
Selama satu minggu berikutnya, Sandy membuktikan perkataannya. Dia merawat Reva dengan telaten.
Walaupun Reva awalnya malu. Malu karena Sandy tidak ragu-ragu mengantarnya ke toilet. Dan menunggui sampai Reva selesai.
"Mas....aku bisa kok sendiri." tolaknya saat pertama kali ingin ke toilet setelah ditinggal berduaan saja.
"Bisa apanya ? Lha wong kamu keiket sama infus gitu kok !" balas Sandy.
Reva memerah. Selama ini dia minta bantuan suster. Dan walaupun ada Steven, dia tetap meminta bantuan suster. Tapi kali ini...
"Ayok." kata Sandy.
Reva masih bergeming.
"Ck..." Sandy berdecak.
"Va..aku kan udah liat kamu polos kayak bayi baru lahir. Udahlah...gak usah ngerasa malu. Lagian...nanti juga aku bakal sering liat kamu.. malah...bukan cuma liat ! Sekarang aku liat atau nanti apa bedanya ?" desak Sandy .
Reva merah padam. Tapi akhirnya dia bergerak juga. Sandy memondongnya sementara dia memegang infus. Lalu dengan hati-hati Sandy mendudukkan Reva di toilet. Infusnya digantung di sangkutan infus.
Setelah puas melihat Reva duduk nyaman, Sandy lalu keluar.
"Panggil kalo udah selesai." katanya.
Reva mengangguk. Saat Sandy sudah di luar, dia menghela nafas panjang. Suaminya perhatian sekali rupanya.
Baiklah. Toh sudah halal.
Senyum Reva mengembang.
Mas Sandy... suaminya sekarang.
Suami...
Entah mengapa...kata suami menjadi lebih romantis di benak Reva.
...π³πΌπΊ...
Sementara di kamar Mami Papi....
Kening Mami berkerut. Matanya menerawang menatap kota Beijing dari jendela kamar hotelnya.
Papi yang tadinya tidak mengambil perhatian akhirnya menengok juga.
"Mi !" panggil nya.
Mami diam. Dia tidak mendengar panggilan Papi.
"Mi !!"panggil Papi lebih keras.
Mami menoleh terkejut.
"Eh... Apaan sih Pi ?! Ngagetin aja !!" omelnya.
"Mami juga !! Ngapain ngelamun ?!" Papi jadi ikut mengomel karena marah diomeli oleh Mami.
Mami menarik nafas panjang.
"Sandy, Pi.." katanya.
Papi mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Kenapa Sandy ?"
"Sandy..... Kok dia ngasih perusahaan ke Reva..."
"Lho... kenapa emangnya ? Mereka semua juga begitu. Michael, Robert... mereka naro nama istri mereka di kepemilikan perusahaan."
Mami cemberut.
"Kenapa ?" tanya Papi melihat Mami yang masih cemberut.
"Papi nih gimana sih ?!"
"Gimana...apanya ?!" tanya Papi lagi dengan tidak sabar.
"Kalo Michael sama Tia. Kan kita semua bisa liat. Mereka berdua saling mencintai.
Kalo Robert.... Biliyan kan kakaknya Michael. Jadi mereka emang saudara deket. Laahh...kalo Sandy sama Reva ?"
"Kenapa Sandy sama Reva?"
"Papi nih gimana sih ?! Gak liat kemarin ?! Jelas-jelas Reva sama Steven itu ada apa-apanya !!"
Kerut di kening Papi makin dalam. Dia mengingat -ingat situasi kemarin, lalu menggeleng.
"Steven iya. Tapi Reva enggak. Keliatan kok dia gak nyaman waktu Steven disana."
Mami mengerucutkan bibirnya.
"Ya pastilah dia gak nyaman ! Kepergok ! Ada banyak orang di sana. Mereka semua ngeliat mereka berdua. Jangan - jangan dia player Pi ! Two timer ! Pasang dua ! Lumayan kan.. dua-duanya kaya. Pengusaha sukses. Masih muda. Ganteng. Eh...lebih ganteng anak Mami !" kata Mami menggerutu.
"Mami hati-hati kalo ngomong !" kata Papi mengingatkan.
"Lho..Mami ngomong kenyataan kok.!" sembur Mami.
"Jadi Mami gak suka sama mahar yang dikasih Sandy ?"
Mami tidak menjawab. Bibirnya cemberut.
"Ya enggak !! Gimana kalo mereka cerai ? apa gak bangkrut anak kita ?!" katanya kemudian.
"Lho....lho...Mami kok ngomong gitu ?! Mereka baru kawin lho. jangan ngomong yang enggak-enggak !"
"Mami gak akan ngomong gitu kalo gak ada kejadian kayak kemarin. Kalo ceweknya baik-baik aja. Gak ada hubungan sama cowok lain sih...ya gak papa. Tapi...?! Liat aja kemarin ?! mereka berdua gak punya malu ! Liat-liatan di depan semua orang ! Padahal Reva baru aja dinikahin !"
Papi menarik nafas dalam.
Kejadian kemarin memang membuat mereka malu pada orang-orang. Tapi karena Papa Reva sudah meminta maaf, Papi tidak ingin memperpanjang masalah.
Tapi kelihatannya Mami tidak begitu.
Dan satu lagi yang membuat Mami keberatan adalah balik nama kepemilikan saham Sandy pada Reva.
Itu memang beresiko.
Tapi Papi melihat Reva tulus.
Kemarin Reva bahkan sempat mempertanyakan keyakinan Sandy saat diminta untuk menandatangani surat pengalihan kepemilikan.
Dan yang paling penting bagi Papi adalah melihat Sandy lega dan bahagia.
Lega...sudah terangkat bebannya sejak Minggu lalu. Dimana mereka nyaris tidak bisa menikah karena Reva hilang tanpa jejak. Beruntung anak buah Steven mau bekerja sama.
__ADS_1
Sandy akhirnya berunding dengan kedua keluarga dan Michael serta Robert. Mereka semua akhirnya tau bahwa Reva sedang dirawat. Pneumonia berat. Tidak mungkin membawa Reva pulang. Baik ke Taiwan maupun ke tanah air.
Akhirnya mereka semua memutuskan bahwa pernikahan akan tetap diselenggarakan. Tapi tempatnya berubah.
Sandy berkeras agar dia bisa menikah sesuai dengan hari weton yang sudah dihitung.
Mereka menghubungi kedutaan Indonesia di Beijing, meminta ijin khusus agar bisa menikah dan dicatat secara resmi. Mereka juga menghubungi kedutaan China untuk visa kunjungan rombongan keluarga.
Semuanya dilakukan dengan cepat dan diam-diam.
Reva tidak diberitahu apalagi Steven. Bisa-bisa Reva menghilang lagi.
Ini yang paling dikhawatirkan Sandy. Reva kembali dibawa pergi.
Mereka sudah seperti memburu pelarian. Semua dilakukan dengan hati-hati.
Dua hari sebelum hari H, mereka sudah tiba di Beijing.
Sandy seperti cacing kepanasan. Dia tidak sabar untuk menemui Reva.
Rasa cemas, khawatir, resah, takut usahanya selama ini akan sia-sia cukup mempengaruhi mereka semua.
Padahal Michael, Robert dan teman-teman dari Methrob semua membantu.
Diam-diam Reva diamati dan dijaga. Mereka bergantian mengawasi kamar Reva.
Dengan hati-hati agar tidak ketauan oleh Steven.
Michael, Robert dan Sandy juga bekerja sama menciptakan kode-kode agar pekerjaan Steven berantakan. Sehingga Steven tidak sempat menunggui Reva.
Dan Mike diminta untuk menyisipkan nya ke klien mereka.
Ini seperti perang antara ketiga sahabat ini melawan Steven.
Papi yang menyaksikan sendiri sampai geleng-geleng kepala.
Tapi semua terbayar lunas.
Sandy akhirnya berhasil menikahi Reva. Melakukan ijab kabul di rumah sakit.
Wajah Sandy yang bahagia. Senyum yang tidak lepas dari bibirnya, itu yang diingat oleh Papi.
Papi pun ikut bahagia. Bahagia saat akhirnya anaknya mendapatkan apa yang diidamkannya.
Papi menoleh pada Mami.
"Mi..." katanya.
Mami melirik Papi.
"Sandy sudah dewasa. Dia sudah sukses dan sekarang sudah menikah. Sudah waktunya kita melepas dia. Biarkan dia mengurus dirinya sendiri. Mami jangan ikut campur urusan rumah tangga mereka. Mereka sudah menikah. Biarkan mereka saling mengenal. Biarkan mereka saling berinteraksi
Masa lalu gak perlu kita ungkit-ungkit. Jangan sampai kita merusak hubungan mereka. Jangan sampai gara-gara kita mereka jadi bertengkar, gak harmonis dan akhirnya menciptakan neraka di dalam rumah.
Pernikahan itu disaksikan Tuhan. Kalo mereka sekarang menikah, artinya mereka berjodoh. Dan jodoh itu bukan kita, manusia yang atur. Tapi Tuhan...
Kita doakan mereka langgeng, bahagia dunia akhirat, diberi anak-anak yang sehat dan cerdas. Yang nantinya juga akan membuat kita, orang tuanya ikut bahagia.
Sudahlah...Mami gak usah mikir yang lain-lain. Doakan saja Sandy. Semoga dia bahagia bersama Reva." kata Papi panjang lebar.
Mami pun diam.
__ADS_1
...πΊπΌπ³...