Kamu Milikku

Kamu Milikku
Gak Boleh Lagi


__ADS_3

Tubuh Reva yang tadinya menegang melemas.


Entah kenapa tadi dia tegang melihat Sandy yang menghampiri.


Sandy berbeda.


Tidak seperti biasanya.


Reva memundurkan kepalanya.


Dia merasa geli dengan wajah Sandy yang menempel di lehernya.


Tangannya melintang di depan dada.


Melindungi dadanya berdempetan langsung dengan dada Sandy.


"Om..." katanya.


Sandy tidak menjawab.


"Om !!"


Sandy bergerak sedikit.


Dia masih belum ingin mengangkat kepalanya.


Tenggelam dalam keharuman parfum Reva.


Sandy menghirup dalam.


Reva terkikik.


"Om..


Ihh...geli !"


Suara Reva membangunkan sesuatu dalam diri Sandy.


Sandy menjauhkan kepalanya.


Matanya menatap Reva.


Dia menunduk melihat tangan Reva yang melintang di depan dadanya.


Sandy meletakkan kedua tangan Reva di bahunya.


Dia masih tetap menggendong Reva.


Menggunakan tubuhnya memepet dan pahanya menopang tubuh Reva sehingga membuat Reva tetap berada sejajar dengannya.


Sandy kembali menatap Reva.


Mereka saling menatap.


Mata Sandy turun ke bibir Reva.


Kepalanya mendekat.


"Om...


hhmmph.... hmmmpp."


Reva berusaha memundurkan kepalanya.


Menghindari ciuman Sandy.


Tapi Sandy terus mengejar.


Dia tidak ingin melepaskan Reva.


Dia mencium Reva dengan dalam.


Reva tidak bisa mundur.


Kepalanya menempel dengan dinding.


Dia akhirnya diam.


Matanya terbuka menatap wajah Sandy yang berada dekat dengannya dan Sedang menciumnya.


Sandy terlihat sangat menikmatinya.


Sementara dia menatap wajah Sandy yang tampan dan kekanakan.


Samar-samar tercium harum parfum Sandy yang maskulin.


Matanya menelusuri kelopak mata Sandy yang sedikit tertutup karena menatap bibirnya.


Bulu mata yang panjang.


Alis tebal.


Tangan Reva tanpa sadar membelai rambut Sandy.


Jemarinya menarik ujung rambut Sandy.


Sandy mengakhiri ciumannya.


Dia tertawa.


"Baru kali ini gue nyium cewek yang ngamatin gue seperti ngamatin spesimen di mikroskop." katanya.


Reva tertawa.


"Om ganteng dan pinter nyium..


Gih sana cari cewek !


Udah putus kan ?" katanya berusaha berkata dengan nada biasa.


Padahal jantung nya berdebar kencang.


Dia masih belum turun dari paha Sandy.


Dia menggeliat hendak turun.


Mata Sandy berubah menjadi berbahaya.


Tubuhnya makin memepet Reva.


"Darimana kamu tau aku pinter nyium ?"


"Eh...ee..." Reva tidak tau harus menjawab apa.


"Siapa yang udah nyium kamu ?


Di tepi tebing kamu bilang belum pernah dicium.


Siapa ?! Hmm?" Sandy kembali mendekatkan kepalanya.


Reva diam.


"Va ?"


Reva tetap diam.


"Reva !!"


Reva terlonjak.


"Eh... Steve.." jawabnya menunduk.


"Steven ?

__ADS_1


Siapa lagi ?"


Reva diam.


"Siapa lagi Revalina ?!" kejar Sandy.


Reva mengangkat wajahnya lalu menggeleng.


"Bener ?"


Reva mengangguk.


"Kapan ?"


Reva kembali diam.


"Kapan...Reva ?" suara Sandy terdengar berbahaya.


"Di...emm...di Lombok." jawab Reva pelan.


Bukkk!!


Sandy menonjok dinding di samping kepala Reva.


Reva terbelalak.


"Gak boleh lagi."


"Apa ?"


"Gak boleh lagi.


Kamu, Revalina Anindya Djoyodiningrat, adalah calon istri ku."


"Om !!


Kita belum selesai taruhan." protes Reva.


"Justru itu.


Karena kita belum selesai taruhan.


Kalau kamu kalah.. kamu jadi istriku, Va.


Aku gak mau istriku bekas disentuh-sentuh cowok lain.


Kamu ngerti ?!" suara Sandy yang tenang justru membuat Reva merinding.


Reva menatap Sandy sejenak sebelum mengangguk.


Matanya terus menatap Sandy.


Mengamati.


Dia teringat.


Sandy memutuskan pacarnya karena perselingkuhan.


Jelas Sandy tidak ingin mengulangi lagi pengalaman nya.


Ndilalah...karena taruhan, malah dia yang terjebak ikatan dengan Sandy.


"Sekarang...


Kamu dari mana, baru pulang jam segini.


Bajunya kayak gini ?"


Sandy mengangkat sedikit helai gaun yang dipakai Reva.


Reva menepis tangan Sandy.


Sandy lalu mengembalikan tangan Reva ke bahunya.


Sandy menatap lekat-lekat.


Lalu kembali mencium bibir Reva sebentar.


"Iya. " jawabnya.


Reva mengamati Sandy, mengeluh dalam hati


Aduh..kenapa aku kayak udah jadi tunangannya ?


"Willy tadi ke kampus.


Abis itu kami semua diundang makan malam.


Jadi..kami pulang, ganti baju terus dijemput ke rumahnya Willy di Taipei." jawabnya.


Sandy mengamatinya.


Menikmati kepatuhan Reva dalam menjawab pertanyaannya.


Bibirnya tersenyum.


Sandy kembali mencuri satu ciuman lagi.


"Kamu ngegemesin !" katanya lalu menurunkan Reva.


"Om !!"


Reva berjalan ke kamar mandi.


"Om mau minum ?" tanyanya.


"Enggak.


Aku mau tidur.


Ngantuk." jawab Sandy sambil melepas jasnya.


Dasinya sudah dia lepas sejak di mobil tadi.


"Om mau tidur di sini lagi ?" tanya Reva was-was.


"Iya.


Biar semua orang tau kalo kamu udah ada yang punya." jawab Sandy sambil merebahkan dirinya di kasur.


Dia memeluk bantal lalu memejamkan mata.


Reva ternganga.


Alamat dia tidur lagi di sofa.


Reva menghembuskan nafasnya lalu masuk ke kamar mandi.


Saat keluar, Sandy sudah tidur.


Reva mendekat.


Perlahan mengambil bantal lalu mencoba untuk mengambil selimut yang sedikit tertindih tubuh Sandy.


Tidak bisa.


Sandy terlalu berat.


Dan dia tidak ingin mengganggu tidur Sandy.


Reva berbalik sambil memeluk bantal.


Pergelangan tangannya ditarik.

__ADS_1


Reva menoleh.


Sandy membuka matanya.


"Tidur sini aja." katanya dengan suara malas.


"Om !"


"Tidur sini aja.


Kemarin juga kita tidur bareng.


Enggak terjadi apa-apa."


"Eh.. tapi..


Jangan ah..


Lepasin Om !!"


"Va...Kalo aku mau, udah dari kemarin-kemarin kamu aku perawanin, Va !


Aku mau menikmati kamu nanti.


Setelah kawin.


Lebih enak. Puas."


"Ihh..Om !!


Yang mau kawin sama Om itu siapa?"


"Kamu.


Udah ah. jangan cerewet !


Tidur !"


Sandy menarik tangan Reva dengan keras sehingga Reva terduduk.


Dia menarik tubuh Reva keatas.


"Tidur, Va" katanya tegas.


Reva bersungut-sungut tapi menurut.


Dia juga sudah lelah.


Gara-gara Willy datang, mereka semua jadi kerja keras membereskan laporan.


Reva menutup mata.


Dan tak lama terlelap


Keduanya tertidur pulas hingga enam jam kemudian.


Reva masih menutup matanya saat merentangkan tangannya dan membentur pipi Sandy.


"Aduuh..." keluh Sandy.


Reva membuka mata dan langsung terkikik.


Kepalan tangannya sekarang dipegang.


"Kamu balas dendam, Va ?" tanya Sandy dengan suara mengantuk.


"Enggak, Om.


Salah Om sendiri.


Ngambil jatah tempat tidur aku." jawab Reva kembali menutup matanya.


"Untung aku beli tempat tidur ukuran king size." gerutu Sandy.


Reva tersenyum. Matanya masih tertutup.


"Hmm...biar puas guling-guling sama istrinya ya Om.


Inget aja kalo itu aku yang milih."


"Iya.


Ntar aku suruh istriku inget pilihannya sendiri." jawab Sandy.


Tangan Reva melayang, mencubit pinggang Sandy.


"Jangan mancing--mancing, Va.


Laki-laki biasanya buas kalo pagi-pagi." kata Sandy.


"Astaga..


Takut jadinya." senyum Reva lalu membalikkan badannya membelakangi Sandy.


Tangannya memeluk guling.


Dia masih mengantuk.


"Om..aku bolos jiu jitsu ya..." katanya.


"Kenapa ?"


"Masih ngantuk."


" Gak boleh !"


"Capek Om.." kata Reva dengan suara teredam bantal.


"Nanti kalo udah disana juga gak capek lagi." jawab Sandy sambil bangun dan masuk ke kamar mandi.


Saat keluar, Reva sudah kembali tertidur.


Sandy menggelengkan kepalanya.


Dia ke dapur. Membuka kulkas.


Sandy tau apa isinya karena dia berbelanja bersama Reva.


Setengah jam kemudian bau harum telur, sosis dan nasi goreng membangunkan Reva.


Reva mengusap matanya lalu pergi ke kamar mandi.


Sandy sedang mengatur piring di meja.


"Ayo sarapan cewek pemalas.." katanya.


"Wuihh...lengkap." kata Reva.


Reva lalu menatap jam.


"Om...Om telat."


"Kita telat."


Reva mengeluh.


"Ooom...males..." katanya.


"Makanya makan dulu.


Ntar semangat deh." kata Sandy.


Reva mengambil sendok lalu mulai menyuap.

__ADS_1


__ADS_2