
Aira masih menyadarkan dirinya melihat siapa yang ada di depan pintu rumahnya, dia tidak menyangka jika orang yang tidak dia harapkan sama sekali kedatangannya berada di depan pintu rumahnya.
"Hai, Aira, apa kabar?"
"Mas Dewa, ada apa ke sini?"
"Aku kangen sama kamu, aku dan Mitha sudah berpisah dan aku ingin kamu bisa kembali denganku, Aira."
"Mas Dewa sudah gila ya bicara seperti itu? Aku ini istri mas Addrian dan aku juga sudah memiliki anak dengan mas Addrian." Aira tampak kesal.
"Anak itu bisa ada dikandungan kamu karena perbuatan busuk Addrian, dan aku tau kamu tidak pernah menginginkan anak itu sebelumnya."
"Mas Dewa benar-benar sakit, anak itu adalah anakku dan Mas Addrian. Aku sangat mencintai anakku. Mas Dewa sebaiknya pergi saja dari sini karena kita sudah tidak memiliki urusan apa-apa lagi."
Aira yang akan menutup pintu ditahan dengan kuat oleh Dewa. Aira tampak terkejut melihat sikap Dewa.
"Aira, aku tau kamu masih mencintaku, tapi kamu kasihan pada Mitha, sekarang Mitha sudah pergi dan tidak akan mengganggu kita lagi. Aira, kembalilah padaku karena kita sebenarnya adalah pasangan yang sangat cocok."
"Mas Dewa sakit! Aku awalnya kasihan melihat sikap Mas Dewa yang tidak bisa melupakan aku, tapi aku sekarang malah membenci sikap Mas Dewa ini. Sebaiknya Mas Dewa pergi dan jangan menggangguku lagi karena aku sudah bahagia hidup bersama dengan Mas Addrian."
Dewa malah masuk ke dalam rumah, dan hal itu tentu saja membuat Aira takut. Aira mencoba menenangkan dirinya dan mencoba berbicara lembut dengan Dewa karena dia melihat Dewa seolah berbeda dengan Dewa yang dia kenal.
"Aira, aku mencintaimu. Tinggalkan si brengsek itu karena dia tidak akan menjadi suami yang baik untuk kamu."
"Mas Dewa, dengarkan aku. Aku mohon agar Mas Dewa melupakan aku karena aku sekarang sudah memiliki keluarga yang bahagia. Mas Addrian juga bukan Addrian yang dulu. Di sangat mencintaiku dan setia denganku dan aku harap Mas Dewa bisa menerima semua ini. Hidup Mas Dewa harus terus berjalan walaupun tanpa aku. Aku yakin jika Mas Dewa akan bisa melakukan hal itu. "
"Tidak, aku tidak bisa melakukannya, aku hanya ingin kamu bersamaku. Tinggalkan si brengsek dan anaknya itu, maka kamu akan bisa bahagia denganku."
"Mas Dewa, tolong pergi dari sini."
"Mama Aira, adik Andrei menangis," suara gadis kecil itu memanggil Aira.
"Nadin, tolong ajak main adik sebentar, nanti mama Aira ke sana, ya?"
__ADS_1
Nadin mengangguk, dia melihat pada Aira dan Dewa. Aira sekali lagi meminta agar Dewa pergi dari sana, tapi Dewa tiba-tiba membungkam mulut Aira. Nadin yang melihat hal itu terkejut dia berlari ke arah Aira, tapi Dewa malah menendangnyan sampai Nadin tersungkur.
"Mama Aira...!" teriak Nadin keras, tapi Aira ternyata sudah pingsan karena diberi obat bius hidungnya oleh Dewa. Dewa menggendong Aira masuk ke dalam mobil dengan mudah karena di sana juga kebetulan sepi. Nadin berteriak sekali lagi memanggil Aira, tapi dia tidak berani mengejar keluar karena adik bayiny juga menangis, dia takut adikna kenapa-napa.
Nadin kecil kembali ke dalam rumah dan mengambilkan susu yang ada di frezzer. Dia tau bagaimana cara menghangatkanny karena pernah melihat Aira melakukannya.
Nadin mengajak Andrei bermain sambil dia mencari nama Addrian pada ponsel Aira yang ada di sana.
"Ini nama ayah Addrian."
"Halo, Sayang, ada apa? Sudah tidak sabar menunggu nanti malam," cerocos Addrian yang tidak tau siapa yang sedang bicara dengannya.
"Ayah Addrian, ini Nadin."
"Nadin, ada apa kamu menghubungi ayah? Mama Aira mana? Dan kenapa Andrei menangis?" Addrian mendengar suara tangisan Andrei.
"Ayah Addrian, tolong mama Aira, dia di bawa pergi sama seorang pria. Nadin tadi mau menolong, tapi dia menendang Nadin."
"Nadin serius Ayah Addrian. Adik bayi menangis, dan Nadin sedang menghangatkan susunya. Ayah Addrian cepat pulang karena Nadin takut sendirian."
"Iya, Sayang. Nadin tutup pintunya dan kunci sampai ayah Addrian pulang ke rumah."
"Iya Ayah."
"Ada apa, Bro?"
"Rico, kamu ikut ke rumahku. Kata Nadin Aira dibawa oleh seorang pria dan dia menendang Nadin yang ingin menolong Aira."
"Oh Tuhan! Siapa yang tega melakkukan hal itu?"
"Aku tidak tau, sekarang kite ke rumahku saja untuk melihat Nadin dan Andrei. Mereka bicara sambil berjalan menuju mobil Addrian. Rico yang ternyata sedang kebetulan mampir ke kantor Addrian setelah mengantar istrinya untuk bekerja. Dia niatnya mau mengajak Addrian untuk bisnis bersama membuka bengkel seperti cita-cita mereka berdua dulu, malah terkejut mendengar apa yang terjadi pada keluarga sahabatnya itu.
Beberapa menit kemudian mereka sampai di rumah Addrian. Addrian memanggil nama Nadin dan gadis itu melihat dari balik jendela jika ayahnya sudah datang.
__ADS_1
"Ayah Addrian, aku takut!" Nadin memeluk Addrian yang duduk berjongkok.
"Nadin tidak apa-apa, kan?"
Nadin menggeleng. "Hanya punggung Nadin sakit karena membentur lemari kayu itu."
Addrian membuka bagian belakang baju Nadin dan dia melihat ada memar di sana. "Brengsek! Siapa yang melakukan hal ini?"
"Adik Andrei sudah tidur lagi setelah Nadin berikan susunya, Ayah Addrian."
Addrian menggendong Nadin dan masuk ke dalam rumah untuk melihat Andrei yang tidur di kasur bayi yang ada di bawah.
"Addrian, apa kita lapor polisi saja agar melacak kasus ini dan mencari di mana Aira?"
"Pria itu dari tadi aku dengar dari dalam bicara dengan mama Aira. Mama Aira menyuruhnya pergi, tapi pria itu tidak mau."
"Kamu tau wajah pria itu?"
Nadin mengangguk. "Dia tampan dan kulitnya putih. Mama Aira memanggilnya Mas Dewa."
"Apa? Dewa? Brengsek! Aku habisi dia kalau sampai berani menyentuh istriku." Addrian tampak sangat marah.
"Addrian, kamu mau ke mana?"
"Aku akan pergi ke rumah si brengsek itu. Aku akan buat dia menyesal berani mengganggu rumah tanggaku bahkan melukai putriku."
Tangan Rico menahan tangan Addrian yang akan pergi dari sana. "Bro, pikirkan dulu kedua anakmu ini, aku akan ikut denganmu mencari Aira, lagi pula apa kamu yakin jika Dewa akan membawa Aira ke tempat yang sudah pasti kamu ketahui?"
"Apa maksud kamu?"
"Dia itu menculik istrimu, bukan mau mengajak istrimu berkunjung ke rumahnya. Aku yakin dia akan menyembunyikan istrimu di suatu tempat."
Addrian terdiam sejenak dan dia kemudian mencoba menghubungi Bundanya untuk meminta tolong menitipkan kedua anaknya. Addrian menceritakan apa yang terjadi pada bunda Itta. Wanita di seberang telepon itu sangat terkejut dan dia akan segera meminta tolong pada Kenzo untuk mengantarkan ke rumah Addrian.
__ADS_1