Kamu Milikku

Kamu Milikku
Uring-uringan


__ADS_3

Steven uring-uringan.


Dua minggu ini dia bad mood saja.


Roger dan Sean kena getahnya.


Dia juga tak segan-segan membantah Michael.


Semua orang di kantor heran.


Sebab biasanya kalau sedang kesal hanya mulutnya yang mengeluarkan sindiran-sindiran tajam.


Tapi kali ini tidak.


Emosinya betul-betul naik.


Dia hampir saja berkelahi dengan Josh saat berdebat dengannya.


Bufet di ruangannya menjadi sasaran.


Sekarang bufet itu tak bisa lagi tertutup rapat.


Steven sendiri juga tidak tau ada apa dengan dirinya.


Kenapa dia jadi cepat marah begini.


Akhirnya dia melampiaskan emosinya ke samsak tinju di gym.


Setelahnya dia menyesal.


Tangan nya sakit sekali.


Di sasana jiu-jitsu, hanya Josh yang mau meladeni nya.


Yang lain malas.


Sebab Steven memakai emosinya.


Dan semua orang harus mengeluarkan seluruh tenaga mereka saat melawan nya.


Karena yang lain memakai tehnik sementara dia hanya ingin melampiaskan kekesalannya.


Tapi meskipun demikian, Josh tetap setia menemaninya kemana-mana.


Hari ini....


Mereka sedang latihan di sasana seperti biasa.


Michael, Robert, Josh dan teman-temannya sedang mengobrol.


Sementara Steven berlatih dengan Andrew.


Lagi-lagi Steven melampiaskan bad moodnya di sini yang membuat Andrew melayaninya dengan hati-hati.


Josh memperhatikan Steven dan Andrew sejenak. Lalu..


"Boss !


Gimana kalo Methrob bikin acara jalan-jalan ?


Udah lama nih semenjak Boss Robert nikah, kita gak pernah jalan-jalan lagi."


"Emang kalian mau ke mana ?" tanya Michael.


"Ke kota Madam Tia, Boss !" jawab Josh.


Bukkk..


Steven jatuh terlentang.


Semua menoleh.


Steven mengusap dagunya.


Tadi dia dan Andrew sedang berputar-putar mencari posisi.


Baru saja dia melayangkan tinjunya pada Andrew saat didengarnya Josh minta jalan-jalan.


Telinganya dipasang saat Michael bertanya hendak kemana.


Dia tidak sempat mengelakkan tendangan Andrew saat mendengar jawaban Josh.


Pikirannya berkelana.


Steven bangkit.


Dia melirik Josh yang cengar-cengir.


Steven melotot.


Sampai hari ini, Steven masih belum mengakui bahwa dia mempunyai rasa terhadap Reva.


Dia memang mengakui bahwa dia senang berada di dekat gadis itu dan memberinya perhatian lebih dibandingkan pada gadis lain.


itu karena...ya..karena...Reva merupakan sedikit gadis yang bisa memahami pembicaraan nya.


Reva mampu memberikan pandangan-pandangan yang logis terhadap hal-hal yang dia ceritakan.


Reva juga mampu mendebatnya.


Tidak banyak orang yang mampu melakukannya.


Jadi dia merasa kehilangan teman bicara yang wajahnya bisa sekaligus dia nikmati.


Dia suka dengan ekspresi Reva, tarikan alisnya, senyumnya.


Suka menatap matanya yang memancarkan kecerdasan.


Satu minggu tidak melihat Reva dan minggu depannya Sandy mengambil cuti.


Keduanya ada di Indonesia.


Mood Steven langsung memburuk.


Dia tau Sandy.


Sebagai sesama laki-laki, dia memahami tatapan Sandy pada Reva.


Dan dia juga menyadari bahwa bila Sandy menikahi Reva, ketiga Bossnya akan menjadi saudara betulan.

__ADS_1


Sehingga pendekatan Sandy kelihatannya di dukung oleh kedua Boss nya.


Michael dan Robert.


Yang membuatnya selama ini santai, Reva menganggap Sandy sebagai pamannya.


Teman dari Om-Tantenya.


Dan Reva.. diam-diam mengagumi dirinya.


Point unggul untuk dirinya.


Tapi...


Mereka berdua sekarang sama-sama di Indonesia.


Siapa yang tau apa yang akan dilakukan Sandy untuk mendekati Reva dan keluarganya ?


Dan sekarang, mereka mau ke kota Reva ?


Steven melirik Josh.


Josh memang kawan sejati.


Brukkk...


Steven kembali terpelanting ke matras.


Tubuhnya dikunci oleh Andrew.


Tadi dia tidak melihat jegalan kaki Andrew.


Semua orang menatapnya.


Andrew menatapnya, mengira akan mendapat perlawanan.


Tapi tubuh Steven melemas. Menyerah.


Bibirnya tersenyum.


...⛰️🍎🎋...


Reva sedang menjolok mangga di depan rumahnya saat terdengar suara mobil diparkir di seberang rumah.


Dia hanya melirik sebentar lalu kembali berkonsentrasi menjolok mangga yang diincarnya.


Sudah biasa ada mobil parkir di rumah kosong di sebrang rumahnya. Itu memang sering dipakai oleh tamu-tamu keluarganya atau tetangga-tetangganya.


Sandy keluar dari mobil.


Tangannya bersedekap. Dia berdiri bersandar pada mobil. Menonton.


Bibirnya tersenyum.


Reva menjolok.


Dia melompat.


Meleset.


Terdengar suara tawa.


Ditertawakan orang.


Dia kembali melompat lebih tinggi.


Krass..


Suara tawa kembali terdengar.


Reva mengeryitkan kening.


Dia menoleh sebentar untuk melihat siapa yang menertawakan nya.


Tapi sinar matahari menyilaukan matanya.


Reva kembali melompat untuk menyelesaikan sabitan jolokannya.


Suara tawa kembali terdengar.


Krass..


Mangga jatuh menimpanya.


"Aduh !!" keluhnya saat mangga membentur keras pundaknya.


Dia melotot pada siapapun yang menertawakannya tadi dan mengganggu konsentrasinya sehingga tidak sempat melihat jatuhnya mangga.


"Sakit ?"


Reva menoleh.


Menangkup tangannya diatas mata untuk menahan sinar matahari.


Dia memicing.


"Om !!" Reva berseru kaget.


Sandy menghampiri sambil tersenyum lebar.


Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku.


Terlihat santai dibanding biasanya.


Senyum lebarnya nampak kekanakan.


Rambut ombaknya terbelah pinggir.


Jambul sebagian menutupi alisnya yang lebar.


Reva berkedip.


Lalu berkedip lagi.


Dia baru menyadari, om Sandy selain nampak ganteng juga masih muda sekali.


Lalu dia teringat.


Sandy baru berusia dua puluh lima tahun.

__ADS_1


Mungkin mendekati dua puluh enam.


Tidak sampai sepuluh tahun jauhnya dari dirinya.


"O..Om..." sapanya tergagap.


Sandy berhenti di hadapan Reva.


Bibirnya masih menyunggingkan senyum.


"Ngapain ?" tanyanya santai.


Reva cemberut.


"Gara-gara Om, aku jadi ketiban mangga !" tunjuknya pada mangga yang jatuh.


Sandy menaikkan alis.


Reva menatapnya.


Mulutnya terbuka.


Sandy nampak seperti anak jail.


"Gara-Gara aku?


Yang meleng tadi siapa ?"


"Om tadi ngetawain aku !


Makanya aku jadi meleng !" protes Reva.


"Enak aja nyalahin Om !"


Sandy maju mendekati.


Senyum kekanakannya sangat manis.


Reva mundur selangkah.


Lalu berhenti.


Sandy juga berhenti.


Mereka saling menatap.


Untuk pertama kalinya, Reva betul-betul menatap Sandy.


Menatap Sandy tanpa embel-embel Om.


Hanya Sandy.


Perlahan rautnya berubah.


Menyadari hal yang dilewatkannya.


Sandy seorang pemuda yang tampan.


Satu kesadaran meresap dalam benaknya.


Matanya menatap dalam pengertian yang baru.


Jantungnya berdebar.


Pipi Reva perlahan memerah.


Sandy kembali tertawa.


"Kamu ini kenapa ?" tanyanya.


Tangan Sandy menepuk kepala Reva.


"Eh..." Reva mengangkat tangannya, menepis tangan Sandy yang masih bertengger di kepalanya.


"Eng..enggak papa Om.." jawab Reva tergagap.


Sandy kembali meletakkan tangannya di atas kepala Reva


Jarinya mengetuk puncak kepala.


Kepalanya menunduk.


Reva mengernyit.


Harum parfum Sandy menyeruak ke dalam indera penciumannya.


Deg...deg..deg...


Reva menggelengkan kepala.


Mengusir bau harum dan pesona laki-laki dihadapannya.


Sandy mengernyit.


Reva tidak pernah bersikap canggung seperti ini terhadapnya.


Sandy menunduk menatap ubun-ubun dihadapannya.


Perlahan satu pengertian muncul di kepalanya.


Sandy tersenyum lebar.


Jari telunjuknya mengangkat dagu Reva.


Memaksanya menatap balik padanya.


Mata Sandy melembut.


Menatap dalam pada mata lebar di wajah manis yang sering mengisi lamunannya.


Yang sedang balas menatapnya.


"Ayo ambil mangga lagi.


Om juga mau.


Abis itu temenin Om jalan-jalan-- ya.." senyum Sandy berusaha mencairkan kecanggungan Reva.


...⛰️🍎🎋...

__ADS_1


__ADS_2