Kamu Milikku

Kamu Milikku
Latihan


__ADS_3

Sandy menemani Reva ke tempat latihan.


Di sana dia berkenalan dengan para anggota SHE.


"Halo.." sapanya ramah.


Para anggota SHE saling berpandangan.


"Bawa pengawal baru, Va ?" ledek Selina.


Reva memerah.


"Eh...ee...ini...ini Om ku." jawabnya gugup.


Dia menatap Sandy dengan tatapan penuh peringatan.


Sandy balas menatapnya marah.


"Om kamu ?" tanya Jasmine mengamati.


"Ehm...hmm..." Reva tidak berani menjawab.


"Mirip...ehmm..mirip siapa ya ?" tanya Selina lagi.


"Aku tau.


Pacarnya Cindy Tan kan ?" tebak Mini.


Sandy tersenyum lalu menggeleng.


"Udah enggak. Udah lama.


Berarti kamu gak ngikutin berita." katanya.


"Masa sih ?


Kayaknya baru kemarin dia bilang... balikan lagi sama pacarnya... Sandy.


Kamu Sandy kan ?" kata Mini.


Reva melirik Sandy.


"Enggak." jawab Sandy pendek.


"Wah..lagi kosong dong ?" tembak Esse.


Sandy menggeleng.


"Aku udah punya tunangan."


"Tunangan ?


Yaaah...." jawab mereka serempak dengan nada kecewa.


"Va..padahal Om kamu, ganteng banget lho.." kata Mini.


Reva tersenyum.


Masih gugup saat dia menjawab, " Iya..."


"Yuk mulai.


Biar cepat beres.


Aku besok ada ujian." ajaknya.


Sandy lalu duduk di bangku.


Reva menghampiri.


"Om.. ngapain di sini ?


Gak usah nungguin disini." katanya.


Sandy melipat tangannya.


Wajahnya mendongak. Menantang Reva.


"Gak papa, Va.


Biar Om kamu bisa liat kekurangan kita kalo ada." kata Selina dari balik mike yang sedang dipegangnya.


Mereka lalu mengambil tempat masing-masing.


Reva duduk di belakang set drum nya.


Jarinya memutar stik lalu memulai ketukan bass.


Mereka mulai.


Tapi Reva sedang tidak bisa konsentrasi.


Pikirannya terbelah.


Beberapa kali dia salah mengambil ketukan.


Atau salah menggebuk snare.


Harusnya ketukan ringan di sisi dia malah menggebuk tengah.


Ketukannya yang kacau membuat mereka semua menghentikan lagu lalu kembali memulai.


Beberapa kali seperti itu, Selina memutuskan untuk berhenti.


"Kamu kenapa, Va ?" tanya Mini.


Reva memerah. Malu.


Semua orang memandang nya termasuk Sandy.


Dia berdeham.


"Hm..aku gak bisa konsentrasi.


Maaf.


Mungkin...ehm..mungkin karena besok aku ada ujian."


"Ya udah kita berenti aja dulu.


Besok latihan lagi.


Kita juga perlu sinkronisasi gerakan." kata Selina.


Reva berdiri.


Mereka keluar dari studio.


"Kalian udah makan ?" tanya Sandy di parkiran.


"Belum.


Biasanya abis latihan baru makan." jawab Mini.

__ADS_1


"Oo.. kalo gitu ayo kita makan." ajak Sandy.


"Biasanya dimana ?"


"Deket kampus." jawab Esse.


"Kalo gitu ikut aku di belakang.


Aku traktir kalian semua." kata Sandy.


"Ayo, Va !" ajak Sandy menggandeng jemari Reva.


"Eh..iya, Om."


Reva menoleh pada teman-teman nya sebentar dengan muka merah.


Selina, Esse, Jasmine dan Mini yang melihat saling berpandangan.


Mungkin orang Indonesia sudah biasa bergandengan tangan antara Om dan keponakannya.


Selina mengangkat bahu.


Mereka masuk mobil lalu mengikuti mobil Sandy.


Di restoran.


"Eh, Va..."


"Apa ?"


"Om kamu gak papa tuh ?"


"Gak papa gimana ?"


"Itu....


Kamu kayaknya habis adegan panas sama pacar kamu."


"Hah ?!"


"Tuh...liat..


Ada bekas kiss mark di leher." tunjuk Mini.


"Hah ?!


Masa ?!"


Reva mengelus lehernya.


"Dimana ?" tanyanya.


Esse menunjuk sambil cekikikan.


Astagaa.... Om !! kutuk Reva dalam hati.


Apalagi dia sedang memakai baju dengan leher yang terbuka.


Sandy kembali dari kamar kecil.


Dilihatnya Reva sedang membelai lehernya sementara teman-temannya cekikikan.


"Ada apa ?" tanyanya tenang.


"Ah..enggak." elak Reva.


"Reva...kayaknya baru ehmm... mengalami.."


"Mini !!" jerit Reva.


Mereka semua tertawa.


"Masa ?" tanya Sandy tersenyum.


"Iya ..tuh.. lehernya..


Ada kiss mark..." kata Esse.


Reva menepuk dahinya lalu meletakkan kepalanya di meja.


Dia malu sekali.


"Ck...ck..ck... Reva ?!


Kamu diapain sama pacar kamu ?


Nakal kamu ya...." decak Sandy santai.


Reva mengangkat kepala nya.


Matanya memelototi Sandy.


"Oom !!" katanya memperingatkan.


"Pantes dari tadi gak konsen.


Masih kebayang-bayang adegan panasnya ya, Va ?" tanya Esse cekikikan.


Reva tidak menjawab.


Dia melotot pada Sandy yang tertawa lebar sambil berusaha untuk menaikkan kerah bajunya.


Perbuatan yang sia-sia.


Jam sebelas malam, mereka semua pulang.


Besok hari Sabtu mereka akan latihan lagi.


Tanggal launching sudah dekat.


Walaupun hanya tiga lagu, tapi mereka ingin semua sempurna.


Sedikit sekali grup band yang anggotanya benar-benar memainkan musik.


Sandy mengantarkan Reva ke apartemennya lalu langsung pulang.


Reva menghembuskan nafas lega.


Dia perlu waktu untuk mengadaptasi perubahan mendadak ini.


Tiba-tiba tunangan ?


...☘️🍓🌴...


Hari Sabtu.


Sandy berkeras untuk mengantarkan Reva dan Esse ke kantor Maxx Entertainment untuk latihan.


Reva sudah lebih tenang sekarang.


Dia mengobrol santai dengan Sandy dan Esse sepanjang perjalanan.


Kissmark nya masih ada.

__ADS_1


Dia memakai kemeja kerah tinggi yang dikancing.


Dipadu dengan rok pendek dan stoking panjang warna hitam.


"Malu ?" begitu komentar Sandy saat melihat baju Reva.


"Ihh...Om !


Gara-gara Om nih." jawab Reva sebal.


"Pake parfum apa nih ?


Kok bau strawberry ?" tanya Sandy mulai melajukan mobilnya.


"Bukan parfum, Om.


Lip balm."


Sandy melirik sejenak lalu mendadak meminggirkan mobilnya masuk ke parkiran toko.


"Eh... mau ngapain, Om ?" tanya Reva bingung.


Sandy melepas seat belt nya.


Dia mencondongkan tubuhnya ke arah Reva


Menarik lehernya mendekat.


"Aku jadi pingin nyobain strawberry." katanya sebelum mencium bibir Reva.


"Eh..Om... hhmmph.. hmmmpph.."


"Buka, Va." bisiknya di bibir Reva.


"Hah ?!"


Segera setelah kata itu terucap, lidah Sandy sudah masuk.


Menjelajah sudut mulut Reva.


"Hmmmph..Om !!


Aku gak bisa nafas !" Reva mendorong Sandy.


Sandy menghentikan ciumannya.


Dia terkekeh.


"Steven gak ngajarin ?" katanya kembali duduk dan memasang seatbelt-nya.


Reva menatap bingung.


"Ngajarin nafas." sambung Sandy.


"Hah ?!


Ngapain ngajarin nafas ?"


"Bagus!


Nanti aku yang ngajarin." kata Sandy.


"Om !!"


"Hmm...


Aku pingin istriku menyambutku sama bergairahnya seperti aku.


Jadi..kamu perlu di tentir intensif."


"Astaga..."


Reva menghadapkan badannya sedikit pada Sandy.


"Om...


Om masih punya kesempatan untuk nyari yang bisa sama bergairahnya pada Om.


Dan yang juga bisa bikin Om bergairah."


Reva diam sebentar.


Terlihat terkejut dengan omongannya sendiri.


"Aduh...ngomong apa sih aku ini ?" kata Reva menepuk dahinya.


Sandy tersenyum.


"Yang bisa bikin bergairah sih banyak, Va.


Tapi yang bisa bikin bergairah sekaligus membuat aku tenang, ya cuma kamu." katanya.


"Bukannya aku selalu bikin Om marah ?" tanya Reva.


"Marah ?


Iya...


Kalo kamu nolak jadi milikku."


"Om...itu namanya obsesi."


Sandy tertawa.


"Cinta karena obsesi..Obsesi karena cinta.


Bukannya hasilnya sama aja, Va ?"


"Om..kalo obsesi itu...kalo udah dapet..ya sudah..


puas."


"Ya...aku sih gak pernah selesai puas sama kamu, Va." jawab Sandy santai.


"Hah ?


Om..ih...kok nyeremin gitu sih ?"


"Lho..Va..suami itu harus gak pernah selesai puas sama istri nya.


Kalo enggak...bisa nyari yang baru !"


"Iya deh Om...


Om pinter banget sih.


Aku gak pernah menang kalo debat lawan Om."


Mobil berhenti di tepi jalan depan rumah Esse.


Esse sudah menunggu.


"Iya.. jangan debat, Va.

__ADS_1


Terima aja." kata Sandy.


...🌴🍓☘️...


__ADS_2