
"Aku gak mau membatalkan pernikahan kita." kata Sandy mengepalkan tangannya.
"Kenapa?
Om takut malu ?" tantang Reva.
"Karena aku cuma pingin kawin sama kamu.
Aku gak mau orang lain.
Aku mencintai kamu, Va." kata Sandy dengan keras.
"Om..."
"Kamu tetap calon istriku.
Sampai kapanpun aku gak akan melepaskan kamu, Va.
Sekarang..ayo kita tidur.
Aku udah capek." kata Sandy mendekati Reva.
Disebut capek, Reva pun akhirnya merasakan betapa lelahnya dia.
Sarafnya sejak tadi tegang.
Reva mengusap wajahnya.
Pundaknya dirangkul, diajak ke tempat tidur.
Reva menepis tangan Sandy.
Dia mengambil bantal guling lalu meletakkan di tengah.
Memisahkan antara dia dan Sandy.
Sandy tidak berani protes.
Reva sedang sensitif.
Reva merebahkan dirinya di tepi tempat tidur.
Dia tidak mau dekat-dekat dengan Sandy.
Walaupun awalnya susah tidur tapi akhirnya dia terlelap juga.
Lelah membawanya ke alam mimpi.
Sebaliknya dengan Sandy, dia tidak bisa tidur.
Hatinya resah.
Dia merasa pertunangannya berada di ujung tanduk.
Emosinya naik kembali.
Ingin menikah itu ternyata susah sekali.
Dulu Maminya.
Lalu Steven.
Lalu sekarang masalah ini.
Sandy mendengar suara nafas teratur.
Perlahan dia mengangkat guling.
Reva sudah tertidur nyenyak.
Sandy menyingkirkan bantal gulingnya.
Dia lalu berbaring miring.
Mengamati Reva.
Dia sudah menyukai gadis ini sejak lama.
Bahkan sebelum dia putus.
Gara-gara kehadiran Revalah, dia baru menyadari bahwa rasa cintanya tidak sedalam itu pada Cindy.
Untung saja.
Karena ternyata Cindy main di belakangnya.
Sandy mengangkat tangannya, menyingkirkan ikal nakal yang bertebaran di wajah Reva.
Perlahan ditariknya tubuh Reva mendekatinya.
Sandy menyelipkan tangannya di belakang leher Reva.
Reva bergerak.
Meringkuk dengan posisi janin.
Kepalanya disurukkan ke leher Sandy.
Satu tangan memeluk dada Sandy.
Sandy tersenyum puas.
Dia menempelkan pipinya di puncak kepala Reva.
Mengecup keningnya.
Rasa nyaman mendatangkan perasaan rileks.
Perlahan kesadarannya pun menghilang di bawa ke alam mimpi.
Esok Pagi.
Reva membuka mata.
Melihat garis leher Sandy.
Dia lalu menggerakkan tangannya.
Terasa dada Sandy yang keras.
Tangan Sandy berada di pinggangnya.
Memeluknya dengan sikap posesif.
Reva tersenyum.
Merasa nyaman dalam pelukan tunangannya.
Reva kembali menutup mata.
Tunangan.....
Ehmm....
Tunangan ?!
Yang semalam sibuk menempel ketat dengan mantan pacarnya ?
Reva membuka mata.
Dia langsung meloncat bangun.
Sandy terbangun.
Dia mengeluh.
"Vaaa..
Ngapain sih pagi-pagi udah loncat-loncat ?" keluhnya masih menutup mata.
Reva tidak menjawab.
Dia hanya menatap geram pada gulingnya yang sudah terlempar jauh di belakang Sandy.
Reva langsung pergi ke kamar mandi.
Selesai mandi, dia berpakaian dan langsung keluar kamar.
Sandy membuka matanya.
__ADS_1
Mengeluh.
Juga memaki diri sendiri.
Masalah kemarin akhirnya meresap kembali dalam pikirannya.
Reva masih marah.
Sandy tetap diam di kamar.
Dia tidak ingin kemana-mana.
Jam sembilan Michael memintanya datang ke ruang privat.
Saat Sandy sampai, disana sudah ada Robert, Biliyan, Tia dan Michael.
Sandy menghembuskan nafasnya.
Dia akan di sidang.
Sandy merasakan tatapan tajam dari Tia dan Biliyan.
Mereka perempuan dan sama sekali tidak suka dengan kejadian semalam.
"San...
Ayo duduk." sapa Robert tersenyum.
Sandy duduk.
Dia menatap mereka semua.
Michael membalasnya tanpa ekspresi.
Sementara Tia dan Biliyan memandangnya tanpa senyum.
"Udah lu pikirin yang kemarin ?" tanya Michael membuka pertemuan.
Sandy mengangguk.
"Jadi gimana ?" tanya Michael.
"Mana perjanjian pranikah nya ?" tanya Sandy.
Robert menyodorkan dokumen.
"Ini yang kemarin kita omongin.
Lawyer kita udah buat draftnya.
Lu baca dulu."
Sandy menerima dokumen itu lalu membacanya.
Lima menit kemudian, dia mengangguk.
"Reva ?" tanya nya.
"Kita semua belum kasih tau Reva.
Lu yang kasih tau." kata Michael.
"Kenapa ?"
"Karena cuma lu yang tau apa kalian bakal tetep nikah atau enggak." jawab Michael.
Sandy mengerang.
"Kalian gak ada yang mau bantuin gue ?
Kel...dulu lu juga gue bantuin..
Bet..lu juga.." katanya memelas.
"Soalnya kasus lu beda." jawab Robert.
"Beda apanya ?
Bantuin gue dong ngebujuk Reva...
Aduuuh..." kata Sandy.
"San...
Sebelum lu nempel-nempel sama mantan lu, seharusnya lu udah mikir kalo bakal kayak gini kejadiannya.
Lagian udah tau bentar lagi mau kawin, pake bikin gara-gara." sewot Biliyan.
"Gue gak nempel-nempel, Ci !!" protes Sandy gemas.
"Lu pikir gue kemarin gak liat ?!
Kita semua liat.
Mantan lu menggeliatkan badannya di elu dan keliatannya lu menikmati tuh.." serang Tia dengan nada tajam.
"Gue paling males sama cowok kayak gini." gumamnya dengan keras.
"Gue gak nikmatin ya Ti !" kata Sandy marah.
Tia tidak menjawab.
Dia hanya memutar matanya.
"Gue masih baek sama lu, Ko.
Kalo ngikutin pingin, udah gue nasihatin Reva buat ninggalin lu sekarang.
Tapi gue masih diem.
Lu bikin lagi kayak gitu, gue potong barang lu !!" geram Tia.
"Bini lu kejem juga ya Kel.." sahut Robert bercanda.
Mencoba mencairkan suasana.
"Sisi lain yang gak terlihat sama orang lain " kata Michael.
"Aduuh !!" jeritnya saat tangan Tia melayang ke pinggangnya.
"Jadi gimana ?
Kalo lu yakin sama hubungan lu, kita panggil Reva ke sini." kata Robert.
Sandy menghembuskan nafas.
"Panggil deh." kata Sandy akhirnya setelah ragu-ragu sejenak.
Dia dan Reva sama sekali belum bicara apa-apa pagi ini.
Dan kemarin, Reva masih berkeras ingin memutuskan pertunangan mereka.
"Kenapa enggak lu aja yang manggil.
Lu kan tunangannya ?" sindir Biliyan.
"Kalo masih jadi tunangan sih.." gumam Tia cukup keras.
Sandy memejamkan mata.
Oke...
Dia salah dan patut menerima hukuman seperti ini.
Sandy mendial nomor Reva.
Tidak diangkat..
Sandy kembali mendial.
Menunggu.
Tidak diangkat.
Sandy mendial lagi.
Menunggu.
Tidak diangkat.
__ADS_1
Mendial lagi.
Tidak diangkat.
Setelah enam kali percobaan, dia menyerah.
Dengan wajah merah karena malu, dia akhirnya menatap teman-temannya.
"Enggak diangkat." katanya.
Michael dan Robert menatapnya kasihan.
Sementara Biliyan dan Tia menatap dengan mencemooh.
"Gue cari deh.
Mungkin dia di perpustakaan, belajar." kata Sandy sambil bangkit.
Dia tidak tahan dengan sikap Biliyan dan Tia yang memancarkan permusuhan.
Semenjak mengenal mereka bertahun-tahun lalu, baru sekali ini mereka berdua bersikap seperti ini padanya.
"Gak usah..
Lu tunggu aja sini..." kata Robert.
"Terus ?"
"Nanti juga dia datang." jawab Robert.
"Lu tetep disini sambil merenung, San..
Pikirin dulu..lu yakin gak mau nikahin Reva sekarang?
Dengan kejadian ini kan segalanya jadi kebuka.
Sikap lu dan sikap Reva.
Cinta lu dan cinta Reva.
Reaksi Reva terhadap lu dan reaksi lu terhadap mantan lu." sambungnya.
"Sekalian..pikirin juga..
Kenapa dia nempel banget sama mantannya?
Masih cinta ?
Apa masih doyan nidurin tu cewek ?
Lumayan, Ko.
Kalo nidurin Reva kan lu harus bayar pake company lu.
Kalo sama tu cewek, gratis.
Mainnya juga lebih hot.
Pasti hot lah.. pengalamannya banyak.
Lu pasti merindukan yang mainnya hot gitu dibanding sama Reva yang gak punya pengalaman." kata Tia dengan nada datar.
Sandy kembali memerah.
"Aku udah enggak ya Ti.
Udah lama sejak gue ngungsi ke kota lu dulu." katanya.
"Ya mana tau lu rindu pelayanannya, Ko."
"Darimana kamu tau kalo mainnya hot ?" tanya Michael
"Ya dari dia sendiri lah !
Di kantor apa sih yang enggak diobrolin.
Gue juga tau kualitas main lu, Ko !" kata Tia
"Hah ?!"
Tiga suara berseru kaget.
"Pantes dia tergila-gila sama lu.
Lu salah satu dari sedikit yang bisa muasin dia." kata Tia mengangkat alisnya.
Wajah Sandy merah padam.
Dia tidak menyangka hubungan intimnya tersebar luas seperti itu.
"Oh...siapa lagi ?" tanya Robert.
"Hm.. Aaron." jawab Tia.
Tangan Sandy mengepal.
"Lu tau gak ?
Cindy bahkan bilang ke Reva kalo cuma dia yang bisa bikin lu puas." sambungnya.
"Hah ?!
Dia bilang begitu ke Reva ?" tanya Robert kaget.
"Iya..
Reva cerita waktu mereka bertengkar di toilet sasana." kata Biliyan.
Sandy diam.
Reva tidak pernah bercerita apapun padanya.
"Jadi..lu pikirin dulu masak-masak.
Berkeluarga itu gak mudah.
Ada masalah salah paham.
Apalagi...lu kan ehmm..
istilahnya, lu itu ngerebut Reva dari Steven." kata Michael.
"Iya..
Lu juga pasti bertanya-tanya, sebesar apa rasa Reva terhadap lu dibandingkan pada Steven." kata Robert.
"Lu pikirin dulu deh...
Apa alasan murni yang bikin lu pingin nikahin Reva.
Soalnya..
Lu itu bakal jadi kepala keluarga.
Lu nanti yang bakal menentukan baik buruk, sukses atau gagalnya kehidupan pernikahan kalian.
Sebelum ada anak-anak.
Karena kalo sudah ada mereka, kasian...
Lu cuma bakal nyengsarain kehidupan anak-anak lu sendiri.
Perceraian itu berdampak paling buruk terhadap anak-anak.
Mereka mungkin bisa sukses.
Tapi luka hati dan trauma itu tetap ada.
Lu mau anak lu enggak bahagia liat bapak ibunya tiap hari bertengkar ?
Mereka darah daging lu sendiri." kata Michael panjang lebar.
Sandy menatap Michael.
Dia tidak menjawab.
Besarkah cintanya pada Reva ?
...🍓🍇🍎...
__ADS_1