya mengurungkan niatnya karena melihat wajah mengkerut istrinya.
Selesai mandi dan berganti baju dia mengajak Aira duduk di atas tempat tidur dan dia berbaring di pangkuan istrinya.
"Mas, aku tidak mau bermesraan sama kamu, aku mau penjelasan darimu. Sebelum kamu bisa menjelaskan aku tidak akan mau tidur di satu kamar denganmu." Aira bersidekap.
"Kenapa kejam sekali begitu? Aku akan menjelaskan, tapi cium aku dulu."
"Tidak mau!" Aira memalingkan wajahnya.
"Kalau tidak mau, aku tidak mau menjelaskan." Addrian ini tidak mau membuat Aira terlalu tegang dan serius. Dia ingin agar suasana lebih nyaman selalu bagi Aira karena sebelumnya, istrinya itu selalu mengatakan jika dia selalu memikirkan akan proses persalinan. Aira takut dia tidak akan kuat mengejan, tapi dia tidak mau operasi. Addrian pun selalu membuat agar istrinya selalu bahagia tidak terlalu memikirkan hari mendekat persalinannya.
"Sayang, cium."
"Mas ini lupa kalau perutku sudah besar? Lalu, bagaimana aku bisa membungkuk mencium kamu."
"Ahahaha! Kenapa aku jadi bodoh begini?" Addrian bangkit dari pangkuan istrinya dan mengecup lembut bibir istrinya.
Addrian kembali berbaring pada pangkuan istrinya. "Mas, jelaskan?"
__ADS_1
Addrian menceritakan apa yang terjadi dengan dirinya dan Citra tadi di kantor. Rantang itu juga adalah milik Citra.
"Apa? Jadi Citra yang membuat bekas bibir itu serta itu juga parfumnya? Kenapa bau parfumnya bukan yang dulu?"
"Parfum itu benaran milik Citra, Sayang. Bekas lipstik itu mungkin tadi tidak sengaja menempel pada bajuku saat aku menggendongnya."
"Kenapa mesti Mas yang menggendong sih? Kenapa tidak orang lain?"
"Sayang, semua orang sudah pulang dan hanya ada penjaga di bawah. Tidak mungkin juga aku memanggil penjaga di bawah. Aku khawatir dengan keadaan Citra, kalau dia pingsan di sana juga aku yang susah."
"Menyebalkan!"
Addrian bangun dari tidurnya dan melihat heran pada istrinya.
"Sayang sebenarnya kamu itu kenapa sama Citra? Tidak mungkin hanya cemburu sama dia? Pasti ada yang kamu sembunyikan. Kalau cuma dia suka atau mengagumiku aku tidak terkejut. Asal dia tidak sampai menggodaku, dan memang dia tidak pernah menggodaku, malah lebih cenderung ke arah bersikap baik."
"Sudah dibilang aku cemburu. Pokoknya aku tidak suka siapapun mencoba mencari perhatian suamiku dengan cara apapun."
"Kamu itu terlalu cemburu, tapi aku suka. Percayalah, Addrian ini hanya milik kamu. Sekarang boleh peluk tidak?"
"Tidak boleh!" Aira turun dari atas tempat tidur perlahan-lahan dan berjalan menuju pintu keluar.
"Mau memberikan rantang makan siang itu untuk seseorang."
"Kenapa diberikan orang lain?"
Aira yang sudah berada di depan pintu kamar kembali menoleh pada suaminya. "Kenapa? Tidak rela kalau masakan buatan Citra aku berikan pada orang lain?" Wajah Aira tampak sangar.
"Terserah kamu saja, aku hanya berusaha menghargai."
"Aku juga menghargai, makannya tidak aku buang, tapi aku berikan pada orang lain."
Aira berjalan keluar dan menutup pintu kamarnya.
"Huft! Wanita cantik pun jika sedang tidak enak hati wajahnya bisa seram juga," Addrian berdialog sendiri.
Aira keluar dari rumah dan mengambil rantang makanan milik Citra. Dia menggantinya di kotak makan lainnya. Aira kemudian berjalan keluar agak sedikit jauh dari rumahnya.
__ADS_1
"Nadin!" Aira memanggil bocah yang sering sekali main di rumah temannya yang tinggal beberapa blok dari rumahnya.
"Tante Aira, ada apa?"
"Nadin mau tidak kalau Tante berikan makanan?"
"Tentu saja mau."
"Ini buat Nadin dan ibu di rumah. Nadin habiskan ya, makanannya enak." Aira memberikan kotak makanan untuk Nadin.
"Wah ...! Kelihatannya enak sekali. Ini untuk Nadin semua?"
"Iya, ini untuk kamu."
"Terima kasih, Tante Aira. Kalau begitu Nadin pulang dulu."
"Kamu hati-hati, jangan berlari kalau pulang!" seru Aira melihat gadis kecil itu berlari kecil menuju daerah rumahnya.
Aira kembali berjalan pulang sambil menikmati suasana sore hari. Sampai di rumah dia melihat suaminya sedang berdiri melihat mobil sport hitam hadiah dari daddynya.
"Mas, hadiah dari Daddy bagus dan mahal sekali. Daddy juga membelikan aku bantal ibu hamil serta sofa khusus untuk aku nanti menyusui."
"Iya, Daddy masih ingat jika mobil sport ini adalah mobil idamanku dan saat aku memiliki uang dan ingin membelinya, tapi katanya sudah tidak ada. Mungkin Tuhan ingin aku tidak memilikinya dan akhirnya aku memutuskan untuk membeli rumah saja karena tidak selamanya aku memikirkan tentang gaya hidup dan bersenang-senang dalam hidupku. Aku juga harus memikirkan tentang masa depanku."
"Daddy sepertinya orang yang membeli salah satu mobil favoritmu itu dan menyimpannya untuk hari ini diberikan sama kamu."
"Iya, Daddy tau sekali cara melakukan suatu kejutan yang tidak terduga, tapi aku sudah tidak terlalu menginginkan mobil ini. Mobil ini akan aku simpan untuk putraku yang ada di dalam kandunganmu. Kelak jika dia sudah lahir. Ini adalah hadiah pertama yang akan aku berikan untuknya. Hadiah dari kakeknya untukku dan akan aku turunkan untuknya."
"Hm! Semoga dia tidak menjadi anak yang sombong karena limpahan kemewahan yang pasti nenek dan kakeknya berikan. Jujur ya, Mas. Aku tidak suka anakku diberikan hadiah yang serba mahal seperti apa yang nanti kamu berikan. Aku lebih senang dia menjadi seorang yang sederhana."
Addrian memeluk istrinya. "Dia pasti menjadi seorang pria yang bisa dibanggakan karena memiliki seorang mama seperti kamu."
"Dan orang yang berani bertanggung jawab seperti kamu, Mas." Mereka berdua tersenyum di sana.
"Dia harus menjadi pria yang baik."
"Mas, aku sudah lapar, ayo kita makan sekarang. Aku sudah membuatkan makanan kesukaan kamu."
__ADS_1
"Iya, aku sudah lapar sekali, tadi makan dengan klien aku hanya makan sedikit karena tidak terlalu suka dengan makanan di sana. Aku sudah terbiasa makan masakan kamu."