
Addrian diberitahu oleh salah satu penghuni perumahan di sana, jika Aira tadi ditabrak oleh seseorang yang terlihat mencurigakan dan dia hampir terjatuh jika tidak ditanggap oleh seseorang di sana.
Addrian segera mengambil kunci mobilnya dan membawa Nadin ke rumah sakit.
Addrian yang sampai di rumah sakit mencari keberadaan istrinya. Ternyata Aira mengalami kontraksi dan akan melahirkan.
"Dok, apa saya bisa menemui istriku?"
"Tentu saja kamu nanti bisa menemui istrimu. Dia akan segera melahirkan.
Addrian tampak terkejut mendengar hal itu. Dia kemudian menghubungi Mamanya dan mama mertuanya.
Addrian juga tidak lupa menyuruh suster di sana memeriksa dahi Nadin yang sempat mengeluarkan darah karena tetbentur.
Setelah menggunakan baju medisnya. Addrian diperbolehkan masuk ke dalam.
Dia melihat Aira yang terbaring di tempat tidur dan sedang merasakan sakit pada perutnya. Aira melihat ke arah Addrian dan tangannya menjulur ingin meraih suaminya.
"Sayang, aku di sini, kamu tenang saja karena aku tidak akan meninggalkan kamu sendirian." Addrian menggenggam tangan Aira dan mengecup kening istrinya.
"Sakit, Mas."
"Sayang, kamu harus kuat. Untuk bayi kita yang sebentar lagi kita akan bertemu dengannya."
Pembukaan Aira sudah lengkap. Dokter mulai menyuruh Aira mengejan dengan kuat. Addrian yang melihat benar-benar tidak tega melihatnya, tapi dia berusaha kuat agar istrinya juga memiliki semangat.
Keluarga dari Addrian dan Aira sudah menunggu di rumah sakit. Mereka juga tidak sabar menantikan kehadiran cucu pertama mereka.
"Aira kamu bisa, sayang." Addrian mencoba memberi semangat untuk istrinya. Tangan Aira menggenggam dengan erat tangan Addrian dan Aira mengejan dengan segala kemampuannya.
Tidak lama terdengar suara tangis bayi yang begitu kuat. Bayi berjenis kelamin laki-laki dengan berat tiga koma lima kilogram dan panjang lima puluh dua sentimeter itu lahir kedua dengan selamat.
"Bayinya tampan sekali," celetuk salah satu perawat di sana.
Addrian tampan speechless melihat putranya lahir ke dunia. Dia tidak dapat berkata apa-apa melihat bayi kecil dengan rambut hitam lebatnya itu menangis dengan kencang. Air mata Addrian pun keluar begitu saja.
"Bayiku," ucapnya lirih.
"Selamat ya, Pak, kamu sudah sah menjadi seorang ayah. Sekarang kamu adzani dulu putranya, supaya kelak dia menjadi pria yang baik dan bertanggung jawab."
Addrian sekali lagi merasa hal yang luar biasa, bahkan selama ini tidak pernah dia rasakan. Bayi kecil itu terdiam saat berada di dalam gendongan ayahnya.
Addrian mengucapkan suara adzan yang telah dia pelajari dari ayahnya tepat pada telinga bayi kecilnya.
__ADS_1
Bayi tampan itu tampak terdiam dan kedua matanya terbuka seolah dia sedang melihat pria yang adalah ayahnya.
Addrian mengecupi pelan wajah bayi kecilnya. Kemudian bayi itu diberikan pada dada Aira agar bisa menyusu secara alami pada ibunya.
Addrian tampak tersenyum bahagia. "Terima kasih sudah berjuang untuk melahirkan putra kecil yang sangat tampan ini untukku. Aku mencintaimu, Aira." Addrian sekali lagi mengecup kening istrinya.
Aira menangis memandangi putranya yang sedang menyusu padanya.
***
Aira sudah dipindahkan ke dalam kamar rawatnya. Di dalam sana kedua nenek baru itu sudah menghias begitu indah kamar untuk menyambut kelahiran sang bayi.
"Warna biru yang aku pilih bagus sekali ya, Manda?"
"Warna hitam yang aku pilihkan juga bagus. Dia itu cowok Tatiana. Jadi, lebih terlihat jantan kalau warna hitam."
"Hem! Warna biru juga terlihat cowok sekali."
"Kalian mau ribut terus masalah warna? Apa tidak mau meributkan sekalian untuk masalah nama. Kakakku itu payah sekali, masak sampai anaknya lahir dia belum dapat nama." Kenzo melihat ke arah Addrian.
"Aku bingung mau memberi nama si kecil siapa?"
"Aku paling saja AJ bagaimana?"
"Addrian Junior karena dia Junior kamu, atau KJ-- Kenzo Junior."
"Enak saja Kenzo junior." Addrian bicara dengan mengerucutkan bibirnya. "Memangnya dia anak kamu? Kalau mau punya anak cari seorang wanita yang bisa memberimu seorang anak."
"Hem! Aku, kan, anak baik-baik yang tidak suka menebar benih."
"Tidak perlu menyindir, aku sudah berubah seratus persen. Cintaku dan hidupku hanya untuk istri dan anakku sekarang."
"Iya percaya," ucap Kenzo santai sambil tangannya bersidekap.
Addrian melihat aneh pada Kenzo. "Kenapa seolah ucapan kamu tidak yakin begitu kalau aku sudah berubah?"
"Aku percaya. Ya, kan, Aira." Kenzo berkedip pada Aira.
"Jangan bermain mata dengan istriku, aku tidak suka." Addrian melemparkan bantal kecil tepat mengenai Kenzo.
Bunda dan kedua mama yang melihat tampak gemas melihat dua kakak adik yang tidak ingat umur itu.
Tidak lama seorang suster membawakan box bayi dengan ada bayi tampan milik Addrian dan Aira di dalamnya.
__ADS_1
"Cucu tampanku datang!" seru Amanda senang.
Dia yang akan menggendong dihalangi oleh Tatiana. "Tatiana berdalih jika dia dulu yang lebih berhak menggendong cucunya karena dia nenek tertua.
"Hem! Aku nenek tercantik. Jadi, aku lebih dulu yang menggedongnya."
Addrian yang melihatnya tampak khawatir dengan bayinya yang masih kecil.
"Mama! Jangan berebut, nanti bayiku menangis." Bayi itupun akhirnya menangis.
Dengan berat hati kedua nenek itu memberikan si bayi kepada mamanya agar diberi susu.
"Sudah aku bilang, kan? Nanti aku buatkan lagi Addrian kecil yang banyak. Jadi, mama mertua dan mamaku yang cantik tidak perlu berebut."
"Mas! Satu saja belum selesai, sudah memikirkan anak lagi. Kamu saja yang hamil," celetuk Aira dan semua di sana tertawa dengan senangnya.
Di sebuah tempat, terdengar suara alunan musik piano yang terdengar sangat beraturan, dan ada suara kecil menyanyi bersama-sama.
"Kalian hebat sekali. Bu Guru yakin jika kalian akan memenangkan lomba paduan suara ini."
"Ini semua karena Bu guru Riani yang memainkan pianonya dengan sangat bagus."
"Bu guru sangat senang kalian menjadi murid yang bersemangat dan sangat pintar. Ingat selalu! Kelak jangan menjadi orang yang gampang menyerah dan setelah sukses jangan tinggi hati."
"Tinggi hati itu apa sih, Bu Guru?"
"Tinggi hati itu sombong. Sombong sifat yang tidak baik dan harus dihindari. Sombong itu suka sekali menunjukkan apa yang kita punya secara berlebihan."
"Kamu tidak mau seperti itu."
"Kalian memang anak-anak yang pintar." Tangan Riani mengusap rambut gadis kecil yang sekarang berdiri di depan Riani.
"Ehem!" Tiba-tiba terdengar suara deheman seseorang dari arah belakang. Riani langsung menoleh dan dia terkejut melihat siapa yang ada di belakangnya.
"Arlan? Ada apa kamu di sini?"
"Aku disuruh oleh mamaku untuk menjemput kamu dan mengajakmu ke rumah sakit sekarang."
"Rumah sakit? Memangnya siapa yang sakit? Mama kamu?"
"Aira melahirkan hari ini dan mamaku ingin kamu ke sana juga."
"Oh Tuhan! Syukurlah kalau Aira sudah melahirkan. Apa mereka baik-baik saja?"
__ADS_1
"Mereka baik-baik saja. Ayo! Kita pergi sekarang."