Kamu Milikku

Kamu Milikku
Meja Makan Malam


__ADS_3

Malamnya....


Sandy membantu Reva memasang gaunnya.


Dengan kancing- kancing kecil di sepanjang punggung, Reva harus berdiri diam membelakangi Sandy, sementara Sandy mengaitkan kancing kecil-kecil itu satu persatu.


Sesekali, dalam isengnya, dia mencium leher Reva Yang terbuka.


"Om !!" tegur Reva.


"Hmm.." Sandy tidak menjawab.


Dia sedang asyik menelusuri punggung Reva yang mulus.


"Om..udah belum ?" desak Reva.


"Hmm..."


Satu tangan menyelip di balik gaun.


Reva terlonjak.


Tangan Sandy menyelip sampai ke perutnya.


Jarinya membelai.


"Va....


Gak usah makan malam ya?


Disini aja..." bujuk Sandy dengan suara serak berkabut gairah.


"Astaga Om...


Kita tinggal dua bulan lagi mau kawin.


Sabar Om.."


Sandy cemberut.


"Sabar apanya ?


Abis kawin juga gak dapet."


Reva tertawa.


"Udah belum, Om ?


Aku perlu ngatur rambutku." katanya.


"Gak usah, Va


Aku suka kalo rambut kamu di gerai." kata Sandy dengan rasa sayang.


Dia melilit Jarinya di ikal gantung ujung rambut Reva.


Lalu dihirupnya.


Harum.


"Om..." tegur Reva lagi.


Sandy memaksa dirinya menjauh.


Dia tidak ingin menjauh.


Sandy membuka safety box lalu mengeluarkan sebuah kotak.


Dia menghampiri Reva.


"Va...." katanya.


Reva menatapnya dari pantulan cermin.


Dadanya berdebar.


"Pake ini...


Aku pingin kamu kelihatan menawan." kata Sandy mengalungkan sebuah kalung.


Rantainya tipis.


Tapi batu safir yang menjadi liontinnya menyolok ukurannya. Besar dan berwarna biru.


Senada dengan cincin pertunangan nya.


Jatuh dengan manis di belahan dadanya.


"Om...


Om ngasih hadiah terlalu banyak buat aku." katanya menatap Sandy melalui cermin.


Sandy balas menatap nya.


"Aku pingin kamu tau kalo aku bahagia sama kamu, Va.


Ini..." jari Sandy mengelus rantai di leher Reva yang membuat Reva merinding.


"Bukan apa-apa dibanding rasa bahagiaku memiliki kamu."


Sandy membalikkan badan Reva.


Dia menunduk lalu mencium lembut pipinya.


Satu jam kemudian, mereka sudah duduk bersama untuk makan malam.


Kali ini Cindy berada satu meja dengan pasangan Sandy Reva.


Suasana sudah kaku sejak semua mengetahui bahwa Reva Dan Cindy duduk di satu meja.


Reva langsung cemberut saat melihat gaun yang dipakai oleh Cindy.


Gaunnya betul-betul menarik tatapan semua orang.


Belahan dadanya rendah.


Menampilkan indahnya kedua buah dadanya.


Pundaknya yang mulus dan indah terpampang jelas.


Di lehernya tergantung kalung yang sangat sesuai dengan gaun yang dipakainya.


Yang menambah Reva kesal, Cindy duduk di sebelah Sandy.


Entah siapa yang membuat pengaturan tempat duduk ini.


Dia jadi menyesal tadi tidak menuruti ucapan Sandy yang menawarkan untuk makan malam di kamar saja.


Sandy menjaga air mukanya tetap datar.


Dia tau bahwa Reva sudah siap untuk meledak.


Apalagi Reva duduk di hadapannya.


Bukan di sebelahnya.


Di samping Reva suami Elle.


Elle sendiri berada di hadapan Reva.


Bersama Daniel.


sejak tadi Elle menatap kalung yang dipakai oleh Reva.


"Kenapa ngeliatin kalung Reva terus ?" tegur suaminya.


Elle tersenyum.


"Kalungnya cantik.


Kamu beliin aku dong yang kayak gitu." kata Elle.


Reva tersipu.


Sandy menatapnya gemas.


Daniel pun ikut menatapnya.


"Itu kan biar serasi sama cincinnya." kata suami Elle, Greg.


"Oh..iya..ya..


cincin pertunangan.


Berarti...hadiah dari kamu ya San ?" senyum Elle.


Sandy tersenyum.


"Iya dong..." Katanya singkat.


Cindy meneguk ludah di sebelahnya.


"Kamu juga sering dapet hadiah ya Cin ?" sela Helen.


Cindy tersenyum.


"Iya..."


"Dari siapa ?"


"Dari kekasihku." jawab Cindy lembut.


"Perhiasan juga ?" pancing Helen.


"Emm..iya..

__ADS_1


Ini..yang sekarang aku pake.


Kekasihku yang sangat mencintaiku yang ngasih.


Sebelum kami putus." jawab Cindy mengelus kalungnya dengan satu jari.


Sandy meneguk ludah.


Dia melirik leher Cindy.


Itu hadiah darinya.


"Sayang banget kamu putus." kata Helen.


Reva menatap kalung di leher Cindy.


Wajahnya berubah.


Dia lalu menatap Sandy yang sedang menatapnya.


Matanya menyipit.


Jantung Sandy berdesir.


Dia memaki-maki dalam hati.


"Hmmm" Cindy tidak menjawab.


"Kenapa putus ?


Ada ****** yang ngegodain pacar kamu ?


Hmm..?" lanjut Helen.


"Aku gak perlu nyebutin alasannya kan ?" jawab Cindy sinis menatap Reva.


Mata Reva bersinar.


"Greg.." sapanya dengan manis


"Hmm..apa ?" jawab Greg.


"Kenapa kalian menikah ?


Apa yang paling kamu sukai dari Elle ?"


Elle tercengang.


Dia menatap Greg.


"Ah...


Kenapa aku menikahi Elle ?" jawab Greg.


Greg menatap Elle.


Jantung Elle berdebar.


"Yang jelas, dia cantik." senyum Greg.


Reva mengangguk.


"Apa lagi ?" tanyanya.


Greg saling bertatapan dengan Elle.


"Dia baik dan manis


Dan aku mencintainya"


Elle tersenyum.


"Greg..kamu manis banget siih.." katanya.


"Berapa lama kalian pacaran ?"


"Tiga tahun..." jawab Elle.


"Lama juga ya.." kata Reva.


"Emm..selama tiga tahun...kalian..emm..kalian gak pernah tertarik sama orang lain ?


Selingkuh ?" tanyanya dengan berani.


Cindy berdehem kecil.


Sandy melirik sekilas.


Bibirnya tersenyum tipis.


Reva betul-betul keterlaluan.


Tapi dia diprovokasi oleh Helen.


"Kamu pernah, Greg ?


"Aku selalu cinta kamu, Elle.." jawab Greg manis.


"Duh..kalian sweet banget sih.." kata Aaron.


"Kamu sendiri, San..


Kenapa kamu memutuskan bertunangan dengan Reva ?" tanya Daniel.


Sandy tersenyum.


Dia menatap Reva dengan sayang.


Tatapannya tak lepas dari pengamatan Cindy dan Helen.


"Karena aku gak mau dia diambil orang."jawab Sandy.


Reva menatapnya tak percaya.


"Persaingan nih ?" canda Greg.


"Aku mencintainya dan aku pingin memiliki dia." tandas Sandy tegas.


Cindy merinding mendengarnya.


Rasa kesal dan menyesal merayapi hatinya.


"Tapi biasanya cinta lama agak sulit dilupakan ya ?" pancing Helen lagi.


Sandy tidak menjawab.


Reva menatapnya.


Sebelum memalingkan muka, dia melihat bahu Cindy membentur lengan Sandy.


Tangan Reva mengepal.


Dia memutar cincin safir nya yang kini terasa berat di jarinya.


Gerakannya tidak lepas dari pengamatan Sandy dan Cindy.


"Daniel, apa kamu selalu memberi hadiah untuk kekasih kamu ?" tanya Reva.


Daniel menatapnya.


"Enggak juga."


"Apa mantan kekasih kamu masih memakai hadiah dari kamu ?"


"Aku gak tau.


Kalo dia masih pakai silahkan saja.


Aku gak ngurusin.


Udah putus kok."


Daniel menjawab santai.


"Reva, aku dengar kamu penelitian tentang sel kanker ya ?" tanya Greg mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Iya.


Aku berencana terus melanjutkan nya setelah lulus nanti." jawab Reva.


"Jadi apa yang bisa kamu bagikan ke kami saat ini ?"


"Tentang apa ?" jawab Reva bingung.


"Penyakit yang kamu teliti."


"Oh...


umm..." Reva melirik Daniel


"Daniel...


kita menghabiskan sepanjang pagi bersama untuk membahas tentang hal itu.


Apa...emm.. haruskah aku mengulanginya sekarang ?" senyum Reva.


"Jangan !" jawab Daniel tegas.


Reva tertawa.


"Kalian tau..


Aku tadi mendapatkan kuliah lengkap tentang sel kanker selama satu setengah jam penuh.


Aku sekarang bisa menjelaskan detil tentang itu pada kalian semua." kata Daniel.

__ADS_1


Elle tertawa.


"Bagaimana murid kamu yang satu ini, Va?" tanyanya.


Reva menatap Daniel dengan sikap mengagumi.


Hal yang tidak dilewatkan oleh Sandy.


Diam-diam hatinya diliputi cemburu.


"Pintar.


Cerdas.


Aku menyukai mengajarmu Daniel" puji Reva.


"Wah..aku dapet ilmu dan dapet pujian juga.


Kamu mau hadiah apa, Reva ?" tanya Daniel tersenyum.


"emm...Makan malam ?" jawab Reva.


"Ih...rugi dong, Va.


Masa ngajar Boss besar satu setengah jam cuma dapet makan malam.


Temanya gak main-main lho.." kejar Elle.


"Terus aku harus minta apa ?" tanya Reva polos.


"Daniel...


Satu setengah jam untuk kuliah tentang penyakit seharusnya kamu bayar dengan perhiasan yamg biasa kamu hadiahkan buat pacar-pacar kamu.


Pacar kamu kan gak ada yang bisa ngasih kuliah seperti Reva..." sindir Elle.


"Ehh..."


Wajah Reva memerah.


Dia menatap Daniel dengan tidak enak.


Elle menangkap tatapannya.


"Kamu mau hadiah apa ?" tanya Daniel tenang.


"Ehmm...aku.."


"Kalung." sambar Elle.


Reva ternganga.


Mulutnya terbuka dan terlihat begitu menggairahkan buat Sandy yang ada di hadapannya.


"Ah..kalung ?


Nanti kita liat-liat di toko perhiasan disini.." senyum Daniel.


"Kalung ?


Untuk satu setengah jam kuliah ?" tanya Cindy tak percaya.


Sandy berdehem.


"Daniel...aku minta maaf.


Tapi..Reva tunangan ku.


Aku...tidak mengijinkan dia menerima hadiah dari laki-laki lain." katanya.


Reva menatap Sandy.


Cindy yang melihat Reva sedang memandang Sandy dengan sengaja kembali menempelkan bahunya yang terbuka dan dadanya yang penuh ke lengan Sandy.


Gerakan itu tak luput dari pandangan Reva.


Cindy tersenyum kecil.


Sandy yang tersenggol melirik sekilas ke arah Cindy lalu kembali menatap Daniel.


"Ah San...


Ini bukan rayuan untuk tunangan kamu.


Ini cuma..ucapan terima kasih.


Kapan lagi aku dapat pelajaran dari seorang gadis cantik seperti Reva" jawab Daniel dengan suaranya yang tenang.


Reva yang melihat tingkah Cindy di sebelah Sandy menjadi marah.


"Apa kamu betul-betul ikhlas memberi aku hadiah, Daniel ?" tanya Reva.


Dia melirik Sandy.


Kembali Cindy menempelkan bahunya ke lengan Sandy.


"Tentu saja." jawab Daniel.


"Kalo gitu, aku terima.


Setelah makan malam ?"


"Iya." senyum Daniel.


"Reva !" kata Sandy memperingatkan.


"Apa ?


Kenapa perempuan lain boleh terima hadiah dari laki-laki, sementara aku enggak.


Toh aku bukannya tidur dengan Daniel.


Aku hanya...hanya...ehmm....memberi dia pengetahuan tentang bidang yang aku tekuni."


"Kamu tunangan ku, Va !


Gak pantas terima hadiah dari laki-laki lain !" kata Sandy dalam bahasa Indonesia.


"Kenapa Om Boleh ngasih hadiah sama perempuan lain sementara aku gak boleh terima hadiah dari Daniel ?" tantang Reva dalam bahasa Mandarin.


"Revalina !!" tegur Sandy dengan suara keras.


"Dan Om dari tadi menikmati sentuhan dada dari mantan Om itu.


Iya kan ?" kata Reva dalam bahasa Indonesia.


Dia tetap menjaga suaranya tetap tenang dan manis.


"Aku gak menikmati apa-apa, Va.


Gak kerasa.


Gak pingin juga.


Enggak *****.!!" balas Sandy tegas dalam bahasa Indonesia.


Satu meja diam mendengarkan walaupun tidak mengerti apa yang mereka katakan.


Tapi ketegangan antara Sandy dan Reva terasa jelas.


Reva tersenyum pada Daniel.


"Aku akan menerima hadiah dari kamu, Daniel.


Hadiah kamu, sangat aku hargai karena aku dapatkan bukan dengan merayu kamu.


Aku menggunakan otakku untuk bisa memberikan presentasi pada kamu tadi pagi.


Dan aku memang mengandalkan otakku sendiri untuk mencari uang." katanya tegas.


Daniel bertepuk tangan.


Dia menoleh pada Sandy.


"Aku suka dia.


Kamu beruntung mendapatkan gadis seperti ini.


Dan kalo kamu melepas dia, aku dengan senang hati menjadikan nya pasangan ku."


Sandy meletakkan sendok nya.


"Itu gak akan pernah terjadi, Daniel." katanya dingin.


Reva tersenyum.


"Aku bukan pasangan siapapun, Daniel."


"Kamu tunangan ku, Reva." kata Sandy.


"Oh... karena cincin ini ?" kata Reva mengangkat jarinya.


"Reva !" tegur Sandy dengan suara tajam.


Tapi Reva sudah panas hatinya.


Lalu dia melirik Cindy.


Cindy tersenyum manis setengah mencemooh.


Reva tersadar.


Dia terpancing sehingga bertengkar dengan Sandy di depan semua orang.


Reva menatap Sandy.

__ADS_1


"Maaf Om..." katanya sambil menundukkan mata.


Sandy menatap tajam padanya.


__ADS_2